NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 32

Di rumah sakit, Aura menutup mata sejenak. Napasnya berat. Ia tidak menyangka sakitnya bisa datang begitu cepat. Hanya beberapa hari tanpa kabar Alden, jarak yang mulai terasa antara dirinya dan Harry, kombinasi lelah dan stres, membuat tubuhnya menyerah.

Pintu UGD terbuka, dan Harry masuk. Pandangannya langsung ke Aura. Ia menaruh jaketnya di kursi, membungkuk, dan menggenggam tangan Aura yang terinfus. “Aura, kamu kenapa nggak bilang dari tadi?” suaranya serak, tapi penuh kekhawatiran. Aura hanya bisa menatapnya, suara terlalu lemah untuk menjawab.

Harry tetap di sisi ranjang, menahan diri untuk tidak menangis, menepuk tangan Aura pelan. Ia memanggil perawat untuk memastikan semuanya baik-baik saja, memeriksa infus, suhu tubuh, dan menanyakan perkembangan dokter. Ia bahkan duduk di kursi kecil di samping ranjang, menatap Aura yang tertidur lemah, sesekali menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Beberapa jam kemudian, kondisi Aura mulai stabil. Dokter menyarankan agar ia istirahat total dan tidak memaksakan tubuhnya untuk melakukan apapun. Harry tetap di sana, menunggu sampai ibunya Aura datang, berbicara dengan lembut kepada ibu Aura, memastikan bahwa Aura akan dijaga dan tidak perlu khawatir soal kuliah atau pekerjaan rumah.

Saat malam semakin larut, Aura membuka matanya perlahan. Harry masih di sana, duduk menatapnya. Ada rasa lega tapi juga sedikit canggung. Aura mencoba tersenyum, tapi suaranya masih tipis. “Makasih… udah datang,” bisiknya.

Harry menggenggam tangannya lebih erat. “Nggak usah bilang makasih. Aku nggak bisa bayangin kalau kamu sendirian di sini.” Ia menatap Aura lama, seolah mencoba menyerap semua ekspresi wajahnya, memastikan ia benar-benar baik-baik saja. Aura menutup mata sejenak, membiarkan dirinya merasa aman untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir.

Di luar jendela, hujan mulai reda, meninggalkan udara malam yang dingin tapi segar. Malam itu, di rumah sakit yang sunyi, Aura menyadari bahwa meskipun Alden jarang memberi kabar dan Harry selalu berada di sisi lain dunia, ada orang-orang yang peduli tanpa harus menuntut. Ada yang tetap ada, bahkan di saat ia paling rapuh.

Harry tetap di sana sepanjang malam, duduk di kursi samping ranjang, berbicara pelan tentang hal-hal sepele, kadang hanya menatap langit-langit atau memandangi jari-jemari Aura yang gemetar. Aura, di sisi lain, hanya bisa merasakan kehangatan kehadiran Harry, dan untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.

Malam itu, Aura menyadari satu hal: kadang jarak dan kesibukan tidak membuat perasaan hilang. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang tetap ada, menunggu, tanpa pertanyaan yang terlalu banyak. Dan di sana, Harry menunggu, tanpa pamrih, tanpa syarat, hanya untuknya.

Keesokan harinya, Aura masih berada di rumah sakit, tapi kondisinya mulai membaik. Ia duduk di tepi ranjang, rambut sedikit berantakan, baju rumah sakit digantungkan di kursi. Napasnya lebih ringan, tapi tubuhnya masih lemah. Ia menatap jendela, melihat hujan semalam yang meninggalkan genangan air di halaman rumah sakit.

Harry duduk di kursi samping, tangannya masih memegang buku catatan kuliah. Ia sesekali menatap Aura, memastikan ia tidak terlalu memaksakan diri untuk bergerak. Aura mencoba tersenyum, tapi ia tahu itu hanya senyum tipis.

“Kamu harus janji, kalau udah di luar sini, nggak main-main lagi sama kesehatan,” kata Harry dengan nada serius tapi lembut.

Aura mengangguk pelan. “Iya… aku janji.” Suaranya masih serak, tapi ia merasa sedikit lega karena Harry tetap di sisi ranjangnya.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!