“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog (2)
Langit bergemuruh disertai kilatan petir yang sangat dahsyat. Hujan yang awalnya rintik-rintik seketika berubah menjadi deras, disertai angin yang menghujam pohon-pohon hingga ranting-ranting bergoyang hebat.
“KAKAK!!”
Teriakan Fang Yu terdengar sampai ke telinga Fang Yi. Seketika itu juga, Fang Yi yang tangannya masih basah dan kotor akibat mencuci piring langsung berlari menuju adiknya. Saat sampai di kamar, ia mendapati Fang Yu sedang menutupi kedua telinganya dengan tangan, matanya terpejam, tubuhnya meringkuk ketakutan.
Fang Yi segera duduk di samping adiknya, memeluknya dengan erat sambil berkata,
“Nggak apa-apa… ada kakak di sini.”
Rumah tua itu, meski reyot dan lapuk, terasa seperti sebuah paviliun megah bagi Fang Yi, yang satu-satunya pikirannya hanyalah keselamatan Fang Yu.
“Kak, Fang Yu takut… jangan tinggalin Fang Yu, kak,” suara Fang Yu bergetar dan tersedu.
Fang Yi menatap adiknya, meneteskan air mata pelan. Ia tau bahwa sejak lahir, Fang Yu tak pernah merasakan kasih sayang orang tua mereka berdua. Fang Yi hanya bisa meratapi kesedihan sambil memeluk adiknya dengan erat.
“Iya… kakak di sini. Ayo tidur sekarang. Nanti hujannya akan reda sendiri,” ucap Fang Yi sambil mengusap dahi Fang Yu, menenangkan hatinya yang cemas.
Malam itu terasa begitu berat bagi Fang Yi. Ia memikirkan nasib Fang Yu, seorang anak yang sejak kecil menderita dan menjadi bahan ejekan masyarakat desa. Air mata Fang Yi menetes pelan, meresapi kesedihan dan penderitaan yang seolah memang sudah ditakdirkan untuk mereka.
“Tunggu saja… kakak berjanji suatu saat nanti, semua orang yang menertawakan kita akan berlutut dan memuji kita,” gumam Fang Yi pelan, sambil mengusap air matanya yang berlinang. Akhirnya, ia tertidur dengan berat.
Pagi menyingsing dengan suara ayam berkokok dan sinar matahari yang mulai menembus jendela. Fang Yi terbangun dengan wajah lelah.
“Ahh… sudah pagi ya!?” gumamnya sambil mengusap mata.
“Hoammm… di mana Fang Yu? Apa dia sudah bangun duluan!?”
Ia mencoba mengumpulkan tenaga, menggaruk kakinya yang gatal, dan mencari keberadaan adiknya karena tempat tidur sudah kosong.
Krek.
Pintu terbuka perlahan. Di baliknya, Fang Yu muncul, tangannya masih ada sisa-sisa air bekas cucian piring. Ia melangkah mendekat dengan senyum semangat, polos, seperti anak-anak pada umumnya.
“Kakak, piringnya sudah aku cuci… aku pintar kan?”
Ucapan Fang Yu memiliki makna yang hanya bisa dipahami Fang Yi—adik itu ingin dipuji.
“Iya… kamu pintar. Tunggu sebentar,” kata Fang Yi sambil tersenyum hangat.
“Memangnya kamu bisa nyuci piring?” Fang Yi bertanya dengan sedikit mengerutkan kening.
Senyum Fang Yu perlahan memudar menjadi tipis.
“Kak… memangnya aku nggak bisa nyuci? Kan setiap hari aku lihat kakak nyuci. Gitu doang sih, aku juga bisa,” ujarnya polos.
Bukan sekali dua kali, berkali-kali Fang Yu membuat kakaknya merasa bangga sekaligus bahagia. Fang Yi berdiri, memegang pipi adik kecilnya dengan lembut.
“Makasih ya, Fang Yu.”
Tatapan hangat dan senyum tulus Fang Yi membuat Fang Yu kagum. Di mata Fang Yu, yang tak punya siapa pun di dunia ini, kakaknya adalah idola dan panutan yang paling dipercayai.
“Iya, kakak… kakak harus cepat mandi dan ganti baju biar nanti nggak terlambat,” ujar Fang Yu sambil memegang tangan kakaknya, senyum dan mata bersinar membuat hati Fang Yi tergerak. Ia pun mulai berjalan meninggalkan Fang Yu di belakang.
“Kalo kamu nggak mau mandi, ngomong aja. Jangan suruh kakak mandi dulu terus kerja biar kamu nggak mandi,” canda Fang Yi.
“Hehe… kakak tau aja,” balas Fang Yu dengan wajah polos.
Sungguh kehidupan yang bahagia bagi mereka berdua yang tinggal dipelosok desa dan jauh dari rumah rumah para penduduk.
Namun didalam hati Fang Yi ia memiliki sebuah ketakutan yang amat sangat besar, ketakutan bahwa hidup mereka yang terasa baik baik saja dan normal ini mulai terhisap lingkaran dunia murim yang kejam.
Setelah mandi, Fang Yi bersiap berangkat ke penginapan tempatnya biasa bekerja. Ia berjongkok di depan pintu, menatap Fang Yu, dan meraih bahunya dengan lembut.
“Kakak berangkat dulu ya. Kamu jaga rumah, jangan keluyuran sendirian kalau kakak nggak ada.”
“Iya, kak. Memangnya rumah perlu dijaga setiap hari ya?” sahut Fang Yu dengan polos.
“Hei, coba pikir. Nanti kalau rumahnya kabur, kita tinggal di mana? Kalau rumahnya kabur keluar desa, terus ngambek nggak mau kembali ke sini gimana?”
Fang Yu menatap kakaknya serius.
“Jangan… rumahnya nggak boleh kabur. Nanti kita nggak punya rumah.”
“Makanya jagain rumahnya ya sampai kakak pulang nanti,” kata Fang Yi sambil tersenyum. Candaan itu berhasil membuat Fang Yu patuh.
Di perjalanan, Fang Yi melihat seorang pendekar pedang membawa pedang sebesar tubuh Fang Yi. Orang-orang menatapnya dengan kagum bercampur takut.
“Woah… pedangnya besar banget. Kira-kira aku sanggup nggak ya suatu hari kalau memegang pedang seperti itu?”
Fang Yi terpaku sejenak, menoleh ke belakang memastikan dirinya tidak salah melihat.
Desa tempat Fang Yi dan Fang Yu tinggal bernama Desa Giok Seribu Awan. Desa itu selalu ramai, karena berada di pusat wilayah Barat. Tak heran banyak kultivator singgah di penginapan lokal.
Fang Yi melanjutkan perjalanannya hingga sampai di penginapan.
“Fang Yi!? Kamu sudah sampai. Bagus, cepat bantu paman melayani tamu-tamu yang sudah menunggu lama. Paman kewalahan di sini,” seru Ying Jun, pemilik penginapan sekaligus orang yang selalu membantu Fang Yi sejak ia kehilangan orang tuanya.
“Ehhh… b-baik, paman… aku segera datang,” jawab Fang Yi.
Tubuh mungilnya yang hanya setinggi meja penginapan bergerak lincah. Ia mengantarkan pesanan tamu, mencatat menu, dan menyerahkan catatan kepada Ying Jun.
Waktu berlalu cepat di penginapan. Namun di sisi lain, Fang Yu yang tak punya kegiatan mulai penasaran dengan dunia luar dan melanggar perintah kakaknya.
Ia menapakkan satu kaki di rumput luar pintu, sementara kaki satunya tetap di dalam rumah. Insting ingin tahu seorang anak berumur lima tahun muncul begitu saja. Seekor kupu-kupu melintas, terbang menuju pohon, dan Fang Yu terpukau.
“Ahhh… aku nggak boleh keluar, kata kakak,” gumamnya sambil menarik kembali kakinya.
Dari jauh terdengar langkah kaki dan beberapa patah kata samar.
“Itu orang… tutup pintu, masuk ke bawah kamar kalau lihat orang!”
Brak!
Pintu tertutup keras, Fang Yu berlari bersembunyi di bawah kasur. Suara itu membuat beberapa pria di kejauhan penasaran.
“Suara apa itu? Kamu dengar, hyung?” tanya seorang pria.
“Ya, aku dengar. Sepertinya pintu tertutup atau kayu jatuh,” sahut pria yang terlihat sebagai pemimpin mereka.
“Bagaimana kalau kita periksa, hyung?”
“Nggak perlu. Kita fokus saja mencari Peng Lin,” jawab pria itu dengan serius, wajah penuh kekhawatiran.
“Tapi aneh, Peng Lin itu kriminal terburuk di wilayah Barat, dan dia memilih bersembunyi di Desa Giok Seribu Awan,” ucap pria lain sambil mengerutkan kening.
“Kita cukup ikuti perintah ketua sekte. Aku dengar dia tak ragu membunuh anak-anak atau orang tua untuk dijadikan sandera,” tegas yang pertama.
“Baiklah, kami tetap bersamamu, hyung,” jawab yang lain.
Percakapan mereka berhenti bersamaan dengan berakhirnya chapter ini.