NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Janji Clarissa

Puncak dari badai gairah yang telah lama tertahan itu akhirnya tiba. Di bawah temaram lampu kamar hotel yang kini berantakan, Erian seolah kehilangan kesadaran akan siapa dirinya dan di mana ia berada. Pengaruh wine keras yang memanaskan darahnya, ditambah dengan keputusasaan akibat fitnah yang menghimpitnya, membuat setiap gerakannya menjadi liar dan penuh tuntutan.

Erian semakin mempercepat tumbukannya, menghunjamkan setiap inchi miliknya ke dalam kehangatan Clarissa dengan ritme yang semakin cepat dan bertenaga. Suara deru napas mereka menyatu dengan suara ranjang yang berderit hebat. Clarissa, yang sudah berada di ambang batas kesadarannya, menjerit tertahan sambil memeluk erat tubuh kekar Erian, kuku-kukunya yang terawat merosot tajam di punggung pria itu, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang perih namun memabukkan.

Dinding rahim Clarissa seolah meremas milik Erian dengan sangat kuat, menciptakan sensasi yang membuat Erian hampir kehilangan kontrol. Dalam upaya untuk merasakan penyatuan yang lebih dalam, kedua kaki mulus Clarissa mengapit pantat Erian dengan sangat erat, mengunci pria itu di atas tubuhnya agar tidak ada satu milimeter pun celah yang tersisa di antara mereka.

"Erian... Oh God, Eriaaaan...!" jerit Clarissa, suaranya pecah di udara.

Tubuh Erian menegang kaku, otot-otot punggungnya mengeras seperti baja. Ia merasakan sebuah gelombang panas yang dahsyat meledak dari pangkal paha dan menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, Clarissa merasakan ledakan yang sama, sebuah sensasi yang membuatnya merasa seolah-olah seluruh sel di tubuhnya berpijar.

Mereka berdua menjerit bersama, melepaskan puncak orgasme yang begitu dahsyat. Erian membenamkan wajahnya di ceruk leher Clarissa, sementara seluruh miliknya menyembur panas di dalam diri wanita masa lalunya itu. Tubuh mereka gemetar hebat, saling mendekap erat dalam keheningan yang tiba-tiba jatuh begitu penyelesaian itu tercapai.

Hanya suara napas yang terengah-engah dan detak jantung yang beradu kencang yang kini mengisi ruangan. Erian ambruk di atas tubuh Clarissa, merasa benar-benar kosong, seolah seluruh tenaganya baru saja tersedot habis. Di tengah kelelahan yang luar biasa itu, ada sebuah rasa bersalah yang perlahan mulai menyusup, namun ia terlalu letih untuk sekadar mengangkat kepalanya.

Keheningan yang pekat kembali menyergap kamar hotel itu, hanya menyisakan suara napas yang ngos-ngosan dan berat dari dua insan yang baru saja tuntas melepaskan badai hasrat. Di bawah selimut yang berantakan, detak jantung mereka masih berdegup cepat, saling beradu di antara dada yang masih menempel erat.

Peluh bercucuran membasahi kening dan tubuh mereka, menciptakan kilau di bawah temaram lampu nakas yang mulai terasa menyesakkan. Erian masih terdiam dengan mata terpejam, mencoba mengatur napasnya yang terasa pendek, sementara jiwanya perlahan mulai ditarik kembali dari awang-awang menuju realita yang pahit.

Namun, di sampingnya, air mata keluar lagi dari sudut mata biru Clarissa. Isakannya kali ini lebih halus, namun terasa lebih dalam. Ia merasa seolah-olah baru saja merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya bertahun-tahun yang lalu, dan ia sangat takut jika fajar menyingsing, semua ini akan menguap seperti mimpi.

Merasakan getaran di bahu Clarissa, tangan kekar Erian yang masih lemas perlahan bergerak. Dengan lembut, ia mengusap air mata yang membasahi pipi porselen wanita itu. Sentuhan Erian kini tidak lagi penuh gairah, melainkan penuh dengan rasa haru dan rasa bersalah yang berkelindan menjadi satu.

"Aku sayang kamu, Erian..." ucap Clarissa dengan suara yang sangat memelas dan parau. Ia meraih tangan Erian, menggenggamnya erat dan menempelkannya di pipinya yang panas.

"Tolong jangan pergi lagi.... jangan tinggalin aku lagi...." lanjutnya dengan tatapan mata yang seolah mengemis sebuah kepastian. "Lima tahun aku menahan ini sendirian di Eropa, Er. Setiap sudut kota di sana cuma mengingatkan aku sama kamu. Malam ini... aku nggak mau ini jadi yang terakhir."

Erian hanya bisa terpaku menatap langit-langit kamar. Ia ingin bicara, ia ingin memberikan janji, tapi bayangan wajah Nadya tiba-tiba melintas seperti kilatan petir yang menyakitkan. Di satu sisi, ia merasa menemukan perlindungan di pelukan Clarissa, namun di sisi lain, ia sadar bahwa ia baru saja menghancurkan jembatan terakhir menuju rumahnya.

"Clar..." bisik Erian lemah, suaranya tercekat di tenggorokan.

Clarissa justru semakin merapatkan tubuh polosnya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erian yang masih basah oleh keringat. Ia tidak peduli jika besok dunia akan mengutuknya; yang ia tahu, malam ini ia telah berhasil memiliki pria yang ia puja sejak masa kuliah.

Hening kembali menyelimuti kamar hotel itu setelah badai gairah mereda. Di bawah cahaya lampu temaram yang memantulkan bayangan mereka di dinding, dua insan itu kini duduk bersisian, membiarkan kulit mereka yang masih terasa hangat bersentuhan dengan udara dingin dari AC.

Clarissa bergerak pelan, menyingkirkan rambut hitam kemerahannya yang berantakan dari wajahnya. Ia menjangkau meja nakas, memungut bungkus rokok miliknya yang tergeletak di sana. Dengan gerakan yang elegan meski dalam keadaan tanpa busana, ia menyulut sebatang rokok menggunakan korek api emas bermerek mahal yang mengeluarkan suara ting yang khas saat dibuka.

Setelah menyesap asapnya dalam-dalam, ia menyodorkan bungkus rokok itu kepada Erian. Erian, yang kini bersandar di dipan dengan raut wajah yang tampak jauh lebih tenang namun penuh beban, mengambil satu batang dan menyulutnya. Asap mengepul ke udara, menciptakan tirai tipis di antara mereka.

Erian menghembuskan asap rokoknya perlahan, matanya menatap lurus ke depan. "Clarissa," suaranya terdengar berat dan tegas, "aku tak bisa meninggalkan Nadya. Aku sudah berkomitmen dengan dia. Aku tak mungkin menghancurkan rumah tanggaku."

Clarissa terdiam sejenak, membiarkan asap rokok keluar dari sela bibirnya yang sensual. Ia menoleh, menatap mata Erian dengan tatapan biru jernihnya yang kini tampak lebih stabil.

"Aku tahu itu, Erian," balas Clarissa dengan nada bicara yang jauh lebih dewasa. "Tadi itu... tadi itu.... aku hanya.... mengigau.... atau meracau tak jelas.... ah entahlah. Aku tak akan menambah masalahmu, Erian. Aku tak akan menghancurkan rumah tanggamu. Aku mencintaimu tulus, dan itu berarti aku juga harus menghargai pilihanmu."

Erian menoleh ke arahnya, ada binar kelegaan sekaligus kekaguman di matanya. "Syukurlah kalau kau bijak dan bisa berpikir dewasa, Clar. Terima kasih."

Erian menyesap lagi rokoknya, lalu ia melirik ke arah Clarissa dengan rasa penasaran yang sudah lama ia simpan. "Oh ya, kalau boleh tahu, kenapa sampai sekarang kamu belum menikah, Clar? Dengan penampilan fisikmu yang luar biasa, karier yang cemerlang, dan kekayaanmu... kamu bisa memilih pria mana pun di dunia ini untuk jadi suamimu."

Clarissa tersenyum pahit, menunduk menatap ujung rokoknya yang membara. "Entahlah, Er... aku... aku belum bisa move on dari kamu. Sampai sekarang, aku masih sangat mencintaimu, Er."

Melihat perubahan raut wajah Erian yang kembali menegang, Clarissa dengan cepat mengangkat tangannya. "Eits... jangan khawatir. Aku janji nggak akan merusak rumah tanggamu. Bahkan, aku akan berusaha membantu kamu untuk balik lagi sama Nadya seperti sedia kala. Aku akan bantu kalian menjadi pasangan yang harmonis lagi seperti dulu."

Clarissa meletakkan rokoknya di asbak, lalu memutar tubuhnya menghadap Erian dengan sorot mata profesional yang kembali muncul. "Yang pertama, aku akan menyelidiki mengenai laporan penyelidikan tim audit. Aku akan cari tahu apa benar data yang didapat mereka membuktikan kamu menggunakan uang perusahaan, atau ini hanya kesalahan teknis, atau... ada yang sengaja menjebakmu. Besok akan aku selidiki, Er. Aku janji."

Erian menatap Clarissa dengan rasa syukur yang mendalam. Di balik pengkhianatan yang baru saja mereka lakukan, ternyata Clarissa masih menjadi sosok yang bisa ia andalkan.

Momen di kamar hotel itu berakhir dengan sebuah aliansi rahasia. Di satu sisi ada pengkhianatan fisik yang baru saja terjadi, namun di sisi lain, muncul sebuah harapan untuk mengungkap kebenaran di kantor.

Erian mematikan puntung rokoknya di asbak, lalu menatap Clarissa dengan dalam. "Terima kasih, Clar. Aku benar-benar tidak tahu harus percaya pada siapa lagi selain kamu sekarang."

Clarissa hanya tersenyum tipis, senyum yang menyimpan luka sekaligus ketulusan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun tetap menggenggam tangan Erian dengan erat.

"Tidurlah, Er. Kamu butuh tenaga untuk menghadapi besok. Biarkan aku yang jadi mata dan telingamu di departemen keuangan. Aku akan pastikan, siapa pun yang mencoba menghancurkanmu, akan berhadapan denganku dulu," bisik Clarissa pelan.

Malam itu, di kamar hotel yang sunyi, Erian akhirnya bisa memejamkan mata sejenak, meski hatinya masih diliputi rasa bersalah yang amat sangat. Ia merasa sedikit lebih tenang karena tahu Clarissa akan berada di pihaknya untuk membongkar kebusukan di balik laporan audit itu.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!