Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Mimpi
Usai makan siang bersama tuan Lewis. Queen dan Bryan kembali pulang. Setibanya mereka di rumah, mereka mendengar tangisan Ellara. Queen pun segera berlari naik ke atas.
"Queen, hati-hati," ujar Bryan.
Queen tidak peduli dengan peringatan Bryan. Di pikirannya hanya ada satu pertanyaan, sejak kapan Ellara menangis? Dia khawatir bayi itu sudah terlalu lama menangis. Dia sampai tidak memperhatikan jika dia melewatkan satu anak tangga. Queen hampir terjatuh, tetapi pinggangnya berhasil ditangkap oleh Bryan.
"Aku sudah bilang hati-hati. Tidak usah terburu-buru."
Queen mengangguk dan lalu dia tiba di kamar kedua bayi itu.
"Nyonya, syukurlah anda segera pulang. Jika tidak, aku akan menghubungimu."
"Sejak kapan Ellara menangis?"
"Lima menit yang lalu."
"Baiklah, tunggu sebentar aku perlu ke kamar mandi."
Queen membersihkan dirinya dengan cepat, berganti pakaian dan lalu keluar. Bryan melihat wanita itu begitu grasak grusuk hanya karena mendengar tangisan putrinya. Hati Bryan pun menghangat. Jika Queen bersikap begitu karena tangisan Sofia. Mungkin Bryan tidak akan merasa tersentuh, karena Sofia adalah anak kandung Queen. Akan tetapi Ellara bukanlah putri kandung Queen. Kenapa dia begitu peduli?
"Sayang, tenanglah, aku di sini."
Queen segera menyusui Ellara. Dia membelakangi Bryan. Meski posisinya membelakangi, tetapi Bryan bisa melihat dengan jelas, benda yang diburu oleh putrinya. Dia pun menelan ludah dengan susah payah.
Bryan segera keluar dari kamar karena tidak tahan dengan pemandangan itu. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan tak pantas itu, tetapi bukannya menjadi lupa, dia justru semakin terbayang-bayang. Akhirnya Bryan memutuskan untuk masuk ke ruang Gym. Dia perlu mengalihkan pikirannya dari Queen.
Ellara kembali tidur setelah menyusu. Queen lantas melanjutkan sekalian menyusui Sofia. Sofia menyusu dengan mata terbuka. Semakin Queen mengamati semakin dia merasa heran. Bagaimana bisa putrinya lebih mirip Bryan ketimbang Xavier. Ini sungguh sangat aneh. Apakah benar jika terjadi kesalahan saat melakukan inseminasi?
"Sayang, kamu cantik sekali."
Selesai menyusui Ellara dan Sofia, Queen menyuruh pengasuhnya keluar. Dia ingin tidur siang dengan kedua bayi itu.
Saat pengasuh keluar, dia berpapasan dengan Bryan yang baru saja keluar dari ruang Gym.
"Dimana Nyonya Queen?"
"Dia ada di dalam, katanya ingin tidur siang bersama Ella dan Sofia."
"Baiklah, kamu boleh pergi."
Bryan pun tidak berani menganggu. Dia masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar bayi. Pria itu memutuskan untuk mandi sebelum melanjutkan kegiatannya.
Queen memejamkan matanya. Namun, tak lama kemudian, dia memimpikan kejadian masa lalu itu lagi. Napas Queen memburu, keringat dingin mulai muncul. Dia larut ke dalam mimpinya.
Bryan baru saja selesai mandi, dia ingin mengecek ke kamar putrinya. Saat membuka pintu, dia mendengar suara rintihan dan tangisan Queen. Pria itu pun langsung mendekat ke arah ranjang. Dia mendapati Queen meringkuk dengan napas memburu.
"Xavier kenapa kamu membunuh putri kita? Aku akan membalasmu. Aku akan menarikmu ke neraka."
Alis Bryan berkerut. Namun, dia segera membangunkan Queen. Saat Queen sudah membuka mata, dia melihat Bryan di sana dan langsung memeluknya. Tubuh Queen basah oleh keringat, dia gemetaran di pelukan Bryan.
Bryan mendekap Queen dengan erat. Mencoba memberikan ketenangan pada wanita itu. Napas Queen yang semula memburu mulai terdengar lebih tenang.
Bryan merenggangkan pelukannya. Wajah Queen berlinang air mata. Bryan pun mengusap nya dengan lembut. Queen terlihat rapuh tidak seperti biasanya. Entah mengapa Bryan merasakan sakit yang menusuk di dadanya.
"Jangan takut. Ada aku di sini," ujar Bryan lembut. Queen masih tampak linglung. Sepertinya dia belum sadar sepenuhnya.
Bryan mengecup kening Queen dengan penuh kelembutan dan setelah itu ia kembali mendekap wanita itu.
Queen memejamkan matanya dan mungkin dia mengira semua ini bagian dari mimpi. Dia kembali tertidur setelahnya. Bryan dengan hati-hati meletakkan kepala Queen diatas bantal. Dengan lembut dia mengusap sisa air mata di pipi wanita itu.
Bryan duduk di samping Queen seolah sedang menjaganya dari mimpi buruk. Sore itu Queen terbangun dengan ekspresi kebingungan.
Dia seperti ingat tadi memeluk Bryan. Akan tetapi saat menatap ke sekelilingnya dan tidak mendapati siapapun di sana. Ia mengira itu hanya mimpi. Queen melihat kedua putri cantik di sebelahnya telah membuka mata. Dia tersenyum dan mengusap pipi bayi bayi itu.
"Sayang, kalian mandi dulu, ya. Mommy akan memandikan kalian berdua. Queen segera menyiapkan perlengkapan mandi Sofia dan Ella. Dia melakukan semuanya sendirian dengan cekatan. Meski dia memakai pengasuh, bukan berarti dia akan selalu mempercayakan kedua bayi itu pada pengasuhnya. Queen tidak ingin perannya sebagai ibu tergantikan.
Queen baru saja selesai memandikan kedua putrinya dan mendadani mereka dengan gaun yang begitu cantik. Queen memanggil pengasuh untuk menjaga kedua bayinya, sementara dia kembali ke kamarnya untuk mandi. Saat diluar pintu dia berpapasan dengan Bryan. Sejenak Queen menatap pakaian yang dipake Bryan. Dia menghela napas lega karena Bryan tidak memakai baju warna putih, melainkan hitam.
Dia hanya tidak tahu jika setelah Queen tertidur Bryan mengganti bajunya yang basah karena keringat dan air mata Queen.
Keduanya saling menatap cukup lama, Queen lalu batuk kecil untuk menutupi kegugupannya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ingin melihat Ella dan Sofia."
"Baiklah, masuk saja. Mereka baru saja selesai mandi. Aku juga mau mandi dulu."
Bryan tersenyum dan mengangguk. Queen segera pergi setengah berlari. Jantungnya semakin tidak aman jika berdekatan dengan Bryan.
Bryan menoleh ke arah kepergian Queen. Senyumnya semakin lebar. Namun, saat berbalik, senyum itu pudar dan sorot matanya berubah tajam.
Dia merasa ketakutan Queen itu bukan hanya sekedar mimpi biasa, tetapi bagaimana mungkin? Jika Sofia dibunuh oleh Xavier, lalu bayi yang dia bawa milik siapa? Pertanyaan itu mengusik rasa penasarannya.
Bryan masuk dan menatap Sofia sesaat. Dia mendekati bayi itu dan kemudian menggendongnya. Bryan menatap mata coklat itu cukup lama. Di dalam hati dia telah memutuskan sesuatu. Dia akan melakukan tes DNA pada bayi ini. Selain untuk memuaskan rasa penasarannya, dia juga ingin memastikan jika bayi ini benar-benar bayi milik Queen.
Pengasuh yang ditugaskan untuk menjaga kedua bayi itu tidak berani mendekat. Mereka duduk sambil menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.
"Kalian keluarlah. Biar kau yang menjaga Ella dan Sofia."
Setelah kedua pengasuh itu pergi. Bryan mencari pemotong kuku dan memotong kuku Sofia dengan sangat hati-hati. Ia bersyukur karena kuku bayi lebih cepat tumbuh panjang ketimbang kuku orang dewasa. Setelah menyimpan kuku Sofia dalam tisu, Bryan juga memotong kuku miliknya dan menyimpannya. Dia hanya perlu mengambil sampel kuku milik Queen. Entah bagaimana caranya, dia akan pikirkan nanti.