Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam melihat
Satu minggu berlalu semenjak kejadian menegangkan yang terjadi antara Ethan dan Dira. Semenjak hari itu, mereka belum pernah bertemu lagi. Ethan terus mengingat tatapan kecewa Dira padanya. Kadang ia menyesal telah mengeluarkan kata-kata kasar yang merendahkan itu, kadang dia memilih tidak peduli dan meyakinkan dirinya sendiri kalau dia masih membenci wanita itu.
Ia memilih fokus kembali dengan pekerjaannya, karena hanya itu yang akan membuatnya melupakan ingatannya tentang Dira. Kadang ia mendatangi taman yang sama saat ia bertemu bocah kecil bernama Arel. Entah kenapa dia sering kepikiran anak itu dan ingin melihatnya. Namun tiap kali ia ke taman, bocah itu tidak pernah kelihatan lagi. Tidak tahu menghilang ke mana.
Sore harinya saat ia pulang ke rumah, anak buah Matt datang memberitahukan kalau Kara di temukan. Di sebuah pulau terpencil. Namun ada banyak penjahat yang menguasai tempat itu. Betapa bahagianya Ethan mendengarkan keponakannya di temukan dalam keadaan hidup.
Ia dan Damian segera bergegas ke pulau. Untuk menyelamatkan Kara.
Berita Kara yang ditemukan sampai di telinga Dira keesokan harinya. Dia dengar dari bos-nya, Zora. Mereka cukup dekat sekarang. Zora menganggapnya sebagai teman dan sering menceritakan keluarganya. Tentang suaminya, kehidupan kakaknya Damian, kadang juga Zora akan bercerita tentang sahabat-sahabat Damian. Matt dan Ethan.
Sebenarnya Dira merasa tidak enak menyembunyikan kenyataan kalau dia mengenal beberapa orang yang Zora ceritakan, tapi dia juga ingin ada yang tahu tentang masa lalunya yang pahit itu.
"Kau ingat Matt, anak sahabatnya kakakku?" tanya Zora pagi itu di laboratorium kantor.
Dira menganggukkan kepala.
"Aku pernah cerita istrinya kecelakaan dan belum ketemu sampai hari ini kan?"
Dira mengangguk lagi. Menyimpan rasa bersalahnya tiap kali membahas Kara.
"Istrinya sudah ditemukan. Semalam. Di sebuah pulau. Masih hidup, dan ternyata mereka sudah punya seorang putri." Zora bercerita dengan antusias. Dia sama sekali tidak menyadari ekspresi Dira yang kaget dan hampir menangis saking senangnya.
Jantung Dira berdegup keras. Untuk sesaat, suara mesin dan suara-suara yang lain dalam ruangan itu seakan menghilang, seolah hanya ada kalimat Zora yang menggema di kepalanya.
Kara masih hidup.
Dan… mereka sudah punya seorang putri.
"Benarkah?" suara Dira terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan. Ia buru-buru menunduk, pura-pura merapikan berkas di mejanya agar Zora tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Iya. Kak Damian langsung berangkat tadi malam bareng Ethan. Katanya situasinya nggak mudah. Pulau itu dikuasai kelompok kriminal. Tapi sudah aman sekarang. Istri Matt dan anaknya sudah di rumah mereka sekarang. Ah, aku ikut senang mendengarnya." lanjut Zora, tersenyum lega.
"Kau kenapa?"Zora menatapnya lebih saksama. Merasa ada yang aneh dengan wanita itu.
Dira tersenyum tipis, memaksa wajahnya tetap tenang.
"Aku cuma… senang dengarnya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ada kabar baik. Pasti Matt senang sekali bertemu istri dan anaknya."
Zora mengangguk. Ia terus menatap Dira, tetap merasakan ada yang aneh dari raut wajah wanita itu.
"Apa kau kepikiran adikmu? Kondisinya stabil kan?"
Dira terdiam sebentar, lalu mengangguk. Beberapa hari yang lalu adiknya di pukuli orang. Awalnya Raka tidak mengeluhkan apa-apa, hanya babak belur biasa katanya. Namun tiba-tiba keadaannya memburuk hingga ia harus di operasi dan belum bisa berjalan normal sampai sekarang.
Sebenarnya operasi pertama berhasil, tapi ternyata ada pendarahan kecil yang terlambat terdeteksi. Dua hari setelah operasi pertama, Raka mendadak kejang dan kehilangan kesadaran. Dokter harus membawanya kembali ke ruang operasi untuk tindakan kedua.
"Sekarang sudah lebih baik," lanjut Dira pelan, berusaha terdengar tegar.
"Cuma… pemulihannya lebih lama dari yang diperkirakan. Dokter bilang mungkin satu sampai dua bulan baru adikku bisa kembali berjalan normal.
Zora menghela napas prihatin.
"Kau benar-benar kuat, Dira. Mengurus adikmu, bekerja, dan tetap terlihat baik-baik saja."
Dira tersenyum. Hidupnya sudah berat dari kecil. Mungkin karena itu dia sudah terbiasa.
"Oh ya, nanti pulang kantor aku akan mampir melihat istri Matt. Kau mau ikut? Sekalian kenalan. Kau tidak pernah bertemu orang-orang yang kuceritakan itu secara langsung kan? Aku yakin kau pasti akan senang bergaul dengan mereka. Mereka semua baik kok."
Jantung Dira seperti berhenti dalam sepersekian detik. Ajakan itu terdengar sederhana, antusias dan polos. Kenalan? Zora akan kaget kalau orang-orang itu memang sudah mengenalnya. Itu sebabnya dia selalu bersembunyi dan tidak menunjukkan wajahnya ke mereka kalau Zora bersama mereka dan dia ada di dekat wanita itu.
Dia ingin sekali melihat kondisi Kara. Tapi, tidak harus datang bersama Zora. Dia akan melihat diam-diam, dari jauh. Mungkin Kara masih ingat apa yang terjadi terakhir kali mereka bertemu. Mungkin perempuan itu juga salah paham dan berpikir dia berselingkuh dengan Jeremy. Karena Dira ingat benar tatapan kecewa Kara hari itu, hari sebelum kecelakaan tragis itu terjadi dan menghancurkan semuanya.
Ia menarik napas perlahan, berusaha tetap terdengar santai.
"Maaf, Zora. Sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku harus ke rumah sakit lagi setelah ini. Adikku tidak ada yang menjaga."
Zora tampak sedikit kecewa, tapi langsung mengangguk mengerti.
"Tidak apa-apa. Keluarga memang nomor satu. Nanti kalau ada kesempatan lain, aku ajak lagi."
Dira tersenyum tipis.
"Iya."
Namun begitu Zora kembali sibuk, senyum itu perlahan memudar.
Pulang kantor, Dira tidak langsung ke rumah sakit. Dia diam-diam mengikuti Zora. Ia tidak sabar melihat keadaan Kara, melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau keponakan kesayangan Ethan itu baik-baik saja.
Mobil Dira berhenti di sebuah rumah besar nan megah. Matt sudah pindah rumah? Sudah enak tahun, sudah banyak yang berubah. Dira turun dari taksi dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang berdiri kokoh tak jauh dari gerbang. Ia mengenakan topi, masker dan kacamata hitam agar tidak ketahuan.
Gerbang besar itu terbuka lebar hingga Dira dapat melihat dari jauh orang-orang yang sedang duduk di taman itu. Kebanyakan dia kenal. Ada juga yang tidak.
Di sana duduk Hasel dan suaminya, Matt, Damian dan istrinya, Ethan, dan ...
Dira menahan nafas. Lalu tangannya terangkat menutupi mulutnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Kara ...
Perempuan itu masih hidup, agak kurus, kulitnya juga sedikit lebih gelap dari enam tahun lalu. Mungkin karena ia tinggal di pulau selama itu.
Dira terus menangis dari tempatnya berdiri. Lalu ia melihat seorang gadis kecil berlari ke pelukan Matt. Itu pasti putri mereka. Ada anak-anak kecil lain juga yang asyik bermain di taman kecil. Ada banyak anak kecil, semuanya tampak bahagia. Ia juga bisa melihat senyum lebar Ethan saat bersama orang-orang itu.
Dira tersenyum pahit. Memang Kara adalah sumber kebahagiaan pria itu. Ia cepat-cepat menghapus air matanya lalu pergi dari sana. Ia tidak sama sekali tidak tahu, di antara orang-orang di dalam sana, ada yang menyadari keberadaannya.