NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Selimut yang sama

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai tipis kamar utama. Kamar yang biasanya dingin dan sunyi itu kini terasa hangat oleh napas dua manusia yang saling terikat.

Michael sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Namun, ia tidak berniat beranjak satu inci pun. Di pelukannya, Shaneen tertidur dengan sangat lelap—efek obat semalam membuatnya benar-benar tak berdaya. Napasnya stabil, mengalun lembut di dada bidang Michael.

Michael menunduk, menatap lekat-lekat wajah wanita yang selama ini ia anggap sebagai predator mematikan. Dalam jarak sedekat ini, Shaneen bukan lagi sang naga yang haus darah. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara kecantikan yang elegan dan keimutan yang tidak membosankan. Kulitnya sehalus bayi dengan semu merah alami di pipi. Batang hidungnya kecil berbentuk button nose yang mungil, dan matanya yang sleepy eyes menekuk sempurna dengan bulu mata lentik yang tenang.

Bibirnya? Michael memperhatikannya cukup lama. Bagian bawah yang lebih penuh dan bagian atas yang tipis, menciptakan lengkungan yang sangat menggoda bahkan saat ia terlelap. Michael tersenyum tipis, jarinya hampir saja menyentuh pipi halus itu, namun tiba-tiba ia merasakan tubuh Shaneen bergerak kecil.

Dengan sigap, Michael memejamkan matanya kembali, berpura-pura masih terhanyut dalam mimpi.

Shaneen perlahan membuka matanya. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun ia merasa tubuhnya sedang mendekap sesuatu yang sangat keras dan hangat. Saat penglihatannya mulai jernih, ia tersentak menyadari bahwa ia sedang memeluk tubuh kekar Michael Miguel.

Shaneen terdiam, membeku di posisinya. Alih-alih langsung menjauh, ia justru terpaku menatap wajah pria yang sedang "tidur" di depannya itu.

Dalam pikirannya, Shaneen mulai melukis profil wajah Michael. Pria ini memiliki struktur wajah yang begitu tegas, dengan rahang yang terpahat sempurna seolah diukir oleh seniman terbaik. Tulang pipinya tinggi dan tajam, memberikan kesan aristokrat yang dingin. Namun, saat tertidur seperti ini, ketajaman itu sedikit melunak.

Alisnya tebal dan hitam, kontras dengan kulitnya yang bersih. Hidung Michael tinggi, lurus, dan dominan—melambangkan sifatnya yang arogan namun protektif. Bibirnya yang tegas seringkali mengeluarkan kalimat sarkas, namun Shaneen tahu betapa hangatnya napas pria itu saat berbisik di telinganya. Michael adalah sosok nyata dari standar ketampanan yang berbahaya; memikat namun bisa menghancurkan dalam waktu bersamaan.

"Kau sangat tampan jika sedang diam begini, Tuan Miguel," bisik Shaneen sangat pelan, hampir seperti desahan angin. Ia mengulurkan tangannya, hampir menyentuh garis rahang Michael yang tajam itu.

Tepat sebelum jemari Shaneen mendarat, sudut bibir Michael tertarik ke atas membentuk seringai tipis. Ia membuka matanya dengan cepat, menangkap tangan Shaneen dan menguncinya di atas bantal.

"Jadi, kau suka apa yang kau lihat, Nyonya Miguel?" tanya Michael dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat berat.

Shaneen membelalak. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga. "K-kau... kau bangun sejak kapan?!"

"Cukup lama untuk tahu bahwa kau sedang mengagumi struktur wajahku," Michael menarik tubuh Shaneen lebih dekat, membuat hidung mereka bersentuhan. "Dan cukup lama untuk merasakan betapa eratnya kau memelukku semalam. Ternyata 'Wanita Berbahaya' ini bisa menjadi sangat manja saat sedang sakit, ya?"

Shaneen berusaha berontak, namun kekuatan Michael jauh di atasnya. "Itu... itu refleks karena aku sedang kedinginan! Jangan terlalu percaya diri!"

Michael tertawa rendah, sebuah tawa tulus yang jarang ia perlihatkan pada dunia. "Aku tidak percaya diri, aku hanya bicara fakta. Dan faktanya, kau terlihat sangat cantik dengan pipi merah itu. Jauh lebih baik daripada wajah pucatmu semalam."

Suasana mendadak menjadi sangat intim. Michael menatap mata sleepy eyes Shaneen dengan intensitas yang berbeda—bukan lagi sebagai detektif, melainkan sebagai seorang suami yang terobsesi. Batang hidung mereka saling bersentuhan dengan tatapan yang mengharapkan lebih daripada ini. Shaneen sudah mulai memejamkan matanya, sedangkan Michael sudah siap untuk mencium bibir mungil itu. Dan,—

Ting tong!

Bel apartemen berbunyi dengan tidak sabar.

"Sialan, siapa yang datang jam tujuh pagi seperti ini?" umpat Michael pelan. Ia melepaskan Shaneen dengan enggan. "Tetap di sini. Aku yang akan buka pintunya."

Shaneen segera menarik selimut sampai ke hidungnya, masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang menggila. "Cepat suruh dia pergi!"

Michael berdiri, hanya mengenakan celana pendek selutut dan baju kaos putih polos yang lumayan longgar. Ia melangkah menuju pintu utama dengan wajah kesal. Begitu pintu terbuka.

Ternyata sudah ada mereka berdua di depan pintu, Damian dan Rans berdiri mematung.

Suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi ruang rapat darurat. Rans berdiri dengan sikap sempurna, membuka tabletnya yang terenkripsi tingkat tinggi.

"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan," lapor Rans dengan suara rendah yang efisien. "Ada kabar penting dari sektor timur. Kontrak kerjasama dengan konsorsium raksasa dari Negara Tirai Bambu sudah mendarat di meja Anda. Ini adalah proyek infrastruktur digital yang sangat besar, namun mereka meminta pertemuan mendadak pagi ini. Tampaknya mereka sedikit mendengar 'bisikan' tentang kekacauan di pelabuhan semalam dan ingin memastikan bahwa tangan Anda tetap stabil memegang kendali."

Michael mengangguk, matanya berkilat tajam. "Bisnis dengan Tirai Bambu tidak boleh ada celah sedikit pun. Siapkan dokumennya, Rans. Kita akan buat mereka yakin bahwa SM Corporation adalah satu-satunya pelabuhan aman bagi modal mereka."

Di sisi lain, Damian menoleh ke arah Shaneen. Meski dunia mengenal Damian sebagai CEO Tizon Tech & Property yang disegani, di sini dia tetap tunduk pada instruksi Shaneen.

"Nona, di kantor Tizon juga ada kendala. Ayah Clara tampaknya mencoba menggunakan koneksi birokrasinya untuk menahan izin proyek properti baru kita di pesisir. Dia sengaja mencari celah karena merasa 'dilindungi' oleh Don. Saya butuh tanda tangan basah Anda untuk dokumen balasan agar proyek tetap berjalan sesuai jadwal," ucap Damian tenang.

Michael memperhatikan interaksi itu. Ia baru menyadari betapa kuatnya kendali Shaneen di balik layar.

Begitu pintu depan tertutup rapat dan suara langkah kaki Damian serta Rans menghilang di lorong, suasana apartemen kembali menjadi milik mereka berdua. Michael sudah tampil sangat rapi. Kemeja putihnya sudah terkancing sempurna, menonjolkan bahu tegapnya, dengan jas hitam yang ia sampirkan di kursi makan. Berjalan ke arah dapur, memperhatikan Shaneen yang sedang membelakangi dirinya.

"Damian ya?" Gumam Michael tiba-tiba, suaranya terdengar berat dan penuh selidik.

"Kenapa dengan dia?" Tanya Shaneen tanpa menoleh, tangannya lincah menata sarapan di atas piring.

"Dia CEO-mu, tapi dia menatapmu dengan kesetiaan yang... tidak biasa. Dia sepertinya tahu setiap jengkal hidupmu, bahkan rahasia di bawah lantai perpustakaan ini pun dia paham," Michael bersandar di konter dapur, menatap Shaneen dengan tatapan cemburu yang coba ia tutupi dengan kesan 'analisis'. "Berapa lama kau mengenalnya? Apakah dia pernah menjadi seseorang yang 'lebih' dari sekadar CEO di matamu?"

Shaneen berhenti menata piring. Ia menoleh perlahan, melihat wajah Michael yang terlihat sangat tampan tapi sedang memasang ekspresi tidak nyaman yang sangat kentara. Shaneen menahan tawa.

"Tuan Miguel, apakah kau sedang cemburu pada asisten pribadiku?" Goda Shaneen.

"Aku hanya mempertimbangkan faktor risiko, Shaneen." Kilah Michael cepat, meski ia membuang muka sedikit.

Shaneen meletakkan piring, lalu berjalan mendekati Michael. Ia merapikan kerah kemeja Michael yang masih terbuka, membuat Michael terpaksa menatap mata sleepy eyes-nya yang kini berkilat jahil.

"Dengarkan aku ya, Tuan Miguel . Damian dulu adalah tangan dan kaki ayahku. Dia berasal dari panti asuhan yang hampir digusur entah tahun berapa. Waktu itu aku masih sangat kecil. Dan Damian ditemukan dijalan karena tak sengaja menyebrang. Ayah turun dari mobil memperhatikannya, mata sembab seperti habis menangis. Lalu kami mengantarnya kembali. Disana suster yang menjadi kepala pengasuh mereka menceritakan semuanya. Jadi ayah dengan senang hati membeli lokasi tersebut, agar anak-anak panti merasa aman kembali. Tidak hanya disitu, ayah tertarik pada kepintaran dan kepribadiannya yang tegas."

Shaneen menatap Michael dengan tulus. "Ayah membiayai seluruh hidupnya, mendidiknya, dan menjadikannya pelindung bagi kami. Damian adalah kakak dan sahabat paling setia. Dan hanya sebatas itu, gak lebih."

Shaneen tersenyum lebar, mencubit dagu Michael yang kaku. "Jadi, tidak usah cemburu. Damian sudah punya istri yang sangat cantik dan seorang anak perempuan yang lucu berusia 5 tahun. Damian sangat mencintai keluarganya dan dia hanya ingin menjalankan tugasnya dengan baik agar bisa pulang ke rumah."

Michael terdiam. Rasa "panas" di dadanya mendadak menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Ia berdehem, mencoba kembali ke mode berwibawa.

"Oh," gumam Michael pendek. "Anak 5 tahun, ya? Baguslah. Setidaknya dia punya motivasi yang benar untuk bekerja."

Shaneen hanya tertawa kecil melihat betapa gengsinya Michael untuk mengaku cemburu.

Setelah sarapan dan mendengar cerita itu, pertahanan Michael runtuh total. Ia tidak bisa lagi menahan hasrat yang sejak tadi pagi tertahan di tempat tidur. Michael menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Menunduk dan menatap mata Shaneen begitu dalam, memangkas jarak, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam.

Ciuman itu bukan lagi sekadar godaan. Itu adalah ciuman yang menuntut, penuh dengan rasa kepemilikan dan gairah yang sempat terputus oleh bel pintu tadi. Michael mempererat pelukannya, seolah ingin melelehkan Shaneen ke dalam tubuhnya. Shaneen pun membalasnya, merasakan debaran jantung Michael yang menggila di balik kemejanya.

Namun, saat suasana mulai memanas dan Michael mulai kehilangan kendali. Michael menelusuri dan membenamkan wajahnya ke leher jenjang Shaneen. Gawat ini bisa diluar kendali. Shaneen mendorong lembut dada bidang Michael sambil mengatur napasnya yang memburu.

"Hei cukup, Michael... Kau harus ke kantor. Investor dari Tirai Bambu itu tidak akan suka jika pemimpin SM Corporation datang terlambat ya." Goda Shaneen dengan napas tersenggal.

Michael mengerang frustrasi. Ia menyandarkan dahinya di dahi Shaneen, matanya terpejam dengan wajah yang mendadak cemberut. Benar-benar ekspresi tidak puas yang terlihat sangat kontras dengan imej dinginnya di luar.

"Lima menit lagi ya, sayang. Aku akan batalkan rapatnya, aku bisa mengurus mereka nanti siang," rengek Michael—ya, seorang Michael Miguel baru saja merengek.

Shaneen tertawa lepas melihat sisi kekanak-kanakan calon suaminya. "Tidak bisa, Sayang. Kerja dulu, baru main."

Melihat Michael yang masih memasang wajah menekuk dan tidak bersemangat, Shaneen meraih wajah pria itu dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan sebuah ciuman manis di pipi kanan Michael.

"Biar semangat kerjanya. Cepat pergi, atau aku akan menyuruh Damian yang mengantarku ke kantor Tizon."

"Hei, ini kurang." Protes Michael.

Michael mengecup dahi Shaneen sekali lagi sebelum melangkah keluar dengan langkah angkuh yang kembali muncul. Shaneen hanya bisa menggelengkan kepala melihat pintu tertutup.

"Singa itu... benar-benar mudah dijinakkan dengan satu ciuman," gumam Shaneen sambil tersenyum lebar, memulai paginya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!