aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume II — The Weight of Survival Chapter 10 — Awakening of the Second Seal
Volume II — The Weight of Survival
Chapter 10 — Awakening of the Second Seal
Sub-Bab 1: Terdesak di Tengah Kegelapan
Kota barat malam itu tampak sepi, namun keheningan itu menipu. Jalan-jalan yang hancur, reruntuhan gedung, dan sisa asap dari pertarungan sebelumnya masih menyelimuti distrik utara. Lampu darurat berkedip, menciptakan bayangan yang menari di antara reruntuhan—bayangan yang cukup menakutkan untuk siapa pun yang sendirian.
Daniel memimpin tim kecilnya: Aurelia, Selena, dan beberapa Hunter cadangan yang masih baru. Segel pertama di dadanya berdenyut lembut, menstabilkan tubuhnya dan meningkatkan refleksnya, tapi atmosfer di distrik ini terasa berbeda—lebih gelap, lebih tegang, lebih mematikan.
Ketika mereka memasuki jalanan yang rusak, suara gemerisik terdengar dari segala arah. Dari reruntuhan muncul iblis—lebih banyak, lebih cepat, dan lebih licik. Daniel segera menyadari bahwa strategi lama tidak akan cukup. Iblis ini tampaknya memiliki kemampuan untuk membaca pola pertahanan Hunter, bergerak seolah mereka memiliki satu kesadaran.
Aurelia maju di sisi kanan, mengayunkan tongkat cahaya untuk menyingkirkan beberapa iblis, tetapi sebuah serangan tak terduga membuatnya terhuyung. Darah menetes di pipi dan lengannya, dan matanya terbuka lebar melihat Daniel.
“Aurelia!” teriak Daniel, jantungnya berdegup kencang.
Ia melompat melewati reruntuhan, menangkis serangan iblis dengan ayunan katana yang sinkron dengan Segel Pertama. Namun serangan ini tidak hanya fisik—ia merasakan tekanan psikologis dan emosional yang luar biasa, ketakutan akan kehilangan teman dan rasa tanggung jawab yang menumpuk sejak awal invasi.
Setiap langkah terasa berat, tetapi Daniel tetap fokus. Ia tahu, jika Aurelia atau Selena terluka lebih parah, tim mereka bisa hancur.
Sub-Bab 2: Amarah yang Terpendam
Melihat Aurelia terluka, sebuah gelombang amarah dan ketakutan meledak di dalam diri Daniel. Ia menelan napas, tapi adrenalinnya melonjak. Segel Pertama berdenyut lebih cepat, tubuhnya tetap stabil, tetapi jelas energi itu belum cukup untuk menghadapi gelombang iblis ini.
Aku tidak bisa kehilangan dia… Aku tidak bisa kehilangan mereka!
Daniel menutup mata sejenak, mengingat semua latihan psikologi dan kontrol kekuatan. Ia menenangkan pikirannya, memusatkan semua emosi menjadi satu titik energi. Rasa bersalah, takut, dan marah digabungkan, dan tubuhnya merespons. Denyut Segel Pertama berubah menjadi cahaya biru yang menyala lebih terang, menandakan Segel Kedua mulai aktif.
Rasa panas dan energi yang mengalir melalui seluruh tubuhnya terasa luar biasa—lebih kuat, lebih cepat, lebih presisi. Katana di tangannya kini bukan sekadar senjata, tapi perpanjangan dari kekuatan kosmik yang baru ia bangkitkan.
Daniel membuka mata. Aura kekuatan yang keluar darinya membuat beberapa iblis mundur, takjub dan ketakutan. Ini pertama kalinya ia merasakan kekuatan yang begitu besar dalam dirinya sendiri, tapi juga menyadari tanggung jawab besar yang datang bersamanya.
Sub-Bab 3: Kekuatan yang Meledak
Energi dari Segel Kedua mengalir deras. Setiap gerakan Daniel menjadi lebih cepat dan mematikan, setiap tebasan katana memancarkan gelombang energi yang memukul mundur lawan. Ia menebas iblis dengan presisi, memanfaatkan momentum, dan melindungi Selena yang gemetar di belakang reruntuhan.
Aurelia, meski terluka, menatap Daniel dengan mata yang penuh kepercayaan. Ia mulai menyalurkan sihir cahaya, menciptakan perlindungan tambahan. Daniel merasakan sinkronisasi antara kekuatan barunya dan strategi tim, menjadikan mereka tim yang tak terpisahkan dalam pertarungan.
“Kau… berbeda, Daniel,” kata Aurelia, suaranya serak tapi penuh kekaguman.
Daniel tidak sempat menjawab. Ia fokus pada gelombang iblis yang terus mendekat, menebas satu demi satu. Segel Kedua memberinya kemampuan yang lebih agresif daripada sebelumnya, tetapi juga menuntut kendali mutlak—jika ia kehilangan fokus, energi itu bisa menghancurkan segalanya, termasuk timnya.
Sub-Bab 4: Batas dan Kendali
Segel Kedua adalah kekuatan besar, tapi bukan tanpa risiko. Daniel menyadari bahwa setiap serangan yang tidak terkendali bisa melukai sekutu atau warga di sekitar. Ia menenangkan napasnya, menata ulang setiap gerakan menjadi kombinasi antara kekuatan ofensif dan pertahanan tim.
Aurelia bergerak bersamanya, menutup jalur serangan iblis, sementara Selena mulai mengambil inisiatif kecil untuk membantu melindungi reruntuhan tempat warga bersembunyi. Daniel tersadar: ini bukan lagi pertarungan solo, ini tentang koordinasi dan kepercayaan tim.
Ia menebas dengan presisi, menghancurkan iblis yang tersisa sambil menjaga posisi Aurelia dan Selena. Segel Kedua memberi kekuatan, tapi kontrol mental adalah kuncinya.
Aku harus belajar menguasainya sepenuhnya sebelum yang lebih besar datang… Antares pasti mengamati.
Sub-Bab 5: Setelah Badai
Ketika iblis terakhir mundur, distrik itu kembali sunyi, hanya terdengar hembusan angin dan gemerisik reruntuhan. Daniel berdiri di tengah, tubuhnya lelah tetapi aura kekuatannya masih bersinar samar dari dada. Segel Kedua kini stabil, tetapi ia tahu ini baru permulaan dari perjalanan panjang penguasaan kekuatan.
Selena mendekat, menatap Daniel dengan mata berbinar:
“Aku percaya padamu… selalu,” katanya dengan lembut.
Aurelia berdiri di samping Daniel, campuran kekaguman dan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Daniel menarik napas panjang, menatap langit malam yang mulai tenang, dan merasakan tanggung jawab baru:
Segel Kedua ini… adalah alatku untuk melindungi. Aku harus menguasainya sepenuhnya. Antares, aku akan siap menghadapi kau.
Di reruntuhan kota yang sunyi, Daniel kini bukan hanya Hunter—ia adalah simbol pertahanan, kekuatan, dan tekad yang diperkuat oleh Segel Kedua. Ia tahu, misi berikutnya akan lebih berat, dan pertarungan melawan Antares semakin dekat.