Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Pulang kampung.
Jakarta masih tertutup kabut tipis saat Nana melangkah keluar dari apartemennya dengan tas punggung kecil. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada pesan singkat ke grup kerja, bahkan tidak ada pamit pada Gani. Setelah kejadian semalam di apartemen Aska, yang menyisakan debaran aneh sekaligus rasa malu yang tak kunjung padam, Nana merasa jiwanya butuh udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kopi espresso atau kertas.
Ia butuh pulang. Bukan ke tempat di mana ia harus menjadi "Wanita Profesional" atau "Mantan Tunangan Tris", melainkan ke tempat di mana ia hanya menjadi Nana, anak gadis seorang petani yang sering dianggap tidak punya masa depan jika tidak menjual wajah cantiknya.
Perjalanan bus antarprovinsi memakan waktu hampir delapan jam. Sepanjang jalan, Nana menatap hamparan sawah dan pepohonan yang perlahan menggantikan gedung-gedung beton.
Ponselnya sengaja ia matikan, karena ia tidak ingin mendengar kabar pekerjaan mendadak. Tidak apa sesekali egois, ini adalah waktu liburnya.
Menjelang sore, bus berhenti di sebuah pertigaan pasar kecamatan yang berdebu. Nana turun, menghirup aroma tanah dan sayuran segar yang sudah lama ia rindukan. Ia harus menyambung perjalanan dengan ojek pangkalan untuk sampai ke desanya yang terletak di lereng perbukitan.
Sesampainya di depan rumah kayu yang masih berdiri kokoh dengan halaman luas berisi jemuran jagung, Nana terpaku. Di sana, seorang pemuda bertopi lusuh dengan kulit terbakar matahari sedang sibuk memindahkan karung-karung pupuk dari atas motor bebek tua.
Itu adalah Rian, adik tirinya. Anak dari wanita yang sering disebut Nana sebagai "Penyihir Cerewet". Rian baru berusia dua puluh tahun, seorang lulusan SMK yang tidak melanjutkan kuliah dan memilih untuk tetap di desa membantu bapak mengurus ladang jagung dan cokelat.
"Rian," panggil Nana pelan.
Pemuda itu menoleh. Matanya menyipit karena silau matahari, lalu ia menunjukkan ekspresi terkejut yang tertahan. Hubungan mereka tidak pernah buruk, tapi juga tidak bisa dibilang akrab. Sejak bapak menikah lagi, ada sekat transparan yang membuat Nana dan Rian hanya bertegur sapa seperlunya, seperti teman sekadar kenal yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.
"Kak Nana? Kok pulang nggak bilang-bilang?" suara Rian berat, khas pemuda desa yang lebih banyak bekerja fisik daripada bicara.
"Lagi libur. Bapak ada?" Nana mendekat, mencoba membantu mengangkat tas kecilnya sendiri.
"Bapak masih di ladang atas, paling bentar lagi turun. Ibu lagi ke arisan di rumah Pak RT," jawab Rian sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan. Ia menatap penampilan Nana; celana jins bersih, sepatu kets bermerek, dan kulit yang tampak lebih cerah dibanding saat ia berangkat dulu. "Mbak kelihatan ... beda. Kayak orang sukses."
Nana hanya tersenyum getir. Sukses? Jika Rian tahu mbaknya hampir masuk penjara dan sekarang sedang menjadi "tahanan" profesional seorang pengacara dingin, mungkin dia tidak akan bilang begitu.
"Biasa aja, Yan. Sini, aku bantu bawa itu," Nana menunjuk karung pupuk yang tersisa.
"Nggak usah, ini berat. Tangan Kakak mana terbiasa dengan hal seperti ini," tolak Rian halus, namun ada nada tegas di sana. Ia melihat tangan Nana yang lentik dan halus, kukunya yang terlukis indah membuktikan gadis itu tidak pernah melakukan pekerjaan menggunakan otot. Meski pendiam, Rian selalu menghormati Nana sebagai sosok yang "berpendidikan" di keluarga mereka.
Nana masuk ke dalam rumah. Bau kayu tua dan minyak kayu putih langsung menyambutnya. Semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah sejak ia meninggalkan rumah itu untuk kuliah dan baru kembali sekarang. Bahkan pertunangan dengan Tris dulu, dilakukan di kota di mana hanya Heru yang mendampingi Nana.
Ia duduk di tepi amben kayu di ruang tengah, menjulurkan kakinya yang pegal. Tak lama, suara deru motor tua Bapak terdengar di halaman. Nana langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang.
"Nana?"
Pak Heru berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak lebih tua, kerutan di wajahnya semakin dalam, dan bajunya penuh bercak tanah kering. Ia menatap putri sulungnya dengan tatapan tidak percaya, lalu senyum lebar merekah di wajahnya yang lelah.
"Bapak," Nana menghambur memeluk ayahnya. Aroma keringat dan tembakau bapak membuatnya ingin menangis. Ia sudah banyak menyusahkan pria tua ini.
"Katanya sibuk, kok tiba-tiba sampai rumah? Kamu nggak dipecat kan, Nak?" tanya Pak Heru cemas setelah melepas pelukan.
"Enggak, Pak. Nana cuma kangen. Nana lagi punya waktu luang."
Malam itu, mereka makan malam sederhana dengan sayur lodeh dan ikan asin. Ibu tiri Nana, Bu Erni, tetaplah wanita yang sama, cerewet dan selalu menghitung setiap pengeluaran, tapi ia tidak berkomentar jahat saat melihat Nana membawakan beberapa oleh-oleh baju untuknya dan Rian.
Rian makan dengan lahap dalam diam, sesekali melirik kakaknya. "Kak, di Jakarta itu ... beneran kayak di TV? Orang-orangnya jahat ya?"
Nana terhenti sejenak, wajah Aska mendadak melintas di pikirannya. "Ada yang jahat, Yan. Ada yang baik tapi kaku banget kayak kanebo kering. Tapi yang paling penting, di sana hidup itu cepat banget. Kalau kita melamun dikit, kita ketinggalan."
"Pantas Kak Nana jarang telepon. Pasti capek ya ngejar waktu di sana," gumam Rian.
Nana menatap adik tirinya itu. Ada rasa bersalah yang menusuk. Selama ini ia terlalu fokus pada dramanya sendiri di Jakarta, pada pengkhianatan Tris, dan pada ambisinya di depan Aska. Ia lupa bahwa di rumah ini, ada Rian yang setiap hari berpanas-panasan demi membantu Bapak tanpa pernah mengeluh ingin kuliah.
"Yan, Kakak udah dapat perkerjaan bagus sebagai ilustrator, bahkan juga menjalin kontrak sebagai konsultan visual eksklusif di salah satu firma hukum di Jakarta."
Keluarga kecil itu tidak mengerti pekerjaan seperti apa yang dibicarakan Nana, namun rasanya terdengar hebat.
"Baguslah, Ibu pikir kau tidak akan pernah sadar dengan tingkah kekanak-kanakanmu. Punya kemampuan tuh memang harus dipakai, jangan dibuang cuman karena merasa kurang perhatian," sindir Erni.
Nana merengut mendengarnya.
"Oh, pantas saja Kakak tidak pernah merengek meminta kirim uang lagi."
Heru menambahkan, "Auramu juga terasa berbeda sekarang, jadi lebih cantik."
"Aku memang cantik. Siapa di desa ini yang lebih cantik dari aku? Ah sudahlah, bukan itu yang ingin aku katakan." Tatapan Nana kemudian tertuju ke Rian. "Kamu yakin gak mau kuliah? Atau ambil kursus? Kakak bisa bantu."
Rian tersedak air minumnya. Ia menatap Nana, lalu menggeleng pelan. "Nggak usah, Kak. Rian di sini aja nemenin Bapak. Bapak udah makin tua, ladang kalau nggak ada yang urus sayang. Kakak aja yang sukses, biar Bapak bangga punya anak yang gelarnya banyak."
Pak Heru mengusap pundak Rian dengan bangga. "Anak-anak Bapak semuanya hebat dengan caranya sendiri."
Suasana hangat itu mendadak terusik saat ponsel Nana yang ia letakkan di kamar bergetar hebat. Nana masuk ke kamar dan melihat layar ponselnya. Ada 27 panggilan tak terjawab dan 15 pesan singkat.
Semuanya dari Aska.
Pesan terakhir yang masuk satu menit yang lalu berbunyi:
Aska: [Di mana kau? Tidak bisa dihubungi, dan tidak ada di apartemen atau kantor. Kalau terjadi sesuatu beritahu aku.]
Kenapa aku harus melapor? Dia kan tidak suka mendengar kabar tidak penting, dan menekanku untuk mandiri, batin Nana yang semakin bingung oleh sikap Aska.
Nana mengabaikan pesannya, mematikan ponsel lagi. Nana terkikik kecil karena ia sedang meniru Aska yang sok sibuk, sampai meremehkan keperluan orang lain yang menghubungi atau meminta sedikit waktunya.
Bersambung....