Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Umpan di Pegunungan Pedang
Balai Tugas Puncak Awan Dalam dipenuhi oleh ratusan Murid Dalam. Hari ini adalah pembagian Misi Wajib tahunan.
Diaken Balai Tugas membentangkan gulungan perkamen yang memancarkan cahaya keemasan dari aksara Qi yang tertulis di atasnya.
"Misi tahun ini dipusatkan di Pegunungan Seribu Pedang!" seru Diaken itu. "Tugas kalian adalah memburu Binatang Roh tingkat menengah yang populasi dan kebuasannya mulai mengancam desa-desa fana di perbatasan, serta mengumpulkan Rumput Pedang Besi. Setiap regu terdiri dari lima orang."
Diaken mulai membacakan daftar nama dan pembagian regu. Mayoritas murid mendengarkan dengan tegang. Pegunungan Seribu Pedang bukanlah tempat bermain. Sesuai namanya, puncak-puncak gunung di sana menjulang tajam menembus awan seperti ribuan pedang raksasa yang tertancap dari langit. Angin di sana mengandung Qi elemen logam yang begitu tajam hingga bisa merobek kulit kultivator lemah.
"Regu Garda Depan Ketiga," suara Diaken menggema. "Pemimpin Regu: Han Sen. Anggota: Liu Kai, Zhou Ming... dan Mu Chen."
Mendengar nama terakhir, puluhan pasang mata langsung menoleh ke arah sudut ruangan tempat Lin Xuan berdiri dengan topi caping bambunya.
Bisik-bisik langsung terdengar.
"Mu Chen? Si tangan cacat itu dimasukkan ke Garda Depan?"
"Garda Depan bertugas membuka jalan dan menghadapi serangan Binatang Roh pertama kali. Membawa orang yang meridiannya rusak sama saja dengan membawa mayat hidup."
Lin Xuan menatap lurus ke arah Diaken itu dengan wajah tanpa ekspresi. Di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini. Ini adalah campur tangan Tetua Wang. Sebuah cara yang sangat legal dan bersih untuk mengirimnya ke ladang pembantaian.
"Diaken, tunggu!"
Sebuah suara lantang membelah keributan. Dari barisan depan, Zhao Yun melangkah keluar. Jubah Murid Langsungnya yang berwarna putih bersih berkibar pelan.
"Saya, Zhao Yun dari Puncak Angin Puyuh, meminta izin untuk dipindahkan ke Regu Garda Depan Ketiga," kata Zhao Yun dengan tegas, menangkupkan kedua tangannya memberi hormat.
Kerumunan kembali gempar. Seorang Murid Langsung yang masa depannya cerah secara sukarela masuk ke regu bunuh diri demi seorang murid cacat?
Diaken itu mengerutkan kening, terlihat ragu. Namun, dari lantai dua Balai Tugas, suara batuk pelan terdengar. Tetua Wang berdiri di balkon, menatap ke bawah dengan mata elangnya yang licik.
"Kesetiakawanan adalah salah satu pilar Dao di Sekte Awan Hijau," ucap Tetua Wang dengan nada bijak yang memuakkan. "Jika Zhao Yun bersedia menanggung risiko demi melindungi sesama murid sekte, kita tidak boleh menghalanginya. Diaken, masukkan namanya menggantikan Zhou Ming."
"Sesuai perintah, Tetua!"
Zhao Yun menoleh ke arah Lin Xuan dan tersenyum lebar, seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertarungan besar.
Lin Xuan memalingkan wajahnya sedikit, menarik ujung topi capingnya lebih rendah. Idiot, batin Lin Xuan dingin. Mereka memang menginginkan kita berdua mati di luar sana.
"Jangan salahkan anak itu," tawa Gu Tianxie bergema di Lautan Kesadaran Lin Xuan. "Dia hanyalah domba putih yang melompat ke dalam kuali rebusan demi menemani serigala. Tetua bermarga Wang itu baru saja melempar dua burung dengan satu batu. Membersihkan penentang cucunya, sekaligus membuang murid jenius dari faksi lawan."
Tiga jam kemudian.
Sebuah Kapal Roh berbentuk perahu kayu raksasa melayang menembus awan, membawa regu-regu Murid Dalam menuju perbatasan. Artefak terbang ini digerakkan oleh susunan Formasi Angin yang ditenagai oleh ratusan Batu Roh tingkat tinggi.
Lin Xuan berdiri di buritan kapal, menatap pemandangan di bawahnya yang berubah dari hutan hijau menjadi daratan bebatuan kelabu.
"Saudara Mu," sapa Zhao Yun yang baru saja menghampirinya. Angin kencang membuat rambut Zhao Yun berantakan, namun matanya tetap bersemangat. "Aku sudah memeriksa kekuatan regu kita. Pemimpin Han Sen berada di Lapisan 3 Foundation Establishment. Dia sangat kuat. Kita hanya perlu mengikuti arahannya dari belakang."
Lin Xuan melirik Han Sen yang sedang berdiri di haluan kapal. Han Sen adalah pria kurus dengan mata sipit dan senyum yang selalu menempel di bibirnya. Sejak awal perjalanan, Han Sen bersikap sangat ramah pada Zhao Yun dan Lin Xuan.
Terlalu ramah.
"Zhao Yun," panggil Lin Xuan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin. "Di Pegunungan Seribu Pedang nanti, jangan pernah berjalan di depanku. Dan jika terjadi sesuatu, jangan pernah membelakangi Han Sen atau Liu Kai."
Zhao Yun mengerutkan kening bingung. "Maksudmu? Mereka adalah rekan satu sekte kita. Pemimpin Han bahkan tadi memberiku salep pelindung angin."
"Simpan naifmu untuk di dalam sekte," potong Lin Xuan tajam. Matanya yang gelap menatap Zhao Yun lurus-lurus. "Di alam liar, jubah sekte hanyalah selembar kain. Yang menentukan siapa kawan dan lawan adalah ujung pedang. Ingat kata-kataku."
Sebelum Zhao Yun bisa membantah, Kapal Roh mulai menurunkan ketinggian.
Di depan mereka, Pegunungan Seribu Pedang menjulang mengerikan. Puncak-puncaknya yang runcing dan berwarna hitam keperakan terlihat seperti gigi taring raksasa purba yang mengoyak langit. Kabut tebal berwarna kelabu menutupi dasar lembah, memancarkan aura Qi pembunuh yang liar.
Kapal mendarat di sebuah dataran tinggi berbatu di tepi pegunungan. Rombongan murid segera berpencar membentuk formasi regu masing-masing dan mulai memasuki hutan pinus besi di kaki gunung.
Han Sen mengumpulkan Regu Ketiga. Senyum ramahnya tidak pernah luntur.
"Baiklah, Saudara-saudara," kata Han Sen. "Tugas kita adalah mencari Rumput Pedang Besi di Lembah Sayatan Angin. Karena Saudara Mu Chen memiliki kondisi fisik yang... kurang menguntungkan, saya akan memintanya berada di posisi paling belakang formasi. Saudara Zhao Yun, Anda bertugas sebagai sayap kiri. Saya dan Liu Kai akan berada di depan untuk membuka jalan."
Strategi yang terdengar sangat masuk akal dan melindungi yang lemah. Zhao Yun mengangguk setuju.
Namun bagi Lin Xuan, taktik ini adalah formasi eksekusi yang sempurna. Menempatkan orang yang dianggap cacat di belakang berarti membiarkannya menjadi mangsa empuk bagi penyergap, sementara orang-orang di depannya bisa dengan mudah beralasan "terlambat menolong".
"Saya mengerti, Pemimpin Han," jawab Lin Xuan datar.
Mereka mulai berjalan memasuki hutan. Pepohonan di sini tidak memiliki daun biasa, melainkan jarum-jarum tajam yang terbuat dari kayu sekeras baja. Tanah ditutupi oleh bebatuan tajam dan lumut kelabu.
Setengah hari perjalanan berlalu dalam keheningan yang tegang. Mereka tidak menemukan satu pun Binatang Roh. Terlalu sunyi.
Saat mereka memasuki celah sempit di antara dua tebing batu raksasa, kabut kelabu tiba-tiba menebal dengan kecepatan yang tidak wajar. Jarak pandang menyusut drastis menjadi kurang dari lima meter.
Langkah Han Sen di garis depan tiba-tiba terhenti.
"Berhenti," Han Sen mengangkat tangannya. Suaranya tidak lagi terdengar ramah, melainkan sangat dingin.
Zhao Yun menghunus pedangnya, Qi angin berputar di sekelilingnya. "Ada Binatang Roh di depan, Pemimpin Han?"
Han Sen dan Liu Kai perlahan berbalik menghadap Zhao Yun dan Lin Xuan. Di tangan Han Sen, tidak ada pedang sekte, melainkan sebuah jarum raksasa berwarna hitam legam yang memancarkan Qi beracun.
"Bukan Binatang Roh, Saudara Zhao," Han Sen tersenyum bengis. "Hanya sekelompok pemburu yang sedang menjemput mangsanya."
Tepat saat Han Sen mengucapkan kata-kata itu, Formasi Ilusi di sekitar mereka diaktifkan.
Kabut kelabu itu beriak hebat. Dari balik bayangan tebing, empat sosok berpakaian serba hitam melompat keluar, memblokir jalan mundur mereka. Wajah keempat orang itu tertutup topeng kain, namun di leher mereka terdapat tato berbentuk taring hitam yang meneteskan darah.
"Pembunuh bayaran..." Zhao Yun membelalakkan matanya, mundur selangkah hingga punggungnya nyaris bersentuhan dengan Lin Xuan. "Gigi Hitam! Pemimpin Han, apa artinya ini?!"
"Artinya, Tuan Muda Wang mengirimkan salam perpisahan untuk kalian berdua," Liu Kai tertawa sinis, mengangkat kapak perangnya.
Keempat pembunuh Gigi Hitam itu masing-masing memancarkan aura Foundation Establishment Lapisan 2 dan 3. Ditambah Han Sen dan Liu Kai, regu ini menjebak Lin Xuan dan Zhao Yun dengan kekuatan enam ahli tingkat tinggi.
"Mu Chen, Zhao Yun. Jika kalian menyerah tanpa melawan, aku akan memastikan kematian kalian cepat dan tidak menyakitkan," Han Sen melangkah maju, jarum beracunnya menunjuk tepat ke arah jantung Lin Xuan. "Lagipula, meridianmu sudah hancur. Bertarung hanya akan memperpanjang penderitaanmu."
Zhao Yun menggertakkan gigi. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia memegang pedangnya erat-erat, memosisikan tubuhnya untuk menutupi Lin Xuan.
"Mu Chen," bisik Zhao Yun parau. "Aku akan menggunakan Teknik Pengorbanan Angin untuk menahan mereka. Saat formasi kabut ini terbuka sedikit, kau gunakan Langkah Hantu mu dan larilah secepat mungkin. Kembalilah ke sekte dan laporkan pengkhianatan ini pada Tetua Mo!"
Di tengah kepungan mematikan itu, Lin Xuan tidak menjawab Zhao Yun.
Ia perlahan mengangkat kepalanya. Topi caping bambunya terangkat sedikit, memperlihatkan sepasang mata hitam yang kini menyala dengan Niat Membunuh yang jauh lebih pekat dan buas daripada aura gabungan keenam pembunuh di depannya.
Sudut bibir Lin Xuan melengkung ke atas, membentuk senyum asura yang membekukan darah.
"Lari?" suara Lin Xuan terdengar pelan, namun bergema menembus kabut ilusi, membuat hawa dingin merambat di tengkuk Han Sen.
Lin Xuan melangkah maju, melewati bahu Zhao Yun. Tangan kanannya yang dikira cacat perlahan menggenggam gagang pedang di pinggangnya.
"Pegunungan ini tidak memiliki aturan sekte. Tidak ada Tetua yang mengawasi. Tidak ada batas Cermin Pelacak Darah," Lin Xuan menatap Han Sen dan para pembunuh Gigi Hitam satu per satu, seolah sedang menghitung jumlah domba di ruang jagalnya.
Sembilan pilar hitam di dalam Dantian Lin Xuan yang selama ini ia segel paksa, kini meledak terbuka. Aura Puncak Foundation Establishment menyapu kabut di sekitarnya bagaikan badai.
"Tahukah kalian apa artinya itu, Han Sen?" bisik Lin Xuan, mencabut pedangnya setengah inci hingga kilatan cahaya perak menerangi celah tebing yang gelap.
"Artinya... aku tidak perlu lagi menyembunyikan bangkai kalian."