NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 DARAH PERTAMA DI TANAH UTARA

Hari ketujuh, Chen Long dipanggil kembali ke ruang bawah tanah.

Kali ini, tidak ada formasi.

Hanya rantai besi hitam yang menggantung dari langit-langit, dingin dan berat.

“Metode ini tidak diajarkan di akademi,” kata Chen Hao.

“Tidak diwariskan pada pangeran. Dan tidak pernah digunakan pada anak-anak.”

Chen Long menelan ludah.

“Apa itu, Ayah?”

“Metode medan perang,” jawabnya singkat.

“Tubuhmu tidak mau membuka nadi karena terlalu padat dan terlalu takut mengingat rasa sakit.”

Ia melangkah mendekat.

“Maka kita akan mengajarinya bahwa rasa sakit bukan ancaman.”

Rantai itu melilit tubuh Chen Long—tidak mengikat, namun menekan titik-titik tertentu di lengan, kaki, dan punggungnya. Setiap tarikan napas terasa seperti menahan beban batu.

“Kau tidak akan membuka nadi,” lanjut Chen Hao.

“Kau hanya akan bertahan.”

Waktu berlalu.

Menit menjadi jam.

Keringat mengalir, lalu mengering, lalu mengalir lagi. Tubuh Chen Long gemetar, namun ia tidak menjerit. Bekas luka lama di punggungnya berdenyut—trauma lama dipaksa muncul ke permukaan.

Bayangan iblis itu kembali.

Taring.

Cakar.

Senyum.

Namun kali ini… Chen Long tidak lari.

Ia bertahan.

Saat matahari terbenam, rantai dilepaskan.

Chen Long jatuh berlutut, napasnya kasar, namun—

denyut di dadanya stabil.

Tidak ada nadi terbuka.

Tidak ada Qi mengalir.

Namun tubuhnya… menguat.

Chen Hao menatapnya lama.

“Kegagalan hari ini,” katanya akhirnya,

“adalah alasan kau akan hidup lebih lama dari mereka yang berhasil terlalu cepat.”

Kalimat itu menjadi hukum pertama dalam hidup Chen Long.

Anak yang Tidak Tumbuh Bersama Waktu

Usia sembilan tahun seharusnya menjadi awal masa bermain.

Namun di Benteng Utara, Chen Long belajar satu hal lebih dulu—bahwa waktu tidak memperlakukan semua anak dengan adil.

Tubuhnya pulih dari kegagalan Pembuka Nadi, tetapi tidak pernah kembali ke keadaan semula. Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh dinding benteng, ia sudah bangun. Nafasnya teratur. Denyut jantungnya stabil. Tidak cepat, tidak lambat—seperti alat perang yang disetel dengan presisi.

Efek samping kegagalan itu menetap.

Jika ia berlari terlalu lama, darahnya terasa mendidih.

Jika ia duduk terlalu lama, tubuhnya terasa dingin hingga ke tulang.

Tabib istana akhirnya menyerah memberi penjelasan.

“Tubuh Yang terlalu dominan,” kata mereka.

“Namun ada sesuatu… menahannya.”

Chen Hao tidak pernah meminta penjelasan lebih jauh.

Ia hanya mengubah metode.

Lapangan latihan timur diubah khusus.

Tidak ada senjata tajam.

Tidak ada Qi.

Tidak ada teknik.

Hanya beban.

Balok besi ditanam di tanah. Tali baja melilit bahu Chen Long. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menyeret gunung kecil.

“Berjalan,” perintah Chen Hao.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada dorongan.

Jika Chen Long jatuh, ia bangun sendiri.

Jika ia pingsan, latihan dihentikan hari itu—namun dilanjutkan keesokan paginya tanpa keringanan.

Dalam setahun, tubuh Chen Long berubah.

Ia tidak tinggi untuk usianya.

Namun padat.

Setiap ototnya terbentuk tanpa pembesaran berlebihan. Setiap sendinya kuat namun lentur. Bekas luka lama di punggungnya tidak pernah hilang—ia menjadi semacam penanda, bukan cacat.

Namun perubahan terbesar bukan pada tubuhnya.

Melainkan pada jarak.

Anak-anak bangsawan lain berhenti mengajaknya bermain.

Bukan karena ia kasar.

Bukan karena ia sombong.

Melainkan karena… ia berbeda.

Tatapan Chen Long terlalu tenang.

Gerakannya terlalu terkendali.

Saat anak-anak lain tertawa, Chen Long mengamati. Saat mereka takut, Chen Long sudah bersiap. Ia tidak pernah ikut bertarung kecil, tidak pernah berebut mainan. Seolah dunia sosial anak-anak itu adalah bahasa yang tidak ia pelajari.

“Dia menyeramkan,” bisik seseorang.

Chen Long mendengarnya.

Dan ia tidak menyangkal.

Usia sepuluh tahun, Chen Hao menambahkan satu hal lagi.

Ruang isolasi.

Sebuah ruangan batu sempit di bawah menara utara. Tidak gelap sepenuhnya, tidak terang sepenuhnya. Waktu di sana terasa kabur.

“Duduk,” perintah Chen Hao pada hari pertama.

“Tarik napas. Jangan memikirkan apa pun.”

Chen Long duduk.

Jam berlalu.

Hari berlalu.

Tidak ada Qi untuk diserap.

Tidak ada nadi untuk dibuka.

Namun tubuhnya belajar diam.

Setiap kali trauma lama muncul—bayangan iblis, rasa panas, rasa dingin—Chen Long tidak melawan. Ia membiarkannya datang, lalu pergi.

Sedikit demi sedikit, sesuatu berubah.

Bukan terobosan.

Melainkan kontrol.

Suatu malam, Zhia Xining diam-diam mengunjungi ruang isolasi.

Ia berdiri di balik pintu batu, merasakan denyut Yin di tubuh putranya—tenang, stabil, tidak liar.

“(Dia bertahan terlalu keras,)” bisiknya pelan.

Chen Hao berdiri di sampingnya.

“(Jika dia runtuh sekarang,)” jawabnya,

“(Dia akan mati nanti.)”

Zhia Xining memejamkan mata.

Ia tahu itu benar.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

Usia sebelas tahun, Chen Long akhirnya diizinkan kembali ke lapangan umum.

Para prajurit yang melihatnya terdiam.

Tidak ada Qi yang terasa.

Tidak ada aura.

Namun setiap langkah Chen Long membuat tanah bergetar sangat ringan, seolah dunia mengakuinya tanpa sadar.

Seorang kapten berbisik,

“(Dia… belum membuka nadi?)”

Chen Hao menjawab tanpa menoleh,

“Belum.”

“Lalu kenapa tekanannya seperti—”

“Karena tubuhnya,” potong sang Raja.

“Sudah berhenti bertanya kapan harus kuat.”

Chen Long berdiri di tengah lapangan.

Sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kesepian.

Karena ia tahu—

jalan yang ia tempuh memang tidak dibuat untuk dilalui bersama.

Usia sebelas tahun adalah usia ketika sebagian anak mulai memegang pedang kayu.

Bagi Chen Long, itu adalah usia ketika ia pertama kali diberi pilihan untuk membunuh.

Perintah itu datang tanpa upacara.

“Siapkan dia,” kata Chen Hao.

“Tugas pengintaian. Zona abu-abu. Tanpa jaminan kembali.”

Para perwira terdiam.

Zona abu-abu adalah wilayah di luar tembok Benteng Utara—tanah yang tidak sepenuhnya dikuasai manusia, namun belum jatuh ke tangan iblis. Tempat di mana kesalahan kecil berujung kematian.

“Dia belum membuka nadi,” ujar seorang kapten dengan ragu.

“Justru itu,” jawab Chen Hao datar.

“Jika dia mati di sana, berarti jalannya memang berhenti di sini.”

Tidak ada yang membantah lagi.

Malam itu, Chen Long mengenakan baju perang ringan. Tidak ada lambang kerajaan. Tidak ada tanda pangeran.

Hanya kain hitam, pelindung lengan, dan pisau pendek—senjata paling jujur di medan perang.

Seorang prajurit veteran bernama Gu Shan ditunjuk sebagai pendamping. Ia tidak banyak bicara. Tatapannya memandang Chen Long bukan sebagai anak, melainkan beban yang harus dijaga… atau ditinggalkan.

“Jika kau melambat,” katanya singkat,

“aku tidak akan menunggumu.”

Chen Long mengangguk.

Mereka keluar benteng saat kabut turun.

Zona abu-abu tidak sunyi.

Ia menunggu.

Setiap langkah terasa diawasi. Tanah beku memantulkan suara terlalu jelas. Chen Long menahan napas, mengikuti irama Gu Shan—tiga langkah, berhenti, dengarkan.

Trauma lama bergetar di punggungnya.

Bekas luka itu panas.

“(Berhenti,)” bisik Gu Shan.

Di depan mereka, bayangan bergerak di balik batu.

Bukan iblis tingkat tinggi.

Makhluk itu kurus, bertaring, dengan kulit keabu-abuan. Matanya merah kusam. Iblis pengintai—cukup lemah untuk dibunuh, cukup kuat untuk membunuh anak.

Gu Shan mengangkat pedangnya.

Chen Long bergerak lebih dulu.

Bukan karena berani.

Melainkan karena tubuhnya mengenali pola.

Ia meluncur ke samping, memanfaatkan berat badannya yang padat. Pisau pendek berkilat—menusuk, lalu ditarik tanpa ragu.

Hangat.

Basah.

Iblis itu terhuyung, mencakar udara.

Chen Long berdiri sangat dekat. Ia bisa mencium bau busuk darah iblis. Tangannya gemetar—bukan karena takut, melainkan karena sesuatu di dalam darahnya bergetar menjawab.

Ia menatap mata makhluk itu.

Dan teringat senyum iblis dua tahun lalu.

Pisau itu turun sekali lagi.

Kali ini ke leher.

Kepala makhluk itu jatuh ke tanah.

Sunyi.

Gu Shan menatapnya lama.

“Kau… sudah membunuh sebelumnya?” tanyanya pelan.

Chen Long menggeleng.

“Tidak,” jawabnya.

“Ini yang pertama.”

Mereka tidak kembali langsung.

Misi berlanjut hingga fajar—mengamati, mencatat, menandai wilayah. Chen Long tidak lagi gemetar. Gerakannya semakin efisien. Setiap suara asing langsung dianalisis, bukan ditakuti.

Namun efek samping datang saat mereka kembali ke benteng.

Di gerbang, Chen Long tiba-tiba terhuyung.

Darah Yang di tubuhnya melonjak liar—seolah pembunuhan itu membuka sesuatu yang tertahan. Dadanya panas, napasnya berat.

Gu Shan menopangnya.

“Apa yang terjadi?”

Chen Long tidak menjawab.

Di dalam tubuhnya, jalur yang pernah menolak terbuka kini berdenyut keras, namun tetap tertutup. Tekanan itu menyakitkan—seperti pintu yang digedor dari dua sisi.

Chen Hao sudah menunggu.

Ia menatap putranya, lalu memerintahkan,

“Bawa dia ke ruang batu.”

Malam itu, Chen Long duduk sendirian.

Tangannya masih mengingat rasa hangat darah.

Bukan rasa bersalah yang datang.

Melainkan kesadaran.

Ia sadar bahwa dunia ini memang dibangun di atas pilihan—dan pilihannya malam ini tidak bisa ditarik kembali.

Chen Hao berdiri di pintu.

“Apakah kau menyesal?” tanyanya.

Chen Long menggeleng.

“Tidak.”

“Apakah kau takut?”

Chen Long berpikir sejenak.

“Tidak lagi.”

Chen Hao mengangguk.

“Bagus,” katanya.

“Mulai hari ini, kau tidak lagi dilatih untuk bertahan.”

Ia menoleh, sebelum pergi.

“Kau dilatih untuk menghadapi apa pun yang bangkit di dalam dirimu.”

Di luar, langit Utara berawan tebal.

Di tanah terlarang, sesuatu bergerak—merasakan denyut darah Yang yang baru saja mencicipi pembunuhan pertama.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!