NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Mendapatkan Pacar Palsu

"Bisa ku lihat setelan itu?"

Perkataannya membuat Risa sedikit bingung, "Lihat setelan?"

Yuda mengangguk padanya, "Ya, apa kamu punya foto model pakaiannya?"

"...Ada sih." Risa mengeluarkan HP nya, segera membuka beberapa foto model setelan lalu menunjukkan foto-foto itu.

Mulai dari setelan anak-anak sampai dewasa.

Yuda mengamati satu-persatu foto model pakaian di hp.

Modelnya terlihat bagus, bahannya juga sepertinya berkualitas tinggi.

Desainnya juga cocok untuk keluarganya, tidak terlalu mencolok, tapi terlihat bagus. "Hm... Ini semua bagus."

"Memang bagus sih..." Risa menghela nafas lagi. "Masalahnya model seperti itu untuk pasar pakaian saat ini peminatnya langka, jadi susah dijual cepat."

"Paling-paling, seperti apa kataku tadi, aku harus rela memotong harga sebanyak mungkin agar bisa terjual cepat, tapi dampaknya adalah keuntungan ku akan sangat kecil."

Risa merasa sangat depresi sekarang, memikirkan untung rugi penjualan pakaian yang sudah hampir jadi.

Ia berpikir, meskipun menurunkan harga sebanyak mungkin, tetap saja tidak bisa terjual cepat.

Sedangkan pesanan lain masih menunggunya dan membutuhkan modal banyak.

Uang yang dia pinjam dari bank juga cuman bisa menutupi sebagian modal pesanan.

Bahkan, ia sempat terpikirkan untuk menjual mobilnya.

Yuda juga mengerti, dan paham.

Masalah yang di hadapi Risa itu rumit.

Namun dari cerita itu, ia masih memikirkan satu pertanyaan yang janggal.

Dia ingin bertanya, tapi melihat wajah Risa yang gelisah dan sedikit pucat, ia menahan diri untuk bertanya.

Ia akan menanyakan itu nanti atau kapan-kapan.

Fokus sekarang adalah membantunya sebisa mungkin, dan kebetulan ia juga butuh banyak pakaian buat keluarganya.

Setelah bergumul didalam hatinya, Yuda akhirnya mengambil keputusan.

"Bagaimana kalau aku beli semua pakaian itu?"

Risa langsung terdiam mendengar itu.

Kemudian ia menggelengkan kepalanya, "Yuda, jangan bercanda, meskipun aku tahu kau itu punya banyak uang, tapi ini ada sekitar 450 setelan."

Yuda tersenyum tipis, "Aku serius, sebenarnya aku memang punya rencana beli pakaian di tokomu untuk ku bawa pulang kampung dalam beberapa hari lagi."

Jawaban itu membuat raut wajah Risa berubah serius, ia kemudian menatap Yuda seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.

"Kau... Yakin?"

"Ya."

Risa memang merasa lega mendengar tawaran itu, tetapi perasaan tersebut segera ia tekan.

Ia menggeleng pelan. “Aku nggak mau kamu beli sebanyak itu cuma karena kasihan padaku.”

Dan alasan buat keluarganya, dia tidak terlalu mempercayainya.

Dia lebih percaya bahwa Yuda merasa kasihan padanya.

Paling-paling, ia akan menggadaikan rumah atau mobil untuk menutupi modal pesanan lain itu, sembari menunggu pakaian setelan itu terjual.

Sementara itu, Yuda menggelengkan kepalanya merasa sedikit tidak berdaya, tapi ia tidak menyalahkannya.

"Yah, apa yang kamu katakan ada benarnya, namun alasan untuk keluarga ku emang benar. Aku bakal pulang tanggal 13, seminggu lagi."

"Dan juga kebetulan keponakan ku mau nikah, setelan pakaian yang kamu bikin itu cocok untuk hadiah pernikahan dan bagi-bagi satu keluarga besarku."

Yuda menjelaskan semua alasan dan berharap Risa setuju.

"Tapi..." Mendengar itu, Risa mulai sedikit mempercayainya, namun masih memiliki rasa tidak enak hati karena merepotkannya.

"Tidak ada tapi..." Nada bicara Yuda terdengar tegas.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Bagaimana kalau begini? Aku memang ingin membantu kamu, dan aku juga memang membutuhkan setelan-setelan itu."

Risa menatapnya masih ragu.

"Sebagai gantinya..." Yuda mengangkat sudut bibirnya. "Kamu bisa berpura-pura menjadi pacarku."

"...Apa?" Risa langsung terdiam.

Yuda melanjutkan dengan santai, seolah baru saja menawarkan kerja sama bisnis biasa.

"Ibuku sudah mendesakku agar membawa pacar pulang. Kalau pulang sendirian, aku tak akan lepas dari omelan ibu seharian."

Risa mengerjapkan mata beberapa kali. "Jadi... kamu mau aku pura-pura menjadi pacarmu?"

Yuda mengangguk.

"Kurang lebih begitu."

"Kenapa harus aku?"

Pertanyaan itu membuat Yuda tersenyum tipis.

"Karena kita sudah saling kenal selama dua tahun. Aku tahu kamu, kamu juga tahu aku. Kalau harus berpura-pura menjadi pasangan, setidaknya kita tidak perlu mulai dari nol. Dan kamu... aku merasa paling nyaman berada di dekatmu."

Risa masih memandangnya dengan curiga, tapi hatinya berdebar kencang mendengar kalimat terakhir itu.

"Tapi... Bagaimana kalau keluargamu tahu kita cuma berpura-pura?"

"Makanya jangan sampai tahu, kamu harus berusahalah semaksimal mungkin berakting layaknya pacar sungguhanku."

"Kau... Hah." Risa menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tawaran itu memang terdengar masuk akal, tetapi tetap saja terasa aneh. "Berapa lama?"

"Cuma selama aku pulang kampung dan menghadiri pernikahan Keno. Beberapa hari saja."

Yuda kemudian menambahkan pelan, "Dan kamu nggak perlu merasa berutang karena aku membeli pakaian itu. Anggap saja bayaran untuk menemaniku pulang."

Risa langsung mengangkat wajahnya. "Jadi ini benar-benar pertukaran? Saling menguntungkan?"

"Anggap saja begitu."

Risa masih terlihat ragu, tetapi ekspresinya tidak lagi seberat sebelumnya.

Setidaknya sekarang ia tidak merasa seperti diberi sedekah.

Yuda memperhatikannya beberapa saat, lalu tiba-tiba tersenyum licik. "Tapi..."

Risa langsung menyipitkan mata. "Tapi apa lagi?"

"Kalau selama akting itu kamu merasa nyaman menjadi pacar pura-puraku..."

Yuda sengaja berhenti sejenak, menatapnya lekat.

"...aku dengan berat hati bisa menjadikanmu pacar sungguhan."

"..."

Risa membeku.

Wajahnya perlahan memerah.

Yuda memasang wajah serius, tetapi sudut bibirnya jelas menahan senyum. "Bagaimana? Tawaran yang cukup bagus, kan?"

"Kamu..." Ia mengambil gelas di depannya lalu meneguk air, berusaha menyembunyikan malu. "Baru juga menawarkan pacar palsu, sudah mikir pacar sungguhan. Mimpi saja sana."

Yuda mengangkat bahu.

"Aku cuma mempersiapkan kemungkinan. Siapa tahu kamu betah."

"Siapa bilang aku mau? Dan kamu begitu percaya diri untuk membuat ku nyaman? Heh, jangan samakan aku dengan wanita murahan lainnya." Risa mencibir, tapi hatinya merasa hangat.

Suasana hatinya yang buruk tanpa sadar mulai mencair karena candaannya.

"Kita lihat aja nanti." Yuda tersenyum santai.

Risa terdiam, bibirnya mengerucut pelan.

Ia memalingkan wajah sebentar, lalu kembali menatapnya.

"Baiklah... aku setuju." Suaranya terdengar pelan namun tegas. "Tapi ingat, cuma pura-pura ya."

Yuda tersenyum lebar. "Tentu. Semua sesuai kesepakatan."

Setelah semua obrolan panjang itu, tanpa disadari waktu sudah berlalu 30 menit.

Pesanan mereka juga datang tepat waktu.

Keduanya mulai makan.

Risa masih merasa bahagia, yang awalnya hanya mengajak Yuda curhat.

Masalah bisnisnya seketika terselesaikan dengan baik, dan dia juga menjadi pacar pura-puranya.

Pengalaman malam ini sungguh diluar dugaannya.

Namun ia tidak merasa kesal ketika Yuda mengatakan ingin menjadikan dirinya pacar palsu, entah mungkin karena memang saling menguntungkan dan saling bantu.

Atau dia sendiri juga merasa tertarik dengannya, ia sedikit menantikannya.

Seusai makan, Yuda mulai membahas lagi perjanjian pembelian semua setelan itu.

Tanpa berlama-lama, setelah Yuda mentransfer uang 400 juta.

Beban berat di hati Risa akhirnya jatuh dan terus berterimakasih padanya.

Yuda melambaikan tangannya dan berkata, tidak perlu terlalu segan.

Dan ia juga bilang padanya kalau Yuda menantikan akting Risa menjadi pacar pura-puranya beberapa hari lagi.

Risa sedikit tersipu mendengar itu, lalu ia buru-buru pergi menuju mobilnya dibawah tatapan licik Yuda.

Setelah Risa pergi, Yuda masih berdiri beberapa saat di depan restoran, memperhatikan mobilnya yang perlahan menjauh.

Ia kemudian menghela napas kecil sebelum berbalik dan berjalan menuju motornya.

Malam ini ternyata jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan.

Awalnya ia hanya berniat makan dan mendengarkan masalah Risa.

Sekarang, bukan hanya masalah bisnis wanita itu yang sudah terselesaikan, tetapi ia juga mendapatkan seorang pacar pura-pura untuk dibawa pulang kampung.

Yuda terkekeh kecil mengingat ekspresi Risa tadi. "Kayaknya bakal menarik."

Ia lalu mengenakan helm dan menyalakan Honda Beat-nya.

Perjalanan menuju BSD City berlangsung cukup lancar.

Setelah meninggalkan kawasan pusat keramaian, suasana jalan perlahan menjadi lebih tenang.

Beberapa puluh menit kemudian, Yuda akhirnya sampai divilanya.

Ia memarkirkan motornya di garasi.

Kemudian berjalan masuk vila.

Begitu masuk, ia melangkah menuju lift.

Menekan tombol lantai 3, lalu pergi ke kamar utama.

Dia langsung melemparkan dirinya ke kasur lalu tertidur merasa lelah.

...----------------...

Keesokan harinya.

Yuda terbangun oleh suara panggilan telepon.

Ia membuka matanya yang masih mengantuk perlahan, lalu meraih HP di atas meja.

Melihat nomor tak dikenal yang tertera di layar, Yuda sedikit mengernyitkan kening.

Namun, ia tetap mengangkatnya. "Halo?"

Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang telepon.

"Halo, apa benar ini dengan Bapak Yuda Kusuma?"

"Ya, saya sendiri. Ada apa?"

"Perkenalkan, nama saya Lisa. Saya dari Wirasakti Group."

"Wirasakti Group?"

"Benar, Pak. Saya ingin menyampaikan beberapa hal tentang pengalihan Saham secara langsung kepada Bapak. Apakah Bapak memiliki waktu hari ini untuk datang ke kantor kami?"

Yuda terdiam sejenak, lalu melirik jarum jam Patek Philippe menunjukkan pukul 8:34.

"Hari ini?"

"Benar, Pak."

"Ada sih. Tapi kalau sekarang tidak bisa. Saya ada urusan."

"Oh, baik. Kalau begitu, apakah siang hari Bapak ada waktu?"

"Siang bisa."

"Baik, kalau begitu kami akan menunggu kedatangan Bapak siang nanti. Untuk alamat kantor, apakah Bapak sudah mengetahuinya?"

"Belum."

"Baik, nanti saya kirimkan alamatnya melalui pesan."

"Oke."

"Kalau begitu, sampai bertemu nanti, Pak Yuda."

"Ya. Sampai nanti."

Telepon pun terputus.

Yuda menatap layar HP-nya beberapa saat.

"Wirasakti Group, pengalihan saham?..."

Untuk saat ini ia tidak terlalu memikirkannya.

Pagi ini masih ada urusan yang harus diselesaikan.

Bukannya ia meremehkan Saham senilai 38 Triliun Rupiah itu, tapi impian memiliki kendaraan lebih penting sekarang.

Lagipula, katanya ia bisa datang siang harinya, jadi santai aja jangan terburu-buru.

Tanpa disadarinya, sikap santai tersebut mungkin akan memberikan kesan yang berbeda bagi orang-orang di Wirasakti Group.

Bagi mereka, seseorang yang baru saja mendapatkan saham senilai puluhan triliun tetapi masih bisa dengan santainya menunda pertemuan demi urusan lain tentu akan menimbulkan banyak pertanyaan.

Namun, Yuda sendiri tidak terlalu peduli dengan hal itu.

Kalau mereka ingin menebak-nebak latar belakangnya, biarkan saja, itu juga bukan hal buruk baginya.

Untuk sekarang, ada mobil dan motor yang lebih ingin ia lihat terlebih dahulu di toko sistem.

Bab Berakhir

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!