NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYESALAN ADNAN.

Rumah Sakit Jakarta menjadi saksi bisu berakhirnya penderitaan Adnan dengan gips beratnya. Namun, dasar Adnan yang memiliki jiwa bisnis tinggi, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan perhatian lebih dari istri kecilnya. Begitu gips dibuka, Adnan sengaja memasang wajah lemas dan berpura-pura kakinya masih kaku tidak bisa digerakkan.

"Nayla, sepertinya prosedurnya gagal. Saya masih tidak bisa merasakan kaki saya," keluh Adnan dengan nada dramatis saat mereka sampai di rumah.

Nayla yang merasa bersalah karena kejadian di dermaga kemarin langsung panik. Ia memapah Adnan dengan penuh perasaan. Dion yang bermaksud ingin membantu mengangkat Adnan ke sofa langsung mendapatkan tatapan maut dan isyarat tangan dari Adnan untuk segera pulang. Dion yang paham hanya bisa menghela napas dan berpamitan.

"ByBy, pelan-pelan ya. Duh, apa dokter tadi salah potong saraf ya?" tanya Nayla cemas.

"Mungkin. Tapi kalau kamu yang urus, mungkin akan lebih cepat sembuh. Nayla, malam ini tidurlah di kamar saya, supaya kalau saya perlu ke kamar mandi ada yang bantu," ucap Adnan melancarkan aksinya.

Nayla mengerutkan kening, ia teringat aturan ketat di awal pernikahan mereka. "Bukankah ByBy sendiri yang melarang saya masuk ke kamar Byby? Katanya kamar itu area terlarang seperti wilayah nuklir bagi saya?"

Adnan berdehem, mencari pembenaran. "Itu dulu sebelum kamu menyelamatkan nyawa saya di tengah laut. Aturan itu sudah saya bakar di pantai kemarin."

Nayla hendak memprotes lagi, namun tiba-tiba Adiva datang merengek dan menarik ujung gamis Nayla. "Myma... bobo... Diva, udah ngantuk."

Nayla langsung merasa lega luar biasa. "Nah! Anak Byby mau tidur sama saya! Jadi saya tidur di kamar Adiva saja ya By! Byby kan sudah besar, kalau butuh apa-apa teriak saja pakai toa!"

Tanpa menunggu jawaban Adnan, Nayla segera menggendong Adiva dan masuk ke kamar gadis kecil itu. Ia langsung mengunci pintu rapat-rapat. Nayla merasa gerah dan ingin tidur dengan nyaman. Ia melepas hijabnya, membiarkan rambut hitamnya yang tebal dan panjang terurai indah, lalu mengganti bajunya dengan daster pendek tanpa lengan agar lebih leluasa.

Ditengah malam, Adnan yang ternyata memiliki kunci cadangan diam-diam membuka pintu kamar Adiva. Ia masuk dengan langkah perlahan, kakinya yang katanya "mati rasa" ternyata bisa melangkah dengan sangat tegap. Saat ia sampai di samping tempat tidur, Adnan terpaku.

Di bawah remang lampu tidur, ia melihat sosok Nayla yang sangat berbeda. Selama berbulan-bulan menikah, Nayla selalu menutup rapat tubuh dan rambutnya di depan Adnan karena merasa belum sepenuhnya diterima. Namun malam ini, Adnan melihat kecantikan asli istrinya. Rambut hitam tebal yang jatuh di bantal, lengan yang putih bersih, serta leher yang jenjang.

Adnan merasa sangat menyesal karena pernah membangun dinding pemisah yang begitu tinggi di antara mereka. Dengan gerakan lembut agar tidak membangunkan Adiva, ia menggendong tubuh mungil Nayla yang sedang kelelahan itu dan membawanya ke kamar utama. Nayla yang memang sangat letih setelah bertarung di laut tidak bangun sedikit pun.

Adnan membaringkan Nayla di tempat tidurnya yang luas, lalu ia ikut berbaring di sampingnya. Ia menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya, menghirup aroma rambut istrinya yang menenangkan sampai akhirnya mereka berdua terlelap.

Keesokan paginya

"ALLAHU AKBAR! MALING!"

Teriakan Nayla meledak tepat saat adzan subuh berkumandang. Ia tersentak bangun dan mendapati dirinya berada dalam dekapan lengan kekar Adnan. Nayla segera menarik selimut tebal untuk menutupi kepala dan seluruh tubuhnya sampai menyerupai kepompong.

"Kenapa Byby ada di kamar Adiva?! Dan kenapa Byby peluk-peluk saya?!" protes Nayla dari balik selimut.

Adnan mengucek matanya dengan santai. "Coba kamu lihat sekelilingmu, Nayla. Ini kamar siapa?"

Nayla melirik sedikit dari celah selimut. Matanya membelalak melihat interior kamar yang serba putih dan abu-abu. "Loh? Kok saya bisa di sini? Kok Byby bisa pindahin saya? Katanya kaki Byby mati rasa?!"

"Kamu mungkin tidur sambil berjalan, Nayla. Saya juga kaget tiba-tiba ada istri kecil saya naik ke kasur ini," bohong Adnan dengan wajah paling jujur sedunia.

Nayla mencoba menggaruk kepalanya yang gatal karena bingung, tapi tangannya terhalang selimut. "Nggak mungkin! Saya nggak pernah tidur sambil jalan kecuali kalau mencium bau sate padang lewat!"

"Sudahlah, jangan ditutupi terus. Saya sudah lihat semuanya semalam. Rambutmu sangat indah, Nay," ucap Adnan lembut.

"Nggak boleh! Kan Byby sendiri yang bilang jangan berharap lebih! Byby sendiri yang kasih batas!" Nayla tetap bertahan di balik selimut.

Adnan menghela napas, ia mendekati Nayla dan menarik selimut itu perlahan. Nayla mencoba menahan, namun tenaga Adnan jauh lebih kuat. Begitu selimut terbuka, rambut acak-acakan Nayla terlihat. Adnan tersenyum tulus, ia mengusap pipi Nayla lalu mengecup dahi istrinya dengan lembut.

"Nay, maafkan saya untuk yang dulu. Sekarang, saya ingin serius dengan pernikahan ini, Jadi berikan saya kesempatan ya," bisik Adnan.

Jantung Nayla serasa mau meledak. Ia segera melompat turun dari tempat tidur dan lari tunggang langgang kembali ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Adnan yang melihat itu hanya bisa tersenyum puas.

Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat canggung. Nayla tidak berani menatap mata Adnan. Ia hanya mengambil sepotong roti, mengunyahnya dengan cepat, lalu menyambar kunci motor sportnya.

"Saya pergi dulu ya! Mau ujian masuk kuliah! Assalamualaikum!" teriak Nayla sambil berlari keluar.

"Nayla! Biar saya antar!" teriak Adnan, namun suara deru mesin motor Nayla sudah lebih dulu menghilang di kejauhan.

Adnan menghela napas kecewa. Adiva yang sedang makan sereal tiba-tiba menatap ayahnya dengan tatapan menghakimi. "Makanya Papa... jangan jutek sama Myma. Papa marah terus, Myma nggak suka."

Adnan melongo. "Masa Myma nggak suka sama Papa? Terus Myma sukanya sama siapa?"

"Myma sukanya sama Om Dion! Om Dion baik, suka kasih cokelat," celetuk Adiva polos.

Seketika Adnan melirik Dion yang baru saja masuk untuk memberikan laporan harian. Tatapan Adnan begitu menyeramkan sampai Dion merasa bulu kuduknya berdiri.

"Pak... ada apa ya? Kenapa menatap saya seperti mau memotong gaji?" tanya Dion gemetar.

"Dion, kalau saya lihat kamu dekat-dekat dengan Nayla lagi, saya akan kirim kamu ke kantor cabang di Afrika untuk mengurus singa," ancam Adnan serius.

Dion langsung menangkupkan tangan pada Adiva. "Diva sayang, tolong jangan fitnah Om. Om cuma mau kerja dengan tenang, nggak mau jadi pawang singa!"

Sementara itu di ruang ujian, Nayla benar-benar tidak fokus. Bayangan Adnan saat mengecup dahinya terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia memegang dahinya berkali-kali sambil senyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba menggeleng kuat.

"Hus! Hus! Pergi kau lalat pengganggu! Jangan ganggu konsentrasi saya!" gumam Nayla sambil mengibaskan tangannya di udara untuk mengusir bayangan Adnan.

Tiba-tiba, seorang pengawas ujian yang sudah berdiri di samping meja Nayla sejak tadi berdehem sangat keras. "Peserta nomor 112, apa yang sedang Anda lakukan? Anda mengusir saya?"

Nayla tersentak kaget. Ia melihat pengawas itu sudah melotot marah. "Eh, bukan Pak! Tadi ada... anu... ada nyamuk gede banget lewat di depan mata saya!"

"Anda tidak sopan! Keluar dari ruangan ini sekarang! Anda saya nyatakan tidak boleh mengikuti ujian!" bentak sang pengawas.

Nayla langsung lemas. Ia bangkit dan memohon dengan wajah paling memelas. "Pak, tolong Pak! Saya tadi bukan usir Bapak, saya lagi usir bayangan suami saya yang mukanya kayak Es Balok itu! Saya mohon, kalau saya nggak lulus, saya bakal disuruh jadi pembantu di rumah sendiri!"

Melihat Nayla yang hampir menangis dan menceritakan suaminya yang "Es Balok", sang pengawas akhirnya luluh dan merasa kasihan. "Ya sudah, sekali lagi kamu berisik, saya benar-benar akan keluarkan kamu."

Nayla kembali mengerjakan soal dengan emosi yang meledak-ledak di dalam hati. Ini semua gara-gara ByBy! Kenapa sih dia mendadak jadi manis begitu? Dasar Es Balok mencair! Bikin ujian saya jadi nano-nano begini!

Apakah Nayla akan berhasil lulus ujian di tengah gangguan jantungnya yang terus berdegup kencang karena Adnan?

---

So terus dukung Author ya, jangan lupa berikan Bintang 🌟 Like 👍🏻 Vote ♥️ nya oke.. biar Author semakin gencar updatenya 😉

1
Ayu
Lg seru2 nya tunggu update lg ya thor💪🙏
Tasmiyati Yati
penguntit tiap hari memang gak ada kerjaan
Tasmiyati Yati
memang tadi Farah tidak ikut sekoalh
Tasmiyati Yati
kalau pakai dalaman lejing copot saja rok plis Ket nya biar gampang nyerang preman
Mineaa
waaahhh lope lope sekebon Nayla.......
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥
Tasmiyati Yati
masih susah banget sih
Tasmiyati Yati
maaf kak author dari tadi gak bisa like gagal terus
Tasmiyati Yati
sak karepmu lah gagal terus bikin esmosi😡
Tasmiyati Yati
ini jaringan lagi main kemana sih kok susah banget sinyal nya
Tasmiyati Yati
kemana adiva jarang nongol biar tambah seru
Tasmiyati Yati
mulai suka tuh si bos
Sunaryati
Makin tersepona kan, Byby
Tasmiyati Yati
baru beberapa hari jadi istri sdh mulai luluh
Tasmiyati Yati
nanti jadi bucin malu sendiri Adnan
Tasmiyati Yati
happy banget aku baca novel ini semoga di akhir tidak mengecewakan
Tasmiyati Yati
ya karena adiva baru pertama melihat orang cerewet tapi lucu ya diva
Tasmiyati Yati
senang kalau baca novel ada komedinya
Tasmiyati Yati
kenapa gagal melulu kasih komentar
Tasmiyati Yati
mampir baca semoga jadi fans kak
Cintya Tya
lanjut thor... 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!