Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pintu gua kuno itu terbuka dengan suara derit berat setelah Lin Feng menyentuh rune api di permukaannya. Api keemasan dari tubuhnya seolah menjadi kunci hidup—garis-garis rune menyala terang, lalu pintu batu bergeser ke samping, mengeluarkan hembusan panas kering yang bercampur aroma bunga liar yang terbakar.
Ye Qingyu melangkah di sampingnya, lonceng kecil di pinggangnya berdenting pelan setiap kali ia bergerak. Cahaya dari luar gua hanya menyusup beberapa meter; setelah itu, kegelapan menyelimuti lorong panjang yang dindingnya dipenuhi ukiran api kuno—naga api, phoenix yang terbakar, dan sosok-sosok dewa yang wajahnya sudah pudar.
“Menurut legenda,” kata Ye Qingyu dengan suara rendah, hampir berbisik, “gua ini adalah tempat peristirahatan terakhir seorang dewa api yang jatuh ribuan tahun lalu. Bunga Api Abadi tumbuh dari darahnya yang terakhir. Siapa pun yang mendapatkannya bisa naik satu tingkat besar dalam kultivasi api… tapi harganya mahal.”
Lin Feng meliriknya sekilas. “Harga seperti apa?”
Ye Qingyu tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Biasanya… nyawa. Bunga itu hidup, dan ia memilih pemiliknya sendiri. Jika tidak cocok, ia akan membakar jiwa orang yang menyentuhnya.”
Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya melangkah lebih dalam. Di dalam dadanya, Yan Di Shen Zun bergumam pelan.
“Anak perempuan ini tahu terlalu banyak. Hati-hati. Tapi… bunga itu memang memanggilmu. Aku bisa merasakannya.”
Lorong semakin panjang dan panas. Udara terasa seperti napas naga. Tiba-tiba, lorong terbuka menjadi ruangan luas berbentuk kubah. Di tengah ruangan, sebuah danau lava kecil menggelegak pelan. Di tengah danau itu, terapung satu tangkai bunga berwarna merah keemasan, kelopaknya seperti api yang membeku, inti bunganya berdenyut seperti jantung hidup.
**Bunga Api Abadi.**
Begitu Lin Feng melangkah mendekat, bunga itu bergetar. Kelopaknya membuka lebar, dan hembusan api lembut menyapu wajahnya—bukan panas menyakitkan, melainkan hangat yang familiar, seperti pelukan dari masa lalu yang tak pernah ia miliki.
Ye Qingyu berhenti di belakangnya. “Kau… dipilihnya.”
Lin Feng mengulurkan tangan. Bunga itu melayang sendiri meninggalkan danau lava, mendarat lembut di telapak tangannya. Begitu menyentuh kulitnya, bunga itu meleleh menjadi tetesan api cair yang meresap masuk ke pori-porinya.
Rasa panas meledak di seluruh tubuhnya.
Tungku Api Abadi berputar ganas. Api keemasan membesar, naik satu tingkat penuh—dari tahap awal Tubuh Api Tak Hancur menjadi tahap menengah. Meridiannya melebar, qi api murni mengalir deras seperti sungai magma. Rasa sakit ada, tapi bagi Lin Feng, itu seperti api yang membersihkan—membakar segala keraguan dan kelemahan lama.
Saat breakthrough selesai, ia membuka mata. Pupilnya kini berwarna emas cair, dan di sekitar tubuhnya melayang percikan api kecil yang berputar seperti bintang.
Ye Qingyu menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya yang biasanya dingin dan penuh rahasia kini menunjukkan ekspresi yang jarang ia tunjukkan—kekaguman bercampur sesuatu yang lebih lembut.
“Kau… benar-benar pewaris Api Abadi,” gumamnya. “Aku sudah menduga, tapi melihatnya langsung… berbeda.”
Lin Feng menoleh padanya. “Kenapa kau bawa aku ke sini? Kau bisa ambil bunga itu sendiri kalau kau tahu tempatnya.”
Ye Qingyu menunduk sejenak, jari-jarinya memainkan lonceng kecil di pinggangnya. Suaranya pelan, hampir rapuh.
“Aku… bukan kultivator api. Aku dari Sekte Bayangan Bulan—jalur bayangan dan ilusi. Api bukan jalanku. Tapi aku butuh seseorang yang bisa mengambil bunga itu tanpa mati. Karena… ada orang yang aku ingin lindungi. Dia terluka parah karena kutukan api kuno. Hanya esensi Bunga Api Abadi yang bisa menyembuhkannya sepenuhnya.”
Lin Feng diam. Ia tidak langsung percaya, tapi ada kejujuran di mata gadis itu—kejujuran yang sama seperti dendamnya dulu.
“Siapa orang itu?” tanyanya.
“Adik perempuanku,” jawab Ye Qingyu. “Dia satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku. Sekte kami… dihancurkan oleh musuh yang menggunakan api terlarang. Aku selamat, tapi dia… hampir mati. Aku sudah mencari bertahun-tahun. Dan kau… adalah satu-satunya orang yang kulihat bisa menyentuh bunga itu tanpa terbakar.”
Lin Feng menatapnya lama. Api di dadanya masih hangat dari breakthrough, tapi kali ini ada percikan baru—bukan dendam, melainkan sesuatu yang lebih tenang.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan bantu. Tapi dengan syarat.”
Ye Qingyu mengangkat kepala, matanya melebar. “Apa syaratnya?”
“Kau ikut bersamaku ke Kota Kekaisaran. Bukan sebagai sekutu sementara. Sebagai… teman. Dan kalau kau bohong, aku akan bakar kau dan adikmu sekaligus.”
Ye Qingyu tersenyum—senyum asli, bukan senyum dingin seperti biasanya. Senyum itu membuat wajahnya terlihat lebih muda, lebih hidup.
“Deal. Tapi… aku juga punya syarat kecil.”
Lin Feng mengangkat alis.
“Jangan panggil aku ‘Ye Qingyu’ terus. Panggil aku Qingyu saja. Dan… kalau kau butuh bantuan di kota nanti, aku akan lindungi punggungmu. Bayangan dan api… sepertinya cocok bersama.”
Lin Feng tidak menjawab langsung. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju pintu keluar gua.
Tapi saat mereka berjalan berdampingan di lorong gelap, Ye Qingyu tiba-tiba berhenti. Ia meraih lengan Lin Feng—sentuhan pertama yang bukan ancaman atau serangan.
“Lin Feng,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Terima kasih. Bukan hanya untuk adikku… tapi juga karena kau tidak langsung membunuhku meski kau bisa.”
Lin Feng menatap tangan yang memegang lengannya. Panas dari tubuhnya seolah meresap ke kulit gadis itu, tapi Ye Qingyu tidak menarik tangan. Malah, ia memegang lebih erat sedikit.
“Jangan terlalu berterima kasih dulu,” jawab Lin Feng, suaranya tetap dingin tapi ada nada baru di dalamnya—nada yang lebih lembut. “Kita belum sampai kota. Masih banyak api yang harus kubakar… dan mungkin, ada api yang tak ingin kubakar.”
Ye Qingyu tersenyum kecil, melepaskan tangannya perlahan.
“Maka… mari kita bakar bersama yang harus dibakar. Dan lindungi yang harus dilindungi.”
Mereka keluar dari gua saat matahari terbenam. Langit berwarna jingga seperti api yang sedang padam. Di depan mereka, jalan menuju Kota Kekaisaran Xuanyuan masih panjang.
Tapi kali ini, Lin Feng tidak lagi berjalan sendirian.
Di dadanya, Yan Di Shen Zun tertawa pelan—tawa yang jarang terdengar.
“Api Abadi mulai punya hati lagi, ya? Menarik… sangat menarik.”
Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya melirik Ye Qingyu yang berjalan di sampingnya, lonceng kecilnya berdenting seperti irama baru dalam hidupnya yang penuh dendam.
Dan untuk pertama kalinya sejak dantiannya rusak, ada percikan yang bukan dendam—melainkan sesuatu yang lebih hangat, lebih berbahaya, dan lebih indah.
Percikan bernama… perasaan.