NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi

Sistem Penakluk Para Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Playboy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Melihat reaksinya, Fang Zhichao segera memahami bahwa tuduhan itu kemungkinan besar benar.

Amarahnya meledak.

Tanpa peringatan, ia menendang A’Fu hingga terjatuh.

“Aku sudah lama menyuruhmu menyingkirkan kebiasaan buruk itu!” hardiknya keras. “Perkumpulan kita adalah organisasi bela diri, bukan gerombolan preman jalanan! Jika kau berani mengulanginya lagi, keluar dari klub ini! Jangan katakan aku, Fang Zhichao, tidak pernah memberimu kesempatan!”

A’Fu terhuyung bangkit dari lantai. Kepalanya tertunduk dalam, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Namun di balik kelopak matanya yang terpejam sesaat itu, tersimpan kebencian yang begitu pekat—dingin dan membara sekaligus.

Melihat Fang Zhichao telah menjatuhkan hukuman secara terbuka, Gu Zhentao meskipun masih merasa tidak senang, menilai tidak pantas untuk memperpanjang persoalan di hadapan semua orang. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menatap Fang Zhichao.

“Jadi, kau masih ingin pergi sekarang?” tanyanya ringan, namun sarat makna.

Tatapan Fang Zhichao mengeras. “Itu urusan lain,” jawabnya dingin. “Harga diri Perkumpulan Macan Putih harus dikembalikan, apa pun yang terjadi.”

“Zhichao, menurutku sebaiknya kau tahan dulu,” ujar seorang remaja bertubuh kekar sambil menyeringai. Dialah Lan Xiao, ketua Perkumpulan Beruang Hitam. “Bocah yang kau maksud bukan hanya berurusan denganmu. Ada orang lain yang juga ingin mencarinya. Kita tidak perlu terburu-buru. Mari kita tonton dulu pertunjukannya. Jika ia berani menginjak reputasi Macan Putih, itu sama saja dengan menantang reputasi empat perkumpulan lainnya. Kami juga tidak akan membiarkannya begitu saja. Kau bisa tenang.”

Fang Zhichao mengernyit. “Ada orang lain yang juga mencarinya? Siapa?”

“Hehe… bocah itu memang menarik,” Qiu Chen, ketua Perkumpulan Elang, menyipitkan mata sambil tersenyum tipis. “Menentangmu saja belum cukup, dia bahkan berani berhadapan dengan Ruan Zixiong. Katanya karena ingin merebut perempuan miliknya. Untuk keberanian itu saja, aku sudah cukup kagum padanya. Heh… heh…”

Kelima ketua perkumpulan itu adalah sahabat sejak kecil. Ayah mereka berada dalam lingkaran bisnis yang sama, sehingga hubungan keluarga mereka sangat dekat. Persaingan memang selalu ada—baik dalam prestasi, pengaruh, maupun kekuatan—namun persahabatan mereka tetap kokoh dan tidak mudah digoyahkan oleh persoalan eksternal.

“Ruan Zixiong?” Wajah Fang Zhichao seketika menjadi lebih dingin ketika mendengar nama itu, seolah ia menyimpan ketidaksukaan tersendiri.

“Menurutmu bagaimana?” ujar Lu Tianming, ketua Perkumpulan Serigala Langit, sambil tersenyum miring. “Menurutku, bocah itu juga bukan karakter sederhana. Menggunakan Ruan Zixiong untuk menguji batas kemampuannya bukan ide buruk.”

Fang Zhichao tidak segera menanggapi. Ia justru menatap keempat sahabatnya dengan sorot mata penuh selidik.

“Bagaimana kalian bisa kebetulan berkumpul bersama?” tanyanya.

Gu Zhentao mengangguk pelan. “Kemarin aku melihat berita tentang seseorang yang menyebut dirinya Iblis Hitam muncul di kota dan melakukan beberapa hal yang cukup aneh. Meski semuanya terlihat sepele, aku merasa kemunculannya terlalu kebetulan. Jadi aku mengajak Tianming dan Lan Xiao untuk berdiskusi—siapa sebenarnya orang ini.”

“Benar,” Qiu Chen menambahkan dengan nada serius. “Awalnya kukira dia hanya orang biasa yang ingin pamer. Namun dari caranya menangkap beberapa perampok itu, jelas dia bukan orang sembarangan.”

Di antara kelima orang itu, Qiu Chen dikenal paling tenang dan analitis. Pendapatnya sering kali memiliki bobot tersendiri.

“Hanya menangkap beberapa pencuri kecil,” sahut Lan Xiao lantang, terdengar meremehkan. “Menurutku dia cuma terlalu banyak menonton film dan ingin jadi pahlawan. Tidak ada yang istimewa.”

Perbincangan tentang Iblis Hitam pun perlahan mereda.

Tak seorang pun dari mereka benar-benar menyadari bahwa sosok yang mereka bicarakan dengan setengah hati itu, kelak akan menjadi badai yang mengguncang Donghua—bahkan dunia.

Sementara itu, Zhang Yuze sama sekali tidak menyangka bahwa tindakan-tindakan kecil yang ia lakukan telah dibesar-besarkan oleh media dan menjadi topik hangat di kalangan siswa yang gemar bergosip di Sekolah Menengah Atas Kelas Tiga.

Awalnya, orang-orang hanya menganggapnya sebagai sosok baik hati tanpa pamrih. Namun setelah keberaniannya menangkap empat perampok terungkap ke publik, citranya melonjak drastis—dari orang biasa menjadi pahlawan misterius.

Melihat wajah-wajah para siswi yang bersinar penuh kekaguman, Zhang Yuze hampir saja ingin berdiri dan berteriak, “Akulah Iblis Hitam!”

Namun ia menahan diri.

Lebih mengejutkan lagi, bukan hanya para siswi yang tampak antusias. Bahkan Liu Mengting—teman sebangkunya yang cantik dan biasanya bersikap dingin terhadap segala hal—kini menopang dagunya dengan tangan, kepalanya sedikit miring. Dari sorot matanya yang jernih, terlihat jelas ia sedang menyimak obrolan para gadis di sebelahnya yang membahas Iblis Hitam dengan penuh semangat.

Rasa ingin tahu samar tergambar di wajahnya yang lembut.

Hanya saja, sifatnya yang pendiam dan menjaga jarak membuatnya tidak ikut menyela percakapan.

“Mengting, kau ingin tahu tentang Iblis Hitam?” Zhang Yuze mendekatkan kepalanya dan bertanya dengan senyum penuh arti.

“Jangan-jangan… kau juga tahu?” tanya Liu Mengting. Wajahnya yang cantik langsung menunjukkan minat, seolah menemukan sumber informasi rahasia.

“Tentu saja. Aku juga membaca beritanya,” jawab Zhang Yuze dengan ekspresi puas. Strateginya menyesuaikan topik dengan minatnya tampaknya berhasil.

“Kalau begitu cepat ceritakan! Aku juga ingin tahu. Semalam aku pulang dan langsung mengerjakan PR, jadi tidak sempat menonton berita,” kata Liu Mengting, nada suaranya sedikit kesal pada dirinya sendiri.

“Bos, aku juga mau dengar! Ceritakan cepat!” Chen Jialong yang duduk di bangku depan tiba-tiba menoleh, wajahnya penuh antusiasme.

“Pergi sana! Bukan urusanmu!” Zhang Yuze langsung menepuk kepala Chen Jialong dengan ringan namun tegas.

Chen Jialong menatapnya dengan ekspresi pilu, seolah dunia telah mengkhianatinya. “Kau ini benar-benar lebih mementingkan perempuan daripada saudara…”

Namun di sudut kelas, ada satu orang yang justru merasa paling tidak tertarik pada semua pembicaraan itu.

Sun Yusen.

Melihat seluruh kelas memuji Iblis Hitam dengan penuh semangat, ia hanya mencibir dalam hati. Menurutnya, apa yang dilakukan orang itu tidak lebih dari tindakan seseorang yang terlalu kenyang dan mencari sensasi.

Namun ketika pandangannya tertuju pada Zhang Yuze yang berbicara akrab dengan Liu Mengting, api di dadanya kembali menyala.

Dalam benaknya, Zhang Yuze bukan hanya mencoba menarik perhatian publik—tetapi juga mencoba mendekati Liu Mengting.

Dan itu, dalam pandangan Sun Yusen, adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa ia terima.

Meskipun pada dasarnya Sun Yusen tidak benar-benar menganggap Zhang Yuze sebagai rival sejati dalam urusan cinta, setiap kali ia melihat Zhang Yuze dan Liu Mengting berbincang serta tertawa bersama, ada rasa perih yang tak mampu ia tekan di dalam dadanya—cemburu yang samar, namun menggerogoti harga dirinya sedikit demi sedikit.

Tentu saja, Zhang Yuze sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatapnya dengan sorot tajam, seolah-olah hendak menembus tubuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!