Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Pertama dari Herza
Napas Lauren tersengal, meninggalkan uap tipis yang segera hilang di udara sore yang lembap. Ia melarikan diri dari riuh rendah suara siswa lain, mencari suaka di taman belakang sekolah yang terbengkalai. Di sini, di balik rimbunnya pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti jemari raksasa, Lauren jatuh terduduk di atas bangku kayu yang lapuk.
Punggungnya bersandar kasar pada sandaran bangku. Dadanya naik turun dengan cepat. Kejadian di koridor tadi bukan sekadar penampakan biasa. Bayangan hitam besar itu telah menyentuh batinnya, meninggalkan rasa dingin yang kini merambat dari ulu hati ke seluruh ujung sarafnya.
Lauren menatap telapak tangannya. Masih ada sisa getaran dari ledakan energi biru yang ia lepaskan secara tidak sengaja. Kulitnya terasa panas, kontras dengan udara sekitar yang mendadak membeku.
Aku tidak bisa terus begini, batinnya. Air mata mulai menggenang, namun ia menekannya sekuat tenaga.
Kenapa duniaku harus seburuk ini?
Suasana taman itu begitu sunyi, hingga suara kepakan sayap burung gagak di kejauhan terdengar seperti ledakan. Lauren memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya seperti yang diajarkan Mbah Minto. Tarik napas, fokuskan pada kehangatan, buang kegelapannya. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, wajah tanpa mata dari entitas di koridor itu kembali muncul, menyeringai di balik kelopak matanya.
Tiba-tiba, sebuah aroma samar tercium oleh indra penciumannya. Bukan bau busuk kematian atau tanah basah yang biasa menyertai makhluk-makhluk kegelapan. Ini adalah aroma pinus yang segar, bercampur dengan bau kertas buku lama.
Lauren tersentak. Matanya terbuka lebar. Ia segera berdiri, menyandarkan punggungnya pada batang pohon beringin. Tangannya terkepal, siap melepaskan energi lagi jika sesuatu menyerangnya.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Lauren ke arah semak-semak yang bergoyang.
Namun, tidak ada bayangan hitam yang muncul. Tidak ada mata merah yang berkilat. Dari balik bayang-bayang pilar bangunan tua di ujung taman, seorang remaja laki-laki melangkah keluar dengan tenang.
Laki-laki itu tampak berusia sekitar tujuh belas tahun. Ia mengenakan seragam sekolah yang modelnya nampak sedikit usang, namun sangat rapi. Wajahnya pucat, namun garis wajahnya tegas dan tenang. Matanya jernih, memancarkan kedamaian yang belum pernah Lauren rasakan dari penghuni dunia lain mana pun.
Lauren mematung. Ia memperhatikan kaki laki-laki itu. Tidak menapak sempurna, sedikit melayang di atas permukaan rumput. Arwah.
"Siapa kamu?" tanya Lauren, suaranya bergetar antara takut dan takjub.
Remaja itu berhenti beberapa langkah di depan Lauren. Ia tidak mencoba mendekat lebih jauh, seolah tahu bahwa Lauren butuh ruang untuk merasa aman.
"Namaku Herza," jawabnya. Suaranya rendah, jernih, dan memiliki gema yang menenangkan, seperti suara angin di tengah padang rumput yang luas.
Lauren semakin mengeratkan kepalannya.
"Apa maumu? Apa kamu juga salah satu dari mereka yang menginginkan 'kunci' itu?"
Herza menggeleng pelan. Ia duduk di udara, menyilangkan kakinya dengan santai seolah itu hal paling wajar di dunia.
"Mereka itu kasar dan berisik, bukan? Aku berbeda. Aku sudah di sini sejak lama, mengawasimu dari balik dinding-dinding tua itu."
"Mengawasiku?" Lauren mundur satu langkah.
"Itu terdengar mengerikan."
"Maaf," Herza tersenyum kecil. Senyum itu tampak tulus, meski ada guratan kesedihan di sudut bibirnya.
"Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya... jarang melihat cahaya yang begitu terang di sekolah ini. Cahaya birumu tadi hampir membuatku silau."
Lauren perlahan mengendurkan kepalan tangannya. Ia tidak merasakan hawa dingin yang mengancam dari sosok bernama Herza ini. Sebaliknya, kehadiran Herza justru membuat udara di sekitarnya terasa lebih hangat, seolah-olah remaja laki-laki itu membawa perisai tak kasatmata yang menahan hawa jahat dari sisa-sisa serangan tadi.
"Kenapa kamu tidak pergi saja? Maksudku... ke tempat yang lebih baik?" tanya Lauren ragu-ragu.
Herza menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan.
"Ada hal-hal yang belum selesai. Dan ada seseorang yang harus dijaga. Takdir adalah jaring yang rumit, Lauren. Terkadang kita terjepit di dalamnya tanpa bisa melarikan diri."
Lauren terdiam. Kata-kata itu terasa sangat akrab di telinganya.
"Kamu tahu namaku."
"Tentu saja. Semua penghuni dunia bayangan tahu namamu sekarang. Kamu adalah permata di tengah kegelapan bagi mereka. Tapi bagiku, kamu hanyalah seorang gadis kecil yang terlihat sangat kelelahan," kata Herza sambil menatap mata Lauren dalam-dalam.
Lauren merasakan dorongan kuat untuk menangis. Selama bertahun-tahun, semua orang di sekitarnya—termasuk orang tuanya—menatapnya dengan rasa takut atau rasa kasihan. Baru kali ini, seseorang, bahkan jika itu adalah sesosok arwah, menatapnya dengan pengertian yang murni.
"Aku lelah, Herza," bisik Lauren. Bahunya meluruh.
"Aku ingin hidup normal. Aku ingin sekolah tanpa harus takut pada bayangan di jendela. Aku ingin punya teman yang tidak lari saat aku bicara."
Herza bangkit dari posisi duduknya dan melayang sedikit lebih dekat. Kali ini Lauren tidak mundur. Ia membiarkan arwah remaja itu mendekat hingga ia bisa merasakan getaran energi hangat yang memancar dari tubuh transparan Herza.
"Dunia ini tidak adil, aku tahu," kata Herza lembut. Ia menjulurkan tangannya, seolah hendak mengusap kepala Lauren, namun ia menghentikannya tepat beberapa sentimeter dari rambut gadis itu.
"Tapi kamu punya kekuatan yang luar biasa. Dan kekuatan itu bukan kutukan, kecuali jika kamu membiarkan rasa takutmu yang mengendalikannya."
"Bagaimana aku bisa tidak takut? Mereka selalu ada! Mereka mencakar pintuku, mereka berbisik di telingaku!" suara Lauren meninggi, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi.
Herza menatap Lauren dengan tatapan yang sangat dewasa untuk wajah remajanya.
"Mulai sekarang, kamu tidak perlu menghadapi mereka sendirian lagi."
Lauren mendongak, menyeka air matanya dengan ujung seragam.
"Maksudmu?"
"Aku sudah melihat perjuanganmu sejak kamu pertama kali masuk ke gerbang sekolah ini. Aku melihat bagaimana kamu menekan energimu hingga batinmu terluka. Itu tindakan yang berani, tapi salah," jelas Herza.
"Kamu butuh seseorang yang mengerti aturan main di dunia kami. Seseorang yang bisa menjadi matamu saat kegelapan menutup pandanganmu."
"Kamu mau membantuku?" Lauren bertanya tidak percaya.
"Kenapa? Apa imbalannya?"
Herza tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting lonceng perak.
"Imbalan? Aku sudah mati, Lauren. Aku tidak butuh uang atau makanan. Mungkin, melihatmu tersenyum tanpa rasa takut adalah bayaran yang cukup untukku."
Lauren menatap Herza lama sekali. Ia mencari tanda-tanda pengkhianatan atau tipu muslihat di mata arwah itu, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun hidupnya, Lauren merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat. Kehadiran Herza memberikan rasa nyaman yang aneh, jenis kenyamanan yang belum pernah ia dapatkan dari dunia manusia yang selalu menghakiminya.
"Kamu serius?" tanya Lauren lagi, memastikan.
Herza mengangguk mantap. Ia mengulurkan tangannya yang tampak bercahaya redup di bawah sinar matahari yang mulai tenggelam.
"Aku akan menjagamu, Lauren. Aku akan menjadi perisaimu di sekolah ini dan di mana pun kegelapan mencoba menyentuhmu."
Lauren ragu sejenak, lalu ia mencoba menyentuh tangan Herza. Tangannya menembus cahaya itu, namun ia merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, mengusir sisa-sisa hawa dingin dari entitas hitam besar tadi. Lauren tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah lama tidak mampir di wajahnya.
"Terima kasih, Herza," bisik Lauren.
Langit sudah sepenuhnya gelap sekarang. Lampu-lampu taman sekolah mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan-bayangan panjang di tanah. Namun kali ini, Lauren tidak merasa ketakutan. Ia menoleh ke arah Herza yang berdiri di sampingnya, setia seperti bayangan yang memiliki nyawa.
Saat Lauren berbalik untuk berjalan menuju gerbang sekolah di mana ayahnya mungkin sudah menunggu dengan cemas, Herza membisikkan sesuatu yang membuat langkah Lauren terhenti sejenak.
"Jangan pernah tundukkan kepalamu lagi, Lauren," suara Herza terdengar sangat dekat di telinganya, membawa keyakinan yang baru bagi gadis itu.
"Ingatlah satu hal ini dalam setiap langkahmu."
Lauren menoleh, menatap sosok arwah mentor barunya yang tersenyum tenang di tengah temaram cahaya lampu.
"Kau tidak sendirian," kata Herza pelan, namun kalimat itu bergema dengan kekuatan yang mampu meluluhlantakkan seluruh pertahanan kesepian yang selama ini dibangun Lauren di dalam hatinya.
Lauren mengangguk pelan, merasakan setitik harapan mulai tumbuh di antara jaring-jaring takdirnya yang rumit. Ia berjalan keluar dari taman dengan langkah yang lebih mantap, meninggalkan sunyi yang kini terasa seperti pelukan, sementara Herza perlahan memudar namun kehadirannya tetap terasa seperti detak jantung kedua di belakang punggungnya.