NovelToon NovelToon
Black

Black

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Romansa / Menyembunyikan Identitas / Penyelamat
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.

Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.

Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"

Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?

----------

Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vans Dan Arthur

Malam itu, kediaman sang Menteri Pertahanan tidak lagi memancarkan wibawa kekuasaan, melainkan sebuah monumen duka yang membeku di bawah cahaya bulan yang pucat. Angin malam berhembus membawa aroma kemenyan dan sisa karangan bunga yang mulai layu, merayap di antara pilar-pilar beton tinggi yang seolah ikut memikul beban kesedihan atas hilangnya sang istri dan putri tercinta.

Di balik pagar besi dan barikade beton yang dijaga ketat oleh laras-laras panjang yang siaga, keheningan justru terasa lebih memekakkan telinga daripada deru mesin patroli. Di tengah kepungan duka yang menyesakkan itu, sesosok bayangan menyelinap, bergerak seperti asap yang membelah kegelapan tanpa meninggalkan jejak kaki di atas rumput yang basah.

Pria itu menari dalam kegelapan--- gerakannya adalah simfoni kelincahan yang mematikan, melintasi sorot lampu pencari seolah ia adalah bagian dari malam itu sendiri.

Meski tubuhnya bergerak seringan bulu, sepasang matanya menyala dengan ketajaman yang dingin—sebuah tatapan yang tidak menyisakan ruang bagi empati atau keraguan.

Di balik topeng malam, ia bukan sekadar penyusup-- ia adalah malaikat maut yang datang membawa misi tunggal, mengubah heningnya kediaman yang tengah berduka itu menjadi panggung bagi sebuah eksekusi yang tak terelakkan.

Menteri Pertahanan duduk di kursi kulitnya, menatap gelas wiski yang sudah kosong. Ruangan itu kedap suara, namun ia bisa merasakan kehadiran sesuatu.

Pria Misterius itu suaranya rendah, terdistorsi oleh modulator setipis kertas di tenggorokannya. "Jangan berbalik, Pak Menteri. Kursi itu terlalu nyaman untuk menjadi tempat Anda mati dengan terkejut."

Menteri Pertahanan membeku, tangannya mencengkeram lengan kursi."Siapa kau? Sistem keamanan di sini... tidak mungkin ada manusia yang bisa menembusnya."

Pria Misterius muncul dari kegelapan, mengenakan setelan nanofiber yang menyerap cahaya. "Keamanan tahun 2047 memang mengagumkan bagi orang-orang di zaman ini. Tapi bagiku, ini seperti mencoba menahan air dengan jaring ikan yang robek."

Suara Menteri Pertahanan bergetar antara amarah dan sisa duka. "Jika kau datang untuk hartaku, ambil saja. Aku sudah kehilangan segalanya. Istriku... putriku... dunia ini sudah tidak punya warna lagi."

Pria Misterius itu berjalan mendekat tanpa suara langkah kaki, matanya bersinar perak karena implan optik. "Aku tahu. Aku melihat pemakaman mereka. Tapi jangan mencari simpati dariku. Aku datang bukan karena duka yang kau rasakan malam ini. Aku datang karena kekosongan yang akan kau ciptakan dua puluh lima atau dua puluh enam tahun dari sekarang. "

Pria Misterius itu berhenti tepat di belakang sang Menteri, mengeluarkan sebilah pisau plasma yang bergetar pelan. "Di tahun 2072, dunia tidak mengenal malam yang tenang seperti ini. Langit terbakar karena kejahatan yang kau jalani dalam kemarahan yang buta setelah kehilangan mereka. Aku menyebutnya 'pembalasan', tapi dunia menyebutnya 'akhir'... kau tidak lebih dari seorang pembunuh masa depan. "

Suara Menteri Pertahanan bergetar. "Aku... aku tidak akan melakukan itu. Aku bukan pembunuh!"

Pria Misterius tertawa sinis "Belum. Kau belum melakukannya. Tapi benih kejahatan mu sudah tumbuh di hatimu saat ini. Aku datang dari masa depan di mana penyesalan tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas. Aku adalah gema dari dosa yang belum kau perbuat, Pak Menteri."

Pria Misterius mendekatkan bilahnya ke leher Menteri. "Istri dan putrimu meninggal karena sesuatu yang tidak kau ketahui. Namun, sebuah keluarga akan mati karena tanganmu di masa depan... dan juga, karena kebodohan mu yang mengikuti perintah pria itu. Aku di sini untuk memastikan garis waktu itu putus... tepat di sini, di tengah dukamu."

Tanpa perlu menyentuh korbannya, pria misterius itu menjerat kesadaran sang Menteri Pertahanan dalam sebuah halusinasi kejam yang begitu nyata, memaksa pria berkuasa itu menyaksikan pemandangan paling mengerikan---- dirinya sendiri, dengan tangan yang berlumuran darah, sedang merenggut nyawa keluarganya sendiri.

Di tengah kesunyian malam yang dijaga ketat, sebuah jeritan histeris pecah dari tenggorokan sang menteri—sebuah teriakan penuh kegilaan dan keputusasaan yang menandakan bahwa hukuman dari masa depan telah tiba, menghancurkan jiwa sebelum raga sempat.

Pria Misterius itu tersenyum misterius."Jangan berpaling. Lihatlah tanganmu. Di masa depan yang aku tinggalkan, tangan itulah yang menggenggam belati. Bukan musuh negara, bukan teroris, tapi kau sendiri yang mengakhiri napas istri dan putrimu demi sebuah ambisi yang bahkan belum kau mulai hari ini. Aku datang dari dari tahun 2072 hanya untuk memastikan kau merasakan siksa yang kau ciptakan sendiri."

Menteri Pertahanan menjerit histeris, mencakar udara kosong. "TIDAK! Itu bukan aku! Aku mencintai mereka! Mereka sudah pergi... mereka tewas dalam kecelakaan! Kenapa kau memperlihatkan ini padaku?"

Pria Misterius itu tersenyum tipis, matanya berkilat dingin saat dia melangkah mendekat dengan kelincahan predator. "Kehilangan yang kau rasakan sekarang hanyalah simulasi dari rasa sakit yang akan kau timbulkan nanti. Takdir adalah lingkaran yang busuk, dan aku di sini untuk memutusnya. Ruangan ini sekarang kosong, Menteri. Tidak ada pengawal yang akan datang. Hanya ada kau, dosamu, dan panas yang akan membakar jiwamu sebelum tubuhmu sempat menyentuh neraka."

Pria itu menggerakkan jemarinya, dan dari udara yang memadat, sebuah pedang dengan bilah hitam legam muncul dan jatuh berdenting di depan sang Menteri. Pria dari masa depan itu membungkuk, membisikkan kata-kata yang mematikan tepat di telinga sang pejabat.

Vans...

Dia berbisik lirih namun matanya tajam. "Aku bisa saja memenggal mu sekarang dan menyelesaikan misiku. Tapi kematian di tanganku terlalu indah untuk monster sepertimu. Aku ingin melihatmu memilih. Pakai pedang ini untuk mengakhiri kegilaanmu malam ini, atau hiduplah dalam halusinasi abadi di mana kau akan terus melihat dirimu membantai mereka berulang-ulang, setiap kali kau memejamkan mata."

Vans memberikan pilihan."Pilihan ada di tanganmu sekarang, Pak Menteri. Kematian yang cepat, atau tersiksa selamanya dalam halusinasi dosamu sendiri."

Sang Menteri menatap pedang itu. Tangan gemetarnya perlahan meraih gagang dingin tersebut. Matanya masih terpaku pada bayangan dirinya yang sedang membantai keluarganya di sudut ruangan—sebuah distorsi waktu yang tak tertahankan. Dengan satu teriakan tertahan yang pecah menjadi isak tangis, ia mengarahkan mata pedang itu ke ulu hatinya sendiri.

Jleb.

Darah menetes, membasahi marmer putih yang mahal. Sang Menteri tersungkur, napasnya memburu sebelum akhirnya sunyi. Pria misterius itu berdiri tegak, memandangi tubuh yang tak bernyawa itu dengan senyum tipis yang mengerikan.

"Masa depan... sudah diperbaiki."

Vans tersenyum tipis, sebuah ekspresi kepuasan yang dingin. Namun, sebuah desiran angin tajam berhembus di belakang tengkuknya. Sebuah kehadiran yang sangat ia kenali muncul dari kegelapan.

"Kau selalu punya selera yang dramatis, bukan? Kau mendahuluiku, Adek."

Vans tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit saat Arthur melangkah keluar dari balik tirai yang tertiup angin.

Vans tersenyum kecil. "Kau terlalu lambat untuk menghukum mereka, Kakak. Jika aku menunggumu, dunia di tahun 2072 mungkin sudah menjadi abu sebelum kita sempat kembali."

Arthur melangkah mendekat, matanya menatap dingin tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.  "Hukuman harusnya diberikan dengan presisi, bukan dengan amarah yang meluap seperti ini. Lihat dia... dia mati tanpa tahu siapa kita sebenarnya."

"Dia tidak perlu tahu siapa kita. Dia hanya perlu tahu bahwa dosanya telah mengejarnya melampaui waktu."

Di tengah genangan darah sang Menteri, kedua saudara dari masa depan itu berdiri tegak. Di luar sana, sejarah baru saja ditulis ulang. Seseorang yang seharusnya masih hidup dalam kemenangan di masa depan, kini hanyalah mayat di masa lalu.

Sekali lagi.. Takdir kehidupan telah berubah.

BERSAMBUNG

1
gaby
Ntar kalo Elvira pny anak jgn dikasih nama Elvis y thor, makin puyeng
gaby
Namanya agak bikin bingung, beberapa mirip, Elmira, elvira, Eveleyn. Ga ada nama lain apa, bikin puyeng
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Mantap crazyup nya thor. Smangat👍👍
gaby
Bukannya anak Rodrigo dah mati di bunuh Elvira di toilet mall. Tp ko Vania msh hdp?? Kan vania anak Rodrigo
ROGUES POINEX: Yang di bunuh Elvira anak dan Istri dari Menteri Pertahanan
total 2 replies
gaby
Msh misteri, kebahagiaan siapa yg akan mreka hancurkan?? Karena yg kliatan lg bahagia cm Sky & Evelyn. Apa mreka mau menghancurkan kebahagiaan ortu mreka sendiri??
gaby
Kayanya critanya lbh seru dr kisah Angel & Langit di Judul sebelumnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!