Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Pintu ruang ICU tertutup rapat di belakang tubuh Hayden, menyisakan derak halus yang membelah keheningan steril. Aluna masih berdiri kaku, jemarinya mengepal amat keras hingga telapak tangannya terasa nyeri oleh tancapan kuku. Kata-kata Hayden menggantung berat di udara, meninggalkan aroma dominasi yang mencekat dada.
“Pastikan kau datang tepat waktu, Tuan Putri. Aku tidak suka menunggu.”
Aluna memejamkan mata, membiarkan napasnya keluar satu-satu. "Tuan Putri," bisiknya pahit pada diri sendiri. Panggilan yang dulu terasa hangat di bibir Romeo, kini menjelma menjadi ejekan paling tajam saat diucapkan oleh Hayden.
Suster Maya melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan membawa map merah tebal. Langkah perawat itu pelan, seolah takut merusak sisa-sisa pertahanan Aluna yang tampak nyaris runtuh.
"Mbak Aluna... ini berkas persetujuan operasi dan tindakan anestesi untuk Mas Romeo," ucap Suster Maya lembut, menyerahkan selembar kertas bertuliskan huruf-huruf cetak yang kaku beserta pena. "Dokter membutuhkan tanda tangan penanggung jawab utama malam ini juga."
Aluna menerima berkas itu. Matanya memindai tulisan di atas kertas: Persetujuan Tindakan Medis Kraniotomi dan Evakusi Hematoma. Di bawahnya tertera rincian risiko yang bisa saja terjadi—mulai dari infeksi, cacat permanen, koma berkepanjangan, hingga kematian.
Tangannya bergetar hebat saat memegang pena. Ia menoleh sebentar ke arah Romeo. Kakaknya tampak begitu ringkih, tenggelam di antara mesin-mesin dingin yang berbunyi teratur.
“Aku harus menyelamatkanmu, Kak. Apapun taruhannya,” batin Aluna.
Dengan satu tarikan napas panjang, Aluna membubuhkan tanda tangannya di atas garis hitam yang disediakan. Tinta hitam itu menyerap ke kertas, menjadi bukti otentik bahwa ia baru saja menyerahkan takdir kakaknya ke tangan tim medis—dan menyerahkan kebebasannya ke tangan Hayden.
"Sudah, Suster," ujar Aluna, mengembalikan map itu. Suaranya datar, membuang jauh-jauh nada keputusasaan yang sempat menguasainya tadi.
"Terima kasih, Mbak Aluna. Sebaiknya Mbak istirahat di luar. Jam kunjung sudah habis. Besok pagi jam tujuh Mas Romeo akan mulai dipindahkan ke ruang persiapan operasi," saran Suster Maya prihatin.
Aluna mengangguk pelan. Sebelum melangkah keluar, ia mendekati ranjang Romeo sekali lagi. Ia merunduk, membiarkan dahinya bersentuhan dengan dahi Romeo yang terbalut perban dingin.
"Aluna pergi sebentar, Kak," bisiknya sangat pelan di dekat telinga Romeo. "Bertahanlah besok. Aluna janji... Aluna akan melunasi semua ini."
Malam berlalu dengan sangat lambat di ruang tunggu rumah sakit. Aluna tidak bisa tidur. Ia duduk di atas kursi besi yang keras, memeluk lututnya sendiri sembari menatap jam dinding yang berdetik tanpa henti. Setiap detik terasa bagai irisan tipis di hatinya.
*
Pukul 07.00 pagi tiba.
Pintu ruang ICU terbuka lebar. Beberapa perawat dan petugas medis mendorong ranjang Romeo keluar menuju ruang operasi di lantai empat. Aluna berdiri cepat, mengekor di samping ranjang kakaknya. Ia menggenggam erat telapak tangan Romeo yang masih tak berkutik sampai batas garis merah ruang steril yang melarang orang luar masuk.
"Keluarga harap menunggu di luar," ujar seorang perawat pria berparas tegas sebelum menutup pintu ganda ruang operasi.
Lampu indikator bertuliskan 'OPERASI BERLANGSUNG' menyala merah benderang di atas pintu.
Aluna berdiri terpaku di depan pintu tebal itu. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.20. Operasi diperkirakan memakan waktu lima hingga enam jam. Artinya, jika berjalan lancar, operasi baru akan selesai pukul satu siang—persis di jam yang ditentukan Hayden untuk keberadaannya di studio.
Aluna menyandarkan kepalanya pada dinding lorong lantai empat yang sepi. Pikirannya berperang hebat. Separuh jiwanya menjerit ingin tetap berada di depan pintu ini, menunggu sampai dokter keluar dan mengabarkan bahwa Romeo selamat. Namun separuh jiwanya yang lain—yang terikat oleh kenyataan pahit—mengingatkan bahwa jika ia membangkang, Hayden bisa saja menarik kembali seluruh dukungannya.
*
Pukul 11.30 siang.
Sudah empat jam berlalu. Pintu ruang operasi belum juga terbuka. Lampu merah itu masih menyala dengan angkuh.
Aluna berjalan bolak-balik di lorong. Ponsel tua di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Unknown: Kunci studio ada di tanganmu. Jangan berani-berani terlambat satu menit pun, Aluna. Kau tahu akibatnya jika membuatku menunggu.
Aluna meremas ponselnya hingga jemarinya memutih. Hayden tidak pernah menyisakan ruang untuk rasa kemanusiaan. Pria itu menagih janjinya tanpa peduli bahwa dada Aluna serasa ingin pecah karena kecemasan.
Aluna menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat sekali lagi. Air matanya menetes satu titik, namun ia memusat perhatiannya kembali.
Ia menghampiri meja perawat jaga di lorong lantai empat. "Suster... saya ada urusan mendesak yang harus diselesaikan sebentar. Kalau operasi Kakak saya selesai, bisakah Suster langsung menghubungi nomor saya?"
Suster di meja jaga menatapnya heran. "Lho, Mbak tidak menunggu di sini? Biasanya keluarga menunggu sampai operasi selesai."
"Saya... saya harus bekerja," jawab Aluna, tenggorokannya terasa tersumbat saat mengucapkan kata 'bekerja'. "Saya mohon, Suster. Hubungi saya begitu ada kabar."
Suster itu mencatat nomor telepon Aluna dengan rias wajah prihatin. "Baik, Mbak Aluna. Nanti kalau ada perkembangan dari dokter bedah, kami akan segera telepon."
"Terima kasih, Suster."
Aluna memutar tubuhnya. Setiap langkahnya menjauhi ruang operasi terasa seperti meninggalkan separuh dari nyawanya sendiri. Namun ia harus melangkah. Ia menolak untuk hancur. Ia akan membuktikan pada Hayden bahwa ia bukan 'Tuan Putri' yang cengeng dan tak berguna. Ia akan menghadapi pria itu, membayar utangnya, dan mempertahankan harga dirinya sampai Romeo terbangun kembali.
*
Taksi yang ditumpangi Aluna berhenti di sebuah kawasan perbukitan yang sunyi di pinggiran kota. Di balik pepohonan pinus yang rindang, berdiri sebuah bangunan bergaya modern industrial dengan dinding kaca besar dan struktur beton terekspos. Bangunan itu terisolasi, jauh dari pemukiman warga sekitar.
Aluna turun dari taksi. Udara dingin pegunungan menyapa kulitnya, namun tak mampu meredakan gejolak panas di dadanya.
Ia melangkah mendekati pintu kayu jati besar di bagian depan studio. Tangan Aluna yang gemetar merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci perak berbingkai abstrak pemberian Hayden.
Klek.
Kunci itu berputar dengan sempurna. Pintu kayu yang berat meluncur terbuka tanpa suara, menyingkapkan ruangan dalam yang luas, sunyi, dan dipenuhi aroma cat minyak, tiner, serta kayu yang terbakar samar.
Studio lukis itu memiliki langit-langit yang sangat tinggi dengan pencahayaan alami yang menerobos masuk dari atap kaca. Di tengah ruangan, terdapat sebuah podium kayu kecil yang dilapisi kain beludru hitam. Tak jauh dari sana, sebuah kanvas kosong berukuran raksasa sudah berdiri kokoh di atas dudukan kayu, dikelilingi oleh palet dan kuas yang berserakan kaku.
Namun, ruangan itu kosong. Hayden belum terlihat di mana pun.
Aluna melangkah masuk, membiarkan pintu terdorong menutup di belakangnya. Langkah kakinya bergema pelan di atas lantai semen yang halus.
"Aku datang tepat waktu, Hayden," ujar Aluna pada kehampaan ruangan, suaranya terdengar lantang dan berani.
"Bagus," sebuah suara berat merespons dari arah tangga spiral besi di sudut ruangan.
Aluna menoleh. Hayden perlahan melangkah turun dari lantai mezzanine. Pria itu memegang seangkut kain kanvas cadangan. Penampilannya masih sama—kaos hitam polos yang melukiskan bahunya yang tegap, celana kain longgar yang terciprat noda cat kering, dan rambut pirangnya yang sedikit berantakan. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menancap lurus pada Aluna.
Hayden meletakkan kain kanvasnya ke sudut dinding, lalu berjalan mendekati Aluna. Ia berhenti hanya dua langkah di depan gadis itu, menyilangkan tangan di dada sambil mengamatinya dari atas sampai bawah.
"Kau tampak kacau," komentar Hayden tanpa basa-basi. "Mata sembap, wajah pucat, dan pakaian kekecilan milik Romeo."
Aluna menegakkan dadanya, menentang pandangan meremehkan itu dengan mata berkilat. "Aku di sini bukan untuk dipuji penampilanku. Aku di sini untuk bekerja. Katakan apa yang harus kulakukan."
Hayden memiringkan kepalanya sedikit, mengamati perubahan gestur Aluna. Dulu, gadis ini akan bersembunyi di balik tubuh Romeo atau menunduk takut jika dilirik olehnya. Kini, Aluna berdiri tegak meski tubuhnya tampak lelah setengah mati.
"Keberanian yang menarik," gumam Hayden dingin. "Tapi di studio ini, namamu bukan 'Aluna adik Romeo'. Di sini, kau adalah objek dari lukisanku. Semua aturanku mutlak."
"Sebutkan aturannya," potong Aluna cepat.
Hayden menunjuk ke arah sudut ruangan, tempat sebuah tirai pembatas terpasang di dekat lemari pakaian kayu.
"Di balik tirai itu ada beberapa gaun yang sudah kusiapkan," kata Hidden, suaranya tenang namun bernada perintah yang tak terbantahkan. "Ganti pakaianmu. Pakai gaun putih tanpa lengan yang tergantung di paling depan. Hapus sisa-sisa riasan murahanmu, dan diikat rambutmu ke atas."
Aluna menatap tirai itu sejenak, lalu kembali menatap Hayden. "Hanya itu?"
"Setelah itu, naik ke atas podium kayu itu," lanjut Hayden, menunjuk podium berbalut kain beludru hitam. "Duduk di sana, tatap kanvas ini, dan jangan bergerak atau bersuara sampai aku menyuruhmu berhenti. Paham?"
Aluna mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa malu dan canggung kembali mengusik hatinya, namun ia menepisnya sekuat tenaga.
"Paham," jawab Aluna tegas.
Ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju balik tirai pembatas. Di sana, tergantung sebuah gaun malam berbahan sutra putih polos tanpa lengan dengan potongan sederhana namun elegan. Tidak seronok gaun merah di festival lukis, tetapi gaun ini sangat tipis dan akan mencetak siluet tubuhnya secara sempurna di bawah sorotan cahaya studio.
Dengan jemari gemetar, Aluna melepas kaos besar Romeo dan celana jeansnya. Saat ia menyarungkan gaun putih dingin itu ke tubuhnya, ponsel di dalam saku celananya bergetar keras.
Jantung Aluna melompat. Ia dengan cepat menyambar ponselnya.
Sebuah panggilan masuk dari Rumah Sakit Medika.
Aluna menahan napas, menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan tangan yang gemataran hebat. "Hallo? Suster?"
"Mbak Aluna?" suara Suster dari seberang telepon terdengar berpacu dengan kebisingan lorong. "Operasi Mas Romeo baru saja selesai sepuluh menit yang lalu. Dokter bedah baru keluar dari ruang operasi!"
Airmata Aluna merebak seketika di sudut matanya. "Bagaimana... bagaimana keadaan Kak Romeo, Suster?!"
Di luar tirai, Hayden yang sedang menyiapkan cat minyak di paletnya menghentikan gerakannya. Pria itu berdiri kaku, mendengarkan percakapan dari balik tirai dengan pandangan mata yang perlahan mengeras.
*
*
*
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna