NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: PENGHAKIMAN TANPA PALU

Layar ponsel Keyla menyala redup, namun efeknya membakar retina. Notifikasi dari Instagram terus bermunculan seperti gelembung air mendidih, satu per satu membawa racun. Akun gosip @Cakrawala_Lambe itu telah mengubah narasi hidupnya dalam hitungan jam. Kolom komentar dipenuhi spekulasi liar, caci maki dari akun-akun anonim, hingga teman sekelas yang selama ini tak pernah menyapanya kini ikut menjadi hakim dadakan.

"Key! Jawab aku!" teriakan Dinda di telepon menyentak kesadaran Keyla.

"Aku... aku baca komennya, Din," bisik Keyla, suaranya serak. "Mereka bilang aku obsesif. Mereka bilang aku nyuri puisi Vanya. Mereka bilang aku... psikopat."

"Jancuk iku arek-arek!" umpat Dinda kasar, logat Suroboyo-nya meledak tanpa filter. "Dengerin aku, Key. Besok pagi, aku jemput. Jangan berangkat sendiri. Kalau ada yang macem-macem, tak sikat gundule. Vanya itu bener-bener ular berbisa. Dia manfaatin fakta kalau lo introvert buat bikin lo kelihatan kayak penguntit misterius!"

Keyla mematikan sambungan telepon setelah berjanji akan menunggu Dinda besok pagi. Ia melempar tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar yang ditempeli stiker *glow-in-the-dark* berbentuk rasi bintang. Cassiopeia ada di sana, bersinar hijau pudar. Dulu, rasi itu adalah simbol harapan dan cinta rahasianya. Sekarang, nama itu terasa seperti barang curian yang dituduhkan padanya.

Ponselnya bergetar lagi. Bukan notifikasi Instagram. Itu pesan WhatsApp. Dari 'Bintang Rigel'.

Jantung Keyla berhenti sejenak. Ia membuka pesan itu dengan jari gemetar.

*"Jangan baca komentar. Jangan buka sosmed. Tidur, Key. Besok aku yang urus. Aku tahu siapa Cassiopeia-ku, dan itu bukan dia."*

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah. Bukan karena sedih, tapi karena validasi. Di tengah badai fitnah ini, satu orang yang paling penting—subjek dari semua suratnya—memercayainya. Kalimat singkat Bintang menjadi jangkar yang menahan kewarasannya malam itu agar tidak hanyut dibawa arus ketakutan.

***

Pagi di SMA Cakrawala Terpadu tidak pernah terasa sedingin ini, padahal matahari Surabaya sedang terik-teriknya. Begitu motor Dinda berhenti di parkiran, atmosfer berubah. Hening yang tidak wajar menyelimuti area parkir siswa.

Keyla turun dari boncengan, merapikan rok abu-abunya dengan gugup. Ia menunduk, mencoba mengaktifkan mode *invisible*-nya, tapi percuma. Vanya telah menyorotkan lampu sorot raksasa ke arahnya. Bisik-bisik terdengar seperti dengungan lebah yang marah.

"Itu anaknya?"

"Kelihatan pendiem, ternyata ngeri ya."

"Ih, pantesan sering sendirian di perpus, ternyata lagi nyusun rencana neror Bintang."

Keyla meremas tali tas punggungnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dinda berjalan di sisinya seperti *bodyguard*, menatap tajam setiap orang yang berani memandang sinis. "Apa liyat-liyat?! Matamu onok katarak a?!" semprot Dinda pada sekelompok siswi kelas sepuluh yang sedang berbisik sambil menunjuk-nunjuk.

Mereka berjalan menyusuri koridor utama menuju kelas XI IPA 2. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai sekolah dilapisi lem perekat. Di mading sekolah, Keyla melihat beberapa orang berkerumun. Firasat buruk menyergapnya. Saat kerumunan itu membelah, Keyla melihat apa yang mereka tonton.

Sebuah cetakan foto—foto *candid* Keyla yang sedang memasukkan amplop ke laci meja Bintang di ruang kelas yang kosong—tertempel di sana. Foto itu diambil dari sudut atas, kemungkinan besar dari ventilasi atau kamera tersembunyi. Di bawahnya tertulis dengan spidol merah: *MALING IDENTITAS & PENGUNTIT KELAS KAKAP*.

Lutut Keyla lemas. Foto itu asli. Itu diambil bulan lalu saat ia menyelipkan 'Surat untuk Bintang #18'. Tapi konteksnya telah diputarbalikkan menjadi bukti kriminalitas.

"Siapa yang nempel ini?!" Dinda maju, merobek kertas itu dengan kasar hingga sobekannya berserakan di lantai. Napasnya memburu. "Keluar lo semua pengecut!"

"Kenapa harus marah kalau itu fakta?"

Suara itu lembut, namun membelah kerumunan dengan presisi yang mematikan. Vanya Clarissa muncul, diapit dua dayang-dayang cheerleadernya. Wajahnya terlihat pucat—bukan karena sakit, tapi riasan yang disengaja untuk menimbulkan efek korban yang terzalimi. Matanya sembab buatan.

"Keyla," ucap Vanya dengan nada sedih yang dibuat-buat, "Gue nggak nyangka lo seobsesi itu sama cowok gue. Gue udah diem selama ini karena gue kasihan sama lo. Tapi lo malah neror gue? Lo mau ngerebut posisi gue sebagai Cassiopeia dengan cara fitnah?"

"Gue..." Keyla mencoba bersuara, tapi tenggorokannya tercekat. Keahlian Vanya dalam memutarbalikkan fakta sungguh di luar nalar. Vanya tidak menyangkal keberadaan surat-surat itu; dia justru mengklaim bahwa Keyla-lah yang mencuri konsep suratnya dan mencoba mengirimkannya secara diam-diam untuk membingungkan Bintang.

"Heh, Uler!" Dinda maju, menunjuk wajah Vanya. "Nggak usah drama! Lo yang nyuri surat Keyla! Lo yang ngaku-ngaku!"

"Mana buktinya?" Vanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga hanya Keyla yang bisa melihat seringaian kemenangan itu. "Gue punya draft asli di buku harian gue. Keyla punya apa? Cuma foto dia lagi nyusup ke kelas orang kayak maling."

Siswa-siswa di koridor mulai bergumam setuju. Narasi visual yang Vanya bangun—foto Keyla yang mengendap-endap—jauh lebih meyakinkan bagi mereka yang awam dibandingkan pembelaan verbal Dinda.

Tiba-tiba, kerumunan di belakang Vanya terbelah lagi. Hawa dingin yang berbeda menyapu koridor. Bintang Rigel berjalan masuk. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat. Tidak ada senyum ramah yang biasanya ia tebar untuk menjaga citra. Ia berjalan melewati Vanya tanpa menoleh sedikitpun, langsung menuju Keyla.

Bintang berhenti tepat di depan Keyla, menghalangi pandangan semua orang yang menghakimi gadis itu. Tinggi badannya yang menjulang menciptakan dinding perlindungan instan.

"Bintang..." Vanya memanggil dengan nada manja, mencoba meraih lengan cowok itu. "Kamu liat kan? Dia udah keterlaluan. Fans fanatik kamu ini bahaya."

Bintang menepis tangan Vanya. Gerakannya tidak kasar, tapi tegas dan penuh penolakan. Ia berbalik perlahan, menatap Vanya dengan tatapan yang membuat koridor itu sunyi senyap. Tatapan yang belum pernah dilihat siapa pun dari seorang Bintang Rigel yang 'sempurna'.

"Berhenti bersandiwara, Vanya," suara Bintang rendah, namun bergema jelas. "Gue nggak butuh bukti foto untuk tahu tulisan siapa yang gue baca selama dua tahun ini. Jiwa seseorang nggak bisa dipalsukan dengan *make-up* atau air mata buaya."

Vanya terkesiap. Wajahnya memerah menahan malu dan marah. "Kamu... kamu belain dia? Di depan semua orang? Kamu lebih milih cewek aneh ini daripada aku? Imej kamu bakal hancur, Bin! Pacaran sama penguntit?!"

"Dia bukan penguntit," Bintang meraih tangan Keyla. Jemarinya yang hangat menggenggam tangan Keyla yang sedingin es. Keyla tersentak, ingin menarik tangannya karena takut merusak reputasi Bintang, tapi Bintang menahannya erat. "Dia penulis surat-surat itu. Penulis aslinya. Dan lo, Vanya, lo cuma plagiat yang haus validasi."

Gasps (pekikan kaget) terdengar serempak dari para siswa. Ini adalah deklarasi perang terbuka.

"Oh ya?" Vanya tertawa sumbang, matanya kini berkilat jahat. Topeng 'korban'-nya mulai retak, memperlihatkan ambisi aslinya. "Kalau gitu, ayo kita buktikan. Pak Burhan baru saja manggil gue. Dia liat postingan di @Cakrawala_Lambe dan mau ngeluarin sanksi buat 'terorisme siswa'. Gue bakal bawa bukti gue ke ruang BK sekarang. Kalau lo yakin banget sama Si Upik Abu ini, bawa dia ke sana."

Vanya melangkah maju selangkah, menatap Keyla tepat di mata. "Ayo kita liat, Keyla Aluna. Apakah tulisan tangan lo bisa nyelamatin lo dari *Drop Out*? Karena gue punya sesuatu yang bakal bikin lo nggak bisa ngelak."

Tanpa menunggu jawaban, Vanya berbalik dan berjalan angkuh menuju ruang administrasi, diikuti dayang-dayangnya. Kerumunan masih terpaku.

Keyla merasakan kakinya goyah. Ancaman *Drop Out* bukan main-main. SMA Cakrawala Terpadu sangat ketat soal etika dan perilaku siswa.

"Key," bisik Bintang, menunduk menatapnya. Matanya mencari kepastian di manik mata Keyla. "Lo percaya sama gue?"

Keyla menatap Bintang, lalu beralih ke Dinda yang mengangguk mantap di sebelahnya. Ketakutan itu masih ada, mencengkeram perutnya. Tapi hangat genggaman tangan Bintang memberikan keberanian yang asing.

"Aku... aku nggak punya bukti fisik sekuat dia, Bin. Surat-surat aslinya ada di kamu, tapi dia bilang dia punya buku harian," cicit Keyla.

"Tulisan tangan bisa dipalsukan, Key. Tapi ada satu hal dalam surat-surat itu yang cuma diketahui oleh penulis aslinya dan pembacanya. Sesuatu yang Vanya nggak akan pernah tahu sedetail apa pun dia menguntit."

Bintang menarik tangan Keyla lembut, memimpinnya membelah lautan siswa yang masih melongo. "Ayo. Kita akhiri drama murah ini sekarang juga."

Saat mereka berjalan menuju ruang BK, Keyla menyadari satu hal: Vanya mungkin punya kelicikan dan manipulasi, tapi Vanya melakukan kesalahan fatal. Dia menantang Keyla dalam satu-satunya arena yang Keyla kuasai lebih dari siapa pun—dunia kata-kata dan astronomi. Namun, saat pintu ruang BK terbuka, Keyla melihat apa yang diletakkan Vanya di meja Pak Burhan. Sebuah buku catatan usang dengan sampul kulit yang terlihat sangat familier.

Itu bukan buku harian Vanya.

Itu adalah buku draf puisi Keyla yang hilang seminggu lalu.

Keyla mematung. Vanya tidak memalsukan bukti. Dia mencuri sumber aslinya.

1
Mariana Silfia
😍😍😍
Mariana Silfia
eh ya ampun si othor iki sllu bisa bikin dag dig dug kok w🤣🤣 ok ok lanjut kak q setia menunggu bab selanjutnya
Mariana Silfia
kak q nunggu'n bab lanjut nya yak tolong jangan di gantung🤭q gak bisa tdr ini klo blm tau ending nya
Mymy Zizan
bagussssssssss
S. Sage: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!