Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Murah??
Keesokan harinya.
Hari Emily dimulai dengan sebuah pesan dari agen properti yang telah ia tunggu-tunggu.
"Nona Ainsley, akhirnya ada seseorang yang menerima penawaranmu. Silahkan hubungi saya setelah kau membaca ini. Mereka ingin menandatangani kontrak hari ini."
Jantungnya berdebar saat membaca pesan itu. Ketika ia melihat waktu, pesan tersebut masuk ke kotak masuknya tadi malam pukul 11, yang membuatnya terkejut.
Ia khawatir pemilik rumah yang menerima harganya akan membatalkan kesepakatan.
Emily segera menelepon agen properti itu untuk memastikan bahwa pemilik tidak membatalkan kesepakatan atau tidak ada orang lain yang merebut rumah masa depannya.
"Tuan Davis, ini Emily. Maaf menelepon sepagi ini. Aku benar-benar minta maaf," katanya, lupa memberi salam.
"Nona Ainsley, syukurlah kau akhirnya menelepon," nada panik dari seberang sana terdengar jelas, membuat Emily merasa semakin tidak enak karena meneleponnya.
"Maaf, Tuan Davis. Aku baru membaca pesanmu sekarang. Aku harap rumahnya masih tersedia. Ya Tuhan, ini kesempatan terakhirku untuk punya atap tempat tinggal dan tidur. Apakah rumahnya masih tersedia untukku?" gumam Emily sebelum akhirnya bertanya, tak mampu menyembunyikan rasa penasaran dan khawatirnya.
"Ya, masih. Bisakah kau datang ke alamat rumahnya pagi ini? Pemiliknya ingin penyewa baru segera menandatangani perjanjian sewa karena ia harus terbang ke luar negeri siang ini."
"Ya, bisa. Tentu saja bisa, Pak..." jawab Emily dengan tergesa.
Ini adalah kemenangan besar baginya. Ia tidak pernah menyangka seseorang akan menerima tawarannya yang jauh di bawah harga pasar secepat ini. Ini benar-benar di luar imajinasinya.
Ia mengira Davis akan memintanya menaikkan harga, tetapi keberuntungan tampaknya akhirnya berpihak padanya.
"Akhirnya, ada juga yang mau menerima dengan harga segitu, ya!" Ia menahan senyum.
"Baik, aku akan mengirimkan alamat rumahnya. Tolong jangan terlambat. Kau harus sudah di alamat itu pukul sembilan. Pemilik rumah akan menemuimu di sana..." jelas Davis.
"Baik, Tuan. Aku akan tiba sebelum pukul sembilan. Aku menghargai bantuanmu, Tuan Davis."
Emily bersyukur ia tidak perlu pergi ke kafe pagi ini, karena ia akan bekerja pada shift kedua. Pagi ini, ia sebenarnya berencana mengunjungi agen properti lain yang jauh dari area tempat tinggalnya sekarang untuk mencari apartemen sewa murah.
Ia melirik jam tangannya, ia masih punya empat puluh lima menit sebelum pukul sembilan untuk bersiap.
Dengan mengenakan jeans dan kemeja putih, Emily duduk di sofa, menatap ponselnya dan menunggu pesan dari Davis.
Tak lama kemudian, ia akhirnya mendengar suara getaran di atas meja. Dengan tergesa-gesa, ia memeriksa ponselnya dan menemukan pesan dari Davis berisi alamat.
Saat membaca alamat rumah tersebut, Emily merasa bingung. Ia tidak mengenal daerah itu. Meski begitu, ia meninggalkan 3Flower sambil memasukkan alamat tersebut ke aplikasi Gmap di ponselnya.
Namun, ketika peta menunjukkan arah, ia terkejut mengetahui bahwa alamat itu tidak jauh dari lokasinya sekarang. Ia hanya perlu berjalan lima menit ke bukit di belakang gedung.
"Tunggu! Tempat ini kawasan perumahan, bukan kompleks apartemen..." Ia terkejut ketika akhirnya berjalan menuju bukit itu.
Ia tidak melihat apartemen tinggi, toko, atau kafe. Sebaliknya, ia melihat jalanan sepi dengan jalan berpaving indah. Hanya sedikit mobil yang lewat, dan jarak antar rumah cukup jauh. Area itu tampak seperti kompleks rumah orang-orang kaya.
"Ini penipuan. Mana mungkin seseorang menyewakan rumah besar di tempat seperti ini dengan harga murah?" gumam Emily sambil terus berjalan mengikuti petunjuk di Gmap.
Namun, semakin dekat ia ke alamat tujuan, semakin curiga ia. Dengan tergesa-gesa, ia mengirim pesan kepada Davis untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah mengirim alamat.
"Tuan Davis, apakah kau yakin mengirim alamat yang benar?" Setelah mengirim pesan itu, ia kembali melihat sekeliling. Akhirnya, ia berhenti ketika Gmap menunjukkan bahwa ia telah tiba di tujuan.
Ponselnya bergetar, dan ia membaca pesan lain dari Davis, “Ya, itu memang alamat yang benar."
Sekali lagi membaca pesan Davis, ia khawatir ini mungkin penipuan. Tetapi kemudian ia ingat bahwa ia mencari rumah melalui agen properti nomor satu di negara ini—ia segera menepis keraguannya.
"Mereka tidak mungkin merusak reputasi mereka dengan menipuku, kan?" pikirnya.
Sebelum Emily sempat membalas pesan Davis, panggilan masuk dari Davis membuatnya terkejut. Ia segera mengangkatnya.
"Ada apa, Nona Ainsley? Kau tidak jadi menyewa rumahnya sekarang?" tanya Davis.
"Tidak! Tidak. Tentu saja aku mau menyewanya! Aku khawatir pemilik rumah salah melihat penawaranku. Aku tahu penawaranku sangat rendah, dan aku sudah menyiapkan diri secara mental untuk ditolak." Ia memutar bola matanya dan tersenyum mendengar ucapannya sendiri. Akan sangat lucu jika itu benar-benar terjadi.
Davis terkekeh mendengar kata-kata Emily. Mengetahui kekhawatirannya, ia menjelaskan dengan tenang, "Nona Ainsley, tenanglah. Maaf jika ada kesalahpahaman. Itu bukan untuk seluruh rumah. Kau tidak akan mendapatkan seluruh rumah dengan harga segitu, itu gila jika benar! Harga itu untuk kamar kecil di rooftop."
Emily hampir tersandung mendengar penjelasan Davis. Pantas saja pemilik menerima tawarannya. Ternyata itu hanya untuk kamar kecil.
Setelah percakapan singkatnya dengan Davis berakhir, ia memastikan kembali alamat tersebut.
Ia melihat peta di ponselnya dan memastikan ia sudah tiba, tetapi ia tidak melihat rumah, hanya pohon rindang di dekat lokasi dan sebuah gerbang tinggi berwarna hijau yang tampak menyatu dengan pagar setinggi dua meter yang ditutupi tanaman rambat di depannya.
"Apakah Gmap salah? Kenapa tempat ini terlihat kosong?"
Sebelum Emily sempat menelepon Davis, suara pintu terbuka menarik perhatiannya. Ia mendongak dan melihat sebuah pintu kecil di samping gerbang besar itu terbuka, dan seorang pria mengenakan kacamata berbingkai perak serta setelan abu-abu rapi muncul.
"Nona Emily Ainsley?" pria itu menyapanya. "Kau yang ingin menyewa kamar rooftop, bukan?"
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk