Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Kamar tamu di sudut komplek Pesantren Al-Hidayah itu terasa sangat tenang. Dindingnya yang berwarna putih gading hanya dihiasi sebuah kaligrafi kayu bertuliskan Ayat Kursi. Wangi gaharu yang lembut menyusup dari sela jendela, menciptakan suasana sakral yang jauh dari hiruk-pukuk pelarian mereka di ruko tadi.
Ning Laila baru saja keluar setelah membawakan susu hangat dan selimut tebal untuk Nadine. Kini, hanya ada Aditya dan Nadine. Suasana mendadak hening, hanya detak jam dinding yang terdengar.
Aditya duduk di lantai, bersimpuh di depan Nadine yang duduk di tepi ranjang. Ia menunduk, tangannya gemetar hebat. Beban rahasia yang ia bawa selama setahun ini terasa menyumbat tenggorokannya.
"Nadine.. sayang...." Aditya memulai dengan suara parau. "Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang laki-laki yang kamu panggil suami ini."
Nadine menatap suaminya dengan tenang. Jemarinya yang halus mengusap rambut Aditya yang sedikit berantakan. "Mas... apa pun itu, Nadine siap mendengar."
Aditya menarik napas panjang. "Namaku bukan sekadar Adit. Nama lengkapku adalah Aditya Pratama. Aku adalah putra tunggal, pewaris tunggal dari Pratama Automotive. Perusahaan yang kamu lihat di televisi, gedung-gedung tinggi di Jakarta yang sering diberitakan... itu adalah penjara yang kutinggalkan demi menemukan diriku sendiri. Dan demi menolak perjodohan yang mereka paksakan."
Nadine terdiam sejenak. Matanya sedikit melebar, namun tidak ada kemarahan di sana.
"Jadi... uang yang Mas pakai untuk membeli toko kue, untuk operasi Ibu... itu bukan sekadar tabungan bengkel?" tanya Nadine lembut.
"Itu uang pribadiku yang kusimpan di rekening sahabatku, Rian. Aku berbohong padamu, Nadine. Aku takut jika kamu tahu siapa aku, kamu akan melihatku sebagai orang asing. Aku takut kamu akan pergi karena menganggap kita berasal dari dunia yang berbeda." Aditya menenggelamkan wajahnya di pangkuan Nadine. "Maafkan aku, Nadine. Aku telah membohongimu....tapi demi Allah, aku sangat mencintaimu..., hanya kau wanita yang benar-benar membuat ku bertekuk lutut..."
Nadine tersenyum sangat tulus. Ia mengangkat wajah Aditya dengan kedua tangannya, memaksa suaminya untuk menatap matanya yang teduh.
"Mas, lihat Nadine," bisiknya. "Di pesantren, Gus Azmi mengajarkan kami bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada nasab atau hartanya, tapi pada ketaqwaannya. Selama setahun ini, siapa yang bangun tengah malam untuk shalat tahajud di sampingku? Siapa yang tangannya kasar karena oli demi mencari nafkah halal? Siapa yang sangat menghormatiku bahkan tidak menyentuhku sebelum akad?"
Air mata Aditya luruh.
"Itu adalah Mas Adit-ku. Tukang bengkel yang kucintai," lanjut Nadine. "Mas tidak membohongiku tentang dirimu. Mas hanya menyembunyikan hartamu. Dan bagiku, harta itu hanyalah titipan yang bisa hilang kapan saja. Yang tidak akan hilang adalah akhlakmu padaku."
Aditya tertegun. Ia meraih tangan Nadine, mencium telapak tangannya berkali-kali. "Kamu benar-benar permata, Nadine. Aku merasa tidak pantas memilikimu."
"Mas sangat pantas," potong Nadine. "Justru karena Mas rela meninggalkan kemewahan itu demi sebuah prinsip dan kejujuran, Mas adalah pria paling kaya yang pernah kutemui. Jadi, jangan merasa bersalah lagi, ya?"
Aditya bergeser naik, duduk di samping Nadine dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Ia meletakkan tangannya di atas perut Nadine yang kini bergerak-gerak kecil—sang bayi seolah ikut mendengarkan percakapan orang tuanya.
"Terima kasih sudah menerimaku, Nadine. Aku berjanji, setelah badai ini lewat, aku akan membawamu ke tempat yang aman. Aku akan melindungimu dan anak kita dari kemarahan ayahku. Aku tidak butuh harta Pratama, aku hanya butuh kamu dan nafas kecil di dalam sini."
Nadine memeluk lengan Aditya erat, menyandarkan kepalanya di kepala suaminya. "Mas, di mana pun kita berada, selama ada sajadah untuk kita bersujud bersama, itu sudah cukup bagiku. Jangan takut pada ayahmu. Allah adalah sebaik-baiknya pelindung...., Nanti kalau anak kita sudah lahir, kita pertemukan dengan kakeknya, bagaimanapun juga anak kita adalah darah dagingnya juga"
Aditya mencium kening Nadine dengan lama, sebuah ciuman yang penuh rasa hormat dan cinta yang tak terlukiskan. "Aku mencintaimu, Nadine. Lebih dari seluruh mobil mewah dan gedung di Jakarta itu. Kamu adalah duniaku yang sebenarnya."
"Dan Nadine mencintai Mas Adit... tukang bengkel kesayangan Nadine," goda Nadine sambil tersenyum malu-malu, membuat suasana yang tadinya tegang berubah menjadi penuh kehangatan.
___
Pagi itu di Pesantren Al-Hidayah terasa begitu damai, kontras dengan ketegangan yang mereka alami semalam. Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah jendela kamar tamu, menyinari wajah Nadine yang masih terlelap karena kelelahan emosional.
Aditya sudah bangun lebih dulu. Ia duduk di sajadah, menatap istrinya dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja selesai murojaah hafalan pendek yang diajarkan Nadine tempo hari, sebuah usaha kecil untuk memantaskan diri menjadi imam bagi seorang hafizhah.
Nadine mengerjap, perlahan membuka matanya. Senyum pertama yang ia lihat adalah senyum Aditya.
"Pagi, Sayang," bisik Aditya lembut. Ia mendekat, lalu dengan sangat hati-hati membantu Nadine duduk bersandar pada bantal. "Bagaimana perasaanmu? Si Kecil menendang lagi?"
Nadine mengusap perutnya yang membuncit, lalu tersenyum teduh. "Pagi, Mas. Alhamdulillah, dia tenang pagi ini. Sepertinya dia suka suasana pesantren yang penuh suara mengaji."
Aditya mengambil segelas susu hangat yang diletakkan Ning Laila di meja kecil. "Minum dulu. Aku tidak mau kamu dan jagoan kita kekurangan tenaga. Hari ini kita akan tetap di sini sampai Gus Azmi bilang keadaan benar-benar aman, ya?"
Nadine menyesap susunya, matanya menatap jendela yang menampilkan santri-santri yang sedang menyapu halaman. "Mas... aku tiba-tiba rindu Bapak. Tadi malam saat kita pergi terburu-buru, aku belum mengabarkan berita tadi malam. Aku merasa bersalah meninggalkan mereka di sana."
Aditya menggenggam tangan Nadine, mencoba menyalurkan kekuatan. "Jangan merasa begitu. Kita pergi demi keselamatan mereka juga. Kalau kita tetap di sana, ayahku tidak akan berhenti mengganggu mereka. Setelah ini tenang, kita akan jemput Bapak dan Ibu untuk tinggal bersama kita di tempat yang lebih aman."
Nadine terdiam sejenak, tatapannya menerawang. "Aneh, Mas. Semalam aku bermimpi. Bapak datang memakai baju koko putih yang paling bersih, beliau mengelap air mataku dan bilang, "Nadine, titip Ibu ya. Bapak sudah tenang." Beliau tersenyum sangat lebar, Mas. Seperti tidak ada beban lagi."
Jantung Aditya berdegup kencang mendengar cerita itu, namun ia berusaha tetap tenang. "Itu mungkin karena kamu terlalu kepikiran, Sayang. Bapak orang kuat. Beliau pasti sedang menunggu kabar dari kita sekarang."
Untuk mencairkan suasana, Aditya mendekatkan wajahnya ke perut Nadine. "Hei, jagoan Ayah. Jangan nakal ya di dalam sana. Jaga Ibu. Ayah janji, setelah semua ini selesai, Ayah akan belikan kamu sepatu bayi yang paling bagus."
Nadine tertawa kecil, jemarinya mengelus rambut suaminya. "Mas ini, yang diajak bicara masih di dalam perut, mana mengerti soal sepatu."
"Dia mengerti, Nadine. Dia tahu ayahnya sangat mencintai ibunya," balas Aditya sambil mendongak, menatap mata Nadine dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh janji.
Di saat itulah, terdengar ketukan pintu yang terburu-buru. Wajah Ning Laila muncul di balik pintu dengan raut yang sangat pucat, meskipun memakai cadar,tapi sangat terlihat... Ia memegang ponsel yang masih menyala.
"Adit... Nadine..." suara Ning Laila bergetar.
Nadine yang tadinya tersenyum, seketika merasakan firasat buruk itu menghantam dadanya. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh rasa sesak yang tiba-tiba datang tanpa permandian. Dan di sanalah, kebahagiaan pagi itu hancur berkeping-keping
"Bapakmu.....!"