Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dieng
Dua jam perjalanan, mereka berhenti di warung tepi jalan untuk sarapan. Suasana pegunungan mulai terasa—udara lebih dingin, kabut tipis mulai turun. Mereka memesan mie rebus dan kopi panas.
"Bim, gue mau ngomong," kata Tasya tiba-tiba, duduk di samping Bima.
Bima menoleh. "Iya?"
"Gue minta maaf. Lagi. Buat semuanya. Dan makasih udah mau terima gue di liburan ini."
Bima menatap Tasya beberapa saat. "Udah. Lupakan."
"Tapi serius, Bim. Gue nggak nyangka lo mau diajak bareng-bareng."
Bima menghela napas. "Tas, gue bukan tipe orang yang pendendam. Lo udah minta maaf, Kay udah maafin, gue juga. Udah."
Tasya tersenyum lega. "Makasih, Bim."
Laras yang duduk di dekat mereka ikut nimbrung. "Bim, lo tahu nggak, Tasya tuh dari kemarin deg-degan banget mau ketemu lo. Takut lo masih marah."
Bima melirik Tasya. "Nggak perlu takut."
Kay yang dari tadi mengamati dari kejauhan, ikut mendekat. "Udah baikan semua kan?"
Mika mengacungkan jempol. "Liburan damai tanpa drama. Perfect."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana lebih hangat.
---
Sesampainya di Dieng, mereka check in di homestay sederhana pilihan Kay. Homestay itu dikelilingi kebun kentang, dengan pemandangan bukit-bukit hijau di kejauhan. Udara dingin langsung menyambut begitu mereka turun dari mobil.
"Akuuuu dingiiin!" teriak Mika sambil memeluk dirinya sendiri.
"Makanya pake jaket tebel," ledek Kay.
Mereka mendapat dua kamar—satu untuk Kay dan Mika, satu untuk Laras dan Tasya. Bima dapat kamar kecil di lantai bawah, dekat dengan ruang tamu.
"Kenapa Bima sendiri?" tanya Mika.
"Karena dia laki-laki," jawab Kay.
"Tapi kan dia pacar lo."
"Nggak etis lah kita tidur sekamar. Apalagi di depan Laras dan Tasya."
Mika mengangkat bahu. "Ya udah. Terserah lo."
Setelah beres-beres, mereka memutuskan untuk langsung jalan-jalan. Tujuan pertama: Kawah Sikidang.
Kawah Sikidang menyambut mereka dengan pemandangan yang menakjubkan sekaligus menakutkan. Kepulan asap belerang membumbung tinggi, bau belerang menyengat, dan lubang-lubang kawah kecil aktif di sana-sini.
"Awas, jangan terlalu dekat," peringat Kay.
Mereka berjalan berkelompok, mengamati kawah dari jarak aman. Bima mengambil ponselnya, memotret pemandangan. Kay melihatnya dari samping, tersenyum.
"Bim, fotoin gue dong."
Bima menoleh, lalu mengangguk. Kay berpose di dekat pagar pembatas, dengan latar kawah di belakangnya. Bima memotret beberapa kali.
"Coba liat." Kay meraih ponsel Bima, melihat hasil jepretan. "Wah, bagus! Lo jago foto juga?"
"Biasa aja."
"Nggak, ini bagus banget. Lo harus jadi fotografer kalo gitu."
Laras mendekat. "Bim, fotoin gue juga dong sama Tasya."
Bima mengangguk. Ia memotret Laras dan Tasya dengan latar kawah. Mika ikut minta difoto. Tanpa disadari, Bima menjadi fotografer dadakan mereka.
Sore harinya, mereka ke Telaga Warna. Danau dengan tiga warna air—biru, hijau, kuning—ini tampak memukau di bawah sinar sore. Mereka duduk di tepi danau, menikmati pemandangan.
"Ini kayak lukisan," gumam Laras.
"Lukisan Bima lebih bagus," celetuk Mika.
Bima tersenyum malu.
Kay duduk di samping Bima, menyandarkan kepala di bahunya. "Bim, makasih ya udah mau ikut."
Bima mengelus rambut Kay pelan. "Makasih udah ngajak."
Tasya yang melihat mereka dari kejauhan, tersenyum. "Mereka cocok banget ya."
Laras mengangguk. "Iya. Dan gue ikhlas."
Mika memeluk Laras dan Tasya. "Kalian berdua juga bakal dapet jodoh masing-masing. Nggak usah khawatir."
Mereka tertawa bersama.
Malam harinya, setelah makan malam bersama, mereka memutuskan untuk nonton bintang di Bukit Sikunir. Udara malam sangat dingin—mungkin sekitar 10 derajat Celsius. Semua memakai jaket tebal, syal, dan kupluk.
Bima duduk di antara Kay dan Mika. Laras dan Tasya duduk di samping Mika. Langit malam bertabur bintang—jutaan titik cahaya menghiasi gelapnya langit.
"Ini... luar biasa," bisik Kay.
"Iya," jawab Bima pelan.
Mereka terdiam, menikmati keindahan alam. Tak ada yang berbicara, tak ada yang perlu dikatakan. Keheningan malam dan gemerlap bintang sudah cukup.
Tiba-tiba, Mika memecah keheningan. "Gue mau ngomong sesuatu."
Mereka menoleh.
"Aku, Laras, sama Tasya mau ngasih sesuatu buat kalian berdua."
Laras mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. "Ini dari kami bertiga."
Kay membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, sebuah buku sketsa baru—tapi bukan buku biasa. Sampulnya dihiasi foto-foto kecil Bima dan Kay selama ini, dihias dengan tulisan tangan.
"Kami tahu Bima suka gambar," kata Tasya. "Jadi kami beliin buku sketsa baru. Dan kami tempelin foto-foto kalian. Biar Bima bisa gambar kenangan-kenangan indah di sini."
Kay menatap teman-temannya dengan mata berkaca-kaca. "Ya ampun... kalian..."
Mika tersenyum. "Kita sahabatan, kan? Udah sewajarnya bikin kejutan."
Bima membuka buku sketsa itu, menatap satu per satu foto yang ditempel. Ada foto mereka di Kawah Sikidang, di Telaga Warna, saat makan malam, dan sekarang—foto mereka bertujuh di bawah bintang-bintang, diambil dengan kamera polaroid yang ternyata diam-diam dibawa Laras.
"Ini..." Bima mengangkat kepala, menatap ketiga wanita di depannya. "Makasih."
Laras tersenyum. "Sama-sama, Bim."
Tasya mengangguk. "Kita mulai baru, ya. Sebagai teman."
Mika mengacungkan jempol. "Bestie goals!"
Kay menangis haru. Bima meraih tangannya, menggenggam erat. Di bawah langit bertabur bintang, di tengah dinginnya malam Dieng, mereka merasa hangat—bukan karena jaket tebal, tapi karena kehangatan persahabatan dan cinta.
---
Keesokan paginya, mereka bangun pagi untuk melihat matahari terbit di Bukit Sikunir. Ribuan wisatawan sudah berkumpul, menunggu momen emas itu. Kay dan Bima duduk di sebuah batu besar, agak terpisah dari keramaian.
"Bim," bisik Kay.
"Iya?"
"Gue sayang banget sama lo."
Bima menoleh, menatap Kay. Matahari mulai muncul di ufuk timur, menyebarkan cahaya jingga keemasan. "Gue juga sayang lo, Kay. Lebih dari apa pun."
Kay tersenyum. "Janji nggak akan pergi lagi?"
"Janji. Gue udah belajar." Bima meraih tangan Kay. "Lo, gue, dan mereka—" ia menunjuk ke arah Mika, Laras, dan Tasya yang asyik berfoto— "kita keluarga sekarang. Keluarga pilihan. Dan gue nggak akan ninggalin keluarga gue."
Air mata Kay jatuh, tapi kali ini air mata bahagia. "Makasih, Bim. Makasih udah bertahan."
Bima mengusap air mata Kay dengan ibu jarinya. "Makasih udah nggak nyerah sama gue."
Matahari terbit sempurna. Mereka berpelukan, merasakan hangatnya sinar pagi. Di kejauhan, Mika mengabadikan momen itu dengan kameranya—sebuah foto yang nantinya akan menjadi kenangan berharga.
Liburan Dieng belum berakhir. Masih ada dua hari lagi petualangan mereka. Tapi momen matahari terbit itu sudah cukup untuk mengikat kembali tali-tali yang sempat kendur.
Cinta sejelas awan mendung—kadang gelap, kadang terang. Tapi setelah badai, selalu ada pelangi. Dan di Dieng, di pagi yang dingin itu, pelangi hadir dalam bentuk tawa, air mata bahagia, dan janji untuk tidak pernah berpisah lagi.