NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peraturan di Balik Pintu

Pagi hari berikutnya, suasana di apartemen terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang dibawa Adrian kemarin. Luna duduk di meja makan, mencoba fokus pada majalah desain interior di hadapannya, meski pikirannya terus melayang pada kata-kata Isaac semalam. Cemburu? Jangan konyol. Kata-kata itu terus terngiang, membuat Luna merasa kesal sekaligus bingung dengan debaran jantungnya sendiri.

Isaac muncul dari kamarnya, kali ini hanya mengenakan kaus oblong putih santai yang mencetak jelas bentuk tubuhnya yang atletis. Ia berjalan menuju mesin kopi tanpa menyapa, namun Luna bisa merasakan pandangan pria itu sesekali melirik ke arahnya.

"Berhenti menatapku seolah kau sedang merencanakan pembunuhan, Luna," ujar Isaac tiba-tiba, memecah kesunyian sembari menuangkan kopi ke cangkirnya.

"Aku tidak menatapmu, Isaac. Aku sedang membaca," balas Luna tanpa mendongak, meski ia membalik halaman majalahnya dengan gerakan yang terlalu kasar.

Isaac berjalan mendekat dan menarik kursi di hadapan Luna. Ia meletakkan selembar kertas dan sebuah pena di atas meja. "Karena kita akan tinggal bersama untuk waktu yang lama, aku rasa kita butuh peraturan. Aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi."

Luna meletakkan majalahnya dan menatap kertas itu dengan alis bertaut. "Peraturan? Kau ingin membuat kontrak rumah tangga seperti di drama televisi?"

"Anggap saja begitu," sahut Isaac santai. "Poin pertama: Tidak boleh ada tamu pria tanpa persetujuanku. Terutama pria berambut cokelat yang membawa bunga lili murah."

Luna mendengus remeh. "Lili itu tidak murah, Isaac! Dan jika kau membuat peraturan itu, maka aku juga punya hak. Poin kedua: Kau dilarang membawa wanita mana pun ke sini. Aku tidak sudi melihat rumah ini berubah menjadi tempat kencanmu."

Isaac menyunggingkan senyum tipis, sesuatu yang jarang ia tunjukkan namun selalu berhasil membuat Luna terpaku sejenak. "Setuju. Aku juga tidak punya waktu untuk berkencan dengan wanita lain saat aku harus sibuk mengurus istriku yang pemarah ini."

"Aku tidak pemarah!" bantah Luna cepat.

"Kau baru saja membuktikannya dengan berteriak, Sayang," ejek Isaac dengan penekanan pada kata 'sayang' yang terdengar sangat sarkastik namun entah mengapa terasa hangat di telinga Luna.

Luna mengambil pena dan menuliskan poin tambahan dengan cepat. "Poin ketiga: Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin. Dan jangan pernah menyentuh barang-barang pribadiku."

Isaac memerhatikan jemari Luna yang memegang pena dengan erat. Ia teringat masa lalu, saat jemari itu sering tertaut di jemarinya saat mereka berjalan di taman. "Adil. Tapi ada satu pengecualian."

"Apa?" tanya Luna waspada.

"Jika kau bermimpi buruk lagi dan menangis tengah malam seperti dulu," Isaac menatap mata Luna dalam-dalam, suaranya melembut sesaat sebelum kembali ke nada angkuhnya. "Aku tidak akan membiarkanmu berisik dan mengganggu tidurku. Aku akan masuk untuk menyuruhmu diam."

Luna tertegun. Ia tidak menyangka Isaac masih mengingat kebiasaan buruknya saat merasa cemas. Ia segera membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak. "Itu tidak akan terjadi. Aku sudah bukan gadis kecil yang penakut lagi, Isaac."

"Kita lihat saja nanti," gumam Isaac sembari menarik kertas peraturan itu dan menandatanganinya dengan gaya yang elegan.

Setelah pena diletakkan kembali ke atas meja, suasana di antara mereka mendadak menjadi canggung. Kertas peraturan itu kini berada di tengah-tengah mereka, seolah menjadi garis pembatas yang nyata bagi perasaan yang seharusnya sudah terkubur. Luna berdehem, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menyesakkan.

"Baiklah, karena peraturan sudah disepakati, aku harap kau menepatinya, Isaac," ujar Luna sembari berdiri, hendak membawa cangkirnya ke wastafel.

Namun, belum sempat ia melangkah, Isaac menahan pergelangan tangan Luna. Sentuhan itu terasa hangat dan mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat Luna mematung. Isaac menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca—bukan tatapan mengejek yang biasanya ia tunjukkan.

"Ada satu hal lagi, Luna," suara Isaac merendah, terdengar lebih serius dari biasanya. "Malam ini, ibuku mengundang kita makan malam di rumah lama. Kau tahu artinya, bukan? Kita harus terlihat seperti pasangan yang sedang jatuh cinta, bukan seperti dua orang yang ingin saling mencekik."

Luna menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya. "Aku tahu. Aku bisa bersandiwara dengan baik. Aku sudah melakukannya sejak hari pertama perjodohan ini dimulai."

Isaac melepaskan tangan Luna, namun ia ikut berdiri dan melangkah mendekat hingga Luna terpaksa bersandar pada pinggiran wastafel. "Bersandiwara? Kau yakin itu hanya sandiwara, Luna? Karena terkadang, caramu menatapku saat kau sedang marah... masih sama seperti caramu menatapku saat kau masih menjadi milikku."

"Kau terlalu banyak berkhayal, Isaac," balas Luna dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku menatapmu dengan kebencian, bukan cinta. Jangan campur adukkan keduanya."

Isaac terkekeh, namun kali ini tawanya terdengar getir. "Kebencian dan cinta hanya dibatasi oleh selembar benang tipis. Berhati-hatilah agar kau tidak tersandung di antaranya."

Pria itu kemudian berbalik, mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja. "Bersiaplah pukul tujuh malam. Pakai gaun yang kuberikan tempo hari. Aku tidak mau ibuku berpikir aku tidak memberimu nafkah lahir yang cukup."

"Aku punya baju sendiri, Isaac! Aku tidak butuh pemberianmu!" seru Luna kesal.

"Pakai saja, Luna. Itu akan memudahkan segalanya," sahut Isaac tanpa menoleh sembari melangkah keluar dari apartemen, meninggalkan Luna yang kini meremas pinggiran wastafel dengan perasaan campur aduk.

Luna menatap pantulan dirinya di jendela dapur. Ia tahu malam ini akan menjadi ujian yang berat. Berada di rumah lama keluarga Waren berarti harus menghadapi kenangan-kenangan manis yang pernah mereka ukir di sana. Ia harus menguatkan hatinya, karena di balik sikap angkuh Isaac, pria itu selalu tahu bagaimana cara menyentuh sisi terlemah dalam jiwanya.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!