NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Itu Adalah Ijazahnya

Aroma vanilla dan citrus dari Wijayakusuma yang mekar itu masih menggantung berat di udara Bangsal Manis.

Harumnya begitu dominan, seolah menjajah indra penciuman setiap bangsawan yang hadir, memaksa mereka tunduk pada "keajaiban sains" yang baru saja terjadi.

Sri Sultan Prabu Wirabhumi I belum kembali duduk. Beliau masih berdiri di samping meja persembahan, menatap bunga putih raksasa itu seakan sedang menatap masa depan Keraton Yogyakarta sendiri.

"Mekar di tengah hari..." gumam Sultan sekali lagi, suaranya berat dan bergema.

Beliau memutar tubuhnya perlahan, menghadap ke arah barisan kursi tempat para Sentana Dalem, kerabat raja duduk.

Jubah sutra emas yang beliau kenakan berkilau tertimpa bias matahari siang.

"Selama ini, kita mengurung diri dalam cangkang tradisi yang kaku. Kita takut pada matahari. Kita takut pada perubahan. Kita seperti Wijayakusuma ini sebelum disentuh tangan Nimas Sekar... hanya hidup di kegelapan."

GKR Dhaning duduk tegak di kursinya. Posturnya sempurna, dagunya terangkat angkuh, namun Sekar bisa melihat detail mikroskopis yang luput dari mata orang awam.

Analisis Visual:

Urat nadi di leher Dhaning berdenyut lebih cepat, sekitar 110 bpm.

Otot masseter di rahangnya menegang ritmis. Dia sedang menggemeretakkan gigi.

Pupil matanya mengecil, tanda fokus visual tajam yang dipicu oleh lonjakan adrenalin dan kortisol.

Dhaning sedang marah besar. Marah yang ditahan di balik topeng tata krama keraton yang dingin.

"Romo," sela Dhaning halus, namun nadanya setajam silet.

Dia berdiri, merapikan wiru kain batiknya dengan gerakan lambat yang disengaja.

"Keajaiban ini memang... menghibur. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Nimas Sekar hanyalah orang luar. Seorang pedagang desa yang kebetulan memiliki bakat berkebun. Jangan sampai kita berlebihan menafsirkan fenomena botani ini sebagai wahyu keprabon."

Kalimat itu cerdas. Dhaning berusaha mendegradasi pencapaian Sekar dari "Inovasi Bioteknologi" menjadi sekadar "Bakat Berkebun".

Dia ingin mengecilkan skala kemenangan Sekar.

Sekar tetap diam dalam posisi bersimpuh.

Dia tidak perlu membela diri. Hasil kerjanya sudah bicara lebih keras daripada debat kusir.

Sultan tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Beliau menatap putri sulungnya itu dengan sorot mata yang sulit dibaca.

"Pedagang desa, katamu, Dhaning?"

"Leres, Romo. Dia tidak memiliki darah biru, tidak mengerti unggah-ungguh politik keraton. Tempatnya adalah di pasar, bukan di pendopo agung ini," serang Dhaning lagi, kali ini lebih terbuka.

Sultan mengangguk pelan, seolah setuju. Namun kemudian, beliau berjalan mendekati Sekar.

"Nimas Sekar Ayu."

"Dalem, Sinuhun," jawab Sekar tenang.

"Berdiri."

Perintah itu membuat seisi ruangan menahan napas.

Seorang rakyat jelata diminta berdiri sejajar dengan Sultan di tengah balairung resmi adalah pelanggaran protokol, kecuali Sultan sendiri yang menghendakinya.

Sekar bangkit perlahan.

Gerakannya efisien, tanpa keraguan sedikitpun. Dia berdiri tegak, menatap dagu Sultan sebagai tanda hormat, namun tidak menunduk ketakutan.

"Kau berhasil menghidupkan tanaman yang sudah punah," kata Sultan, suaranya lantang agar terdengar hingga ke sudut ruangan.

"Kau berhasil memaksa bunga malam mekar di siang hari. Kau mengubah limbah kepompong menjadi benang emas. Kau membuat lahan tandus Gunung Kidul menghasilkan devisa."

Sultan jeda sejenak, membiarkan fakta-fakta itu meresap ke benak para hadirin.

"Itu bukan sekadar 'bakat berkebun', Dhaning," lanjut Sultan, menoleh tajam ke arah putrinya.

"Itu adalah Ekonomi Kreatif. Itu adalah inovasi. Dan itulah yang dibutuhkan Yogyakarta saat ini untuk bertahan dari gempuran zaman."

Wajah Dhaning memerah padam, seolah baru saja ditampar di depan umum.

Sultan kembali menatap Sekar.

"Keraton ini butuh darah segar. Darah yang tidak takut pada mikroskop dan tabung reaksi. Darah yang berani kotor dengan tanah, tapi menghasilkan emas."

Sultan memberi isyarat pada ajudan pribadinya.

Seorang abdi dalem bergeser maju, membawa sebuah nampan beludru merah. Di atasnya, tergeletak sebuah pin emas berbentuk lambang Keraton Yogyakarta, dengan ornamen padi dan kapas melingkar di bawahnya.

Jantung Sekar berdegup kencang. Secara biologis, ini adalah respons fight or flight.

Namun secara logis, dia tahu ini adalah momen transaksi terbesar dalam hidup keduanya.

"Mulai hari ini," titah Sultan, mengambil pin itu.

"Saya mengangkatmu, Sekar Ayu Prameswari, sebagai Penasihat Muda Bidang Ekonomi Kreatif dan Pengembangan Agrikultur Keraton."

Hening.

Kesunyian yang memekakkan telinga.

Bahkan Pangeran Arya, yang sejak tadi berdiri diam di sudut, terbelalak kaget.

Dia menduga ayahnya akan memberi hadiah tanah atau uang, bukan jabatan strategis di pemerintahan.

"Romo!" pekik Dhaning, melupakan tata kramanya sejenak.

"Ini gila! Dia tidak punya kualifikasi akademis! Dia hanya lulusan SMA desa! Bagaimana bisa dia duduk di Dewan Ekonomi bersama para profesor dan bangsawan?!"

"Kualifikasi?" Sultan terkekeh pelan, lalu menunjuk Wijayakusuma yang mekar itu.

"Bunga itu adalah ijazahnya, Dhaning. Adakah di antara profesor lulusan luar negeri di dewanmu yang bisa melakukan ini?"

Dhaning terbungkam.

Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Argumennya patah oleh bukti fisik yang tak terbantahkan.

Sultan menyematkan pin emas itu ke kebaya kutubaru Sekar, tepat di dada kiri, di atas jantungnya.

"Tugasmu berat, Nduk," bisik Sultan, hanya bisa didengar oleh Sekar.

"Kau akan menghadapi dinosaurus-dinosaurus tua yang tidak suka perubahan. Kau akan menghadapi ular berbisa yang tersenyum manis."

Mata Sultan melirik sekilas ke arah Dhaning dan Dr. Setyo.

"Gunakan otak jeniusmu itu. Jangan biarkan mereka memakanmu hidup-hidup. Jadikan Keraton ini mandiri secara ekonomi, agar kita tidak perlu lagi mengemis pada investor asing yang ingin mengeruk tanah kita."

Sekar merasakan berat fisik dari pin emas itu. Tapi lebih dari itu, dia merasakan beratnya beban politik yang baru saja diletakkan di pundaknya.

Ini bukan lagi soal jualan kosmetik atau melon. Ini soal kedaulatan pangan dan ekonomi satu provinsi.

Sekar menatap mata Sultan, lalu mengangguk tegas.

"Sendiko dawuh, Sinuhun. Saya terima amanat ini. Saya akan membuktikan bahwa sains dan tradisi bisa berjalan beriringan."

"Bagus," Sultan menepuk bahu Sekar.

"Sekarang, bubar. Aku ingin menikmati teh sore sambil memandangi bunga ini."

Pertemuan bubar dengan suasana canggung yang kental.

Para sesepuh keraton dan pejabat teras berjalan keluar sambil berbisik-bisik, melirik Sekar dengan tatapan campur aduk: kagum, iri, dan takut.

Sekar berjalan keluar menuju pelataran Bangsal Kencono.

Udara di luar terasa panas menyengat, kontras dengan dinginnya AC di dalam ruangan tadi.

"Kau sadar apa yang baru saja terjadi?"

Suara bariton Arya menghentikan langkah Sekar.

Pangeran itu berdiri di bawah naungan pohon sawo kecik.

Wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan euforia, melainkan kekhawatiran yang mendalam.

Sekar menoleh, jarinya menyentuh pin emas di dadanya.

"Saya baru saja mendapatkan promosi kerja, Gusti Pangeran?" jawab Sekar ringan, berusaha mencairkan ketegangan.

"Kau baru saja dilukis target di punggungmu, Sekar," desis Arya, melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut satu lengan.

"Kakakku, Dhaning... dia tidak pernah kalah. Dan hari ini, kau mempermalukannya di depan seluruh elit keraton. Dia tidak akan lagi menganggapmu sebagai 'gadis desa yang dekat dengan adiknya'. Dia akan menganggapmu sebagai musuh politik."

Sekar tersenyum tipis. Sisi Professor Sekar-nya mengambil alih.

Dia teringat pada prinsip dasar ekologi: Dalam sebuah ekosistem yang seimbang, ketika spesies invasif baru masuk dan mendominasi sumber daya, predator puncak lama akan bereaksi agresif.

Itu hukum alam. Dan Sekar sudah siap.

"Saya tahu, Gusti," jawab Sekar tenang. Matanya menatap lurus ke manik mata Arya yang hitam pekat.

"Tapi saya bukan lagi kancil yang bisa diinjak gajah. Dengan pin ini, saya memiliki akses legal. Saya punya wewenang untuk mengatur kebijakan dagang, membuka gudang logistik, bahkan memveto keputusan Asosiasi Sutra yang memblokir saya kemarin."

Sekar mengambil langkah maju, menantang kekhawatiran Arya.

"Gusti Ratu Dhaning boleh punya koneksi dan darah biru. Tapi saya punya data. Saya punya teknologi. Dan sekarang... saya punya stempel Sultan."

Arya tertegun melihat transformasi di hadapannya.

Gadis desa yang polos dan canggung dulu kini lenyap. Di depannya kini berdiri seorang wanita karir yang dingin, kalkulatif, dan berbahaya.

Dan entah kenapa... itu membuat jantung Arya berdetak lebih kencang.

"Kau bermain api, Sekar," bisik Arya, nada suaranya melembut.

"Api diperlukan untuk mensterilkan alat bedah, Gusti," balas Sekar logis.

Sebelum Arya sempat membalas, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan mereka. Kaca jendela belakang turun perlahan.

GKR Dhaning duduk di dalamnya. Wajahnya sudah kembali tenang, tanpa ekspresi, seperti boneka porselen yang retak.

Dia tidak menatap Arya. Dia menatap lurus ke arah Sekar.

"Selamat atas jabatan barunya, Ibu Penasihat," ucap Dhaning. Suaranya datar, tanpa intonasi.

"Terima kasih, Gusti Ratu," jawab Sekar sopan.

"Nikmati kemenangan kecil ini," lanjut Dhaning. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum yang mengerikan.

"Karena di dunia politik, bunga yang mekar paling cepat... biasanya layu paling dulu."

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!