NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yuliana Dewi

Sepulang sekolah tepat pukul 13.30, matahari masih cukup terik menyinari halaman SMA Harapan Bangsa. Romi berjalan dengan langkah yang pelan dan hati yang penuh kekhawatiran menuju belakang sekolah menuju gedung kesenian—tempat janjiannya dengan Bowo dan Yoga. Jalanan di sekitar gedung terlihat sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang atau berada di kantin sekolah. Udara masih terasa hangat dengan sedikit aroma bunga kamboja yang tumbuh di sekitar gedung tua tersebut.

Saat berada tepat di depan pintu gedung kesenian, Romi yang sedang terburu-buru tidak menyadari ada seseorang yang berjalan dari arah sebaliknya. Tanpa bisa menghindari, mereka bertabrakan dengan keras. "BUUG BRAAAK!!!" Suara benturan membuat mereka berdua terjatuh ke tanah.

"Aduuuh... Sakiiitnya!" ucap suara lembut namun jelas dari orang yang terkena benturan, sambil meringis kesakitan sambil menahan bagian pundaknya yang terbentur.

"Ooh maaf-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Romi dengan panik, segera membungkuk untuk membantu orang tersebut bangkit. Dia melihat seorang siswi cantik dengan wajah manis, rambut panjang hitam yang sedikit kusut akibat terjatuh, dan mengenakan seragam sekolah yang masih rapi meskipun sudah sedikit terlipat. Buku-buku tebal yang dia bawa berserakan di jalanan yang beraspal kasar.

Romi segera meraih buku-buku tersebut satu per satu dengan hati-hati agar tidak rusak. Namun tangannya langsung dihentikan oleh siswi tersebut. "Tidak usah... jangan! Gue bisa sendiri kok!" ucapnya dengan nada yang cukup ketus, meskipun wajahnya yang manis masih menunjukkan rasa sakit.

"Gak apa-apa kok, aku ikhlas membantu kamu," ucap Romi dengan sopan, tetap ingin membantu karena merasa bersalah.

"Gue bilang STOP! Jangan bantu gue!" ucapnya dengan lebih tegas, membuat Romi langsung menarik tangan kembali dengan sedikit canggung. Akhirnya siswi tersebut bisa berdiri dengan sendirinya, mengusap-usap roknya dari debu, lalu mengambil buku-buku yang sudah Romi kumpulkan dengan wajah yang masih menunjukkan rasa tidak senang.

Romi melihat ada tulisan nama pada bagian kanan baju siswi tersebut—"YULIANA DEWI - KLS 10D"—dengan huruf cetak yang rapi. Bagian depan namanya hanya tertulis "Yuli" sebagai panggilan akrab.

"Sekali lagi aku ucapkan permintaan maaf ke Kak Yuli. Aku tidak bermaksud dengan sengaja menabrak Kakak, benar-benar tidak sengaja," ucap Romi dengan suara polos dan penuh rasa bersalah.

"Busyiiit!!! Mana mungkin loe tidak melihat gue yang segede gaban ini?! Loe pasti sengaja kan?! Mau kenalan tapi dengan cara menabrak gue! Basiii udah basiii cara kuno kayak gitu! Malah masih loe pake buat berkenalan dengan gue!" ucap Yuli dengan nada menyengat, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak percaya. "OMG, kenapa ya orang kayak loe masih ada?"

"Loe tuh sebenarnya mau kemana sih? Celingak-celinguk kayak orang mau maling sepeda atau apa!" ucapnya lagi dengan ketus kepada Romi, matanya menatap Romi dari atas ke bawah dengan pandangan yang sedikit menyindir.

"Aku mau ketemu sama Kak Bowo dan Kak Yoga, Kak. Tadi pagi kita sudah janjian untuk bertemu di gedung kesenian ini," ujar Romi dengan jujur, tanpa menyembunyikan tujuan dirinya.

"Apaaa?! Gak salah denger nih telinga gue ya?! Kalau loe mau ketemu sama mereka—kakak kelas 12A yang terkenal sebagai Raja Bully sekolah ini?!" ucap Yuli dengan wajah yang tiba-tiba terkejut dan kaget. Matanya membesar dan kedua tangannya hampir menutupi mulutnya.

"Loe tahu gak sih kalau mereka berdua itu adalah raja plonco dan raja bully di SMA Harapan Bangsa?! Sudah banyak siswa yang jadi korban mereka—dari siswa baru sampai siswa kelas atas yang tidak mereka suka!" ucap Yuli dengan suara yang sedikit menurun karena khawatir terdengar orang lain. "Sebenarnya tadi pagi aku juga hampir jadi target mereka, tapi untungnya waktu itu ada guru yang lewat jadi mereka berhenti," tambahnya dengan suara pelan.

"Tapi mereka berdua profesional kok, Kak... setidaknya itu yang aku rasakan tadi pagi," ucap Romi yang mulai merasa ragu dengan pertemuan yang sudah dijanjikan. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung antara rasa takut dan keinginan untuk tetap memenuhi janji.

"Pesen gue sih, loe harus menghindari bertemu sama kedua orang itu karena sangat berbahaya sekali! Mereka tidak akan mau berbicara dengan baik—hanya akan menyiksa dan mengejek loe saja!" ucap Yuli kepada Romi dengan penuh perhatian, meskipun sebelumnya dia masih menunjukkan sikap yang tidak senang.

"Terima kasih sudah mengingatkan aku, Kak Yuli," ucap Romi dengan senyum lembut. Matanya tidak sengaja terpaku pada kecantikan Yuli yang terlihat sangat natural tanpa ada riasan berlebihan, membuatnya merasa ada sesuatu yang berbeda dari gadis ini dibandingkan dengan siswi lain yang pernah dia temui.

Sementara itu, dari jendela bagian atas gedung kesenian, dua pasang mata mengawasi percakapan antara Romi dan Yuli dengan pandangan yang penuh kemarahan. Mereka adalah Bowo dan Yoga yang sudah menunggu Romi dari tadi.

"Kutu kupret, sialan! Kenapa si Romi harus bertemu dengan cewek yang gue suka?! Padahal udah lama gue suka sama Yuli tapi belum berani dekat-dekat!" ucap Bowo dengan suara rendah namun penuh amarah, tinjunya mengepal erat sampai urat-urat di lengannya tampak jelas.

"Alaaa busyeeet dah!!! Ternyata siswi yang loe taksir itu si Yuli—siswi baru kelas 10 yang juga terkenal cantik di sekolah ini! Gue baru tahu sekarang, Bro!" canda Yoga dengan suara yang cukup keras, membuat Bowo langsung menepuk bahunya dengan kuat.

"Udah mingkem aja mulut loe, Yoga! Jangan sampai loe sebar-sebarin ke anak-anak tongkrongan kita kalau gue suka sama Yuli! Kalau mereka tahu, pasti bakal mengejek gue!" ucap Bowo kepada Yoga dengan nada kesal, matanya masih tetap mengawasi Yuli yang sedang berbicara dengan Romi.

"Aaa siiiaaaap, Bro! Janji gak akan bilang ke siapapun!" canda Yoga lagi, membuat Bowo semakin kesal.

"Terusin awasi si anak setan itu agar jangan terlalu dekat dengan Yuli! Kalau perlu, cari cara buat pisahkan mereka!" perintah Bowo dengan suara yang lebih keras.

Yoga hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu tiba-tiba merasa bingung. "Waduuuh loe gimana sih, Bowo?! Tadi loe bilang gue harus mingkem dan jangan bicara, tapi barusan loe nyuruh gue untuk jawab perintah loe! Terus terang gue jadi bingung sekarang!" ucap Yoga sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya penuh kebingungan.

"Mikir dong loe, Yoga! Jangan sampai loe harus di-suapin terus sama gue! Kreatif sedikit dong kalau mau jadi teman gue!" ucap Bowo dengan kesal, menghela napas panjang karena kesal dengan teman sekalinya itu.

"Maksud loe apa sih harus kreatif gituuu?! Gue sudah mau membantu tapi loe malah marah-marah!" ucap Yoga dengan nada sedikit kesal juga.

Keduanya saling memandang dengan wajah kesal, namun tidak berapa lama kemudian Bowo berbalik dan berjalan turun dari gedung kesenian dengan langkah yang cepat. "Woooi Bowo! Jangan tinggalin gue sendirian di sini!" teriak Yoga sambil berlari mengekor Bowo menuju arah kantin sekolah.

Setelah pertemuan yang tidak sengaja dengan Yuli di depan gedung kesenian, Romi merasa tidak bisa menghadiri janjinya dengan Bowo dan Yoga. Dia memutuskan untuk pulang lebih awal karena merasa tidak nyaman dan juga terima kasih atas peringatan dari Yuli. Saat berjalan pulang, dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya—sesuatu yang membuat hatinya merasa tenang dan tentram setiap kali dia mengingat wajah Yuli yang manis meskipun awalnya sikapnya cukup kasar.

Malam itu, setelah membantu ibunya membersihkan peralatan memasak dan mengerjakan pekerjaan rumahnya, Romi melakukan sholat tahajud seperti biasa di kamar kecilnya yang hanya dihiasi dengan sebuah sajadah dan rak buku. Setelah selesai berdoa, dia mengangkat tangan dan berdoa dengan tulus: "Ya Allah... jika pertemuan dengan Yuli ini baik untukku, maka selalu dekatkanlah dirinya kepadaku dan berikanlah kebaikan dalam pertemuan kita. Namun jika itu buruk untukku, maka jauhkanlah dia dariku dan berikanlah aku kekuatan untuk menerima takdir-Mu. Amin Ya Robbal Alamin."

Di hari berikutnya, hujan rintik yang mengguyur kota Tangerang Selatan sejak dini hari menyisakan aroma tanah yang segar dan mewangi. Di sebuah kawasan rumah elit nan mewah di kawasan BSD, seorang laki-laki separuh baya dengan rambut yang sudah mulai berpucat berdiri sendirian di atas balkon rumahnya yang luas, merenung sambil melihat pemandangan langit yang masih berkabut. Dia adalah Pak Hartawan—pengusaha sukses di bidang properti yang sudah dikenal luas di daerah Banten.

Seseorang wanita separuh baya dengan penampilan rapi dan anggun menghampirinya dari belakang, sambil membawa sebuah cangkir teh hangat dalam sebuah piring kayu. Dirinya perlahan menaiki tangga kecil yang mengarah ke balkon dengan hati-hati agar tidak menjatuhkan minuman yang dibawanya. Dia adalah Ny. Lusi—istri Pak Hartawan yang telah hidup bersama selama hampir 60 tahun.

"Selamat pagi, suamiku tercinta," ucap Ny. Lusi dengan suara lembut sambil mencium pipi suaminya.

"Selamat pagi juga, istriku yang tercantik," jawab Pak Hartawan dengan senyum hangat, lalu membelai tangan istri yang masih indah walau sudah berusia lanjut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!