NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA BULAN UNTUK SEORANG AYAH

Pagi itu, butiran embun masih menempel di dedaunan halaman rumah saat langit masih berwarna abu-abu keunguan. Bagas sudah berdiri di ruang tamu, menggendong Kanaya yang terbungkus selimut tebal. Suasana rumah sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu keberangkatannya. Ia sengaja bangun sebelum fajar menyingsing, menghindari konfrontasi dengan Mbak Maya yang pastinya akan menyulut pertengkaran lagi jika melihatnya masih ada di sana.

Ibunya sudah menunggu di dekat pintu dapur dengan mata sembab, sementara ayahnya berdiri di ambang pintu kamar, mengenakan sarung dan kaos dalam, memperhatikan putra tunggalnya itu dengan raut wajah yang sulit dibaca.

"Bagas pamit sekarang, Bu, Pa," bisik Bagas pelan, takut suaranya akan membangunkan seisi rumah. Ia mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Uang dari Bapak sudah Bagas simpan. Terima kasih... terima kasih untuk semuanya."

Ibunya memeluk Bagas dan Kanaya sekaligus, tangisnya pecah tanpa suara. "Hati-hati di jalan, Gas. Jaga anakmu baik-baik. Kalau sudah sampai di rumah Anto, langsung kabari Ibu lewat telepon tetangga atau wartel," pesan ibunya dengan suara bergetar.

Bagas kemudian beralih menatap ayahnya. Pria tua itu tidak mendekat, tetap menjaga jarak seolah dinding harga diri masih berdiri kokoh di antara mereka. Namun, saat Bagas menunduk untuk berpamitan, ayahnya hanya berdehem pelan dan berkata dengan suara berat, "Jangan jadi pengecut lagi. Masalah itu dihadapi, bukan ditinggalkan. Pergilah sebelum Mbakmu bangun."

Bagas mengangguk mantap. Ia tahu, di balik kata-kata dingin itu, ayahnya telah memberikan restu yang selama lima tahun ini ia sia-siakan.

Dengan langkah yang lebih ringan namun tetap waspada, Bagas keluar dari pintu samping. Ia menyusuri jalanan komplek yang masih sepi, merasakan udara pagi yang menusuk kulit. Kanaya menggeliat kecil dalam dekapannya, namun tidak menangis. Seolah-olah bayi mungil itu mengerti bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.

Sambil melangkah menuju terminal untuk mencari bus jurusan Tegal, Bagas menoleh ke belakang sekali lagi ke arah rumah masa kecilnya. Kali ini, ia pergi bukan untuk memutus hubungan, melainkan untuk membangun kembali martabatnya yang telah hancur. "Kita akan kembali, Kanaya. Ayah janji," bisiknya pada angin pagi.

Bagas tiba di terminal saat matahari mulai naik, membawa hawa panas yang mulai menyengat di antara deru mesin bus dan asap knalpot. Ia segera mencari papan bertuliskan "Wartel" di sudut terminal. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia memutar nomor kantor kakaknya.

Anto adalah sosok yang sangat berbeda dari Mbak Maya. Jika Mbak Maya adalah seorang guru dengan prinsip kaku yang mendidik lewat ketegasan, Anto adalah seorang manajer bank daerah yang terbiasa bersikap tenang dan taktis. Ia adalah penengah di keluarga mereka, sosok yang paling logis namun tetap memiliki empati tinggi.

"Halo, Mas Anto?" ucap Bagas pelan saat sambungan telepon terhubung.

"Bagas? Ini kamu?" suara Anto terdengar tenang namun ada nada kelegaan di sana. "Ibu sudah telepon tadi subuh. Kamu sudah di terminal?"

"Iya, Mas. Aku sama Kanaya. Aku... aku bingung harus ke mana kalau Mas nggak bantu."

"Tenang, Gas. Kamu jangan ke mana-mana. Terminal itu nggak aman buat bayi," ucap Anto dengan nada otoritasnya sebagai seorang manajer. "Di dekat pintu keluar ada rumah makan yang agak bersih, tunggu di sana. Aku ke sana sekarang, tunggu di tempat yang nyaman. Kita bicara setelah aku sampai."

Bagas menutup telepon, sedikit merasa lega. Ia membawa Kanaya ke rumah makan yang dimaksud, memesan segelas teh hangat—bukan untuknya, tapi hanya agar ia punya alasan untuk duduk di sana tanpa diusir. Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna perak berhenti di depan rumah makan. Sosok pria dengan kemeja rapi dan tas kerja keluar dari mobil—itu Anto. Penampilannya sangat kontras dengan Bagas yang masih memakai kemeja kusam sisa kemarin.

Anto melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada Bagas yang tampak sangat lelah, lalu beralih ke wajah Kanaya yang sedang memainkan jemari ayahnya.

"Sudah makan?" tanya Anto singkat, ia tidak memarahi, tidak juga menghakimi. Ia langsung duduk di depan Bagas dan mengelus kepala Kanaya. "Cantik sekali anakmu, Gas. Mirip kamu waktu kecil."

Bagas menunduk, nyaris ingin menangis lagi. "Maaf, Mas. Aku malah merepotkan Mas Anto."

Anto menggeleng. "Di keluarga ini, ada yang tugasnya menegur seperti Maya, ada yang tugasnya mendoakan seperti Ibu. Dan tugasku sekarang adalah memastikan keponakanku ini punya tempat tidur yang layak. Kita ke rumahku sekarang. Istriku sudah siapkan kamar buat Kanaya. Kamu bisa istirahat sehari, besok baru kita bicara soal ijazah perhotelanmu itu. Aku punya beberapa kenalan pemilik hotel di sini, tapi kamu harus mulai dari bawah. Gimana? Sanggup?"

Bagas menatap kakaknya dengan mata berbinar. "Apa saja, Mas. Jadi bellboy atau tukang cuci piring pun aku sanggup, asal Kanaya bisa sekolah nanti."

Mobil sedan perak itu meluncur membelah jalanan Tegal yang mulai ramai, membawa Bagas menuju sebuah perumahan yang asri dan tenang. Begitu mobil memasuki halaman rumah Mas Anto yang luas, Bagas bisa melihat pemandangan yang seketika menghangatkan hatinya. Di depan pintu utama yang terbuka lebar, tiga orang anak kecil sudah berdiri dengan wajah penuh antusias, melompat-lompat kecil seolah sedang menunggu kedatangan tamu agung.

Icha, putri sulung Mas Anto yang berusia enam tahun, berdiri paling depan dengan senyum lebar, sementara di sampingnya, si kembar Arda dan Ardi yang berusia empat tahun tampak tidak sabar. Begitu Bagas turun dari mobil sambil mendekap Kanaya yang baru saja terbangun, ketiga anak itu langsung berlari menghambur ke arah mereka, mengelilingi Bagas dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Hore! Rumah kita ada bayi! Horeee!" seru si kembar Arda dan Ardi hampir bersamaan sambil bertepuk tangan kegirangan. Suara cempreng mereka memecah keheningan siang itu, membuat Kanaya mengerjapkan matanya, tampak bingung namun tidak takut melihat kakak-kakak sepupunya yang begitu bersemangat.

"Om Bagas, bayinya namanya siapa? Boleh Icha pegang tangannya?" tanya Icha dengan nada bicara yang sudah lebih dewasa, matanya berbinar menatap pipi gembul Kanaya.

Dari ambang pintu, Mbak Susan, istri Mas Anto, berjalan menghampiri dengan langkah anggun namun penuh keramahan. Ia tidak menatap Bagas dengan tatapan menghakimi seperti Mbak Maya; sebaliknya, senyumnya begitu tulus seolah ia sudah lama menantikan kehadiran mereka. Ia melihat betapa kaku dan gemetarnya lengan Bagas yang sudah terlalu lama menggendong beban—baik beban fisik maupun beban hidup.

"Sini, Gas, biar Mbak yang gendong. Kamu pasti capek sekali," ucap Mbak Susan lembut sambil mengulurkan tangannya dengan posisi yang sudah siap menerima bayi. "Ayo masuk dulu, anak-anak ini sudah heboh dari tadi pagi semenjak bapaknya bilang Om Bagas mau datang bawa adik bayi."

Bagas perlahan menyerahkan Kanaya ke pelukan Mbak Susan. "Maaf ya, Mbak, jadi merepotkan keluarga Mas Anto. Kanaya tadi agak rewel di jalan," bisik Bagas merasa sungkan.

Mbak Susan tertawa kecil sambil menimang Kanaya yang langsung terdiam nyaman di pelukannya. "Merepotkan apa toh, Gas? Rumah ini malah jadi ramai. Lihat itu si kembar, sudah siap mau kasih mainan robot-robotan mereka ke Kanaya. Kamu masuk ya, langsung mandi, terus makan siang. Mbak sudah masak gudeg kesukaan kamu."

Mas Anto merangkul bahu adiknya, menepuknya pelan. "Sudah, jangan dipikirkan soal sungkan. Di sini kamu itu adik, bukan tamu. Ayo masuk, anak-anak... jangan lari-lari, nanti adik bayinya kaget!"

Bagas melangkah masuk ke dalam rumah yang bersih dan harum itu, merasakan kedamaian yang sudah sangat lama hilang dari hidupnya. Melihat Kanaya yang kini dikelilingi oleh Icha dan si kembar yang berebut ingin memperlihatkan boneka, Bagas menyadari bahwa keputusannya untuk menelan rasa malu dan pulang adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan untuk putrinya. Di sini, di tengah hiruk pikuk suara tawa anak-anak Mas Anto, ia merasa memiliki harapan lagi untuk membangun masa depan yang lebih layak.

Malam itu, suasana rumah Mas Anto terasa begitu hidup. Di atas karpet tebal di ruang tengah, Icha, Arda, dan Ardi tampak sibuk memperlihatkan mainan mereka kepada Kanaya yang duduk di antara tumpukan bantal. Gelak tawa anak-anak itu menjadi latar suara yang kontras dengan keheningan di meja makan, tempat Bagas duduk bersama Mas Anto dan Mbak Susan. Bagas sudah terlihat jauh lebih segar setelah mandi dan berganti pakaian pinjaman dari kakaknya, namun guratan beban di keningnya belum sepenuhnya hilang.

Mas Anto menyesap kopinya perlahan, matanya memperhatikan Kanaya sejenak sebelum beralih menatap adiknya dengan serius. "Jadi, apa rencanamu sekarang, Gas? Tadi aku sudah cek beberapa relasi, ada hotel bintang tiga di pusat kota yang butuh tenaga di bagian operasional. Tapi, jadwalnya pasti padat dan kamu bakal sulit kalau harus jaga anak sendirian," ucap Anto membuka pembicaraan.

Bagas terdiam, jemarinya memainkan pinggiran gelas. Ia menoleh ke arah Kanaya yang sedang tertawa kecil saat Arda berpura-pura menjadi robot. Belum sempat Bagas menjawab, Mbak Susan menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Ia menatap Bagas dengan pandangan seorang ibu yang penuh empati.

"Gas, Mbak dan Mas Anto sudah membicarakan ini tadi sore," ucap Susan lembut namun tegas. "Kalau kamu tidak keberatan, biarlah Kanaya tinggal di sini dulu. Kami tulus, Gas. Kalau kamu setuju, kami tidak keberatan menjadi orang tua asuhnya, atau bahkan kalau kamu mau kami mengadopsinya secara resmi agar statusnya jelas dan masa depannya terjamin, kami ikhlas melakukannya."

Bagas tersentak. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak sesaat. Tawaran itu adalah sebuah jaminan hidup mewah dan aman bagi Kanaya. Di sini, Kanaya akan punya ayah seorang manajer bank, ibu yang penyayang, dan saudara-saudara yang menjaganya. Kanaya tidak akan pernah merasakan lapar atau menghirup asap rokok di gang sempit lagi. Namun, kata "adopsi" terasa begitu tajam menghujam harga dirinya sebagai seorang ayah.

"Mbak... Mas..." suara Bagas tertahan di tenggorokan. Ia menatap wajah polos putrinya dari kejauhan. "Aku tahu aku ini gagal. Aku tahu Kanaya akan jauh lebih bahagia dan berkecukupan kalau jadi anak kalian. Tapi..." Bagas menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi. "Dia satu-satunya yang aku punya. Dia yang bikin aku kuat jalan lima belas kilo kemarin. Dia alasan aku masih mau hidup."

Anto menepuk tangan Bagas dengan hangat. "Jangan salah paham, Gas. Kami tidak bermaksud merebut dia darimu. Kami cuma ingin kamu fokus berjuang tanpa harus kepikiran siapa yang jagain dia di rumah saat kamu kerja shift malam. Kalau diadopsi pun, kamu tetap ayahnya. Kami cuma ingin memberikan 'benteng' yang lebih kuat untuk dia."

Bagas menyeka air matanya, ia melihat ke arah anak-anak yang masih asyik bermain. "Boleh aku minta waktu untuk membuktikannya, Mas? Kasih aku waktu tiga bulan. Biarkan Kanaya di sini sebagai keponakan yang kalian asuh sementara. Aku akan kerja keras, apa pun posisinya. Kalau dalam tiga bulan aku masih gagal dan nggak bisa kasih tempat tinggal yang layak buat dia, aku sendiri yang akan serahkan surat adopsinya ke kalian. Aku cuma mau coba jadi ayah yang benar dulu, sekali saja."

Mbak Susan tersenyum haru sambil mengangguk. "Tiga bulan, Gas. Mbak pegang janjimu. Fokuslah cari kerja, urusan susu, popok, dan kasih sayang di rumah ini, biar kami yang tanggung. Kanaya sudah seperti anak keempat buat Mbak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!