NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gue Suka Sama Lo, Jake

Suasana di dalam mobil SUV hitam dengan kaca gelap itu terasa mencekam. Jake menyetir sendiri, sesuatu yang sangat jarang dan berisiko ia lakukan dengan rahang yang mengeras. Ia mengabaikan puluhan panggilan dari manajernya dan tatapan bingung dari para member saat ia melesat pergi dari stadion.

"Jake! Ngapain sih?! Turunin gue!" pekik Takara, suaranya bergetar antara marah dan takut. Ia masih memegang tas kain berisi pernak-pernik konser, namun kegembiraan itu sudah menguap habis.

Jake tidak peduli. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang memerah. Ia merasa jika ia tidak membawa Takara pergi dari jangkauan Arlo detik itu juga, ia akan gila.

Mereka sampai di sebuah gedung apartemen private di kawasan elit Gangnam. Jake menarik pergelangan tangan Takara dengan protektif, tidak kasar, tapi sangat tegas, menuju unitnya yang berada di lantai atas.

Begitu pintu tertutup dengan suara kunci elektrik yang mengunci otomatis, kesunyian yang menyesakkan langsung menyergap.

Jake melepaskan jaket konsernya yang masih lembap oleh keringat, lalu berdiri membelakangi Takara, menatap pemandangan lampu kota Seoul dari jendela besar yang menjulang dari lantai ke langit-langit.

"Lo cepet banget ya nyaman sama orang lain. Sementara gue... gue bahkan nggak punya temen selain lo sama member," gerutu Jake. Suaranya terdengar serak, ada luka yang dalam di balik nada ketusnya.

"Gue di atas panggung itu berusaha buat lo, Ra. Tapi yang gue liat malah lo nangis di bahu cowok itu."

Takara melempar tasnya ke lantai. Napasnya memburu. Rasa lelah karena kerja, stres karena menyembunyikan identitas Jake, dan rasa sakit hati karena pertanyaan Arlo tadi meledak sekaligus.

"Lo pikir gue nangis karena dia?! Lo pikir gue nyaman karena pengen nyari pengganti lo?!" teriak Takara, air matanya kembali tumpah.

Jake sedikit menegang, namun ia tetap tidak berbalik.

"Gue nangis karena gue nggak tahu harus gimana lagi, Jake! Gue nggak tahan lagi nahan semuanya sendiri!" Takara menarik napas panjang, lalu memejamkan mata rapat-rapat. "Oke! Gue bakal jujur. Gue suka sama lo! Gue sayang sama lo lebih dari sekadar sahabat!"

Seketika, ruangan itu menjadi sangat sunyi. Detak jarum jam di dinding terdengar seperti dentuman keras.

"Dan jujur... posisi lo sekarang sebagai idol besar bener-bener menyulitkan gue. Setiap kali gue liat lo di TV, setiap kali gue denger lagu lo, gue diingetin kalau lo itu milik dunia, bukan milik gue. Dan cowok yang lo benci itu... Arlo... dia cuma satu-satunya orang yang bisa gue ajak ngomong saat gue ngerasa sendirian di kota ini!"

Keheningan di apartemen mewah itu terasa mencekik. Jake masih mematung, menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang luas. Kata-kata Takara bergema di kepalanya seperti lonceng yang memekakkan telinga.

"Gue suka sama lo..."

Kalimat itu seharusnya menjadi hal paling indah yang pernah Jake dengar. Namun, di posisinya sekarang, dengan jutaan mata yang mengawasi setiap gerak-geriknya, dengan kontrak yang mengikat seluruh hidupnya, kalimat itu justru terasa seperti vonis yang menyakitkan.

Jake perlahan berbalik, menatap Takara yang masih menunduk dengan bahu yang bergetar. Hatinya perih. Ia ingin melangkah maju, merengkuh gadis itu, dan mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Namun, kakinya terasa berat, seolah terpaku pada realita.

Jake mulai berpikir secara liar. Menjadi sahabatnya saja sudah membuat Takara menderita. Menjadi sahabatnya berarti Takara harus bersembunyi di balik masker, menerima pesan-pesan sarkastik saat Jake cemburu, dan menghadapi ketidakpastian kapan mereka bisa bertemu.

Bagaimana jika mereka menjadi lebih dari itu?

Jake membayangkan wajah Takara terpampang di berita skandal. Ia membayangkan Takara diserang oleh penggemar fanatik yang tidak bisa menerima kenyataan. Ia membayangkan Takara harus kehilangan karier arsiteknya karena tekanan publik.

"Ra..." suara Jake pecah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Gue... gue nggak tahu harus ngomong apa."

Takara mendongak, matanya sembab. "Gue nggak butuh lo ngomong apa-apa, Jake. Gue cuma mau lo tahu kenapa gue 'nyaman' sama Arlo. Karena sama dia, gue nggak perlu takut. Sama dia, gue nggak perlu ngerasa jadi beban buat siapa pun."

Jake memejamkan mata. Rasa egois yang tadi meluap-luap kini berganti dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Ia menyadari bahwa mencintai Takara dalam kondisinya yang sekarang adalah sebuah tindakan yang sangat berbahaya bagi gadis itu.

"Gue emang brengsek," bisik Jake. "Gue berharap lo ke Korea karena gue kesepian. Gue marah liat lo sama Arlo karena gue takut lo nemuin kebahagiaan yang nggak bisa gue kasih."

Ia berjalan mendekat, berhenti tepat satu langkah di depan Takara. Ia ingin menyentuh pipi Takara, namun tangannya berhenti di udara, lalu kembali turun.

"Kalau gue bilang gue juga punya perasaan yang sama... itu cuma bakal bikin hidup lo makin hancur, kan?" tanya Jake dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin.

Takara terdiam, menatap mata Jake yang dipenuhi duka. Ia tahu Jake sedang berperang dengan dirinya sendiri. Di satu sisi ada cinta masa kecil yang murni, di sisi lain ada tanggung jawab besar sebagai idola global.

"Jake, pulangin gue," kata Takara akhirnya. "Gue butuh waktu buat mikir. Dan lo... lo punya jadwal padat besok. Jangan hancurin semuanya cuma karena emosi sesaat."

Jake mengangguk lemah. Ia mengambil kunci mobilnya dengan gerakan lunglai. Malam itu, perjalanan pulang menuju apartemen Takara terasa jauh lebih lama dan sunyi daripada sebelumnya. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi perdebatan. Hanya ada dua orang yang saling mencintai, namun dipisahkan oleh dinding tak kasat mata yang bernama ketenaran.

———

Suara pintu unit apartemen yang tertutup rapat menjadi pemicu pecahnya pertahanan Takara. Ia tidak lagi peduli pada tasnya yang tergeletak di lantai atau sepatu kets yang masih terpasang. Ia merosot di balik pintu, memeluk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya.

Isakannya terdengar pilu di tengah kesunyian malam. Kamar yang biasanya menjadi tempatnya beristirahat setelah lelah bekerja, kini terasa sangat asing dan dingin.

"Gue... gue bodoh banget," bisik Takara di sela tangisnya yang sesak.

Penyesalan itu datang menghantam seperti ombak besar. Selama bertahun-tahun, sejak mereka masih remaja di Brisbane, Takara telah membangun benteng yang sangat kokoh untuk melindungi satu hal: persahabatan mereka. Ia selalu menekan perasaannya, melipatnya rapi-rapi di sudut hati yang paling gelap, hanya agar ia bisa tetap berdiri di samping Jake tanpa beban.

"Harusnya gue diem aja. Harusnya gue biarin dia marah-marah soal Arlo," rintihnya.

Kini, tempat yang ia jaga selama ini sudah tidak ada lagi. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi "sahabat masa kecil yang biasa". Tatapan Jake yang penuh kebingungan tadi adalah bukti bahwa hubungan mereka tidak akan pernah bisa kembali ke titik awal.

Di luar balkon, Arlo ternyata masih berdiri di sana. Ia belum tidur. Ia mendengar suara isak tangis yang tertahan dari balik dinding unit Takara. Ia tahu Takara baru saja pulang, dan ia tahu Jake-lah yang membawanya pergi tadi.

Arlo ingin mengetuk pintu, ingin menawarkan pelukan atau sekadar segelas air hangat. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia sadar, air mata Takara malam ini bukan miliknya untuk diusap. Itu adalah air mata untuk masa lalu yang baru saja berakhir.

Sementara itu, di sebuah taman sepi dekat gedung agensinya, Jake duduk di dalam mobilnya dengan mesin yang masih menyala. Ia menatap layar ponselnya, foto profil KakaoTalk Takara yang menampilkan gambar sketsa bangunan.

Ia ingin mengirim pesan. Ia ingin bilang, "Jangan nangis, Ra." Tapi jemarinya membeku.

Jake menyadari betapa jahatnya dia. Selama ini dia mengikat Takara dengan status "sahabat" agar dia tidak merasa kesepian di tengah popularitasnya, tanpa peduli betapa berdarah-darahnya Takara menjaga perasaan itu sendirian.

"Gue emang nggak pantas buat lo, ya kan, Ra?" gumam Jake, menatap kosong ke arah setir mobil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!