Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.
Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.
Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sore itu, cahaya matahari menembus jendela besar di ruang kerja Farhan. Langit di luar mulai berwarna keemasan, menandakan hari yang perlahan mendekati senja. Di atas meja kerjanya, beberapa berkas proposal investasi dari mitra Jepang masih terbuka. Farhan baru saja menutup map terakhir, menandainya dengan catatan kecil hasil review-nya sendiri.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi sembari menghela napas pelan. Hari ini memang terasa panjang. Tapi entah kenapa, tidak melelahkan seperti biasanya. Farhan meraih ponselnya untuk mengecek jam. Dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Ia berniat beranjak sebentar untuk menunaikan salat asar sebelum pulang, ketika terdengar ketukan pelan di pintu ruangannya.
“Masuk,” ucap Farhan dengan cepat dan membuat pintu ruangannya akhirnya terbuka perlahan.
Dan seketika itu juga, Farhan terdiam. Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu. Tubuhnya masih tegap, meski rambutnya kini lebih banyak dihiasi uban. Wajahnya penuh wibawa, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang berbeda. Keraguan, kehati-hatian, dan rasa bersalah yang jelas terlihat disana.
“Ayah?” suara Farhan keluar tanpa ia rencanakan.
Pak Ardhan melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati, seolah-olah takut membuat suara terlalu keras. Ia menatap putranya yang berdiri di balik meja kerja itu dengan pandangan yang lama, pandangan seorang ayah yang sudah terlalu lama merasa gagal memahami anaknya sendiri.
"Boleh ayah masuk, nak?" Tanya pak Ardhan pelan dan membuat Farhan segera berdiri. Gerakannya refleks, tanpa jarak, sikap dingin seperti dulu.
“Kenapa ayah mengatakan itu? Silakan masuk, ayah.”
Pak Ardhan duduk di kursi tamu di depan meja kerja Farhan. Ada jeda hening yang menggantung di antara mereka. Keheningan yang penuh dengan hal-hal yang belum sempat diucapkan dan membuat Farhan bisa melihatnya dengan jelas.
Rasa bersalah itu.
Tatapan ayahnya tidak setegas dulu. Bahunya sedikit turun, seolah menanggung beban yang telah lama ia simpan sendiri. Dan entah kenapa, melihat itu membuat dada Farhan terasa sesak. Pak Ardhan menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara.
“Ayah datang untuk minta maaf, nak.”
Kalimat itu keluar begitu saja, dan membuat Farhan terdiam.
“Ayah tahu, keputusan ayah waktu itu yang menyuruhmu tinggal di rumah yang ayah siapkan, membuatmu marah, kecewa dan merasa dikendalikan. Ayah pikir ayah melakukan yang terbaik. Tapi ayah lupa, kalau kamu sudah dewasa. Kamu bukan anak kecil lagi yang bisa ayah atur hidupnya begitu saja." lanjut Pak Ardhan dengan suara yang lebih berat.
Farhan menelan ludah. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi yang berada di depan ayahnya yang tidak lagi terpisah oleh meja kerja. Jarak mereka kini hanya berkisar satu lengan.
“Ayah,” ucap Farhan pelan, suaranya jauh dari nada dingin yang dulu. “Aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi.”
Pak Ardhan mendongak cepat, seolah tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
“Serius,” lanjut Farhan. “Aku memang marah waktu itu.Tapi sekarang aku mengerti. Ayah hanya ingin aku baik-baik saja. Dan aku terlalu sibuk dengan luka di hati ku dan egoku sendiri sampai lupa melihat niat ayah. Ayah, akhir-akhir ini aku sedang mencoba untuk kembali ke diriku yang dulu. Farhan yang masih punya perasaan terhadap orang lain. Yang tidak hidup hanya untuk kebencian dan menutup diri.”
Pak Ardhan menatap putranya dengan tatapan matanya yang berkaca-kaca.
“Masha Allah nak, benarkah yang ayah dengar ini? Kau telah berubah setelah menikah.” tanya pak Ardhan dengan nada terkejut sekaligus tak percaya dan membuat Farhan mengangguk pelan.
“Kinara banyak mengajarkanku, ayah.” kata Farhan dengan jujur. “Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan caranya bersabar, doa doanya dan dengan caranya memperlakukanku meski aku sering mencurigai maksud baiknya dan menyakiti hatinya dengan sikapku.”
Pak Ardhan tersenyum bahagia meskipun di sudut matanya, air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah.
"Ayah, aku juga ingin meminta maaf." Ujar Farhan dan membuat Pak Ardhan terkejut.
Yah, akhir-akhir ini aku sedang mencoba kembali ke diriku yang dulu. Farhan yang… masih punya perasaan terhadap orang lain. Yang tidak hidup hanya untuk marah dan menutup diri.”
“Untuk apa?”
“Untuk semua hal. Untuk sikapku yang keras kepala. Untuk caraku yang sering menyakiti ayah dengan kemarahanku yang tidak pernah aku jelaskan. Aku tahu ayah khawatir. Aku tahu ayah sering merasa gagal sebagai seorang ayah karena melihat aku berubah jadi orang yang ayah sendiri tidak kenal. Maaf karena aku membuat ayah merasa seperti itu.”
Pak Ardhan tidak mampu menahan dirinya lagi. Ia bangkit dari kursinya dan mendekat. Tangannya yang sudah mulai renta itu menepuk bahu Farhan, lalu menariknya ke dalam pelukan singkat—pelukan yang kaku di awal, tapi penuh makna.
“Ayah tidak pernah menganggap mu gagal, nak. Ayah hanya takut kau kehilangan jati dirimu semakin jauh karena luka masa lalu mu.” ucap Pak Ardhan dengan suara serak.
Farhan memejamkan matanya sejenak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar kembali. Pelukan itu terlepas. Membuat keduanya saling menatap dengan senyum tipis yang sarat emosi.
"Ayah senang sekali melihat perubahan kamu nak, ayah senang sekali karena kamu akhirnya memutuskan untuk melepaskan masa lalu mu dan kembali menjadi anak ayah yang dulu." Ucap pak Ardhan yang membuat Farhan mengangguk.
"Aku tahu yah, dan untuk itu Farhan ingin minta doa sama ayah agar Farhan bisa terus berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya."
"Selalu nak, doa ayah selalu menyertai kamu."
Di luar, matahari mulai tenggelam ke ufuk barat dan menyelimuti langit kota jakarta dengan cahayanya yang hangat. Dan di ruang kerja itu, hubungan ayah dan anak yang sempat renggang itu kini menemukan jalan untuk saling memahami kembali.
Setelah percakapan itu berakhir, Pak Ardhan pamit lebih dulu. Ia menepuk bahu Farhan sekali lagi sebelum keluar dari ruangan, seolah ingin memastikan bahwa putranya benar-benar baik-baik saja. Farhan mengantar ayahnya sampai pintu, lalu berdiri sejenak di sana, menatap pintu yang sudah tertutup dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Farhan kembali ke meja kerjanya, meraih tas kerjanya yang sejak tadi tergeletak di sisi meja. Ia menyampirkannya ke bahu, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya pulang. Untuk pertama kalinya sejak lama, kata pulang terdengar begitu hangat di benaknya.
Farhan mematikan lampu ruangannya, menutup pintu, lalu melangkah menuju lift. Perjalanan turun ke lantai dasar terasa singkat. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung melangkah keluar menuju ke halaman perusahaan, tempat dimana mobilnya berada.
Sore itu, suasana halaman perusahaan terasa lebih hidup dari biasanya. Langit mulai berubah warna, semburat jingga bercampur biru muda menghiasi langit Jakarta. Beberapa karyawan tampak berjalan keluar gedung, ada yang tertawa kecil, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada pula yang tampak tergesa-gesa.
Farhan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu keluar. Tangannya sudah meraih gagang pintu mobil ketika langkahnya tiba tiba terhenti.
Artinya harus siap menerima akibat atau hasil dari setiap pilihan dan tindakan yang telah kamu lakukan, baik itu baik maupun buruk, karena semua perbuatan pasti memiliki dampak yang harus dihadapi sebagai bagian dari hukum sebab-akibat untuk belajar tanggung jawab dan berkembang.
Ini melibatkan keberanian untuk menghadapi hasil, tidak menyalahkan orang lain, dan belajar dari pengalaman tersebut...🤗
maaf hanya sbg koreksi sj🙏
Memang dalam beberapa budaya, benda yang pecah, terutama yang berhubungan dengan seseorang atau kenangan tertentu, dianggap sebagai tanda akan datangnya musibah.
Mitos ini sering kali dikaitkan dengan kepercayaan bahwa roh atau energi tertentu mencoba menyampaikan pesan melalui peristiwa tersebut.
Di beberapa tradisi, khususnya di negeri konoha, pecahnya kaca dianggap sebagai pertanda buruk karena kaca sering dikaitkan dengan refleksi jiwa seseorang.
Ada juga yang percaya bahwa jika foto seseorang jatuh dan pecah, itu bisa menjadi pertanda bahwa orang tersebut akan mengalami nasib buruk atau bahkan kemalangan...🤭😊