"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Alasan membenci Lily
"Mmmmh, orang tua pun tahu mana yang lebih pantas untuk berada di suatu posisi," kata Lucas yang secara tidak langsung menyindir Lily yang tidak pernah dibiarkan Daddy-nya keluar negeri sejak dulu.
"Iya, orang tua sangat tahu anak mana yang harus disayang dan mana yang harus dibuang," kata Lily.
"Jika tidak karena kamu Papi tidak akan mengirim aku keluar negeri," ucap Lucas mengepalkan tangannya, teringat masa kecil mereka.
Lucas semakin membenci Lily karena dia adalah alasan mengapa Lucas disekolahkan ke luar negeri oleh Papinya.
"Kak Lucas yang jahat, kenapa malah nyalahin Lily," kata Lily yang sebenarnya juga tidak mengerti kenapa Lucas begitu membencinya.
Karena Lucas sering jahat padanya waktu kecil, makanya Lily membalasnya.
"Tapi jika tidak karena kamu Papi tidak akan mengirim aku keluar negeri," teriak Lucas yang teringat kejadian 14 tahun yang lalu.
Flash Off
Begitu pulang sekolah Lucas duduk di ruang santai sambil mengerjakan tugas sekolahnya.
"Kak Lucas ayo main," ajak Lily yang waktu itu berumur 6 tahun sementara Lucas 14 tahun.
"Enggak," ketus Lucas yang sibuk dengan tugasnya, Lucas juga heran melihat gadis itu yang sering sekali main ke rumahnya.
"Mmmmh, mau main," rengek Lily menyeret tangan Lucas.
Lily kecil sangat nakal dan menyebalkan bahkan suka memaksa orang-orang untuk memenuhi keinginannya.
"Aku bilang tidak, ya tidak," tegas Lucas mendorong Lily yang terus mengganggunya.
Dorongan Lucas yang terlalu kuat membuat Lily kehilangan keseimbangan dan terjatuh hingga kepalanya membentur ujung meja kaca.
"Lily," Lucas langsung membantu Lily yang kepalanya sudah berdarah.
"Hwaaa, Daddy," tangis Lily yang menyentuh kepalanya dan langsung pingsan begitu melihat banyak darah di kepalanya.
"Setelah itu apa yang terjadi Kak?" penasaran Lily karena dia pingsan dan setelah beberapa hari dia mendengar bahwa Papi mengirim Lucas ke luar negeri.
Semenjak kejadian itu, Lily baru bertemu Lucas lagi sekarang!
"Papi marah bahkan menamparku dan mengambil keputusan untuk memindahkan sekolahku ke luar negeri," kata Lucas.
"Semua itu gara-gara kamu," tegas Lucas yang dulu sangat membenci Lily, namun seiring dia tumbuh dewasa Lucas mulai menyadari kalau dia juga salah.
"Kak Lucas kenapa sih, dari dulu nggak suka Lily, padahal Lily cuma pengin main sama Kakak?" itulah pertanyaan yang sejak dulu ingin Lily tanyakan.
Lucas itu sangat menjaga jarak bahkan menyentuhnya saja Lily tidak boleh saking dia tidak menyukai Lily.
"Jawab Kak?" rengek Lily memegang tangan Lucas.
"Tidak ada alasan, nggak suka ya tidak suka," kata Lucas.
"Ya apa alasannya, masa nggak suka tanpa alasan," kata Lily heran.
"Yang harus ada alasan itu suka, lagian apa yang bisa aku sukai dari kamu?" tanya Lucas dengan tatapan angkuhnya memandang Lily.
"Mmmmh, Lucas kurang ajar," teriak Lily menendang kursi yang Lucas duduki sampai terpental ke dinding.
"Akhhhh, Lily," geram Lucas memegang kepalanya yang terpentok ke dinding.
Tok
Tok
"Masuk," ucap Lucas dengan wajah datarnya.
"10 menit lagi meeting dimulai, Tuan," kata asisten Lucas mengulum senyum melihat wajah bad mood Lucas.
"Bawa semua berkas ini," ucap Lucas menyerahkan beberapa dokumen yang diangguki asistennya.
"Aku akan meeting selama 2 jam ke depan, tunggu di sini," ucap Lucas berdiri mengancingkan jasnya.
"Mau ikut," kata Lily yang menghentikan langkah kaki Lucas dan asistennya.
"Tunggu di sini," tegas Lucas berhenti berjalan menatap Lily yang masih duduk di kursinya.
"Mmmmh, mau ikut, jika tidak Lily bakalan acak-acak ruangan Kak Lucas," kata Lily dengan senyum nakalnya.
"Acak jika berani," tegas Lucas menatap dengan tatapan tajam gadis yang duduk di kursi ini.
"Mau ikut Kak," kata Lily menghampiri Lucas dan ikut bersamanya.
Lily berjalan di belakang Lucas sambil tersenyum pada setiap orang yang menyapa mereka saat lewat.
"Benar-benar pria arogan," komentar Lily dengan suara kecil, sedari tadi puluhan orang menyapa Lucas tapi tidak satu pun yang dijawabnya.
"Iya kan, Kakak genteng," kata Lily melambaikan tangannya pada asisten Lucas yang berjalan di sebelahnya.
Asisten Lucas tersenyum kaku dengan kaki yang mendadak gemetaran mendengar perkataan Lily yang mungkin juga didengar Lucas.
"Dave tambah satu kursi," ucap Lucas yang diangguki asistennya.
"Oooo, namanya Kak Dave," kata Lily terus berjalan menatap Dave yang sudah berjalan ke ruangan lain.
"Aduhhhh," keluh Lily ketika dia yang berjalan melihat Dave malah menabrak punggung Lucas yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Perlu kacamata untuk melihat jalan?" tanya Lucas.
"Kakak kira aku rabun," ketus Lily mencibir pada Lucas yang bicara kurang ajar sekali.
Begitu masuk ke dalam ruang meeting Lily duduk di sebelah Lucas dengan perasaan senang, Lily itu senang ikut meeting bukan untuk menambah ilmu tapi cuci mata.
Pria tampan dan jenius selalu membuat Lily jatuh cinta!
"Hai," senyum centil Lily baru saja duduk sudah menyapa kolega bisnis Lucas yang duduk di sebelahnya.
"Hello Baby, my name is Daniel," kata pria itu juga langsung mengulurkan tangannya, siapa yang tidak akan tergoda melihat cewek secantik Lily yang begitu ceria.
"Lily," kata Lily memperkenalkan diri, walaupun sedikit kaget karena pria itu berbahasa Inggris.
"Masih saja genit," suara kecil Lucas benar-benar mencubit paha Lily di bawah meja.
Sejak dulu Lily suka menggoda semua pria, Lucas sangat tidak menyukai itu.
"Hmm, Kak Lucas kenapa sih, selalu galak dan marah," suara kecil Lily mengelus pahanya yang dicubit Lucas.
"Jangan genit, dari kecil sampai sekarang masih saja sama," ketus Lucas memijat pelipisnya.
"Kakak cemburu?" bisik Lily ke dekat telinga Lucas yang membuat pria itu langsung melotot.
"Atas dasar apa aku cemburu?" ketus Lucas meminta moderator meeting untuk segera memulai.
"Habis sejak kecil Kak Lucas selalu marah kalau Lily goda laki-laki," kata Lily mengingatnya.
"Aku tidak suka wanita genit," kata Lucas.
"Bukannya banyak wanita genit di sekitar Kakak, kenapa marahnya sama Lily doang," komplain Lily, bahkan di dalam ruangan ini ada beberapa wanita genit yang sengaja menggoda Lucas.
"Diam kamu," ketus Lucas lalu fokus pada pembahasan dalam meeting.
Lily menopang dagunya dengan tangan di atas meja menatap Lucas yang berdiri menjelaskan materi meeting dengan berbagai ekspresi.
"Baby," panggil Daniel dengan suara kecil pada Lily yang sejak pandang pertama sudah mengalihkan perhatiannya.
"Mmmmh," gumam Lily menatap Daniel yang duduk di sebelahnya.
"Give me your phone number," pinta Daniel.
Lily yang tidak ingat berapa nomornya langsung mengambil ponsel di dalam tasnya.
Lucas yang sedang menerangkan materi meeting itu berjalan dan mengambil ponsel Lily lalu memasukkan ke dalam saku jasnya.
"Haaaa," Lily hanya bisa merengek dalam diam melihat Lucas yang kembali menerangkan materi setelah mengambil ponselnya.
Lily belum sempat berbagi nomornya dengan Daniel.
"Ini aja," kata Lily mengambil ponsel Daniel dan memberikan akun medsosnya.