NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan

**

Felisa berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit, pikirannya sudah panik tidak karuan saat tadi di rumah mendapatkan kabar jika Elvan terserempet motor saat istirahat kabur ke luar gerbang untuk jajan es cendol. Lebih jelasnya, Felisa belum tahu apa karena tadi langsung memutuskan telepon dan terburu-buru ke sini.

Brakkkk

Felisa bahkan tidak sabaran untuk hanya sekedar mengetuk pintu, atau membuka pintu perlahan karena wanita itu langsung mendorong pintu itu keras sampai terbuka sepenuhnya. Di dalam, ada dua guru yang sedang duduk di kursi, sedang Elvan sendiri sedang tidur dengan tangan kanan di perban dan kaki kanan terlihat bengkak.

"Ibunya Elvan?" sapa seorang guru langsung berdiri menyambut Felisa.

Felisa mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Elvan tidak apa-apa, Bu?"

Felisa berjalan perlahan, menatap Elvan dengan perasaan sangat sedih. Anak kesayangannya, jagoannya kini tengah berbaring dengan banyak luka.

"Maaf Bu, ini semua kelalaian kami sebagai para guru tidak bisa menjaga para murid." Bu Meta, yang Felisa ketahui wali kelas Elvan menggenggam tangannya. "Ibu tenang saja, kata dokter tidak ada luka yang serius. Hanya luka lecet-lecet yang sudah diobatin. Ibu juga tenang saja, pihak sekolah akan bertanggungjawab untuk semua biaya pengobatan sampai sembuh."

Felisa mengangguk kecil. "Syukurlah, jika tidak ada luka yang serius." Felisa mengelus pelan pipi Elvan yang sedang tidur. "Tidak apa-apa. Saya tahu, pihak sekolah sudah berusaha menjaga anak-anak dengan baik. Memang anak saya ini terlalu aktif, saya di rumah saja suka kerepotan jaga dia. Terimakasih, telah sigap membawa Elvan ke rumah sakit."

"Terimakasih, Ibu Felisa atas pengertiannya."

Setelah berbincang-bincang cukup lama, ke dua guru itu izin pamit untuk kembali ke sekolah. Sebelum pergi, mereka berulangkali mengatakan akan bertanggungjawab untuk semuanya, Felisa hanya mengangguk kecil dan tersenyum menanggapinya.

"Mama, aku dimana?"

Felisa yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah, langsung terkesiap menghampiri Elvan yang sudah bangun.

"Ada yang sakit, Sayang?" Felisa sudah sibuk bertanya ini-itu khawatir. "Sebentar, Mama keluar dulu mau panggil dokter."

"Dokter?" Elvan bertanya bingung. "Ini di rumah sakit? Huwaaa .... gak mau di sini .... aku mau pulang ...!!!"

Tangis Elvan seketika pecah. Felisa menepuk jidat lupa, jika Elvan takut dengan rumah sakit. Waktu umur 4 tahun, Felisa membawa Elvan ke rumah sakit untuk menjenguk Meri. Bocah itu tiba-tiba hilang, saat Felisa membuka sebentar chat di ponsel. Setelah tiga jam, Elvan ditemukan di troli ada di kamar jenazah. Semenjak saat itu, Elvan takut akan rumah sakit.

"Mau pulang! Gak mau dimakan mumi! Gak mau!" Tangis Elvan semakin kencang.

Felisa mulai panik. "Gak ada mumi di sini, Sayang. Elvan lagi sakit, nanti udah sembuh kita pulang, ok!"

"Gak mau! Huwa ... Papa mau pulang!" Elvan membalikan badan membelakangi Felisa.

Jika sudah begini, Felisa juga bingung bagaimana caranya untuk mendiamkan Elvan. Sejauh ini, Felisa tahu dibanding dirinya, lelaki itu lebih mudah untuk mendiamkan Elvan saat menangis. Sayangnya, Felisa belum mengabari Rafa karena tadi lelaki itu mengatakan hari ini dia akan ke Bogor, untuk meninjau pembangunan langsung.

Ceklek

Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian Felisa dari Elvan yang sedang menangis.

"Sudah bangun, Adeknya? Ayo, kita periksa dulu!" sapa dokter itu setelah masuk bersama seorang suster. "Kapan bangunnya si Dedeknya, Ibu?"

"Barusan, tapi ini langsung nangis mau pulang gak mau di rumah sakit. Dia memang kebetulan ada sedikit trauma kecil di rumah sakit," jawab Felisa sambil berusaha membalikan tubuh Elvan supaya lebih mudah untuk diperiksa.

"Anak ganteng gak boleh nangis, nanti kalau gak nangis Om Dokter kasih permen, mau?" Dokter itu berusaha membujuk Elvan, sembari mempersiapkan alat medisnya.

Elvan menoleh sebentar. "Aku udah dewasa, bukan anak kecil. Gak suka permen!"

Felisa menepuk kening. Dia yakin ini gara-gara ajaran Rafa, Elvan selalu merasa dia jadi anak dewasa tapi kelakuannya melebihi nakal anak seumurannya.

Dokter itu terkekeh. "Orang dewasa juga gak nangis. Biasanya, kalau gak nangis nanti cepet dapat pacar. Iya kan, Suster?"

Suster juga mengangguk. "Iya, ayo diperiksa dulu anak lelaki dewasa ganteng, biar cepat keluar dan dapat pacar."

Terlihat, Elvan sepertinya tertarik karena anak itu melentangkan kembali badannya. Felisa kembali menepuk jidat, tidak habis pikir anaknya malah luluh karena akan mendapat pacar.

Setelah itu, proses pemeriksaan Elvan berjalan lancar tanpa ada protesan dari anak itu. Kondisi Elvan juga sudah baik kata dokter, tapi masih harus menginap untuk kembali melakukan pemeriksaan lebih dalam untuk memastikan tidak ada luka dalam.

Malamnya, pintu tiba-tiba terbuka kasar. Seperti dugaan Felisa, di sana sudah berdiri Rafa dengan masih menggunakan kemeja kerja, dengan penuh keringat dan terlihat ngos-ngosan. Felisa memang baru memberitahu Rafa, saat sejam yang lalu Rafa mengabarkan akan pulang. Sengaja, supaya lelaki itu fokus kerja dan tidak perlu buru-buru datang.

"Kenapa gak bilang dari tadi?" Rafa datang-datang sudah marah-marah, sembari berjalan tergesa ke arah Elvan.

"Ih ... Papa minggir! Halangi aku!" Sementara anaknya malah marah-marah karena Rafa sudah heboh memeriksa tubuhnya, menghalangi dia yang sedang menonton Tayo.

"Kamu gak papa?" Rafa masih bertanya panik.

"Minggir ... Papa!"

"Ada yang sakit?"

"Lihat, Tayonya keburu iklan gara-gara Papa!"

"Mana yang sakit?"

"Papa ... nyebelin!"

Felisa yang sedang membereskan baju mereka, menghela napas lelas. Sepertinya, dia harus segera memisahkan bapak-anak itu, sebelum pihak rumah sakit yang memisahkan karena keributan mereka.

Felisa berjalan menghampiri Rafa, menyentuh lengan lelaki itu. "Elvan gak papa cuman lecet-lecet aja. Tapi, mesti nginep beberapa hari dulu, buat lakuin pemeriksaan dalamnya besok. Kamu udah makan?"

Terdengar Rafa menghela nafas lega. "Syukur deh, aku ngebut tadi bawa mobil saking paniknya. Lagian, kenapa gak kasih tahu tadi pas kamu tahu, sih?"

"Sengaja, biar kamu fokus kerja cari uang yang banyak." Felisa kembali berjalan ke arah Sofa. "Sini, makan dulu! Aku udah pesen go-food tadi."

Rafa mendengus, tapi mengikuti Felisa karena memang sudah lapar. Sementara Elvan, sudah kembali sibuk dengan Tayo-nya.

Malam ini, mereka memutuskan menginap di rumah sakit. Untung Felisa sempat berbelanja pakaian online untuk mereka bertiga, sehingga bisa berganti baju bersih kecuali Elvan yang memang memakai pakaian rumah sakit.

"Jangan lari-larian, nanti kamu jatuh!"

"Jangan panjat ke situ!"

"Cio turun, gak! Mau Mama tinggal di kebun binatang, kamu!"

Felisa tersenyum tipis melihat Alexa yang sedang membujuk Cio, anak lelakinya yang sedang memanjat lemari. Ternyata, bukan hanya dirinya yang kadang setres dengan kelakuan ajaib Elvan, ternyata Alexa lebih parah.

"Cantik ini mah, bakal jadi anak baik, kan? Gak bakal nurutin kakak-kakaknya?" Felisa mencubit kecil pipi Cia, anak bungsu Alexa yang dalam pangkuannya.

Keadaan ruang rawat terlihat lebih ramai dengan kedatangan Alexa dan kedua anaknya. Suami Alexa tadi hanya mengantar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Sedang Elvan dan Rafa sedang melakukan pemeriksaan di ruangan lain dengan dokter untuk mengetahui apakah anak itu ada luka dalam atau apakah anak itu ada luka dalam atau tidak.

"Diam, yah!" Alexa sudah duduk disisi Felisa dengan memeluk erat Cio yang berhasil dia tangkap.

"Ajaib yah, kelakuan dua anak itu? Aku ada Elvan aja, kadang pusingnya gak ketulungan. Ini kamu harus urus si kecil Cia juga? Gimana rasanya?"

Felisa memang sangat merasa takjub akan Alexa karena selama ini harus bisa menghandle anak ajaib kaya Cio sambil merawat sikecil Cia yang baru saja berusia satu tahun.

Alexa terkekeh. "Luar biasa sih, Kak. Capek, pusing, setres pasti. Kadang, aku udah gak tahu arti metime itu apa, semua waktu aku sibuk ngurus mereka dan Papa-nya. Tapi aku juga tahu, jika kebahagiaan aku yah mereka bertiga. Lelah aku semua kaya hilang, cuma lihat senyuman bahagia mereka. Mereka dunia aku. Selelah apapun aku, gak pernah bisa kehilangan dunia yang begitu indah ini."

"Kamu benar. Senakal apapun Elvan, bocah itu tetap alasan aku bertahan dari dunia yang kejam ini, alasan aku bisa tersenyum saat nangis, alasan aku merasa bahagia saat dunia kadang tak berjalan tak semestinya." Felisa tersenyum karena memang betapa beruntungnya dia memiliki Elvan dihidupnya.

"Kak Rafa belum jadi dunia Kakak, yah?"

Felisa menoleh, tersenyum. "Dia masih misteri buat aku."

"Aku cuman berharap, keluarga kalian akan ada waktu dimana merasa saling memiliki satu sama lain." Alexa menepuk pundak Felisa. "Kakak percaya gak, bahwa cinta kadang datang tanpa disadari dan diduga?"

"Hah?"

Alexa tersenyum tipis. "Aku yakin pasti bakal ada hari buat kalian sadar akan perasaan masing-masing."

"Ak--"

"Mama!" Belum sempat Felisa menjawab suara Elvan terdengar bersamaan dengan suara pintu terbuka. "Bos, kamu di sini!"

"Iya dong, ajudan sakit harus dijenguk!" Cio sudah loncat dari pangkuan Alexa dan berlari ke arah Elvan.

"Jangan ngajak main ribut, Elvan lagi sakit!" teriakan Alexa sepertinya sudah tidak didengar oleh dua bocah itu yang sekarang sudah asyik bermain mobil-mobilan di ranjang Elvan.

Ketiga orang dewasa itu hanya mengangkat bahu menyerah, membiarkan dua bocah itu larut dalam permainannya. Berbarengan dengan itu Cia menangis, sepertinya anak itu mengantuk karena sekarang sudah mulai terlelap di gendongan Alexa.

"Gimana hasilnya?" tanya Felisa akhirnya menemukan momen yang pas untuk bertanya ke Rafa.

"Gak ada luka dalam, besok Elvan bahkan udah bisa pulang. Cuman perlu minum obat pereda nyeri aja, semuanya baik-baik aja," jawab Rafa yang seketika langsung membuat Felisa lega.

"Syukur deh," jawab Felisa ikut menyandarkan kepala ke sandaran sofa sama seperti Rafa. "Kamu gak papa hari ini gak masuk kerja?"

"Tenang, aman. Aku masih bisa kerjakan tugas mendesak di sini nanti."

"Syukur deh, berarti uang gajian kamu aman."

Rafa mendengus. "Uang mulu otaknya." Hanya dibalas kekehan Felisa.

Alexa family pulang sore hari setelah dijemput suaminya, dengan banyak drama Cio dan Elvan yang tidak mau berpisah.

Malamnya, Felisa sedang berjalan-jalan di lorong rumah sakit. Niatnya mau pergi ke Taman, mau mencari udara segar mumpung Elvan dan Rafa sedang asyik bermain game.

"Fel!" Suara panggilan itu menghentikan langkah Felisa, tanpa sadar bahkan tubuh Felisa menegang mendengar suara itu.

"Om."

##

1
Siti Musyarofah
kira2 siapa yg culik fely y
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
up lagi Thor jangan lama y🙏
uriarmy16: udah, aku barusaan publish 2 chapter🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
lagi thor
Siti Musyarofah
lagi, lagi Thor tahu2 udah abis aja
uriarmy16: sabar pemirsa 🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
lanjut thor
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!