Ketika Naya, gadis cantik dari desa, bekerja sebagai babysitter sekaligus penyusui bagi bayi dari keluarga kaya, ia hanya ingin mencari nafkah.
Namun kehadirannya malah menjadi badai di rumah besar itu.
Majikannya, Arya Maheswara, pria tampan dan dingin yang kehilangan istrinya, mulai terganggu oleh kehangatan dan kelembutan Naya.
Tubuhnya wangi susu, senyumnya lembut, dan caranya menimang bayi—terlalu menenangkan… bahkan untuk seorang pria yang sudah lama mati rasa.
Di antara tangis bayi dan keheningan malam, muncul sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh — rasa, perhatian, dan godaan yang membuat batas antara majikan dan babysitter semakin kabur.
“Kau pikir aku hanya tergoda karena tubuhmu, Naya ?”
“Lalu kenapa tatapan mu selalu berhenti di sini, Tuan ?”
“Karena dari situ… kehangatan itu datang.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Drama sebelum pergi ke luar negeri
...0o0__0o0...
...Setelah melihat Arya keluar dari kamar itu, seringai Firan mengembang perlahan. Dari balik tembok, matanya berkilat—bukan kaget, melainkan puas....
...Begitu langkah Arya menghilang, Firan langsung masuk dan mengunci pintu dari dalam. ...
...Bunyi klik itu terdengar seperti keputusan....
...Di atas ranjang, Naya masih terlentang. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang, hangat, dan penuh jejak merah yang belum sempat memudar. Dadanya naik turun perlahan, napasnya tenang—seolah sudah menunggu....
...Senyum Firan makin dalam. Seakan mendapatkan sambutan yang sempurna....
...“Sepertinya kau memang menyiapkan dirimu,” ucapnya rendah, langkah-nya pelan tapi pasti mendekat. “Untuk menyambut ku.”...
...Naya melirik sekilas ke arahnya, lalu tersenyum tipis—senyum yang berbahaya. Tidak ada kaget. Tidak ada malu....
...“Hm… kemarilah, Kak,” katanya lembut, suaranya seperti undangan yang tak mungkin di tolak. “Nikmati hidangan mu sebelum kamu pergi keluar negeri.”...
...Firan melepas jasnya, melemparkan-nya ke sofa tanpa peduli. Dasinya di longgarkan, napasnya mulai berat saat ia mengurung tubuh Naya. Pandangan-nya turun, menelusuri setiap jejak yang tertinggal di kulit gadis itu....
...“Kau habis bersenang-senang dengan Bos Arya ?” tanyanya datar, tapi rahang-nya mengeras. Ujung jarinya menyusuri bekas kemerahan itu, pelan namun menekan. “Dia meninggalkan banyak tanda.”...
...Naya terkekeh pelan. Tangan-nya naik, melingkar di leher Firan, menahan-nya lebih dekat....
...“Hem, Sedikit saja,” bisiknya tepat di depan bibir Firan. “Pemanasan… sebelum kamu mengganggu.”...
...Desah napas Firan jatuh berat. Amarah, cemburu, dan hasrat bercampur jadi satu. Tanpa peringatan, ia menunduk—membungkam mulut Naya dengan ciuman....
...Ciuman-nya tidak terburu-buru—jatuh satu per satu, menandai, mengklaim. Dari rahang, ke leher, hingga ke lekuk-lekuk yang membuat napas Naya tercekat pelan. Seolah ingin menghapus semua jejak yang bukan miliknya....
...Dan Naya… tidak menolak. Gadis itu justru membiarkan Firan menjelajahi tubuhnya....
...Setiap sentuhan bibirnya meninggalkan panas yang tertinggal lama, seperti cap tak kasatmata. ...
..."Eurghhh, kak.."...
...Firan sengaja berhenti di titik-titik tertentu, menekan sedikit lebih lama, membiarkan napasnya menyusup, membuat Naya menggigit bibir menahan desah....
...“Kau terlalu meng-goda membuat orang ingin meninggalkan bekas di setiap tubuh mu, Baby,” gumam-nya rendah....
...Naya menegakkan punggung, matanya terpejam. Tangan-nya mencengkeram seprai, lalu melonggar—pasrah sekaligus menantang. ...
...“Kalau begitu,” katanya lirih, “buat tanda yang lebih jelas dan sebanyak yang kakak mau.”...
...Firan tersenyum tipis. Ia menurunkan ciuman-nya lagi, kali ini lebih dalam, lebih berani. Kepalanya turun bawah bermain di area dada, terus turun ke perut. ...
...Setiap jejak baru seolah berbicara: aku di sini. ...
...Kulit Naya memanas, di penuhi tanda-tanda yang perlahan bertumpuk, menyingkirkan yang lama....
...Saat Firan akhirnya mengangkat wajahnya, pandangan-nya gelap dan puas. “Sekarang,” bisiknya, “tak ada yang bisa menyangkal milik ku.”...
...Dahi pria itu menempel sesaat di bahu Naya, seolah menahan sesuatu yang ingin di teruskan namun tak bisa....
...Firan melirik jam di pergelangan tangan-nya. “Sial…” gumam-nya pelan....
...Naya membuka mata, masih dengan sorot sayu yang menggoda. “Kenapa berhenti ?” tanyanya lirih, seperti sengaja menusuk kesabaran....
...Firan menghela napas panjang, lalu mencuri satu ciuman terakhir—singkat tapi penuh janji—di bibir Naya. Setelah itu ia menjauh, meski jelas keengganan terlihat di wajahnya....
...“Jam lima pagi, jadwal penerbangan ku, ” katanya pelan, namun nadanya masih serak. "Waktu ku mepet... Sebentar lagi tuan Arya pasti selesai bersiap."...
...Firan bangkit dari ranjang, meraih jasnya, merapikan diri secepat mungkin. Tapi sebelum melangkah pergi, ia menoleh lagi—menatap tubuh Naya yang kini penuh jejak baru, senyum puas terlukis samar di bibirnya sendiri....
...“Anggap ini… tanda perpisahan sementara,” ucapnya rendah. “Sampai kita ketemu lagi.”...
...Naya tersenyum tipis, matanya mengikuti setiap gerak Firan. “Hem, Pergilah,” katanya tenang. “Aku akan menunggu mu pulang.”...
...Firan mendengus pelan, lalu membuka pintu....
...Brak..!...
...Saat pintu tertutup, kamar itu kembali sunyi—menyisakan aroma panas yang belum benar-benar padam, dan janji yang menggantung di udara....
...0o0__0o0...
...Pagi masih gelap ketika Arya berdiri di ambang pintu kamar Naya. Jas rapi, koper kecil di tangan-nya, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya....
...Naya duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan jubah tipis. Jejak-jejak samar di kulitnya belum sepenuh-nya tersembunyi, namun Arya tidak menatap ke sana. ...
...Matanya fokus ke wajah Naya—tajam, membaca, menilai....
...“Aku berangkat sekarang,” katanya singkat. “Perjalanan bisnis ini tidak sebentar.”...
...Naya berdiri mengangguk pelan. “Hati-hati,” ucapnya lembut, seolah tak ada apa-apa yang tersembunyi di balik malam....
...Arya melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Naya. Tangan-nya terangkat, dua jarinya mengangkat dagu gadis itu agar menatap-nya. ...
...Senyumnya tipis, dingin. “Aku pergi,” katanya rendah, “bukan berarti aku melepaskan pengawasan ku.”...
...Jari itu turun perlahan, namun tekanan-nya mengandung peringatan. “Aku tidak suka kejutan,” lanjutnya. “Tidak suka pengkhianatan. Dan aku lebih tidak suka jika ada yang lupa posisi.”...
...Naya menelan ludah, namun tetap tersenyum kecil. “Aku tahu posisi ku, Tuan Arya.”...
...Arya terkekeh pelan—tanpa humor. “Bagus. Karena jika batas itu kau langgar,” ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Naya, “aku selalu datang dengan cara yang tidak menyenangkan.”...
...Ia meluruskan tubuh, merapikan manset jasnya. “Jaga dirimu. Jaga apa yang menjadi milik ku.” Bisiknya menekan. Datar. Dingin....
...Cup..!...
...Satu kecupan singkat mendarat di dahi Naya—bukan penuh kasih, melainkan cap kepemilikan. ...
...Dan Naya tetap berdiri diam, senyum-nya perlahan memudar… di gantikan sorot mata yang sulit di baca....
...Arya menatap Naya beberapa detik lebih lama sebelum berbalik. Seolah ada sesuatu yang tertinggal—atau sengaja ia periksa....
...“Kau terlihat terlalu tenang,” ucapnya dingin. “Biasanya orang yang ku tinggal pergi tidak setenang itu.”...
...Naya mengangkat bahu pelan, mendekat setengah langkah. Jarak mereka kini tipis, cukup untuk membuat suara napas terdengar jelas....
...“Mungkin karena aku percaya,” katanya lembut. “Atau mungkin karena aku pandai menunggu.” Naya memeluk Arya dari belakang....
...Alis Arya terangkat tipis. “Menunggu apa ?”...
...Naya tersenyum—bukan senyum patuh, melainkan yang berani. “Menunggu anda kembali… dan melihat apakah aku masih sesuai dengan harapan, Tuan Arya.”...
...Arya memutar tubuhnya, memotong jarak hingga nyaris tak ada. Nada suaranya merendah, penuh tekanan....
...“Jangan bermain-main saat aku tidak ada. Aku tidak suka orang yang melanggar aturan.”...
...Naya menatap lurus ke matanya, tidak mundur. “Aku hanya memastikan,” bisiknya, “bahwa anda masih peduli untuk memperingatkan ku.”...
...Hening sesaat. ...
...Udara menegang....
...Arya menghela napas pendek, lalu menyentuh dagu Naya—mengangkat-nya dengan dua jari. Sentuhan-nya dingin, menguasai....
...“Ingat satu hal,” katanya tegas. “Kau aman karena aku mengizinkan-nya. Jangan buat aku menarik izin itu.”...
...Naya tersenyum kecil, matanya berkilat nakal. “Kalau begitu,” ucapnya pelan, “pulanglah dengan selamat. Aku tidak suka ketika penjagaku terlalu lama pergi.”...
...Arya menatapnya tajam—lalu melepaskan sentuhan itu. “Kau memang penggoda ulung,” katanya singkat....
...Dan tanpa menunggu jawaban, duda itu berbalik pergi....
...Sementara Naya tetap berdiri, senyum-nya tertinggal… lembut, menantang, dan sama sekali tidak takut....
...Langkah Arya sudah hampir mencapai ujung pintu ketika suara tangisan kecil itu terdengar....
...Pelan… lalu meninggi....
...Arya berhenti. Rahang-nya mengeras sesaat, lalu ia menoleh ke arah kamar Naya. ...
...Tangisan Karan semakin jelas—tersengal, khas bayi yang terbangun dan kehilangan rasa nyaman....
...Tanpa ragu, Arya berbalik....
...Naya sudah meng-gendong bayi tampan dan gemoy itu, berusaha menenangkan Karan yang kini menggeliat dalam pelukan-nya. ...
...Wajah bayi itu memerah, tangisnya pecah, tangan-nya bergerak tak beraturan....
...“Shh… shh…” bisik Naya lembut, mengusap punggung kecil itu. “Tenang baby karan… Daddy hanya pergi sebentar”, Sambung-nya menenangkan....
...Sebagai perempuan, Naya peka. Jika Karan pasti merasa tak mau di tinggal oleh Daddy-nya. Meskipun setiap kali mereka berdekatan selalu menatap penuh permusuhan....
...Namun begitu mata Karan yang basah menangkap sosok Arya di ambang pintu, tangisnya justru semakin keras—seolah tahu persis dirinya akan di tinggal....
...“Daddy—!” rengeknya, belum jelas, tapi penuh tuntutan....
...Arya mendekat cepat. Tanpa berkata apa-apa, ia mengulurkan tangan. “Biar aku gendong dulu,” katanya tenang....
...Begitu tubuh kecil itu berpindah ke dalam gendongan Arya, tangisan Karan langsung melemah. Isaknya masih tersisa, tapi kepalanya bersandar di dada ayahnya, napasnya mulai teratur....
...Arya mengusap punggung Karan perlahan, gerakan kaku namun protektif. “Tenang, Boy,” gumam-nya rendah. “Daddy di sini.”...
...Karan terisak sekali lagi, lalu terdiam. Tangan-nya mencengkeram jas Arya erat, seolah takut di lepaskan lagi....
...Naya menatap pemandangan itu tanpa bicara—tatapan-nya lembut, hampir sendu....
...“Sepertinya baby Karan Merasakan jika mau di tinggal jauh,” ucapnya pelan. "Dan dia tidak mau itu."...
...Arya tidak menjawab. Ia menunduk, mengecup rambut halus putranya singkat....
...“Maaf, Daddy sibuk, jarang bermain dengan kamu. Daddy harus kerja keras untuk masa depan kamu nanti, Boy.” Bisiknya pada Karan, suara yang nyaris tak pernah ia gunakan pada siapa pun....
...Beberapa detik berlalu. ...
...Karan kembali terlelap....
...Arya tidak langsung menyerahkan-nya kembali. Ia berdiri di sana, menggendong lebih lama dari rencana—seolah menimbang jarak, waktu, dan keputusan yang menunggu-nya di luar pintu....
...Sampai akhir suara asisten-nya terdengar dari luar pintu, "Bos, kita harus segera berangkat sekarang." Katanya tegas....
...Akhirnya, Arya menyerahkan Karan perlahan ke pelukan Naya....
...“Kalau dia mencari ku lagi,” katanya datar, “kamu bisa mengalihkan dengan bermain, atau jalan-jalan.”...
...Naya mengangguk pelan. “Jangan khawatir, tuan, aku akan mengatasinya dengan baik.” katanya menenangkan kekhawatiran Arya....
...Arya berdiri di sisi Naya, menatap Karan yang kini kembali tertidur lelap. ...
...Wajah kecil itu tampak damai, bulu matanya masih basah sisa tangis tadi....
...Dengan hati-hati, Arya menyentuh pipi gembul Karan menggunakan punggung jarinya—sentuhan yang nyaris tak terasa, seolah takut membangunkan-nya lagi....
...“Daddy harus pergi,” gumam-nya rendah, lebih seperti pengakuan daripada penjelasan. “Beberapa Minggu...”...
...Karan bergerak kecil, alisnya mengernyit, lalu tangan-nya terangkat mencari. Arya segera menggenggam tangan mungil itu. ...
...Refleks bayi itu langsung menguat, mencengkeram jarinya erat....
...Arya terdiam. Rahangnya menegang, matanya menunduk lebih dalam dari biasanya....
...“Kau tumbuh cepat, Boy,” katanya pelan. “Saat Daddy kembali… kau mungkin sudah lebih besar dan semakin gembul.”...
...Cup ...
...Arya membungkuk, mengecup dahi Karan lama—tidak singkat kali ini. ...
...Napasnya tertahan sesaat, lalu di hembuskan perlahan....
...“Jangan rewel,” bisiknya. “Dengarkan Sus Naya. Daddy akan mengusahakan cepat pulang.”...
...Naya memperhatikan dari dekat, tanpa menyela. Tatapan-nya lembut ketika Arya melirik ke arahnya sebentar, lalu kembali fokus pada putranya....
...Arya melepaskan genggaman itu perlahan, memastikan tangan kecil Karan kembali nyaman di atas dada. Ia berdiri, menatap Karan untuk terakhir kalinya—tatapan panjang yang menyimpan janji....
...“Nanti Daddy belikan oleh-oleh yang banyak,” ucapnya lirih....
...Lalu Arya melangkah pergi, menutup pintu kamar itu dengan sangat pelan—seakan suara sekecil apa pun bisa membuatnya berubah pikiran. Kali ini langkahnya lebih ringan, tapi tidak lagi terhenti....
...0o0__0o0...
kamu juga pak arya,,harusnya csri waktu yg tepat kalo mau jukim 🤣🤣
Semoga novelmu yg lain TDK bernuansa seperti ini juga....berat sis.... setara dgn bosan ...wk....wk....wk ...🤭😀🤨