NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Sandiwara di Lantai Dua Puluh

Undangannya datang Selasa — kartu tebal berwarna krem dengan tulisan emas yang teksturnya bisa kurasakan dari jari, dari sebuah yayasan yang namanya cukup besar untuk membuat acara Jumat malamnya disebut gala dinner dan bukan sekadar makan malam.

Di bawah kartu ada catatan dari Kenzo:

Dress code: formal. Dijemput pukul 18.30. Butuh persiapan tambahan, hubungi saya.

Aku duduk di meja kerja, menatap kartu itu, dan menyadari satu masalah praktis yang entah kenapa tidak pernah masuk dalam empat puluh tujuh pasal kontrak manapun:

Aku tidak punya gaun untuk gala dinner.

Nara datang Kamis sore dengan dua koper kecil dan ekspresi seseorang yang sudah sangat lama menunggu momen ini.

"Aku sudah siapkan tiga pilihan," katanya bahkan sebelum sepatu heelnya sepenuhnya melewati pintu. Lalu dia berhenti. Menatap ruang tamu. Menatap jendela. Menatap pemandangan Jakarta dari tiga puluh dua lantai.

"Nara—"

"Satu menit." Dia tidak bergerak. "Aku perlu satu menit."

Aku menunggu.

"Oke." Dia mengembuskan napas. "Sekarang aku siap. Mana orangnya?"

"Tidak ada di sini. Pulang malam."

"Tentu saja." Nara membuka kopernya di sofa. "Baik. Pilihan pertama—"

Gaun pertama terlalu pendek untuk konteks yang Kenzo deskripsikan. Gaun kedua warnanya terlalu meriah — merah terang yang bagus di konteks lain tapi terasa terlalu banyak pernyataan untuk malam pertama tampil sebagai istri CEO yang seharusnya meyakinkan tanpa mengalihkan perhatian. Gaun ketiga — hitam, potongan A-line, panjang sampai pergelangan kaki dengan detail halus di bahu — pas.

Tidak sempurna. Tapi pas.

"Ini," kataku.

Nara menilai. "Rambut ke atas. Anting yang panjang. Sepatu yang tidak akan membuatmu tersiksa sampai malam."

"Aku hanya punya satu pasang heels."

"Pakailah. Dan bawa flat shoes di tas."

Jumat malam, pukul enam dua puluh, aku berdiri di depan cermin kamar mandi yang ukurannya cukup untuk memantulkan seluruh tubuhku dari atas sampai bawah — sesuatu yang tidak pernah bisa kulakukan di cermin kecil kosan.

Gaun Nara. Rambut disanggul sederhana. Anting emas panjang yang kupinjam karena milikku tidak ada yang cukup panjang untuk konteks ini. Satu sapuan riasan yang lebih serius dari biasanya tapi tidak sampai aku tidak mengenali wajahku sendiri.

Aku mengambil tas kecil hitam. Memasukkan ponsel, lipstik cadangan, dan sepasang flat shoes yang kulipat sekecil mungkin. Lalu keluar dari wing kiri.

Revano sudah ada di ruang tamu.

Jas hitam. Dasi putih gading. Rambut yang tersisir dengan cara yang sama seperti selalu tapi entah mengapa malam ini terlihat lebih disengaja. Dia sedang mengecek jam tangannya ketika aku keluar — jam tangan yang bukan jenis yang dibeli karena perlu tahu waktu, tapi jenis yang merupakan pernyataan tersendiri tentang siapa yang memakainya.

Dia mengangkat mata.

Tidak ada komentar. Hanya tatapan singkat yang menyapu dari atas ke bawah dan kembali ke wajahku — penilaian cepat yang sudah menjadi caranya memeriksa apapun.

"Siap?" tanyanya.

"Siap," jawabku.

Di lift turun, Revano membuka ponselnya dan membaca sesuatu. Aku menatap pantulan kami di dinding cermin — dua orang yang dari luar terlihat seperti pasangan yang wajar untuk malam seperti ini, dan dari dalam adalah dua orang yang belum bertukar lebih dari dua puluh kata berturut-turut.

"Ada beberapa hal yang perlu kamu tahu sebelum masuk," katanya tanpa mengangkat mata dari layar.

"Aku mendengarkan."

"Kakek tidak hadir malam ini, tapi ada beberapa koleganya yang mengenalnya. Mereka akan memperhatikan." Dia mengunci ponselnya. "Draka kemungkinan ada. Kakak tiriku — aku sudah cerita di konteks umum."

"Yang harus aku perhatikan darinya?"

"Senyumnya terlalu lebar untuk menjadi tulus." Dikatakan dengan nada yang sangat datar. "Selain itu, ikuti intuisimu."

Lift terbuka di lobi. Mobil sudah menunggu.

Gedung acaranya ada di kawasan SCBD — ballroom di lantai dua puluh yang pemandangannya dari kaca besar di setiap sisinya membuat seluruh Jakarta malam terasa seperti dekorasi yang sengaja dipasang untuk acara ini.

Kami tiba pukul tujuh kurang lima. Tepat — tidak terlalu awal untuk terlihat terlalu antusias, tidak terlalu terlambat untuk memicu komentar.

Di pintu masuk ballroom, Revano melakukan sesuatu yang tidak ada di briefing apapun yang aku terima sebelumnya.

Tangannya menyentuh punggung bawahku — ringan, di atas gaun, hanya cukup untuk mengisyaratkan bahwa kami datang bersama. Aku tidak kaget — atau mencoba tidak terlihat kaget — dan meneruskan langkah dengan kecepatan yang sama.

"Tersenyum," bisiknya, sangat pelan, ke arah telingaku.

"Aku sedang tersenyum," bisikku balik.

"Tersenyum dengan mata juga."

Aku menggertakkan gigi di balik senyum yang langsung naik dua tingkat kualitasnya.

Dua jam berikutnya adalah latihan intensif dalam seni menjadi orang yang bukan dirimu sendiri sambil tetap terlihat seperti dirimu sendiri.

Revano memperkenalkanku kepada setidaknya dua puluh orang — nama-nama yang sebagian aku kenal dari artikel bisnis yang kubaca sebelum tidur seminggu terakhir sebagai persiapan, sebagian lainnya tidak dikenal tapi jelas penting dari cara orang-orang di sekitar mereka bergerak.

Setiap kali, tangannya ada — di punggung bawahku, atau memegang sikuku sebentar ketika bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain, atau dalam satu kesempatan ketika aku hampir kehilangan keseimbangan karena lantainya sedikit licin, jarinya mencengkeram pergelangan tanganku dengan cepat sebelum aku menyadari sudah hampir jatuh.

"Terima kasih," bisikku.

"Hm," jawabnya — yang rupanya adalah versi Revano dari sama-sama.

Aku bertemu Draka Aldrich pukul delapan kurang seperempat.

Dia muncul dari arah bar dengan dua gelas champagne di tangan dan senyum yang — Revano benar — terlalu lebar. Wajahnya tampan dengan cara yang berbeda dari Revano: lebih terbuka, lebih mudah dibaca, yang paradoksnya justru membuatnya lebih susah dipercaya.

"Revano." Dia menyerahkan satu gelas ke arah saudaranya. "Dan ini pasti Ariana. Akhirnya."

Tanganku disambut dengan jabatan yang terlalu erat untuk benar-benar hangat. "Senang bertemu, Draka."

"Senang sekali bertemu denganmu." Matanya menyapuku dengan cara yang berbeda dari tatapan Revano — lebih lama, lebih banyak mencari. "Aku sudah penasaran sejak kabar pernikahan kalian sampai ke telingaku. Cepat sekali."

"Ketika tahu, kamu tahu." Aku tersenyum dengan cara yang kupinjam dari klien-klien sulitku selama bertahun-tahun — manis di permukaan, tidak memberikan apapun di bawahnya.

Draka tertawa. "Filosofis. Aku suka." Dia menatap Revano. "Mana kamu menemukan dia?"

"Di tempat yang tepat," jawab Revano — dan cara mengatakannya, datar dan final, menutup pertanyaan itu sebelum bisa berkembang ke arah manapun.

Momen yang tidak ada di skrip itu datang pukul delapan lebih dua puluh.

Aku sedang berdiri di pinggir percakapan antara Revano dan dua orang koleganya — topiknya tentang ekspansi ke sektor yang tidak sepenuhnya kumengerti detailnya, dan bagianku dalam situasi ini adalah berdiri dengan tenang dan mengangguk di waktu yang tepat.

Tapi salah satu koleganya, pria paruh baya dengan nama yang sudah kulupa setengah menit setelah diperkenalkan, melihat ke arahku.

"Ibu Ariana kerja di bidang apa?"

"Desain grafis. Freelance."

"Oh." Nada yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan hanya itu?-nya. "Menarik. Jadi Ibu punya pandangan tentang rebranding visual yang Aldrich Group lakukan tahun lalu?"

Pertanyaan yang dimaksudkan sebagai basa-basi. Tapi aku sudah melihat rebranding itu — tidak sengaja, ketika membaca tentang perusahaan sebelum pertemuan pertama dengan Revano — dan ada satu hal yang waktu itu aku perhatikan.

"Logonya elegan," kataku, "tapi sistem tipografinya tidak konsisten di semua platform digital. Di mobile khususnya, hierarki visualnya kehilangan keterbacaan yang cukup signifikan di ukuran kecil."

Hening sebentar.

Pria itu mengerutkan dahi — bukan tersinggung, tapi seperti orang yang baru mendapat informasi yang tidak dia antisipasi dari sumber yang tidak dia antisipasi.

"Itu... observasi yang sangat spesifik."

"Itu pekerjaan saya." Aku tersenyum — kali ini tanpa perlu diinstruksikan siapapun.

Di sebelahku, aku merasakan Revano diam dengan cara yang berbeda dari diamnya yang biasa. Bukan diam karena tidak ada yang perlu dikatakan — diam karena sedang memperhatikan.

Percakapan berlanjut. Pria itu ternyata kepala divisi pemasaran salah satu mitra Aldrich Group, dan selama dua belas menit berikutnya kami berbicara tentang desain sistem visual dengan serius yang tidak aku rencanakan untuk malam ini.

Ketika kelompok itu akhirnya berpencar, Revano dan aku berjalan ke arah jendela besar yang menghadap kota.

"Kamu tidak perlu melakukan itu," katanya pelan.

"Melakukan apa?"

"Menjawab dengan sungguh-sungguh. Kamu bisa saja menjawab dengan basa-basi dan itu sudah cukup untuk malam ini."

Aku menatap kota di bawah. "Aku tidak bisa menjawab setengah-setengah tentang pekerjaan sendiri."

Jeda singkat.

"Aku tahu," katanya. Dan nada itu — bukan penilaian, bukan pujian, hanya pengakuan sederhana — membuat sesuatu di dadaku bereaksi dengan cara yang memilih untuk tidak aku analisis terlalu dalam malam ini.

Kami pulang pukul sepuluh lewat sedikit.

Di lift naik ke penthouse, Revano melepaskan dasinya dengan gerakan yang terlihat seperti orang yang sudah menahan napas terlalu lama dan baru bisa menghembuskannya. Aku melepas heelsku dan memegangnya di tangan — kaki yang akhirnya bebas setelah tiga jam, dan rasanya seperti kebebasan kecil yang tidak proporsional kebahagiaannya.

"Kamu baik malam ini," katanya. Bukan ke arahku — lebih ke arah pintu lift yang sedang kami tunggu terbuka.

"Aku hanya jadi diriku sendiri."

"Itu yang aku bilang."

Lift terbuka. Kami masuk ke penthouse.

Dan berpisah ke wing masing-masing tanpa kata tambahan — tapi keheningan yang kami bawa pulang malam ini terasa berbeda dari keheningan empat puluh detik di dapur setiap paginya.

Lebih penuh. Lebih berat di tempat yang tidak bisa ditunjuk tapi bisa dirasakan.

Aku menutup pintu kamarku, duduk di tepi kasur, dan menyadari bahwa di suatu titik malam tadi aku lupa menghitung berapa kali harus menyesuaikan senyumku.

Lupa bahwa ada yang perlu disesuaikan.

— Selesai Bab 9 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!