NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Area yang Belum Steril

Sinar matahari sore yang keemasan menembus celah-celah pilar marmer di koridor belakang kampus yang legang. Seraphina Aeru melangkah dengan dagu terangkat, menikmati bunyi ketukan sepatu hak tingginya yang bergema ritmis. Di belakangnya, Dareen Christ mengikuti dengan langkah yang jauh lebih senyap namun terasa jauh lebih berat.

Hari ini, Sera memutuskan untuk memacu adrenalin "Babe"-nya ke tingkat yang baru. Ia telah menyetujui ajakan Jasen untuk minum kopi di The Secret Garden, sebuah kafe semi-terbuka di sudut terjauh kampus yang dikelilingi oleh tanaman merambat dan pohon-pohon willow yang rimbun—tempat favorit para mahasiswa untuk mencari privasi.

Jasen sudah menunggu di sana. Ia berdiri di samping meja bundar kecil yang telah dihiasi dengan buket mawar merah segar. Pria itu tampak sangat percaya diri dengan kemeja linen putihnya yang terbuka di bagian kerah, memperlihatkan aura pria kaya yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

"Sera, kau datang," sapa Jasen dengan senyum yang lebar. Ia melangkah maju, hendak meraih tangan Sera untuk mengecupnya.

Namun, sebelum jemari Jasen sempat menyentuh kulit porselen Sera, sebuah bayangan besar tiba-tiba menghalangi jalur geraknya. Dareen telah berdiri di antara mereka dengan wajah sedingin es.

"Maaf, Tuan Jasen. Saya harus melakukan verifikasi visual terhadap objek yang Anda bawa," ujar Dareen dengan suara bariton yang datar namun memerintah.

Sera menahan senyum di balik wajah angkuhnya. Ia melipat tangan di dada, memperhatikan bagaimana Dareen—tanpa sedikit pun ekspresi rasa bersalah—mengambil buket bunga mawar dari tangan Jasen yang tertegun.

"Apa yang kau lakukan? Itu bunga untuk Sera!" protes Jasen, suaranya naik satu oktav.

Dareen tidak membalas. Ia justru memutar-mutar buket itu di depan wajahnya, memeriksa setiap tangkai dengan ketelitian seorang penjinak bom. Ia bahkan mengeluarkan senter kecil dari saku taktisnya dan menyinari bagian dalam kelopak bunga.

"Bunga sering kali menjadi media persembunyian serangga berbahaya atau ... perangkat penyadap miniatur," jelas Dareen dengan nada yang sangat profesional, seolah-olah ia sedang membacakan manual militer. Ia kemudian mengendus bunga itu dengan tarikan napas panjang. "Aroma mawar ini terlalu tajam. Bisa jadi mengandung bahan kimia pemicu alergi yang dapat membahayakan pernapasan Nona Sera."

"Itu mawar organik, kau bodoh!" bentak Jasen, wajahnya mulai memerah karena malu.

"Mungkin bagi Anda, Tuan. Tapi bagi saya, ini adalah potensi ancaman biologis," sahut Dareen tanpa emosi. Ia mengembalikan buket itu kepada Jasen dengan gerakan kaku. "Silakan diletakkan di ujung meja yang jauh dari radius napas Nona Sera."

Sera mendudukkan diri di kursi rotan dengan anggun. "Duduklah, Jasen. Abaikan saja dia. Dia hanya melakukan tugasnya."

Jasen mencoba menenangkan diri. Ia menarik kursi untuk duduk di hadapan Sera, mencoba menciptakan kembali suasana romantis yang telah dirusak. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang dalam, berniat untuk memberikan pujian manis ke telinga Sera.

"Sera, sejujurnya, sejak pertama kali aku melihatmu di aula ...."

Ehem!

Suara deheman Dareen yang sangat keras dan disengaja memotong kalimat Jasen. Dareen kini berdiri tepat di belakang kursi Jasen, hanya berjarak beberapa senti. Pria itu sedang sibuk mengatur posisi payung kafe yang sebenarnya sudah terpasang dengan benar.

Jasen tersentak, kehilangan fokusnya. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan kesal. "Bisakah kau menjauh sedikit?"

Dareen menatap Jasen dengan pandangan kosong. "Payung ini memiliki kemiringan yang tidak stabil, Tuan. Jika angin bertiup kencang, porosnya bisa patah dan menimpa kepala Nona Sera. Saya harus memastikannya aman."

Jasen mendengus, kembali menatap Sera. Ia mencoba meraih jemari Sera di atas meja. "Seperti yang kukatakan tadi, Sera ... kecantikanmu hari ini membuatku—"

Krak!

Dareen sengaja menginjak ranting kering di bawah meja dengan keras, suaranya memecah keheningan romantis itu. Kali ini, Dareen berjongkok di samping kursi mereka, mulai memeriksa bagian bawah meja dengan sangat serius.

"Apa lagi sekarang?!" teriak Jasen, benar-benar frustrasi.

"Pemeriksaan struktur, Tuan," jawab Dareen tanpa menoleh, tangannya meraba-raba sambungan kayu meja. "Meja ini terlihat goyang. Saya tidak ingin kopi panas tumpah dan melukai kulit Nona Sera."

Sera menyesap es lattenya, matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat urat-urat di dahi Jasen mulai menonjol. Ia tahu Dareen sedang terbakar cemburu, namun pria itu memilih untuk meluapkannya melalui protokol keamanan yang absurd daripada kata-kata kasar.

Jasen mencoba mengabaikan gangguan itu untuk terakhir kalinya. Ia merapatkan kursinya ke arah Sera, hampir menyentuh lutut gadis itu. Ia merendahkan suaranya lagi, kali ini hampir berbisik di samping telinga Sera agar Dareen tidak bisa mendengar.

"Sera, abaikan saja robot itu. Besok malam, ikutlah denganku ke vila pribadi keluargaku. Di sana tidak akan ada gangguan, hanya kita berdua dan—"

"Tuan Jasen," suara Dareen terdengar sangat dekat di belakang telinga Jasen, membuat pria itu hampir meloncat dari kursinya. "Saya mohon untuk tidak berbisik. Frekuensi suara rendah yang tidak tertangkap oleh pendengaran saya diklasifikasikan sebagai 'tindakan mencurigakan'. Saya diwajibkan untuk berada dalam jarak pendengaran yang jelas setiap saat."

Jasen berdiri dengan kasar, kursinya berderit di atas lantai kayu. "Ini gila! Sera, kau lihat ini? Aku merasa sedang berkencan dengan dua orang sekaligus! Bisakah kau menyuruh anjing penjagamu ini pergi sejauh lima meter saja?!"

Sera mendongak, menatap Dareen yang kini berdiri tegak dengan tangan di depan perut, posisi siaga sempurna. "Babe—maksudku, Dareen. Bisakah kau memberi kami sedikit ruang?"

Dareen menatap mata Sera. Ada kilatan protes dan posesif yang sangat kuat di balik mata gelap itu, sebuah tatapan yang seolah berkata: 'Jangan harap aku akan membiarkan pria ini menyentuhmu.'

"Maaf, Nona Sera," jawab Dareen dengan nada bicara yang datar namun tegas. "Area kafe ini terbuka dan belum steril. Ada terlalu banyak sudut buta yang bisa dimanfaatkan oleh penembak jitu atau penyusup. Menurut protokol yang ditetapkan oleh Tuan Seldin, Anda berada dalam risiko tinggi. Saya tidak bisa menjauh melebihi radius dua meter."

"Penembak jitu?! Di tengah kampus?!" Jasen tertawa histeris, nyaris gila. "Kau benar-benar sudah tidak waras, Christ!"

"Tugas saya bukan untuk mempertanyakan kewarasan ancaman, Tuan Jasen, tapi untuk mencegahnya," balas Dareen. Ia menatap Jasen dengan tatapan yang begitu mengintimidasi hingga Jasen terpaksa mundur satu langkah. "Dan saat ini, ancaman terbesar bagi ketenangan Nona Sera adalah ... gangguan yang tidak perlu."

Jasen menatap Sera, berharap gadis itu akan membelanya, namun Sera justru terlihat sangat menikmati pertunjukan itu. Ia melihat bagaimana Dareen terus berdiri di sana, seperti dinding beton yang tak tergoyahkan, siap untuk menggagalkan setiap inci kemajuan yang dicoba oleh Jasen.

"Tahu apa? Lupakan saja!" Jasen menyambar tasnya dengan kasar. "Aku tidak bisa bicara denganmu jika ada patung bernapas ini di sampingku. Kita bicara lagi saat kau sudah menyingkirkan 'keamanan' berlebihanmu ini, Sera!"

Jasen melangkah pergi dengan langkah seribu, meninggalkan buket mawarnya yang kini terlihat menyedihkan di ujung meja.

Setelah sosok Jasen menghilang di balik pepohonan, Sera meletakkan gelasnya dan tertawa lepas. Tawanya terdengar merdu namun penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah Dareen yang masih berdiri dalam posisi siaga.

"Pemeriksaan struktur meja, Babe? Serius?" goda Sera sambil bangkit berdiri, melangkah mendekati Dareen.

Dareen melepaskan posisi siaganya. Bahunya sedikit merosot, dan napas panjang yang sedari tadi ia tahan akhirnya terlepas. "Meja itu memang goyang, Sera."

"Oh, ya? Atau kau hanya tidak suka dia membisikkan sesuatu di telingaku?" Sera meraih kerah baju Dareen, menarik pria itu mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Kau sangat posesif hari ini. Padahal kau tidak pernah bilang aku ini milikmu."

Dareen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melingkarkan tangannya yang kuat di pinggang Sera, menariknya hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Matanya yang gelap kini menatap Sera dengan intensitas yang bisa membakar apa saja.

"Aku tidak perlu mengatakannya kepada pria seperti dia," bisik Dareen, suaranya kini kembali menjadi suara pria yang mencintai Sera, bukan lagi suara robot militer. "Dia cukup melihat bagaimana aku tidak akan pernah memberinya ruang untuk menyentuhmu. Itu sudah cukup sebagai pesan."

Sera tersenyum, melingkarkan lengannya di leher Dareen. "Tapi kau membuatku malu di depan seluruh mahasiswa, Babe. Mereka akan mengira aku punya pengawal yang gila."

"Biarkan saja mereka mengira begitu," sahut Dareen sebelum menundukkan kepalanya, mencari bibir Sera. "Selama kegilaan itu membuatmu tetap aman ... dan tetap bersamaku."

Di sudut kafe yang kini benar-benar sepi, di bawah lindungan pohon willow yang rimbun, Dareen akhirnya melakukan 'pemeriksaan keamanan' yang sebenarnya—sebuah ciuman dalam yang memastikan bahwa Seraphina Aeru benar-benar masih berada dalam jangkauan kepemilikannya. Status mereka mungkin masih menjadi rahasia, namun di balik setiap protokol dan deheman kaku Dareen, Sera tahu bahwa pria ini akan menghancurkan siapa pun yang berani mencoba menggantikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!