Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan lobi megah Mahardika Tower. Bianca keluar dengan gaya seorang diva, mengenakan kacamata hitam besar dan menenteng tas mewah yang harganya bisa membeli satu buah mobil kecil. Ia bahkan tidak mengucapkan terima kasih kepada Rio; ia hanya mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat.
"Tunggu di sini jam lima sore. Jangan telat, atau aku lapor Ayah!" perintah Bianca sambil melenggang pergi tanpa menoleh.
Raditya, yang masih duduk di balik kemudi sebagai Rio, menatap punggung Bianca melalui kaca spion dengan tatapan dingin yang mematikan. Sebuah senyum tipis yang sarat akan makna terukir di bibirnya.
"Selamat datang di duniaku, Bianca," bisik Raditya pelan.
Begitu Bianca hilang di balik pintu kaca lobi, Raditya segera memacu mobilnya menuju pintu belakang khusus direksi. Di sana, Bram sudah menunggu dengan sebuah koper.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit di dalam ruang ganti pribadi, "Rio si supir" telah lenyap. Yang tersisa adalah Raditya Mahardika, sang penguasa bisnis properti dan teknologi, yang kini mengenakan setelan jas charcoal grey yang dijahit khusus di London. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan.
Sementara itu, di lobi utama, Bianca berjalan menuju gerbang sensor VIP dengan kepala tegak. Ia sudah membayangkan para staf akan membungkuk hormat padanya. Namun, saat ia mencoba melangkah masuk, seorang petugas keamanan bertubuh tegap menghadangnya.
"Maaf, Nona. Kartu identitas Anda?" tanya petugas itu datar.
Bianca membuka kacamata hitamnya dengan gaya dramatis. "Saya Bianca Adytama. Saya magang di sini atas instruksi langsung dari pemilik perusahaan. Minggir, saya sudah terlambat."
Petugas itu memeriksa daftar di tabletnya. "Nama Anda terdaftar sebagai peserta magang divisi interior tingkat dasar. Silakan gunakan pintu masuk sisi selatan di area loading dock. Pintu ini hanya untuk eksekutif dan tamu VIP."
Wajah Bianca memerah seketika. "Apa?! Kamu suruh aku masuk lewat pintu belakang bersama kurir dan kuli angkut? Kamu tidak tahu siapa Ayahku?!"
"Aturan tetap aturan, Nona. Mahardika Group tidak mengenal pengecualian. Silakan lewat sana," tunjuk petugas itu tanpa ekspresi.
Dengan kaki yang menghentak-hentak karena kesal, Bianca terpaksa berjalan memutar menuju pintu belakang yang jauh dan berdebu. Impiannya untuk masuk lewat lobi megah hancur berantakan.
**
Lantai lima Mahardika Tower, tempat aula besar berada, kini dipenuhi oleh sekitar tiga puluh anak magang dari berbagai universitas ternama. Mereka semua tampak tegang, kecuali Bianca yang sibuk mengeluh tentang sepatunya yang sedikit kotor terkena debu di pintu masuk selatan tadi.
"Duh, kantormu ini kok standar keamanannya rendahan banget sih," bisik Bianca pada salah satu temannya, Siska. "Lihat saja nanti kalau aku sudah jadi istri Pak Raditya, petugas tadi orang pertama yang aku pecat."
Siska membelalakkan mata. "Kamu beneran calon istrinya, Bi?"
"Tentu saja. Ayahku dan Papi Raditya itu teman dekat. Ini cuma formalitas saja aku magang di sini, buat cari pengalaman sebelum jadi nyonya besar," bumbunya dengan nada sombong yang terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Tiba-tiba, suasana aula menjadi sunyi senyap. Pintu besar di depan terbuka. Bram melangkah masuk, disusul oleh sosok pria yang membuat semua wanita di ruangan itu menahan napas.
Raditya Mahardika berjalan dengan langkah mantap. Setiap langkahnya memancarkan kekuatan. Wajahnya yang tampan terlihat kaku dan dingin, matanya yang tajam memindai barisan anak magang seperti seekor elang yang sedang mengincar mangsa.
Bianca terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Gila, dia jauh lebih tampan daripada di foto! batin Bianca. Namun, ada sesuatu yang aneh. Ia merasa postur tubuh pria itu, bahunya yang lebar, bahkan cara jalannya... terasa sangat familiar. Tapi ia segera menepis pikiran itu. Mana mungkin Raditya Mahardika mirip dengan Rio si supir kampung itu.
Raditya berdiri di depan podium, berdiri berdampingan dengan Bram dan tiga kepala divisi lainnya.
"Selamat pagi," suara Raditya menggema berat dan dingin, membuat bulu kuduk para peserta magang berdiri.
"Di Mahardika Group, saya tidak peduli siapa orang tua kalian, dari mana kalian berasal, atau seberapa mahal tas yang kalian bawa ke ruangan ini. Di sini, kalian hanya sekadar nomor urut yang harus membuktikan kegunaan kalian."
Mata Raditya berhenti tepat pada Bianca. Bianca memberikan senyuman manisnya yang paling menawan, berharap pria itu akan mengenalinya. Namun, tatapan Raditya melewati Bianca seolah-olah gadis itu hanyalah udara kosong. Dingin. Tanpa emosi.
"Bram, bacakan pembagian divisinya," perintah Raditya tanpa ekspresi.
Bram melangkah maju. "Untuk peserta magang desain interior, sebagian besar akan ditempatkan di lantai sepuluh. Kecuali... Bianca Adytama."
Bianca tersenyum lebar. Ia yakin ia akan ditempatkan di lantai paling atas, di dekat ruangan Raditya.
"Bianca Adytama, kamu ditempatkan di Departemen General Affairs & Logistics, bagian manajemen arsip dan gudang material fisik di lantai Basement 2," ucap Bram tegas.
Senyum Bianca langsung hilang. "Apa?! Pak Bram, ada kesalahan! Saya ini jurusan desain interior! Kenapa saya di gudang?!"
Raditya melangkah maju, menatap Bianca dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Seorang desainer yang baik harus tahu bagaimana material dasar dikelola. Di gudang, kamu akan belajar inventarisasi fisik. Itu instruksi saya. Ada keberatan?"
Suasana aula menjadi sangat tegang. Semua orang menatap Bianca. Keangkuhan Bianca mendadak ciut di bawah tatapan Raditya yang sangat mengintimidasi.
"Ta... tapi, Pak Raditya, Ayah saya—"
"Di sini, Haris Adytama tidak punya jabatan. Kamu mau magang atau mau pulang?" potong Raditya dengan nada yang sangat rendah namun tajam.
Bianca menelan ludah, wajahnya merah padam karena malu. "Sa... saya mau magang, Pak."
"Bagus. Segera ke ruang gudang. Jangan biarkan sepatu mahalnya menghalangi pekerjaanmu, karena hari ini ada tiga truk material yang harus kamu data secara manual."
Setelah pertemuan itu bubar, Raditya kembali ke ruangannya yang mewah. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah pelabuhan Tanjung Perak. Bram masuk ke ruangan sambil membawa tablet.
"Pak, Bianca sudah berada di gudang. Dia sedang menangis karena disuruh memindahkan tumpukan katalog kain yang berdebu oleh supervisor gudang," lapor Bram sambil menahan senyum.
Raditya berbalik, menyandarkan tubuhnya di meja kerja. "Bagus. Biarkan dia tahu apa itu kerja keras. Pastikan dia tidak mendapatkan fasilitas AC yang terlalu dingin dan jangan biarkan ada staf yang membantunya."
"Baik, Pak. Tapi... bukankah ini sedikit terlalu kejam untuk adik Mbak Kirana?"
Raditya menatap kartu nama Kirana yang masih ada di atas mejanya. "Kirana menghabiskan waktunya bekerja keras di kafe dan membangun perusahaan farmasinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapapun, sambil dihina oleh adiknya sendiri setiap hari. Apa yang dilakukan Bianca sekarang belum ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang dirasakan Kirana."
Raditya mengambil ponselnya. Ia melihat pesan WhatsApp dari Kirana yang masih belum ia balas. Ada rasa rindu yang aneh muncul di dadanya.
"Bram, siapkan mobil sedan yang biasa dipakai Rio. Jam empat sore saya harus sudah ada di basement untuk menjemput 'majikan' saya," ucap Raditya dengan seringai tipis.
Raditya ingin melihat wajah hancur Bianca setelah bekerja di gudang seharian, dan ia ingin segera kembali menjadi "Mas Rio" untuk melihat bagaimana keadaan Kirana di rumah. Permainan ini semakin menarik, dan Raditya Mahardika baru saja memulai babak pertamanya untuk memberikan pelajaran berharga pada keluarga Adytama.
***
aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
masih abu abu apakah reva atw harus atau mereka berua
ga sabar terbongkarnya semua kejahatan ma Reva
makasih Thor ceritanya menarik dan slalu bikin penasaran nunggu kelanjutannya 🙏
ak suka karakter kirana anggun, tegas, murah hati bersahaja. ak suka karakter raditya yg punya power, tp anak yg hormat orgtua, tegas, melindungi n sweet dgn perhatian n pengorbanannya pokoknya paket komplit versi ga lebaiii, semangat selalu dtunggu double up nya ya 😍