Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Langkah kaki Alex terdengar semakin dekat, menggema di lorong granit yang dingin itu. Namun, bukannya menjauh, Arga justru menyeringai tipis,sebuah seringai penuh kemenangan yang mengerikan.
"Ayu? Kamu masih di sana?" Suara Alex terdengar tepat di balik belokan.
Ayu membuka mulutnya, hendak berteriak memanggil namanya sebagai pertolongan terakhir. Namun, sebelum satu kata pun lolos dari bibirnya, Arga bergerak lebih cepat.
Pria itu menyambar tengkuk Ayu, lalu membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang kasar dan penuh tuntutan. Itu bukan ciuman rindu yang manis; itu adalah ciuman sebuah klaim kepemilikan. Arga seolah sedang meluapkan seluruh dendam, amarah, dan obsesi yang ia pendam selama lima tahun dalam satu serangan yang mematikan.
Ayu terbelalak, tangannya memukul-mukul dada bidang Arga dengan panik. Namun, tenaga Arga terlalu besar. Pria itu justru semakin menghimpit tubuh Ayu ke dinding, mengunci setiap gerakannya hingga Ayu tak bisa berkutik.
Langkah kaki Alex berhenti tepat di depan koridor toilet.
Deg. Dunia seolah berhenti berputar bagi Ayu. Ia bisa melihat bayangan sepatu Alex dari celah di bawah pintu koridor yang setengah terbuka. Hanya terhalang tembok,pria itu berdiri di sana, sementara ia sedang dipaksa berciuman dengan masa lalunya yang paling berbahaya.
Arga perlahan melepaskan cumbuan itu, namun ia tetap menempelkan dahinya ke dahi Ayu yang berkeringat dingin. Napas mereka memburu, saling bersahutan di tengah keheningan yang mencekam.
"Panggillah dia," bisik Arga dengan suara serak yang sangat sensual namun mengancam. "Panggil Alex sekarang, dan biarkan dia melihat siapa sebenarnya wanita yang ingin dia nikahi ini."
Ayu menggeleng lemah dengan air mata yang terus mengalir. Ia tidak bisa melakukannya.
"Ayu? Kamu tidak apa-apa?" Suara Alex kembali terdengar, kali ini nadanya dipenuhi kecemasan. Tangannya sudah menyentuh daun pintu koridor.
Arga menatap mata Ayu dengan tatapan yang seolah berkata, 'Permainan baru saja dimulai.'
"Aku... aku tidak apa-apa, Alex!" sahut Ayu akhirnya dengan suara yang bergetar hebat, mencoba sekuat tenaga agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja habis napas. "Jangan masuk! Aku... aku baru saja selesai. Tunggu aku di meja!"
Di depannya, Arga terkekeh tanpa suara. Ia menikmati ketakutan Ayu. Dengan gerakan pelan yang provokatif, Arga mengusap sisa lipstik yang berantakan di sudut bibir Ayu menggunakan ibu jarinya.
"Pilihan yang cerdas, Rubah Kecil," bisik Arga. Ia kemudian merapikan kerah mantelnya, seolah tidak terjadi apa-apa. "Rapikan riasanmu. Aku akan menunggumu di meja... untuk melanjutkan 'makan malam keluarga' kita."
Tanpa rasa berdosa, Arga berbalik dan melangkah keluar dengan santai, melewati Alex di depan pintu dengan sapaan singkat yang sangat dingin seolah mereka baru saja berpapasan secara kebetulan.
Ayu jatuh terduduk di lantai toilet yang dingin begitu Arga menghilang, menutupi mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar keluar.
Ayu berdiri mematung di depan cermin toilet selama beberapa menit. Ia mencoba menutupi bibirnya yang sedikit bengkak dengan sisa bedak yang ia bawa, namun tangannya terus gemetar. Ketakutan itu nyata. Arga bukan lagi pria yang ia kenal lima tahun lalu,dia sekarang adalah pemangsa yang tenang namun mematikan.
Dengan langkah gontai, ia kembali ke meja makan.
Alex langsung berdiri menyambutnya, wajahnya penuh kekhawatiran. "Ayu, kamu lama sekali. Wajahmu pucat,kamu gak apa-apa?"
Ayu hanya mampu mengangguk lemah. "Hanya... sedikit pusing, Alex."
"Duduklah,Nona!," suara bariton Arga memotong percakapan mereka.
Arga sudah duduk dengan tenang di sana, menyesap red wine dengan gerakan elegan, seolah-olah ia baru saja kembali dari jalan-jalan santai, bukan dari koridor tempat ia baru saja mencuri napas Ayu. Matanya menatap Ayu dengan kilat jenaka yang kejam.
"Mr. Arga baru saja menceritakan sesuatu yang menarik, Sayang," ujar Alex sambil kembali duduk. "Ternyata perusahaan tempat kamu bekerja sekarang sedang dalam proses pembicaraan untuk diakuisisi oleh perusahaannya. Dunia benar-benar sempit, bukan?"
Darah Ayu terasa membeku. Akuisisi? Jadi ini alasan Arga begitu percaya diri? Dia tidak hanya mengejarnya secara personal, tapi juga menjeratnya secara profesional.
"Benar, Mr. Alex," sahut Arga, tatapannya tidak lepas dari bibir Ayu yang kini bersih dari lipstik. "Saya tipe pria yang suka memiliki segalanya secara utuh. Jika saya menginginkan sebuah 'aset', saya akan membelinya, menguasainya, dan memastikannya tidak bisa berpindah tangan lagi."
"Wow, filosofi bisnis yang luar biasa," puji Alex, benar-benar buta akan sindiran di balik kata-kata itu. "Ayu, bukankah ini kabar baik? Karirmu mungkin akan lebih cemerlang di bawah pimpinan Mr. Arga."
Ayu meremas serbet di bawah meja. Ia merasa seperti domba yang sedang didorong masuk ke kandang serigala oleh pria di sampingnya.
"Alex, apa kamu masih ingin berbincang dengannya? Aku tidak enak badan dan ingin segera pulang," potong Ayu dengan suara yang bergetar. Ia tak sanggup lagi berada satu ruangan dengan pria yang terus menghujamnya dengan tatapan predator itu.
"Tapi makananmu belum habis, Sayang?" Alex menatap piring Ayu yang masih utuh dengan dahi berkerut.
"Aku tidak lapar! Kalau kau masih ingin di sini, aku akan pulang sendiri!" Ayu langsung berdiri mendadak, kursinya berderit tajam di atas lantai restoran. Ia menyambar tasnya dengan gerakan kasar, membuat Alex tersentak panik.
"Tunggu, Sayang! Oke, oke, kita pulang sekarang. Jangan marah," Alex segera menyusul, lalu menoleh canggung pada Arga. "Mr. Arga, maafkan kami. Sepertinya kekasihku benar-benar sedang tidak sehat. Kita lanjut mengobrol di kantor nanti, ya?"
"Tentu," sahut Arga santai. Ia bersandar di kursinya, melipat kaki dengan angkuh. "Silakan. Jaga dia baik-baik, Mr. Alex. Wanita seperti dia... sangat pandai menghilang dalam sekejap."
Ayu tidak menoleh sedikit pun. Ia terus melangkah menjauh dari sana. Namun, saat ia hampir mencapai pintu keluar, langkahnya terhenti secara naluriah. Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Arga masih duduk di sana, namun ia tidak lagi menatap Alex. Pria itu menatap Ayu, lalu perlahan mengangkat sebuah benda kecil dari atas meja,sebuah jepit rambut milik Ayu yang terjatuh saat konfrontasi di toilet tadi.
Arga mengecup jepit rambut itu pelan sambil menatap Ayu dengan tatapan yang sangat gelap, lalu menyimpannya ke dalam saku mantelnya. Sebuah janji tanpa suara bahwa malam ini hanyalah permulaan.
Ayu bergidik ngeri, ia segera berlari keluar menuju mobil dengan napas tersengal-sengal.
Di dalam restoran, Arga menyesap sisa wine-nya hingga tandas. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Damar.
"Kosongkan jadwal besok pagi.Dan siapkan sesuatu untukku."
Arga menyeringai. Malam ini ia membiarkan Ayu pulang bersama Alex, tapi ia tahu pasti satu hal: wanita itu tidak akan bisa tidur sedetik pun karena bayangannya akan terus mencekik di dalam mimpi.
BERSAMBUNG...
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it