seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GUNCANGAN
Matahari sore baru saja terbenam di balik deretan gedung kumuh Sektor 7, meninggalkan semburat warna jingga yang tertutup asap pabrik dan debu energi mana. Di sebuah gang sempit yang diapit dua tembok beton retak, Andre berjalan santai. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara, melepaskan kebiasaan menahan beban 50 kilogram yang beberapa jam lalu menekan tulang punggungnya. Di sakunya, gumpalan uang kertas bernilai tinggi terasa tebal. Hasil dari penjualan inti mana Shadow Stalker dan material langka yang ia ambil sendiri dari dalam dungeon.
Petugas Asosiasi yang menerima inti mana itu tadi tidak menyembunyikan wajah syoknya. Seorang pembawa barang kasta First Job keluar membawa inti monster level 45, sementara regu pemburu Second Job yang membayarnya melarikan diri dengan muka pucat. Namun, Andre sama sekali tidak peduli pada tatapan tak percaya atau rumor yang mulai menyebar di tenda pendaftaran Asosiasi. Fokus utamanya saat ini hanya satu: jalan pulang.
Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu lapuk dengan nomor rumah yang warnanya sudah memudar. Andre menarik napas panjang, menepuk-nepuk pakaiannya untuk membuang sisa debu dungeon, lalu tersenyum kecil—sebuah senyuman tipis yang tidak pernah sekali pun muncul saat ia berhadapan dengan monster atau entitas kosmik di kehidupan lalunya.
Klek.
Pintu terbuka sebelum Andre sempat mengetuknya. Seorang pemuda berusia 16 tahun berdiri di balik pintu, mengenakan kaus oblong longgar dan celana kain yang sudah agak kekecilan. Matanya yang jernih langsung membelalak saat melihat Andre berdiri di ambang pintu.
"Kak Andre!" Marvin menyambar tubuh kakaknya, memeluknya erat. Ada aroma minyak kayu putih dan kuah sup murah dari tubuh bocah itu. "Kakak dari mana aja? Katanya cuma mau ikut regu pengintai sebentar di dungeon Easy, kok baru pulang hampir malam?"
"Ada sedikit masalah dengan rutenya, Vin. Tapi semuanya lancar," Andre menepuk-nepuk kepala adiknya dengan lembut, merasakan kehangatan yang nyata dari tubuh bocah itu. Di kehidupan lamanya sebagai Kaisar Kilat, tidak ada seorang pun yang berani memeluknya atau menunggunya pulang dengan rasa cemas yang jujur. Di puncak dunia, yang ada hanya rasa hormat yang kaku, ketakutan, dan ekspektasi yang menekan dada. "Kamu sudah makan?"
"Belum, aku nungguin Kakak. Sup kentangnya hangat lagi," jawab Marvin sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi.
Andre melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan kecil berukuran empat kali lima meter itu. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada dua tempat tidur lipat, satu meja kayu kecil, dan sebuah kompor induksi tua. Namun, bagi Andre, tempat ini jauh lebih hidup daripada istana megah bernilai jutaan koin emas yang pernah ia huni di masa kejayaannya.
"Hari ini kita tidak makan sup kentang," Andre merogoh sakunya, mengeluarkan lima lembar uang kertas pecahan besar dan meletakkannya di atas meja kayu.
Mata Marvin membelalak sempurna. Ia menatap tumpukan uang itu, lalu menatap kakaknya dengan panik. "K-Kak... ini uang dari mana? Kakak nggak melakukan sesuatu yang berbahaya atau ilegal, kan? Kakak nggak minjam ke rentenir guild hitam, kan?!"
"Ini hasil kerja keras, Marvin. Aku berhasil menemukan beberapa tumbuhan obat langka di dekat gerbang dungeon," jawab Andre beralasan, berbohong dengan sangat mulus. "Besok, beli daging sapi, telur, dan vitamin untukmu. Uang sisanya kamu simpan untuk biaya pendaftaran akademi Awakening bulan depan."
Marvin menelan ludah. Rasa cemas di matanya perlahan berganti menjadi rasa haru yang mendalam. Ia tahu betul betapa kerasnya sang kakak bekerja selama ini, sering kali pulang dengan tubuh memar dan baju robek hanya demi membelikannya buku pelajaran atau obat saat ia sakit. Marvin menunduk, mengusap matanya yang mulai basah.
"Makasih ya, Kak... Tapi Kakak juga harus beli perlengkapan bertarung yang bagus. Aku nggak mau Kakak kenapa-kenapa di dungeon," bisik Marvin pelan.
"Jangan khawatir. Kakak jauh lebih kuat dari yang kamu bayangkan," bisik Andre, membelai rambut adiknya.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit bernuansa futuristik yang menjadi markas besar Asosiasi Pemburu Pusat, suasana sama sekali tidak tenang.
Ruang rapat tertutup itu diselimuti kegelapan, hanya diterangi oleh proyeksi hologram besar di tengah meja bundar. Hologram itu menampilkan rekaman data grafis dari Dungeon Sektor 7 yang baru saja dibersihkan. Di sekitar meja, duduk lima orang pejabat tinggi Asosiasi dan dua perwakilan dari guild elit kota.
"Apakah data ini sudah divalidasi?" suara berat muncul dari seorang pria paruh baya berambut uban yang mengenakan jas seragam Asosiasi dengan tiga lencana emas di dadanya. Pria itu adalah Direktur Eksekutif Penanggulangan Bencana Sektor Pusat, Marcus.
"Sudah, Tuan Direktur," jawab seorang analis wanita sambil menggeser layar hologram. "Petugas pengawas di lapangan mengonfirmasi bahwa Shadow Stalker—monster bos anomali level 45 di dalam dungeon tingkat Medium—telah tewas terbelah menjadi dua. Hanya ada satu tebasan bersih. Tidak ada jejak sihir lingkaran, tidak ada sisa ledakan elemen, dan tidak ada tanda pertempuran berkepanjangan."
Pria di seberang meja, seorang jenderal dari Guild Titan yang mengenakan armor besi tebal, terkekeh dingin. "Satu tebasan? Jangan bercanda. Bahkan seorang Second Job tingkat atas kelas Berserker butuh waktu belasan menit dan bantuan Healer untuk menembus karapas Shadow Stalker. Siapa tim pemburu yang menyelesaikan dungeon itu? Regu elit dari guild mana?"
Analis wanita itu menelan ludah sebelum menjawab. "Bukan regu elit, Jenderal. Tim yang terdaftar adalah regu independen kelas Second Job yang dipimpin oleh Kael. Namun, menurut laporan verifikasi Asosiasi dan kesaksian Kael sendiri di lokasi... regunya lari ketakutan. Orang yang membunuh monster itu dan membawa keluar inti mananya adalah seorang porter yang mereka sewa."
Keheningan melanda ruangan tersebut.
"Seorang porter?" Marcus menaikkan sebelah alisnya. "Seorang kuli panggul First Job?"
"Namanya Andre, usia 19 tahun. Data Asosiasi mencatat dia baru terbangun sebagai First Job beberapa bulan lalu setelah mengalami kecelakaan di dalam dungeon. Statistik resminya sangat rendah," tambah sang analis. "Namun, analisis struktur potongan pada cangkang monster menunjukkan efisiensi gaya bertarung yang hampir tidak masuk akal. Tekanan aura pedangnya terkonsentrasi pada satu titik setipis benang. Ini adalah teknik penguasaan tingkat tinggi yang biasanya hanya dimiliki oleh Third Job senior kelas Swordmaster."
"Anomali," gumam Marcus sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Ada dua kemungkinan. Pertama, pemuda ini menyembunyikan identitas dan tingkatannya selama ini demi tujuan tertentu. Kedua... dia mengalami kebangkitan sekunder yang langka. Apa pun itu, seseorang yang mampu membelah monster level 45 sendirian tanpa goresan adalah aset—atau ancaman."
"Kirim tim pemantau," perintah Marcus tegas. "Jangan gunakan kekerasan. Cari tahu apakah dia bersedia direkrut oleh Asosiasi atau salah satu guild utama. Jika dia menolak, pastikan pergerakannya tetap berada di bawah pengawasan kita. Kita tidak boleh membiarkan variabel liar berkeliaran di kota ini saat sinyal pergerakan Iblis di perbatasan planet mulai memanas."
Keesokan harinya, di pusat pelatihan umum kota.
Andre berdiri di tengah lapangan pelatihan terbuka, memperhatikan deretan rekrut muda yang sedang berlatih mengayunkan pedang kayu. Tempat ini adalah fasilitas umum yang disewakan oleh Asosiasi untuk siapa saja yang ingin melatih fisik dan keterampilannya. Andre membayar beberapa koin perak untuk menyewa satu sudut area pribadi di bagian belakang gedung, jauh dari kerumunan.
Ia memegang sebuah pedang besi standar yang baru saja ia beli dari toko senjata Asosiasi. Senjata ini jauh lebih kokoh daripada pedang berkarat yang hancur kemarin.
Andre memejamkan matanya, merasakan aliran energi mana yang berputar lambat di dalam inti pusat tubuhnya. Di kehidupan sebelumnya, energinya meluap-luap seperti badai petir yang siap menghancurkan benua. Kini, energinya terasa tipis seperti aliran sungai kecil di musim kemarau. Namun, kejernihan dan kontrolnya masih sama persis.
Wush.
Andre membuka matanya. Tubuhnya bergerak sebelum pikiran rasionalnya sempat memproses. Ia mengayunkan pedangnya ke arah patung latihan yang terbuat dari kayu besi—material yang dirancang khusus untuk menahan serangan Second Job.
Bilah pedang itu tidak menghantam kayu dengan suara keras. Sebaliknya, pedang itu melewatinya seolah-olah patung kayu tebal itu hanya terbuat dari asap. Andre memutar badannya, menyarungkan pedang kembali ke pinggangnya dalam satu gerakan mulus.
Satu detik... dua detik...
Crak.
Bagian atas patung kayu besi itu bergeser secara diagonal dan jatuh ke tanah dengan permukaan potongan yang sangat halus, licin seperti kaca.
[Penguasaan Teknik 'Aura Pedang Terkonsentrasi' meningkat!]
[Atribut AGI dan STR memberikan sinergi optimal.]
Andre menatap potongan patung itu dengan napas yang tetap teratur. "Masih terlalu lambat. Kecepatan ini baru sepuluh persen dari apa yang bisa kulakukan di masa lalu. Tubuh ini butuh lebih banyak poin atribut."
"Luar biasa..."
Sebuah suara memecah keheningan di sudut latihan pribadi tersebut.
Andre seketika menoleh, tangannya kembali hinggap di gagang pedang dengan insting membunuh yang menyala tipis. Dari balik bayangan pilar beton latihan, melangkah keluar seorang pemuda tinggi berbadan tegap. Pemuda itu mengenakan mantel kasual, namun di balik mantelnya terlihat kilauan breastplate berbahan logam langka yang nilainya bisa digunakan untuk membeli sepuluh rumah di Sektor 7.
Pemuda itu membawa sebuah perisai raksasa berukir rumit di punggungnya—perisai berkualitas High Grade yang sangat tidak cocok berada di area latihan umum seperti ini.
"Siapa kau?" tanya Andre dingin, matanya meneliti setiap inci pergerakan orang asing itu.
Pemuda tegap itu mengangkat kedua tangannya ke udara, menunjukkan bahwa ia tidak datang dengan niat menyerang. Wajahnya tampan, dengan garis rahang tegas dan sepasang mata cokelat yang memancarkan rasa kagum yang murni, tanpa ada sedikit pun rasa sombong.
"Maaf kalau aku mengejutkanmu. Aku tidak bermaksud mengintip," kata pemuda itu sambil tersenyum ramah. "Namaku Bastian. Bastian dari Keluarga Valerius. Aku melihat tebasanmu tadi... dan jujur, itu adalah hal paling gila yang pernah kulihat dari seorang petarung pedang seusia kita."
Andre menyipitkan matanya. Keluarga Valerius. Ia mengenali nama itu dari ingatan pemilik tubuh asli. Mereka adalah salah satu konglomerat bisnis terkemuka yang menguasai perdagangan artefak dan perlengkapan dungeon di kota ini. Seorang bangsawan kaya dengan peralatan bernilai fantastis.
"Apa maumu?" tanya Andre datar, tidak terpengaruh oleh nama besar latar belakang pemuda di depannya.
Bastian menurunkan tangannya, lalu menatap Andre dengan raut wajah yang sangat serius, kehilangan cengiran ramahnya yang tadi.
"Aku mencari seorang petarung yang bisa kupercaya di garis depan," kata Bastian dengan nada mantap. "Aku adalah seorang Tanker. Spesialisasi pertahanan mutlak. Tapi aku tidak bisa bertarung sendirian, dan aku muak dengan orang-orang guild besar yang bertarung hanya demi keserakahan egois. Aku melihat cara bertarungmu—kamu tidak buang-buang gerakan, kamu berbahaya, dan kamu butuh seseorang yang bisa menahan musuh agar kamu bisa mengeksekusi mereka tanpa rasa khawatir."
Bastian melangkah maju satu pukulan, menepuk dada zirah mewahnya. "Jadilah pasanganku di dungeon. Aku akan menjadi perisai mutlakmu, dan kamu bisa menjadi pedang yang membelah segalanya."