Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang tidak lagi Sekilas
POV Nana
Hari itu sebenarnya biasa saja. Nana baru saja selesai kelas siang dan sedang duduk di kos sambil membuka laptop. Laporan praktikum farmasetika yang menumpuk membuat kepalanya terasa penuh. Ia memijat pelipisnya pelan, lalu tanpa sadar membuka Instagram—niatnya hanya lima menit untuk istirahat.
Dan di situlah ia melihatnya.
@izzan_* mulai mengikuti Anda.
Jantungnya berhenti sepersekian detik.
Tangannya mendadak terasa dingin. Ia menatap layar cukup lama, memastikan bahwa ia tidak salah baca. Nama itu. Akun itu. Foto profil itu. Tidak mungkin salah.
Izzan.
Nama yang sempat ia paksa untuk ia lupakan.
Nama yang beberapa waktu lalu kembali muncul di hadapannya saat mereka berpapasan di Grand Indonesia.
Nana menelan ludah. Ada banyak pertanyaan yang langsung menyerbu kepalanya.
Kenapa dia follow?
Kenapa sekarang?
Apa maksudnya?
Ia membuka profilnya perlahan. Tidak banyak berubah. Foto-foto kegiatan kerja, beberapa potret formal, beberapa foto bersama rekan-rekannya. Tetap terlihat rapi dan dewasa.
Nana menutup profil itu cepat-cepat, seolah takut perasaannya ikut terbuka.
Ia meletakkan ponsel di sampingnya.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tangannya kembali meraih ponsel.
Tanpa banyak berpikir, ia menekan tombol Follow Back.
“Cuma follow back. Biasa aja,” gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Namun lima belas menit kemudian, notifikasi lain muncul.
1 pesan baru dari @izzan_*
Degup jantungnya terasa sampai ke telinga.
Ia membuka DM itu perlahan.
"Assalamualaikum.
Nana, kan?"
Sesederhana itu.
Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada basa-basi berlebihan.
Tapi bagi Nana, pesan itu seperti membuka kembali pintu yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Ia membaca ulang pesan itu tiga kali sebelum membalas.
"Waalaikumsalam.
Iya. Mas Izzan, ya?"
Tangannya sempat gemetar saat menekan tombol kirim.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Balasan datang.
"Iya. Maaf kemarin di GI nggak sempat nyapa. Mau menyapa lupa tapi nama kamu siapa hehe soalnya udah lama kita tidak bertemu hehe."
Nana menarik napas pelan.
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku juga nggak nyapa 😅"
Percakapan itu terus mengalir. Awalnya kaku. Terasa canggung. Tapi lama-lama menjadi lebih ringan. Ia tidak menyangka akan merasa senyaman itu hanya dengan bertukar pesan sederhana.
Namun setelah percakapan malam itu selesai, Nana mematikan ponselnya dan menatap langit-langit kamar.
“Kenapa sih harus muncul lagi…” bisiknya pelan.
Ia tidak ingin berharap.
Ia tidak ingin kecewa lagi.
Tapi entah kenapa, namanya kembali terasa hangat di hatinya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kembali ke Alur Cerita
Beberapa hari setelah DM itu mulai rutin terisi percakapan ringan, Izzan mendadak harus pulang ke Surabaya karena ada kepentingan keluarga dan sedikit urusan pekerjaan. Ia tidak memberi tahu Nana secara detail, hanya mengatakan bahwa ia sedang di Jawa Timur.
“Serius kamu di Surabaya?” balas Nana waktu itu.
“Iya. Besok rencana ke Malang juga. Temen ada yang buka cafe dekat UMM.”
“Wah, dekat kampusku dong.”
“Serius?”
“Iya.”
Obrolan itu terhenti di situ. Tidak ada janji untuk bertemu. Tidak ada rencana yang dibuat.
Namun takdir kadang punya caranya sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Keesokan harinya, cuaca Malang cerah. Nana, Rafi, Alysia, dan Caca sepakat untuk mengerjakan tugas di sebuah cafe baru dekat Universitas Muhammadiyah Malang. Cafe itu sedang ramai dibicarakan mahasiswa karena tempatnya estetik dan nyaman untuk belajar.
“Katanya owner-nya masih muda,” ujar Alysia sambil berjalan masuk.
“Yang penting WiFi-nya kenceng,” sahut Caca.
Rafi tertawa kecil. “Dan kopinya enak.”
Nana hanya tersenyum. Ia membawa laptop dan beberapa buku tebal. Fokusnya tetap sama—tugas.
Mereka memilih meja agak pojok. Tidak lama setelah memesan, mereka mulai membuka laptop masing-masing.
Beberapa menit kemudian, pintu cafe terbuka.
Izzan masuk bersama dua orang temannya. Ia mengenakan kemeja kasual dan celana bahan, terlihat santai namun tetap rapi. Ia tersenyum pada temannya sambil mengobrol ringan.
Dan kemudian—
Pandangan mereka bertemu.
Nana yang sedang mengambil minum tanpa sengaja menoleh ke arah pintu. Matanya membesar sedikit.
Izzan juga berhenti melangkah sepersekian detik.
Tidak mungkin salah lagi.
Nana.
Bukan di Jakarta.
Bukan sekilas.
Tapi di sini. Di Malang. Di cafe yang sama.
Izzan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Campuran kaget, senang, dan gugup.
“Kenapa, Zan?” tanya salah satu temannya.
“Nggak apa-apa. Kalian duluan aja, gue nyusul.”
Tanpa benar-benar berpikir panjang, kakinya melangkah mendekati meja Nana.
Nana melihatnya datang.
Rafi yang duduk di seberangnya ikut menoleh.
Izzan berhenti tepat di samping meja mereka.
“Hai… Nana?”
Suara itu membuat Alysia dan Caca langsung menoleh penuh rasa ingin tahu.
Nana berdiri sedikit. “Eh… Mas Izzan.”
“Dunia sempit banget ya,” Izzan tersenyum.
“Iya… kamu jadi ke Malang?”
“Iya. Temen aku yang buka cafe ini.”
“Oh…”
Suasana sedikit canggung. Tapi tidak seberat dulu.
“Lagi ngerjain tugas?” tanya Izzan.
“Iya. Biasalah, anak farmasi,” jawab Nana sambil tersenyum kecil.
Alysia menyikut pelan lengan Nana. Caca sudah memasang wajah penuh tanda tanya. Rafi diam, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Boleh duduk sebentar?” tanya Izzan sopan.
Nana mengangguk.
Izzan menarik kursi kosong di dekat mereka. Ia berbasa-basi dengan teman-teman Nana.
“Kenalin, aku Izzan. Temennya… Nana.”
“Temen?” Alysia mengulang dengan nada menggoda.
Nana langsung menatap tajam sahabatnya itu.
“Iya, temen lama,” tambah Izzan cepat.
Beberapa menit mereka mengobrol ringan. Tentang kampus. Tentang cafe. Tentang Malang.
Izzan merasa suasananya jauh lebih nyaman dibandingkan pertemuan mereka yang dulu. Nana terlihat lebih tenang. Lebih dewasa. Tidak lagi sekaku pertama kali dikenalkan.
Setelah beberapa saat, Izzan menatap Nana.
“Na, boleh minta nomor WhatsApp kamu?”
Pertanyaan itu membuat suasana hening sesaat.
Alysia dan Caca langsung saling pandang.
Rafi menunduk, pura-pura fokus ke laptop.
Nana terdiam beberapa detik. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu sejak DM pertama dikirim, ini hanya soal waktu.
“Boleh,” jawabnya akhirnya pelan.
Ia menyebutkan nomornya. Izzan langsung menyimpannya dan mengirim pesan singkat untuk memastikan.
Ponsel Nana berbunyi.
Izzan: Ini nomor aku.
Nana menatap layar itu beberapa detik sebelum tersenyum kecil.
Setelah itu, Izzan pamit kembali ke meja temannya.
Begitu ia menjauh, Alysia langsung mendekat ke Nana.
“Siapa itu?”
“Iya, Na. Kok kita nggak pernah denger namanya?” tambah Caca.
Nana menghela napas pelan. “Kenalan lama, anak teman mama.”
“Kenalan lama anak teman mama apa mantan calon?” celetuk Alysia.
“Bukan apa-apa,” jawab Nana cepat.
Rafi akhirnya angkat bicara, suaranya tenang. “Orangnya kelihatan baik.”
Nana menoleh ke arahnya. “Iya.”
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada cerita detail.
Namun Rafi melihat sesuatu yang berbeda di mata Nana. Sorot yang jarang ia lihat ketika Nana berbicara dengan lelaki lain.
Ada kelembutan.
Ada perhatian.
Dan untuk pertama kalinya, Rafi merasakan sesuatu yang menusuk tipis di dadanya.
Selama ini, ia tahu posisinya.
Sahabat.
Teman belajar.
Teman bercanda.
Teman pulang kampus.
Tidak lebih.
Ia pernah menyadari bahwa perasaannya terhadap Nana mungkin sedikit berbeda. Tapi ia juga tahu, Nana terlalu ambisius dengan kuliahnya. Nana selalu berkata ingin fokus. Tidak mau pacaran dulu.
Rafi menerima itu.
Ia menunggu tanpa benar-benar berharap.
Tapi melihat Nana disamperin lelaki lain—lelaki yang jelas bukan orang sembarangan dalam hidupnya—membuat hatinya sedikit perih.
Namun ia tersenyum saja.
Karena kalau memang Nana bahagia, bukankah seharusnya ia ikut bahagia?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sore itu, setelah Nana dan teman-temannya selesai mengerjakan tugas, ponselnya berbunyi lagi.
Izzan:
Makasih ya tadi udah nggak kabur pas gue samperin 😄
Nana tersenyum tanpa sadar.
Nana:
Emang aku kelihatan mau kabur?
Izzan:
Sedikit.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Izzan:
Seneng bisa ketemu lagi. Kali ini nggak sekilas.
Nana menatap pesan itu lama.
Ia juga senang.
Tapi ia tidak ingin terlalu cepat mengakuinya.
Nana:
Iya. Dunia emang sempit.
Izzan membaca balasan itu sambil tersenyum di meja seberang café. Ia melirik ke arah Nana yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Kali ini, pertemuan mereka bukan kebetulan yang menyakitkan.
Bukan lagi sekadar papasan tanpa kata.
Kali ini, ia punya nomor Nana.
Ia punya kesempatan untuk benar-benar berbicara.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Izzan merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—cerita yang dulu terhenti, belum benar-benar selesai.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang