NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni Pembebasan

Kehadiran Hendrawan bukan sekadar kebetulan; ini adalah simbol bahwa "kematian" bagi para elit hanyalah data, tapi bagi manusia, "kematian" adalah pengorbanan yang bisa melahirkan kehidupan baru. Kita akan menjaga Udara di puncak Gunung Padang yang tadinya membeku dalam keheningan The Nul lifer mendadak pecah oleh frekuensi yang tak terduga. Lagu rakyat yang disiarkan oleh Hendrawan bukan sekadar audio; itu adalah kode organik yang mengandung anomali emosional yang tidak bisa diproses oleh algoritma Arc.hon. Suara seruling bambu yang menyayat hati, beradu dengan tabuhan kendang yang ritmis, mulai merambat melalui atmosfer, memicu resonansi pada batuan andesit purba.

Liora, yang tadinya sudah bersiap untuk melakukan serangan bunuh diri, terpaku. Ia melihat ketiga Arc.hon di hadapannya mendadak berhenti. Tubuh logam mereka yang hitam legam mulai mengeluarkan percikan listrik statis. Sistem mereka yang dirancang untuk kehampaan mendadak dipaksa untuk memproses harmoni yang kompleks.

"Adam! Kau dengar itu?" suara Hendrawan terdengar melalui saluran radio yang terenkripsi, terselip di antara frekuensi musik. "Aku tidak pernah mati di Singapura, kawan. Aku hanya 'menghapus' diriku dari sistem mereka dan bersembunyi di dalam infrastruktur komunikasi kuno yang mereka lupakan. Sekarang, gunakan lagu ini! Jadikan ini sebagai pembawa virus nurani!"

Di Borobudur, Adam menarik napas yang seolah-olah ditarik dari inti bumi. Ia menangkap frekuensi musik itu dan memodulasinya. Ia tidak lagi menggunakan energi murni, melainkan menggunakan memori budaya. Ia memancarkan frekuensi tersebut melalui jaringan segitiga Borobudur-Gunung Padang-Muara Takus.

"Aku merasakannya, Hendrawan," suara Adam bergema, kembali kuat dan berwibawa. "Liora! Mundur sekarang! Gunung ini akan menjadi instrumen musik raksasa!"

Liora segera berlari menuju celah batu, berlindung di balik pilar-pilar besar. Di bawahnya, ketiga Arc.hon mulai bertingkah aneh. Mereka tidak lagi menyerang; mereka mulai memegang kepala mereka. Cahaya merah di mata mereka berkedip-kedip, berubah menjadi warna kuning bingung.

"Hentikan... kebisingan ini..." salah satu Arc.hon mengerang, suaranya bukan lagi digital, tapi suara manusia yang penuh dengan kesakitan masa lalu. "Kenapa aku mengingat wajah ibuku? Kenapa aku mengingat bau tanah setelah hujan?"

Inilah kelemahan terbesar proyek Nephilim dan Arc.hon: mereka adalah manusia yang "dipaksa" lupa. Tapi memori biologis manusia tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya terkubur di bawah lapisan kode. Musik Hendrawan bertindak sebagai kunci yang membuka peti kemas memori tersebut.

Tiba-tiba, dari puncak stupa Gunung Padang, keluar gelombang cahaya berwarna pelangi—hasil dari pembiasan energi melalui kristal Maru yang diselaraskan dengan musik. Gelombang ini menyapu lereng gunung, menghantam para Arc.hon, dan terus meluas hingga ke kota-kota di bawahnya.

Di Jakarta, Surabaya, dan Medan, orang-orang yang tadinya bersimpuh di depan Arc.hon-Arc.hon lain mendadak tersentak. Pengaruh hipnotis itu luntur. Mereka melihat "dewa" di depan mereka bukan lagi sebagai penyelamat, melainkan sebagai mesin mengerikan yang mencuri kemanusiaan mereka.

"Lihat! Mereka bukan dewa!" teriak seorang warga di Jakarta. "Mereka adalah monster!"

Pemberontakan pecah secara spontan di seluruh dunia. Manusia yang selama ini ditekan oleh ketakutan mendadak menemukan keberanian kolektif melalui frekuensi musik yang disiarkan Adam. Ini adalah serangan balik yang tidak pernah diperkirakan oleh para elit: Perang Kebudayaan.

Namun, di Bulan, sang Pemegang Kendali tidak tinggal diam. Wajahnya yang keriput nampak sangat murka. "Kalian menggunakan seni untuk melawan sains? Sangat primitif. Jika mereka ingin musik, aku akan memberikan suara kehancuran yang sesungguhnya."

Ia mengaktifkan protokol terakhir: "THE COLLAPSE OF THE SPHERES".

Bahtera di Bulan mulai melepaskan gelombang gravitasi yang sangat kuat, yang dirancang untuk menarik bulan sedikit lebih dekat ke bumi, menciptakan pasang surut yang ekstrem dan gempa bumi global. Mereka berniat menghancurkan "instrumen" bumi (situs-situs megalitikum) secara fisik sebelum Adam bisa menyelesaikan simfoninya.

"Adam, gravitasi bumi sedang berubah!" Liora berteriak saat ia merasakan tanah di bawahnya mulai berguncang hebat. Batu-batu kolom di Gunung Padang mulai retak. "Mereka mencoba meruntuhkan gunung ini!"

"Aku tahu, Liora. Mereka mencoba mematikan resonansi fisik kita," Adam menjawab dengan suara yang bergetar karena menahan beban gravitasi. "Hendrawan, aku butuh kau untuk mengalihkan satelit penguat mereka di orbit. Aku tidak bisa menahan beban ini sendirian!"

"Sedang kucoba, Adam! Tapi mereka menggunakan enkripsi Unit 731-Omega. Aku butuh kunci manual yang hanya ada di dalam 'ruang hitam' di bawah gedung Ate gard di Singapura. Seseorang harus berada di sana secara fisik!"

Liora berdiri di tengah guncangan gempa. "Aku akan ke sana."

"Kau gila?" teriak Mpu Barada yang baru saja keluar dari bunker. "Singapura adalah pusat kekuatan mereka! Itu adalah sarang ular!"

"Aku punya pesawat kecil milik elit," kata Liora sambil menunjuk pesawat yang tadi ia gunakan untuk kabur dari pantai selatan. "Dan aku punya Adam di kepalaku. Jika ini adalah akhir dari simfoni ini, aku ingin menjadi orang yang menekan tombol berhenti untuk mereka."

Liora tidak menunggu jawaban. Ia berlari menuju pesawatnya di bawah hujan abu dan batu yang mulai berjatuhan dari langit. Pesawat itu melesat membelah atmosfer yang kacau, menuju Singapura yang kini dikelilingi oleh badai elektromagnetik raksasa.

Di perjalanan, Adam terus membimbing Liora. "Liora, dengarkan aku baik-baik. Di bawah gedung Ate gard, ada sebuah ruangan yang tidak terdaftar di peta mana pun. Itu adalah laboratorium asli tempat para ilmuwan Unit 731 pertama kali mendarat setelah perang dunia kedua. Di sana tersimpan 'Master Frequency' detak jantung dari seluruh sistem elit. Jika kau bisa memasukkan kode Hendrawan di sana, bulan akan kembali ke orbitnya, dan Bahtera mereka akan kehilangan daya dorong."

"Lalu apa yang akan terjadi padamu, Adam?" tanya Liora dengan firasat buruk.

"Jika sistem elit runtuh total, Borobudur akan melepaskan seluruh energinya untuk menyeimbangkan kembali gravitasi bumi. Aku... aku akan menjadi bagian dari energi itu selamanya. Tidak akan ada lagi suara di kepalamu, Liora."

Air mata Liora jatuh, tertiup angin di dalam kokpit yang berguncang. "Tidak... harus ada cara lain."

"Ini adalah Arsitektur yang terakhir, Liora. Sebuah bangunan yang tidak terbuat dari beton, tapi dari kebebasan. Aku bangga bisa membangunnya bersamamu."

Pesawat Liora menembus barisan awan hitam di atas Singapura. Di bawah sana, gedung Ate gard berdiri seperti menara terkutuk yang memancarkan cahaya merah ke arah bulan. Liora mengarahkan pesawatnya langsung ke arah lantai dasar, bersiap untuk menabrakkan diri jika perlu, demi mencapai pintu menuju "ruang hitam".

Sementara itu, di Gunung Padang dan Borobudur, pilar-pilar cahaya keemasan mulai memudar seiring dengan meningkatnya tekanan gravitasi dari bulan. Mpu Barada terus berdoa, mencoba menahan kestabilan tanah dengan kekuatan batinnya.

Dunia sedang menahan napas. Simfoni pembebasan ini sedang menuju cres endo terakhirnya. Antara kegelapan luar angkasa dan cahaya dari dalam bumi, takdir manusia sedang ditentukan oleh seorang wanita yang terbang menuju sarang ular dan seorang pria yang jiwanya telah menjadi satu dengan batuan purba.

Di Bulan, sang Pemegang Kendali tersenyum sinis, tidak menyadari bahwa di dalam Bahteranya sendiri, anak kecil yang sempat dirasakan oleh Adam tadi mulai menyanyikan lagu rakyat yang sama sebuah virus yang kini telah menyusup hingga ke jantung musuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!