Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELURU UNTUK SANG IMAM.
Bangunan tua di pinggiran kota itu nampak angker dengan lumut yang merambat di dinding-dinding retaknya. Namun, di balik kesunyiannya, maut sedang mengintai. Nayla tidak datang dengan gegabah. Ia menggunakan jaket hitam besar dan tudung yang menutupi wajahnya, menyamar sebagai salah satu kurir pengantar makanan yang memang dipesan oleh para penjaga untuk makan malam mereka.
Begitu berhasil melewati gerbang depan dengan alasan mengantar pesanan tambahan, Nayla langsung beraksi. Saat seorang penjaga hendak mengambil bungkusan di tangannya, Nayla melayangkan tendangan Dollyo Chagi tepat di rahang pria itu.
"Pesanan datang! Bonus tendangan maut gratis ongkir!" seru Nayla sambil melemparkan helmnya ke arah penjaga lainnya.
Arifin yang menyaksikan dari lantai atas melalui kamera pengawas merasa geram. "Gadis sialan! Habisi dia sekarang juga! Jangan biarkan dia mendekati anak itu!"
Pertarungan sengit pun pecah di lobi bangunan. Nayla dikepung oleh sepuluh orang pria berbadan besar. Namun, tubuh mungilnya justru menjadi keuntungan. Ia bergerak lincah seperti kancil, memadukan teknik Taekwondo yang eksplosif dengan kuncian Silat yang mematikan. Setiap kali ia menjatuhkan lawan, mulutnya tidak berhenti berceloteh.
"Aduh Bang, badannya saja yang gede, tapi gerakannya lambat kayak kura-kura habis makan kangkung!" ejek Nayla sambil memutar tubuh dan menghantam dada lawan dengan sikunya.
Arifin mengepalkan tangan di balkon atas. "Sialan! Seharusnya aku meminta Adnan saja sebagai ganti nyawa anak itu! Siapa sangka bocah tengil ini bisa bertarung seperti monster!"
Meskipun tangguh, tenaga Nayla mulai terkuras. Keringat bercucuran dan napasnya mulai tersengal-sengal. Saat seorang anak buah Arifin hendak menghantam punggung Nayla dengan balok kayu, sebuah tembakan peringatan terdengar. DOOR!
Pintu depan hancur ditabrak oleh mobil SUV hitam. Adnan melompat keluar dengan wajah penuh kemurkaan. Tanpa banyak bicara, Adnan merangsek maju. Gerakannya sangat taktis dan bertenaga, membuktikan bahwa ia juga memiliki kemampuan bela diri yang setara dengan Nayla. Dalam waktu singkat, sisa anak buah Arifin berhasil dilumpuhkan.
"Nayla! Kamu benar-benar gila!" bentak Adnan sambil menghampiri Nayla yang sedang terengah-engah.
"Hehe, yang penting saya masih hidup kan, By? ByBy sih datangnya kelamaan, saya sudah hampir jadi pepes ini," balas Nayla dengan senyum lemas namun tetap tengil.
Adnan segera melepaskan ikatan Adiva di sudut ruangan. Gadis kecil itu langsung memeluk Adnan sambil menangis sesenggukan. Arifin yang melihat kekalahannya segera melarikan diri melalui pintu belakang.
"Dion! Kejar Arifin! Jangan sampai lolos!" perintah Adnan.
Namun, insting Nayla tiba-tiba berteriak. Matanya menangkap pantulan cahaya dari sebuah jendela di gedung seberang. Sebuah moncong senapan penembak jitu mengarah tepat ke punggung Adnan yang sedang mendekap Adiva.
"ByBy! Awas!"
Tanpa pikir panjang, Nayla melompat dan memeluk tubuh Adnan dari belakang, menjadikannya tameng hidup.
DOR!
Peluru kaliber tinggi itu melesat, menembus punggung Nayla dan keluar melalui bagian atas dadanya. Darah segar seketika membasahi kemeja putih Adnan. Nayla ambruk dalam pelukan suaminya.
"NAYLA!" teriak Adnan histeris. Ia segera membaringkan Nayla di lantai yang dingin, sementara tangannya gemetar mencoba menahan pendarahan di dada istrinya. "Kenapa... kenapa kamu lakukan ini, Nayla?!"
Nayla terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya, namun matanya masih menunjukkan binar ketengilan yang mulai meredup. "Biar... biar saya masuk surga, By. Sepertinya... drama istri pengganti akan tamat di sini. ByBy jangan nangis ya... jangan jadi es balok lagi. ByBy kalau nangis... jelek banget tahu."
"Diamlah! Jangan bicara!" Adnan berteriak pada Dion yang baru saja kembali. "Siapkan mobil! Sekarang!"
Adnan menggendong tubuh Nayla dengan protektif. Ia tidak memedulikan rasa sakit di kakinya sendiri. Sementara itu, Dion memerintahkan anak buah yang lain untuk memburu sang penembak jitu.
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju rumah sakit, Adnan terus menepuk-nepuk pipi Nayla, melarangnya untuk memejamkan mata. "Nayla, dengar saya! Jangan berani-berani memejamkan mata! Kalau kamu pergi, saya akan jual motor sport kesayanganmu! Saya akan bubarkan Rumah Singgah Myma! Kamu dengar?!"
Nayla tersenyum tipis, suaranya terdengar sangat lirih dan terbata-bata. "Yah... jangan dong By... masa motor saya dijual... itu kan... harta gono gini... sepertinya saya sudah nggak kuat... Bye-bye ByBy... See you in heaven."
Setelah mengucapkan kalimat itu dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, mata Nayla perlahan tertutup. Kepalanya terkulai lemas di dada Adnan.
"Nayla! Nayla bangun! Buka matamu! NAYLA!" Adnan berteriak sekuat tenaga, namun tidak ada respon. Tangis Adnan pecah, sebuah pemandangan yang bahkan tidak pernah terlihat saat ia kehilangan istri pertamanya dulu.
Sesampainya di rumah sakit, tim medis sudah bersiap di depan pintu IGD. Adnan mencengkeram kerah baju dokter bedah yang menghampirinya. "Selamatkan dia! Jika dia tidak selamat, saya pastikan rumah sakit ini akan rata dengan tanah besok pagi! Lakukan apa saja!"
Nayla segera dilarikan ke ruang operasi. Lampu merah tanda operasi dimulai menyala. Adnan duduk di kursi tunggu dengan tangan yang masih berlumuran darah Nayla. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat. Rasa takut kehilangan yang begitu besar kini menghimpit dadanya lebih sesak daripada luka apa pun.
Dion mendekat dengan wajah lesu. "Pak, Adiva sudah aman di mansion. Penembak jitu itu juga sudah tertangkap, dia suruhan Arifin."
Adnan tidak menyahut. Matanya hanya tertuju pada pintu ruang operasi. Jam demi jam berlalu seperti siksaan abadi. Setelah hampir lima jam menunggu, pintu itu akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dengan peluh di dahi dan raut wajah yang sulit diartikan.
Adnan langsung berdiri menyergap dokter tersebut. "Bagaimana?! Bagaimana keadaan istri saya?!"
Dokter itu menelan ludah, nampak ragu sejenak. "Operasinya berhasil, Tuan Adnan. Kami berhasil mengeluarkan peluru dan menjahit pembuluh darah yang robek. Tapi..."
"Tapi apa?!" bentak Adnan.
"Kondisi pasien sangat kritis. Peluru mengenai bagian atas paru-paru dan menyebabkan trauma hebat. Saat ini... Nyonya Nayla sedang dalam keadaan koma. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa agar keinginannya untuk bertahan hidup lebih kuat dari luka-lukanya," jelas dokter itu dengan nada takut.
Adnan terhuyung mundur, ia jatuh terduduk di kursi tunggu. Dunianya serasa runtuh. Nayla yang berisik, Nayla yang tengil, kini terbaring sunyi di balik dinding kaca mesin-mesin penopang hidup.
"Kamu harus bangun, Nayla," bisik Adnan pada kesunyian koridor rumah sakit. "Kamu belum melihat motor baru yang saya beli untukmu. Kamu tidak boleh pergi sekarang."
Di dalam ruang ICU, Nayla nampak begitu damai namun pucat. Sementara itu, di sebuah tempat persembunyian, Arifin sedang berbicara di telepon. "Tembakan itu tepat sasaran. Sekarang, selesaikan tahap terakhir. Aku ingin panti asuhan Rumah Singgah Myma itu dihancurkan malam ini juga saat Adnan sedang lengah di rumah sakit!"
Bahaya belum berakhir. Di saat Nayla berjuang antara hidup dan mati, musuh-musuhnya justru menyiapkan serangan pamungkas yang bisa menghancurkan segalanya.
Tetapi Rendi
kayak nya
Farah
ank dari musuh bebuyutan Adnan...