NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — Retakan Halus

Pagi setelah gala terasa lebih sunyi dari biasanya.

Tidak ada tim stylist. Tidak ada kamera. Tidak ada kilatan lampu.

Namun justru kesunyian itu membuat pikiran Alya bekerja lebih keras.

Ia duduk di meja sarapan, membaca berita bisnis pagi itu dari tablet. Foto dirinya dan Bima terpampang di beberapa portal ekonomi. Judul-judulnya positif—stabilitas saham, ekspansi regional, pasangan CEO yang solid.

Secara publik, semuanya terlihat sempurna.

Namun ia tahu semalam ada sesuatu yang bergeser.

Clara Santoso bukan sekadar wanita dari masa lalu.

Ia adalah pemain aktif.

Dan pemain seperti itu tidak pernah bergerak tanpa tujuan.

Bima turun beberapa menit kemudian, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung setengah. Tanpa jas. Tanpa formalitas berlebihan.

Ia duduk berhadapan dengan Alya.

“Komentar pasar stabil,” katanya singkat.

“Saya sudah lihat,” jawab Alya tenang.

Bima memperhatikannya sekilas.

“Kamu tidak tidur nyenyak.”

“Saya berpikir.”

“Berkaitan dengan Clara?”

Alya tidak menyangkal.

“Dia masih bagian dari negosiasi ekspansi?”

“Ya.”

“Dan dia tidak suka saya.”

Bima menatapnya datar. “Dia tidak suka kehilangan kendali.”

Alya mengangguk pelan.

“Apakah pernikahan ini mengganggu rencana kerja sama?”

“Belum.”

Belum.

Satu kata yang cukup jelas.

Alya meletakkan tabletnya.

“Kalau ada risiko terhadap perusahaan, beri tahu saya lebih dulu.”

Tatapan Bima sedikit berubah.

“Kamu bicara seperti eksekutif.”

“Saya belajar cepat.”

Hening sesaat.

“Clara dan saya dulu hampir menyepakati merger personal dan bisnis sekaligus,” ucap Bima akhirnya.

Kalimat itu tidak emosional.

Tapi jujur.

Alya mendengarkan tanpa memotong.

“Hubungan itu berakhir karena perbedaan visi. Bukan karena konflik dramatis.”

“Dan sekarang dia kembali sebagai pesaing?”

“Sebagai mitra potensial. Sekaligus pesaing jika negosiasi gagal.”

Informasi itu cukup.

Alya menyadari bahwa posisinya bukan sekadar istri kontrak.

Ia adalah variabel baru dalam persamaan lama.

Siang itu, Bima berangkat lebih awal untuk pertemuan lanjutan dengan tim ekspansi. Alya memutuskan datang ke kantor sedikit lebih lambat.

Namun sebelum ia berangkat, panggilan masuk ke ponselnya.

Nomor tak dikenal.

Ia mengangkatnya.

“Selamat pagi, Mrs. Wijaya.”

Suara Clara terdengar jelas.

Alya tidak menunjukkan reaksi.

“Selamat pagi.”

“Kita tidak sempat berbicara lebih banyak semalam.”

“Acara cukup padat.”

“Benar. Karena itu saya ingin mengundang Anda minum kopi siang ini.”

Undangan itu terdengar sopan.

Namun jelas tidak sederhana.

“Dalam rangka apa?”

“Sebagai sesama wanita di dunia yang sama.”

Diam dua detik.

Kontrol.

“Saya tersedia pukul dua siang.”

Clara menyebutkan lokasi kafe eksklusif di pusat kota, lalu menutup panggilan.

Alya menatap layar ponselnya beberapa detik.

Ia tidak akan menghindar.

Jika Clara ingin mengukur dirinya, maka ia akan berdiri langsung di depan penggaris itu.

Pukul dua tepat, Alya memasuki kafe yang disebutkan. Tempat itu tenang, elegan, dengan privasi tinggi.

Clara sudah duduk di sudut ruangan.

Gaun putih minimalis hari ini membuatnya terlihat berbeda dari semalam—lebih lembut, tapi tidak kalah percaya diri.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Clara.

“Saya tidak suka menunda percakapan penting.”

Clara tersenyum tipis.

Mereka memesan minuman.

Beberapa detik pertama hanya diisi formalitas ringan.

Lalu Clara langsung masuk ke inti.

“Kamu tahu, sebelum pernikahanmu, saya dan Bima hampir menyatukan dua perusahaan besar.”

“Saya dengar.”

“Pernikahan itu membuat banyak orang bertanya-tanya.”

“Tentang stabilitas?”

“Tentang prioritas.”

Tatapan Clara tajam.

Alya tidak mengalihkan pandangan.

“Apakah Anda meragukan prioritasnya?”

“Saya meragukan perubahan mendadak.”

Alya menyandarkan punggungnya dengan tenang.

“Keputusan pribadi tidak selalu berarti keputusan bisnis terganggu.”

Clara tersenyum kecil.

“Kamu berbicara seperti dia.”

“Itu bukan kebetulan.”

Hening sesaat.

Clara memutar sendok di cangkirnya perlahan.

“Bima bukan pria yang mudah digerakkan oleh perasaan.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa kamu menikahinya?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Langsung.

Tanpa lapisan.

Alya tidak tersinggung.

“Karena saya memilihnya.”

Jawaban sederhana.

Clara tertawa pelan.

“Sebagian orang bilang kamu dipilih.”

Alya membalas senyum itu.

“Dalam setiap pernikahan, selalu ada dua pihak yang memilih.”

Tatapan Clara sedikit mengeras.

“Kamu sadar kalau negosiasi ekspansi gagal, banyak pihak akan mengaitkannya dengan perubahan statusnya?”

“Saya sadar.”

“Dan kamu siap menanggung itu?”

Alya tidak butuh waktu lama.

“Saya tidak akan menjadi alasan kegagalan.”

Clara menatapnya cukup lama.

Mencari celah.

Namun tidak menemukannya.

“Aku tidak datang untuk menyerangmu,” ucap Clara akhirnya.

“Tapi?”

“Tapi aku ingin memastikan kamu mengerti dunia ini tidak memaafkan kelemahan.”

“Saya tidak berniat menjadi kelemahan.”

Hening kembali turun.

Percakapan itu bukan perang terbuka.

Lebih seperti duel strategi.

Clara berdiri lebih dulu.

“Kita lihat sejauh mana kamu bisa bertahan.”

Alya ikut berdiri.

“Saya tidak berencana pergi.”

Clara tersenyum terakhir kali sebelum melangkah keluar.

Alya tetap berdiri beberapa detik setelahnya.

Bukan karena goyah.

Melainkan karena ia sadar satu hal—

Clara tidak hanya menguji dirinya.

Ia juga menguji keputusan Bima.

Sore itu Alya kembali ke kantor.

Begitu ia masuk ke ruang kerja Bima, pria itu langsung mengangkat pandangan.

“Kamu bertemu Clara.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

“Ya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia ingin memastikan saya mengerti risiko.”

Bima berdiri dari kursinya.

“Dan kamu?”

“Saya bilang saya tidak akan menjadi kelemahan.”

Hening.

Beberapa detik yang terasa lebih panjang.

Bima melangkah mendekat.

“Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada dia.”

“Saya tidak membuktikan pada dia.”

“Lalu pada siapa?”

Alya menatapnya lurus.

“Pada diri saya sendiri.”

Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah tipis.

Bukan lagi sekadar hubungan kontrak.

Ada kesadaran baru.

Bahwa apa pun alasan awal pernikahan ini, kini mereka berdiri dalam satu garis yang sama.

Jika salah satu goyah, yang lain ikut terdampak.

“Negosiasi lanjutan minggu depan,” ucap Bima akhirnya. “Kamu akan ikut.”

“Sebagai apa?”

“Sebagai istriku. Dan sebagai bagian dari tim.”

Itu bukan formalitas.

Itu keputusan.

Alya mengangguk.

“Baik.”

Malam itu ketika mereka kembali ke rumah, tidak ada percakapan panjang.

Namun ada pemahaman yang lebih jelas.

Clara telah menarik garis tantangan.

Dan Bima telah memutuskan Alya berdiri di sisinya.

Di kamar, sebelum lampu dimatikan, Alya berdiri sejenak di depan jendela.

Permainan ini tidak lagi hanya tentang citra.

Ini tentang posisi.

Tentang kekuasaan.

Tentang siapa yang benar-benar layak berdiri di samping CEO Wijaya Group.

Dan jika Clara berpikir ia akan mundur hanya karena bayangan masa lalu—

maka ia salah menilai.

Karena Alya tidak datang ke dunia ini untuk menjadi figuran.

Ia datang untuk bertahan.

Dan jika perlu—

untuk menang.

Alya berdiri tegak di depan cermin kamar yang kini resmi menjadi miliknya sebagai Nyonya Wijaya. Gaun kerja berwarna krem membingkai tubuhnya dengan elegan, sederhana, tapi tidak bisa diremehkan. Ia menatap bayangan dirinya sendiri, bukan dengan ragu, melainkan dengan tekad yang mulai mengeras.

Untuk menang.

Bukan dalam arti mengalahkan seseorang.

Bukan untuk menjatuhkan siapa pun.

Tapi untuk memenangkan harga dirinya sendiri.

Pagi itu kantor Wijaya Group terasa lebih tegang dari biasanya. Undangan rapat darurat yang dikirim langsung oleh Bima pukul enam pagi membuat seluruh jajaran direksi datang lebih awal. Desas-desus sudah menyebar semalaman—tentang berita yang beredar, tentang rumor yang sengaja dihembuskan, tentang posisi Alya yang dianggap “tidak pantas”.

Alya tahu. Semua orang tahu.

Dan hari ini, ia akan berdiri di ruangan yang sama dengan mereka.

Mobil hitam yang biasa mengantarnya berhenti di depan gedung utama. Beberapa karyawan yang baru datang langsung menunduk hormat, sebagian lainnya mencuri pandang dengan tatapan ingin tahu. Alya melangkah turun dengan tenang, bahunya lurus, wajahnya dingin namun anggun.

Ia tidak akan menunjukkan celah.

Begitu pintu lift eksekutif tertutup, ia menghela napas pelan. Hanya satu detik. Lalu kembali tegap.

Di ruang rapat utama, seluruh direksi sudah duduk. Termasuk orang-orang yang sejak awal menentang pernikahannya dengan Bima. Tatapan mereka tidak lagi samar. Kini terang-terangan menilai.

Pintu terbuka.

Bima masuk lebih dulu. Setelan hitamnya rapi, wajahnya datar seperti biasa. Lalu, di belakangnya, Alya berjalan masuk.

Ruangan seketika hening.

Bima tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja panjang itu.

“Rapat ini saya buka sekarang,” ucapnya tenang. “Dan sebelum membahas agenda utama, ada satu hal yang perlu saya luruskan.”

Tatapan beberapa direksi langsung berpindah pada Alya.

Bima melanjutkan, suaranya tetap stabil. “Nyonya Alya Wijaya tidak berada di perusahaan ini sebagai simbol. Ia memiliki latar belakang akademik dan pengalaman kerja yang relevan dengan divisi pengembangan yang akan kita bahas hari ini.”

Beberapa orang terlihat tidak puas.

Salah satu direktur senior, Pak Haris, angkat bicara. “Dengan segala hormat, Tuan Bima. Ini bukan soal latar belakang. Ini soal persepsi publik. Harga saham kita sempat turun dua persen sejak berita pernikahan Anda menjadi konsumsi media.”

Alya tidak memotong. Ia menunggu.

Bima menoleh sedikit ke arahnya. Tatapan itu singkat. Isyarat.

Sekarang.

Alya melangkah maju satu langkah.

“Pak Haris,” suaranya lembut tapi jelas terdengar, “harga saham turun bukan karena pernikahan. Turun karena isu akuisisi proyek Timur yang bocor ke media sebelum waktunya.”

Ruangan langsung sunyi.

Ia menyalakan layar presentasi yang sudah disiapkannya. Grafik muncul. Data. Angka. Timeline.

“Ini kronologi kebocoran informasi. Dan ini pergerakan saham kompetitor di jam yang sama.”

Wajah beberapa orang berubah.

“Jika kita ingin membahas persepsi publik,” lanjut Alya, “maka yang perlu diperbaiki bukan status saya sebagai istri CEO. Tapi sistem keamanan internal perusahaan.”

Pak Haris terdiam.

Bima tidak berkata apa-apa. Tapi sorot matanya berubah. Sedikit.

Alya menutup presentasinya dengan kalimat tegas. “Saya tidak di sini untuk mengganggu struktur perusahaan. Saya di sini untuk memperkuatnya. Jika ada yang meragukan kapasitas saya, silakan uji saya dengan pekerjaan. Bukan asumsi.”

Tidak ada yang langsung membalas.

Beberapa detik yang terasa panjang.

Lalu salah satu direktur lain, yang selama ini netral, mengangguk pelan. “Data ini valid?”

Bima menjawab singkat. “Sudah diverifikasi.”

Rapat berlanjut. Kali ini dengan fokus yang berbeda.

Bukan lagi tentang status Alya.

Tapi tentang kebocoran internal.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di gedung ini sebagai Nyonya Wijaya, Alya merasakan sesuatu yang berbeda di ruangan itu.

Bukan penerimaan.

Tapi pengakuan.

Siang itu, setelah rapat selesai, Alya berjalan kembali ke ruangannya. Tangannya sedikit gemetar saat pintu tertutup. Ia bersandar sebentar.

Bukan karena lemah.

Karena tegang yang akhirnya lepas.

Pintu diketuk.

Ia langsung tegak. “Masuk.”

Bima.

Ia masuk tanpa ekspresi berlebihan seperti biasa. Menutup pintu pelan.

Beberapa detik mereka hanya berdiri berhadapan.

“Presentasimu,” ucap Bima akhirnya, “lebih cepat dari yang saya perkirakan.”

Alya mengangkat alis tipis. “Itu pujian?”

“Fakta.”

Ia mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup membuat jarak terasa berbeda.

“Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada mereka.”

Alya tersenyum tipis. “Saya tahu.”

“Lalu kenapa?”

Ia menatap langsung ke mata pria itu.

“Karena saya tidak ingin hanya menjadi istri Anda di atas kertas.”

Jawaban itu membuat Bima diam.

Ada sesuatu yang bergerak di balik tatapannya. Sesuatu yang tidak biasa.

“Alya.”

Ia jarang menyebut namanya dengan nada seperti itu.

Alya menunggu.

Namun Bima justru mundur sedikit. Wajahnya kembali tertutup.

“Fokus saja pada proyek pengembangan. Saya akan tangani sisi eksternal.”

Kembali formal.

Kembali dingin.

Tapi kali ini, Alya tidak merasa ditinggalkan.

Karena ia tahu, di balik sikap itu, Bima sedang melindungi sesuatu. Entah dirinya. Entah perasaannya sendiri.

Malam itu, berita tentang rapat darurat dan pernyataan resmi perusahaan mulai tersebar. Media bisnis mengubah narasi. Spekulasi tentang “istri simbolis” berubah menjadi “istri strategis”.

Alya membaca artikel itu dari ruang tamu. Bima duduk di seberangnya, laptop terbuka, sibuk dengan pekerjaannya.

“Sepertinya kita berhasil,” ucap Alya pelan.

Bima tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya.

“Belum.”

Alya menoleh.

“Masalahnya bukan hanya di luar,” lanjutnya tenang. “Ada yang bermain di dalam.”

Alya mengerti maksudnya.

“Kita cari,” katanya singkat.

Bima menatapnya lama.

“Kita?” ulangnya.

Alya mengangguk. “Ini perusahaan Anda. Dan sekarang… juga tanggung jawab saya.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Bima berdiri, berjalan mendekat. Kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Ia menatap Alya seakan ingin membaca sesuatu di wajahnya.

“Kamu sadar ini bisa berbahaya?”

“Saya tidak pernah takut pada pekerjaan.”

“Saya bukan bicara soal pekerjaan.”

Hening.

Detik berjalan lambat.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, jarak di antara mereka bukan lagi sekadar formalitas. Ada ketegangan lain. Lebih personal. Lebih nyata.

Alya merasakan detak jantungnya sedikit berubah ritme.

Namun ia tidak mundur.

“Kalau begitu,” ucapnya pelan tapi mantap, “biarkan saya berdiri di samping Anda. Bukan di belakang.”

Tatapan Bima mengeras. Bukan marah.

Terkejut.

Karena selama ini, tidak ada yang pernah meminta untuk berdiri di sampingnya.

Semua ingin di belakangnya. Atau di atasnya.

Tidak sejajar.

Beberapa detik kemudian, Bima menarik napas pelan.

“Baik.”

Satu kata.

Tapi cukup.

Karena mulai malam itu, hubungan mereka bukan lagi sekadar kontrak yang dijalankan demi kepentingan.

Ada kerja sama.

Ada kepercayaan.

Dan mungkin—

Perlahan, ada sesuatu yang tumbuh di tempat yang tidak pernah direncanakan.

Di luar sana, seseorang sedang mengatur langkah berikutnya untuk menjatuhkan Wijaya Group.

Dan kali ini, targetnya bukan hanya Bima.

Tapi juga Alya.

Dan jika perlu—

mereka akan menghadapi semuanya bersama.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!