NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 gema naga di bawah langit kelabu

Kabut pagi di Makam Bintang Agung tidak pernah benar-benar menghilang; ia hanya menipis sejenak, memberi jalan bagi sinar matahari yang pucat untuk menyentuh permukaan tanah yang dingin. Di antara nisan-nisan batu yang menjulang bak hutan mati, Xing Shenyuan berdiri tegak. Matanya terpejam, menikmati aliran udara yang bagi orang biasa terasa menyesakkan karena aura kematian, padahal baginya kini laksana nektar surgawi.

Satu malam telah berlalu sejak ia mendapatkan Tubuh Kekacauan Primordial.

Perubahan pada dirinya tidak terlihat secara kasat mata. Otot-ototnya tidak membesar secara berlebihan, wajahnya tidak berubah menjadi monster. Sebaliknya, kulitnya kini memancarkan kilau pualam yang samar, seolah-olah lapisan debu duniawi telah terkelupas darinya. Di dalam pembuluh darahnya, Qi—energi spiritual—mengalir deras seperti sungai yang menjebol bendungan. Jika sebelumnya dantian-nya (pusat energi) hancur berantakan, kini tempat itu telah berubah menjadi lautan bintang mini yang berputar perlahan, menyerap setiap partikel energi di sekitarnya tanpa henti.

"Kultivasi otomatis," gumam Shenyuan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Ia tidak perlu duduk bersila berjam-jam. Tubuh Kekacauan Primordial adalah entitas yang tamak; ia bernapas, ia makan, ia berjalan, dan di setiap detiknya, tubuh itu memperkuat diri sendiri. Tingkat kultivasinya yang sempat jatuh ke titik nol kini telah melonjak kembali ke Ranah Pembentukan Pondasi Tahap Awal. Sebuah pencapaian yang bagi jenius sekte besar membutuhkan waktu lima tahun, ia lahap hanya dalam satu malam tidur nyenyak.

Keheningan pagi itu pecah oleh suara gemuruh dari langit.

Bukan guntur, melainkan suara roda kereta perang yang membelah awan. Shenyuan membuka matanya, menatap ke arah gerbang masuk kompleks makam. Awan kelabu bergolak, tersibak oleh kedatangan rombongan besar yang menunggangi binatang buas bersayap.

Hari ini adalah Peringatan Seratus Tahun Kaisar Pertama. Keluarga Kekaisaran Bintang Agung telah tiba.

Rombongan itu mendarat di pelataran luas di depan makam utama. Puluhan kereta kencana bertahtakan emas dan giok tampak sangat kontras dengan lingkungan makam yang suram. Para pengawal berbaju zirah emas berbaris rapi, tombak mereka memantulkan cahaya matahari, menciptakan pagar betis yang mengintimidasi.

Dari kereta terbesar yang ditarik oleh tiga ekor Singa Api, turunlah seorang pria paruh baya dengan jubah naga berwarna ungu. Aura kewibawaannya menekan udara di sekitarnya, membuat debu-debu di tanah bergetar ketakutan. Itu adalah Kaisar saat ini, ayah kandung Shenyuan, yang membiarkan putranya dibuang seperti sampah.

Di belakangnya, seorang pemuda dengan wajah tampan namun angkuh melangkah keluar. Dia mengenakan jubah biru laut dengan sulaman awan perak. Pangeran Keenam, Xing Liu. Di pinggangnya tergantung pedang pusaka yang memancarkan hawa dingin, menandakan bahwa ia telah mencapai tingkat kultivasi yang tinggi.

Shenyuan berdiri jauh di sudut, memegang sapu lidi kasar, seolah-olah dia hanyalah bagian dari dekorasi makam yang menyedihkan. Tugasnya hari ini sederhana: membersihkan jalan bagi para "bangsawan" ini dan tidak terlihat.

"Lihatlah siapa yang masih hidup," suara cemoohan terdengar tajam.

Xing Liu memisahkan diri dari rombongan utama dan berjalan menuju Shenyuan. Langkah kakinya sengaja ditekan, mengirimkan gelombang kejut kecil yang dimaksudkan untuk membuat orang biasa jatuh berlutut.

Shenyuan tidak bergerak. Kakinya seolah terpaku ke dalam bumi, menyatu dengan akar-akar tua di bawahnya. Gelombang energi Xing Liu menghantamnya, namun hanya berhasil menerbangkan sedikit debu dari jubah kasarnya.

Alis Xing Liu berkedut. Ia mengharapkan adiknya yang cacat itu tersungkur memohon ampun atau gemetar ketakutan. Ketenangan di wajah Shenyuan adalah sebuah penghinaan baginya.

"Pangeran Kesembilan," ucap Xing Liu dengan nada penuh bisa. "Atau haruskah kupanggil kau 'Anjing Penjaga Kuburan'? Kudengar kau bertahan hidup dengan memakan tikus di sini. Sayang sekali, padahal dulu kau digadang-gadang sebagai masa depan dinasti."

Shenyuan menatap kakaknya. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kehampaan yang tenang, seperti sumur tua yang tak berdasar. "Pangeran Keenam terlihat sehat. Apakah tulang punggungmu tidak keberatan menanggung beban kesombongan itu?"

Wajah Xing Liu memerah padam. "Kau... sampah yang tidak tahu diri! Kau pikir karena ini tanah leluhur aku tidak berani membunuhmu?"

Tangan Xing Liu bergerak ke gagang pedangnya. Hawa membunuh yang pekat menyebar. Beberapa pengawal menoleh, namun tidak ada yang berniat melerai. Bagi mereka, membunuh pangeran terbuang hanyalah seperti menginjak semut.

"Hentikan."

Satu kata itu meluncur dingin, memotong ketegangan seperti pisau es.

Gu Qingcheng muncul di antara mereka. Zirah peraknya berdentin pelan. Tatapannya tajam, terarah lurus pada Xing Liu. "Ini adalah wilayah suci Kaisar Pertama. Menumpahkan darah saudara di sini akan mengundang murka leluhur. Pangeran Keenam, simpan pedangmu."

Xing Liu mendengus kasar, melepaskan gagang pedangnya. Ia tahu siapa wanita ini. Gu Qingcheng, jenius dari Klan Gu, satu-satunya orang luar yang dipercaya menjaga rahasia makam. Kekuatannya setara dengan para jenderal senior.

"Kau beruntung, Sampah," desis Xing Liu pada Shenyuan, lalu meludah ke tanah di dekat kaki adiknya. "Nikmati sisa hidupmu. Setelah upacara ini, aku akan menyarankan Ayahanda untuk mengurangi jatah makanmu. Mungkin kelaparan akan mengajarkanmu sopan santun."

Xing Liu berbalik, melangkah angkuh menuju altar utama di mana Kaisar dan para tetua sudah memulai ritual.

Shenyuan tidak membalas. Ia hanya menunduk, kembali menyapu debu yang sebenarnya tidak ada. Namun, dalam benaknya, suara mekanis yang dinanti-nantikan akhirnya berbunyi.

[Ding! Lokasi terdeteksi: Altar Utama Makam Kaisar Pertama. Persyaratan terpenuhi. Apakah Anda ingin Masuk Log?]

Shenyuan tersenyum dalam hati. Jaraknya sekarang cukup dekat dengan pusat energi makam.

"Masuk Log."

[Ding! Masuk Log berhasil. Hadiah Tingkat Dewa diperoleh: "Sutra Hati Kaisar Naga" (Teknik Kultivasi Jiwa) dan "Aura Penakluk Semesta" (Pasif).]

[Keterangan: Sutra Hati Kaisar Naga memungkinkan pengguna memanipulasi keberuntungan kekaisaran dan membentuk tubuh naga sejati. Aura Penakluk Semesta memungkinkan pengguna menekan jiwa siapa pun yang memiliki garis darah lebih rendah, tanpa memandang tingkat kultivasi.]

Informasi itu meledak di dalam otak Shenyuan. Sebuah aliran pengetahuan kuno merasuki jiwanya. Ia melihat visi seekor naga emas raksasa yang melingkari galaksi, matanya laksana matahari yang membakar. Teknik ini bukan sekadar seni bela diri; ini adalah jalan untuk menjadi penguasa mutlak.

Sementara itu, di altar utama, Kaisar sedang membakar hio raksasa. Asap wangi membumbung ke langit.

"Leluhur Agung Xing Tian," seru Kaisar lantang. "Keturunanmu datang memohon berkah. Lindungi Dinasti Bintang Agung dari kehancuran, berikan kami kekuatan untuk menaklukkan musuh!"

Biasanya, pada ritual seperti ini, langit akan sedikit bergemuruh sebagai tanda penerimaan leluhur. Para pejabat menunggu dengan harap-harap cemas.

Hening.

Tidak ada angin. Tidak ada petir. Asap hio hanya tegak lurus ke atas, seolah langit menolak untuk merespons. Wajah Kaisar berubah pucat. Para tetua mulai berbisik-bisik gelisah. Apakah leluhur telah meninggalkan mereka?

Xing Liu, yang berdiri di barisan depan, merasa perlu melakukan sesuatu. Ia maju selangkah, mengerahkan seluruh Qi-nya untuk memicu resonansi dengan nisan leluhur. "Leluhur! Lihatlah bakatku! Aku, Xing Liu, telah mencapai Ranah Inti Emas di usia dua puluh tahun! Berikan aku petunjukmu!"

Masih hening.

Di sudut belakang, Shenyuan menahan tawa. Tentu saja leluhur tidak menjawab. Keberuntungan dan 'Restu' makam ini sekarang sudah menjadi milikku.

Shenyuan memutuskan untuk menguji hadiah barunya. Ia memfokuskan pikirannya, mengaktifkan Aura Penakluk Semesta hanya seujung kuku, dan mengarahkannya lurus ke punggung Xing Liu yang sedang membusungkan dada.

Boom!

Bukan suara ledakan fisik, melainkan ledakan mental yang hanya dirasakan oleh mereka yang memiliki darah keluarga Xing.

Bagi Xing Liu, langit seolah runtuh. Ia merasakan sepasang mata raksasa yang tak terlihat sedang menatapnya dari angkasa dengan kemarahan yang tak terlukiskan. Tekanan itu begitu purba, begitu murni, sehingga lututnya seketika kehilangan fungsi.

Bruk!

Xing Liu jatuh berlutut dengan keras di atas lantai batu, kepalanya terhantam ke tanah dalam posisi bersujud paksa. Darah segar menyembur dari mulutnya.

"Leluhur murka!" Teriak salah seorang tetua dengan histeris.

Kaisar terperanjat mundur. Seluruh rombongan kerajaan gemetar. Mereka melihat Xing Liu, pangeran yang paling bangga, kini terkapar seperti kodok yang dipukul palu godam tak kasat mata.

"Apa yang kau lakukan hingga membuat Leluhur marah, Liu'er?!" hardik Kaisar dengan wajah ketakutan.

Xing Liu ingin menjawab, ia ingin berteriak bahwa ada seseorang yang menyerangnya. Akan tetapi, mulutnya terkunci rapat. Tekanan itu tidak mengizinkannya bicara. Ia hanya bisa mengerang, matanya melotot menatap lantai batu, sementara rasa takut merayapi tulang punggungnya.

Jauh di belakang, Shenyuan kembali menyapu lantai dengan irama yang tenang. Sreeet... sreeet...

Tidak ada yang mencurigainya. Siapa yang akan menduga bahwa pangeran lumpuh di sudut sana adalah dalang yang membuat pangeran jenius muntah darah hanya dengan sebuah tatapan?

Kecuali satu orang.

Gu Qingcheng tidak melihat ke arah altar. Sejak awal, matanya terus mengawasi Shenyuan. Saat Xing Liu jatuh, dia melihat—hanya sepersekian detik—kilatan keemasan samar di pupil mata Shenyuan. Kilatan itu menghilang secepat ia datang, berganti kembali menjadi tatapan kosong yang polos.

Jantung Qingcheng berdegup kencang. Naluri petarungnya menjerit bahwa ada bahaya yang sangat besar bersembunyi di balik tubuh kurus pemuda itu. Apakah dia... yang melakukannya? Tidak mungkin. Dia tidak punya kultivasi. Atau... apakah selama ini dia menyembunyikannya?

Upacara itu berakhir dengan kekacauan. Kaisar memerintahkan rombongan untuk segera pergi, takut kemurkaan leluhur akan berlanjut. Xing Liu harus dipapah ke dalam kereta, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Tidak ada lagi ejekan, tidak ada lagi kesombongan. Mereka melarikan diri dari makam itu seperti anjing yang dikejar harimau.

Ketika debu dari kereta terakhir telah menghilang, keheningan kembali menyelimuti Makam Bintang Agung.

Shenyuan meletakkan sapunya. Ia meregangkan tubuhnya, merasakan kepuasan yang luar biasa. "Latihan yang bagus," pikirnya.

"Siapa kau sebenarnya?"

Shenyuan menoleh. Gu Qingcheng berdiri lima langkah di belakangnya. Tangannya kali ini benar-benar mencengkeram gagang pedangnya. Aura gadis itu tajam, siap menyerang kapan saja.

Shenyuan tersenyum, senyuman yang kali ini tulus dan sedikit misterius. "Aku? Aku hanya Xing Shenyuan. Penjaga makam yang kau beri makan setiap minggu."

"Jangan berbohong," desak Qingcheng, matanya menyipit. "Tekanan tadi... itu bukan berasal dari nisan. Itu berasal dari arahmu. Kau menipu seluruh kekaisaran, tapi kau tidak bisa menipu intuisiku."

Shenyuan melangkah perlahan mendekati Qingcheng. Gadis itu menegang, bersiap menarik pedang, namun entah kenapa tubuhnya menolak untuk bergerak. Aura Shenyuan tidak menekan, tetapi memancarkan kharisma yang aneh, membuatnya merasa segan.

"Komandan Gu," bisik Shenyuan saat ia berada tepat di samping gadis itu. "Di dunia ini, ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi misteri. Jika kau tahu terlalu banyak, kau mungkin harus ikut menanggung beban langit yang akan kuruntuhkan suatu hari nanti."

Ia berjalan melewati Qingcheng menuju gubuknya, meninggalkan gadis itu terpaku di tempat.

Qingcheng terdiam lama. Angin dingin menerpa wajahnya, namun keringat dingin mengalir di punggungnya. Kalimat itu terdengar arogan, gila, namun entah mengapa... dia mempercayainya. Pangeran Kesembilan yang dia kenal telah mati. Sosok yang baru saja melewatinya adalah naga yang sedang tidur.

Di dalam gubuknya, Shenyuan duduk kembali di atas dipan kerasnya. Ia membuka telapak tangannya. Sebuah bola cahaya kecil berputar di sana—intisari dari Sutra Hati Kaisar Naga.

"Tahap pertama selesai. Aku sudah mendapatkan teknik kultivasi dan tubuh fisik," analisis Shenyuan. "Selanjutnya, aku butuh sumber daya. Pil, tanaman obat, ramuan."

Ia mengingat peta makam yang ada di ingatannya. Di sisi barat kompleks pemakaman, terdapat Taman Obat Terlarang milik selir kesayangan Kaisar Ketiga. Konon, taman itu penuh dengan racun mematikan dan tanaman karnivora, sehingga tidak ada yang berani memasukinya selama ratusan tahun.

"Tanaman beracun?" Shenyuan terkekeh pelan. "Bagi Tubuh Kekacauan Primordial, racun hanyalah bumbu pedas yang lezat."

Target besok sudah ditentukan.

Shenyuan memejamkan mata, memulai siklus pernapasan pertamanya menggunakan Sutra Hati Kaisar Naga. Saat ia menarik napas, bayangan samar sembilan naga mulai terbentuk di sekeliling gubuk kecil itu, menjaga sang tuan yang sedang merajut jalan menuju keabadian.

Malam semakin larut di Makam Bintang Agung, namun bagi Xing Shenyuan, fajar kekuasaannya baru saja menyingsing. Dan dunia luar, dengan segala intrik dan kesombongannya, sama sekali tidak menyadari bahwa penguasa mereka yang sebenarnya sedang bangkit dari kuburan yang terlupakan.

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!