NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Ketahuan

Suasana di dalam mansion yang biasanya terasa kaku dan dingin, perlahan mulai mencair sejak kehadiran Amara. Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi ruang tengah yang luas. Amara berjalan perlahan sambil menggendong Kenzo dalam dekapan selendang kainnya.

Bukannya menangis atau meronta seperti biasanya, Kenzo justru tampak sangat ceria. Tangan-tangan mungilnya sesekali menepuk-nepuk pipi Amara, sementara mulutnya mengeluarkan suara "aguh-aguh" yang menggemaskan.

"Tuan Kenzo senang ya jalan-jalan di rumah besar ini?" bisik Amara sambil mencium pucuk kepala bayi itu. Kenzo membalasnya dengan tawa kecil yang memperlihatkan gusi merah mudanya, membuat hati siapapun yang melihatnya akan luluh.

Mbak Lasmi yang sedang mengatur rangkaian bunga di meja utama menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia tertegun melihat pemandangan langka tersebut.

"Amara, kamu benar-benar punya tangan dingin," ujar Mbak Lasmi dengan nada takjub. "Tuan Muda sepertinya sangat menyukaimu. Semenjak ditinggalkan Nyonya, dia terus-menerus menangis. Rumah ini rasanya seperti neraka karena tangisannya yang tak kunjung berhenti."

Tak lama kemudian, Bi Inah dan Siti—dua pelayan senior yang sedang membersihkan debu di rak buku—ikut mendekat. Mereka menatap Kenzo dengan mata berbinar-binar.

"Iya lho, Mara. Biasanya Tuan Muda nangis terus, sampai-sampai kita semua harus ganti-gantian menggendongnya sampai pinggang rasanya mau patah," sahut Bi Inah sambil geleng-geleng kepala. "Tapi lihat sekarang, digendong kamu saja dia bisa tertawa-tawa begitu. Ajaib!"

Siti ikut menimpali sambil tersenyum lebar. "Apa yang kau lakukan sebenarnya, Mara? Ayo beritahu kami rahasianya cara menenangkan Tuan Muda. Apa kau pakai jampi-jampi dari desa, ya?"

Amara tertawa kecil mendengar celetukan Siti. Ia merasa sedikit canggung karena sebenarnya ia menyimpan rahasia besar di balik ketenangan Kenzo. "Bukan jampi-jampi, Mbak Siti. Saya cuma ajak dia ngobrol terus. Mungkin Kenzo hanya merasa kesepian dan ingin ditemani bicara."

"Ah, masa cuma diajak ngobrol?" goda Siti lagi. "Kita juga sering ajak ngobrol, tapi dia malah makin kencang nangisnya. Kamu pasti punya trik khusus, kan?"

"Saya cuma senang saja menjaganya, Mbak," jawab Amara merendah. Ia merasakan Kenzo kembali menduselkan wajahnya ke arah dadanya, seolah memberikan kode bahwa waktu "makan" akan segera tiba. Amara segera membetulkan posisi gendongannya agar tidak terlalu menekan.

Mbak Lasmi menatap Amara dengan pandangan yang lebih dalam. "Apapun itu, kami sangat bersyukur kamu ada di sini, Mara. Setidaknya Tuan Arlan tidak akan se-emosional biasanya kalau melihat putranya tenang begini. Kamu adalah penyelamat bagi kami semua di rumah ini."

Amara hanya tersenyum tipis, meski di dalam hatinya ada rasa was-was. Ia tahu bahwa ketenangan Kenzo bergantung sepenuhnya pada rahasia yang ia bawa di balik seragamnya.

"Mbak, saya bawa Kenzo ke taman belakang sebentar ya, supaya dia bisa lihat tanaman," pamit Amara untuk menghindari pertanyaan yang lebih mendalam dari para pelayan.

"Iya, silakan Mara. Jaga baik-baik ya," sahut Mbak Lasmi.

Saat Amara melangkah menuju taman, ia tidak menyadari bahwa di gedung perkantoran pusat kota, seorang pria sedang menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut. Arlan Aditama baru saja menyaksikan seluruh interaksi itu melalui CCTV yang terhubung ke ponselnya.

Arlan memperhatikan bagaimana Kenzo tertawa di pelukan Amara. Ia merasa lega, namun di sisi lain, rasa penasarannya semakin memuncak. Ia melihat bagaimana Amara sesekali merapikan bagian depan seragamnya dengan gerakan yang cemas.

"Apa yang kau sembunyikan, Amara?" gumam Arlan sendirian di ruang kerjanya. "Kenapa anakku hanya tenang bersamamu?"

Arlan meraih kunci mobilnya. Ia tidak bisa menunggu sampai jam pulang kantor. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi saat mereka hanya berdua.

***

Langkah kaki Arlan bergema tajam di atas lantai marmer saat ia memasuki lobi utama. Wajahnya yang kaku dan dasi yang sudah sedikit dilonggarkan menunjukkan ketidaksabaran yang luar biasa. Ia mengabaikan beberapa pelayan yang membungkuk hormat, matanya hanya mencari satu sosok.

"Di mana putraku, Lasmi?" suaranya rendah namun penuh penekanan saat mendapati Mbak Lasmi di dekat ruang makan.

Mbak Lasmi sedikit tersentak, tidak menyangka majikannya pulang secepat ini. "Tuan... Tuan Muda sedang di taman belakang bersama Amara. Katanya ingin mencari udara segar."

Tanpa menjawab, Arlan langsung melesat. Langkahnya lebar dan mantap, melewati pintu kaca besar yang menuju ke arah taman rimbun di balik mansion. Namun, semakin dekat ia ke arah gazebo tersembunyi yang tertutup tanaman merambat, langkahnya mulai melambat. Suasana taman itu sangat sepi, hanya terdengar kicauan burung dan suara angin yang menggesek dedaunan.

Lalu, ia mendengarnya. Suara senandung lembut yang begitu merdu dan menenangkan. Arlan berhenti tepat di balik pilar batu. Dari posisi itu, ia bisa melihat Amara duduk di bangku kayu panjang. Gadis itu tampak sangat rileks, kepalanya bersandar pada pilar gazebo, dan matanya terpejam sejenak sambil terus bersenandung kecil.

Arlan menyipitkan mata. Ia melihat posisi Kenzo yang sangat janggal. Bayi itu tidak sedang digendong tegak, melainkan berbaring miring di pangkuan Amara. Sebagian seragam Amara terbuka, dan kepala Kenzo menempel erat di sana. Suara isapan yang teratur dan tenang terdengar di antara jeda senandung Amara.

Darah Arlan seketika mendidih. Logikanya berputar keras—bagaimana mungkin seorang gadis perawan, seorang pengasuh yang belum pernah menikah, bisa melakukan hal itu? Dan yang lebih membuatnya murka adalah keberanian Amara memberikan asupan yang menurutnya "asing" dan belum terjamin keamanannya kepada ahli waris keluarga Aditama.

Arlan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan rahang yang mengeras. Kehadirannya yang tiba-tiba seperti awan hitam yang menelan cahaya matahari di taman itu.

"Apa yang kau lakukan?!"

Suara bentakan Arlan menggelegar, memutus senandung lembut Amara seketika.

Amara tersentak hebat. Ia membuka matanya yang melebar karena terkejut dan ketakutan. Wajahnya yang tadi tenang langsung pucat pasi seputih kapas. Dengan gerakan panik yang kacau, ia mencoba menarik pakaiannya untuk menutupi tubuhnya, namun hal itu justru membuat Kenzo kaget dan mulai merengek karena "sumber kehidupannya" terlepas secara paksa.

Amara segera berdiri, memeluk Kenzo erat-erat ke dadanya yang masih sedikit terbuka, mencoba menyembunyikan kenyataan yang baru saja disaksikan Arlan. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya terasa lemas seolah akan runtuh saat itu juga.

"T-Tuan... saya... saya bisa jelaskan," suara Amara hampir hilang, tenggelam dalam isak ketakutan.

Arlan melangkah mendekat, auranya begitu mengancam. Matanya menatap tajam ke arah bercak basah di seragam Amara yang tak bisa disembunyikan. "Jelaskan apa?! Kau memberi anakku sesuatu yang tidak jelas dari tubuhmu? Kau gila?! Siapa kau sebenarnya?!"

Arlan merampas Kenzo dari pelukan Amara dengan kasar. Bayi itu langsung menjerit kencang, memecah kesunyian taman, namun Arlan tidak peduli. Matanya tetap menghunus ke arah Amara yang kini jatuh terduduk di atas rumput, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Kau pikir rumah ini tempat percobaanmu, hah?!" Arlan berteriak tepat di depan wajah Amara. "Kau sudah lancang, Amara! Kau sudah melampaui batas!"

1
Naila Saputri
ini Amara seperti g ad harga diri y ,bus d bentak dan di hina oleh arlan ,mau aja d gituin
Bedjho
si Arlan minta di sapih 😭
Bedjho: 😭😭 pesona duda ga kaleng²🤌🏻
total 2 replies
Vicky Aulia
agak menyebalkan sih episode ini huhu
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok arlan jahat banget..udah kamu kanir aja amara...biar arlan nyesel...
Linda Ayu Tong-Tong
kasihan amara...adih arlan..kamu jadiin amara pelacurmu..jahat banget...lebih jahat dari peran arya🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
double 🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
you crazy arlan🤣🤣🤣
Naila Saputri
arlan udh gila 🤣🤣🤣
Achom
laah si Arlan dia yg salah godain Amara mlulu tp dia yg marah² hadeuhh 😑
Ikaculeng
tulisan terrtata dengan baik
Uthie
menarik ceritanya 👍👍👍
Uthie
mampir 👍
Linda Ayu Tong-Tong
thorrr gerah geraah thor🥵🤣
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok kyak diperlakukan kyak binatang
Linda Ayu Tong-Tong
oooohhh🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
waaaow panaasss,🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
next
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka panas dingin aq thor🤣
afaj
kwkwkwk untuk u g nenek bareng anak u arlan
Linda Ayu Tong-Tong
ohh arlan kamu ketagihan nenennya amara🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!