Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Sumur Sebelum Nama
Kami berangkat menjelang subuh, saat kampung masih setengah tidur.
Kabut turun tipis seperti kain lusuh yang disampirkan di atas atap-atap rumah. Ayah mengunci pintu dengan gerakan pelan, seolah takut membangunkan sesuatu yang lebih tua dari kami semua. Dini membawa ransel kecil berisi senter, air minum, dan beberapa roti. Arga berjalan paling depan dengan tas berisi buku catatan kakek dan petunjuk dari Pak Darsa.
Tujuan kami hanya satu: sumur tua di hutan kecil belakang kampung—tempat yang disebut sebagai simpul pertama, jauh sebelum rumahku berdiri, bahkan sebelum nama Raisa atau Ranti ada di dunia.
Sepanjang jalan aku merasa seperti sedang melangkah mundur ke masa lalu, bukan maju ke tempat baru. Setiap pohon, setiap batu, seperti menyimpan ingatan yang menunggu disentuh.
Dini berbisik di sampingku,
“Gue nggak nyangka petualangan kita jadi sejauh ini ya.”
Aku tersenyum tipis.
“Dari cuma takut tidur sendiri, sekarang jadi pemburu sejarah gelap.”
Dia tertawa pelan, tapi tawanya cepat tenggelam oleh suara hutan yang mulai menyambut kami.
⸻
Hutan kecil itu sebenarnya tidak jauh—hanya sekitar dua kilometer dari kampung—tapi jarang ada yang masuk. Orang tua sering melarang anak-anak bermain di sana dengan alasan klasik: banyak ular, banyak lubang, banyak “angin jahat”.
Arga berhenti di mulut jalan setapak yang tertutup semak.
“Dari sini kita jalan kaki,” katanya.
Ayah mengangguk, wajahnya tegang.
Aku bisa melihat dia lebih takut daripada kami, bukan pada makhluk, tapi pada kenyataan bahwa keluarganyalah yang mungkin memulai semuanya.
Semakin dalam kami masuk, udara terasa makin lembap. Suara burung menghilang, digantikan bunyi serangga yang aneh—bukan berisik, tapi seperti berbisik.
Aku merasakan tarikan halus di dadaku lagi, bukan sekuat malam ketukan dua arah, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa tempat ini mengenal namaku.
Laras, ucapku dalam hati.
⸻
Setelah hampir setengah jam berjalan, kami tiba di sebuah lapangan kecil yang dikelilingi pohon besar.
Di tengahnya ada sumur tua—bibirnya terbuat dari batu kali yang sudah hitam oleh lumut. Tidak ada tali timba, tidak ada bekas jejak manusia baru. Hanya lubang bulat yang menganga seperti mata buta.
Pak Darsa yang ikut mengantar sampai tepi hutan tidak mau masuk lebih jauh.
“Dulu di sinilah semuanya dimulai,” katanya sebelum pamit. “Saya tunggu di luar saja.”
Kami berempat mendekat perlahan.
Bau yang keluar bukan bau busuk, melainkan bau dingin—seperti ruang bawah tanah yang lama tertutup.
Arga membuka buku catatan kakek dan membaca potongan tulisan:
“Di sumur itulah Bima Darsa pertama kali mendengar nama yang tidak berasal dari manusia.”
Aku menelan ludah.
“Nama siapa?”
“Tidak ditulis,” jawab Arga. “Hanya disebut ‘nama tanpa tubuh’.”
Kalimat itu membuat tengkukku meremang.
⸻
Kami duduk melingkar di dekat sumur.
Arga mengeluarkan kapur putih dan mulai menggambar simbol yang mirip dengan denah di rumah, tapi lebih sederhana—hanya lingkaran dan empat garis.
“Ini bentuk paling awal,” jelasnya. “Sebelum disempurnakan generasi setelahnya.”
Ayah menyentuh batu sumur dengan tangan gemetar.
“Kakekmu dulu sering ke sini diam-diam,” katanya padaku. “Ayah pikir cuma cari kayu bakar.”
Aku membayangkan kakek berdiri di tempat yang sama puluhan tahun lalu, mungkin dengan rasa penasaran yang sama, mungkin dengan ketakutan yang sama.
Dini menyalakan senter dan mengarahkannya ke dalam sumur.
Cahayanya tidak sampai dasar.
“Dalem banget,” gumamnya.
Tiba-tiba dari dalam terdengar suara seperti batu kecil jatuh—padahal tidak ada yang melempar apa pun.
Semua langsung terdiam.
⸻
Arga meminta kami memulai ritual kecil bukan untuk memanggil, tapi untuk “mendengar”.
Kami duduk memejamkan mata, mengikuti napas masing-masing. Pak Karso sebelumnya mengajarkan satu kalimat pendek untuk diucapkan dalam hati—bukan doa, lebih seperti salam pada tempat.
Aku mengucapkannya pelan.
Beberapa menit tidak terjadi apa-apa.
Lalu angin bertiup dari arah sumur, membawa suara yang sangat tipis:
bim… ma…
Aku membuka mata kaget.
“Lo dengar?” bisik Dini.
Arga mengangguk tegang.
Suara itu datang lagi, lebih jelas:
Bima Darsa…
Ayah memucat.
“Nama kakeknya dia.”
Dari dalam sumur terdengar gemuruh halus, seperti orang berjalan di lorong jauh.
Aku merasakan kepalaku pusing, dan tiba-tiba gambar-gambar asing masuk tanpa izin.
⸻
Aku melihat potongan masa lalu seperti film rusak.
Seorang lelaki muda—mungkin Bima Darsa—berdiri di depan sumur ini pada tahun yang sangat lama. Wajahnya penuh luka, pakaiannya lusuh. Dia berbicara dengan sesuatu yang tidak tampak.
“Aku butuh jalan cepat,” katanya dalam penglihatanku.
Lalu suara lain menjawab dari dalam sumur:
Nama dibayar nama.
Gambar berganti. Lelaki itu pulang membawa tanda di telapak tangannya—simbol yang sama dengan denah di rumahku.
Aku tersentak membuka mata.
Arga memegang bahuku.
“Kamu melihat sesuatu?”
Aku mengangguk, napasku berat.
“Awalnya memang manusia yang minta,” kataku pelan. “Bukan makhluk yang menawarkan.”
Semua terdiam.
Itu berarti akar masalah bukan pada dunia lain,
tapi pada keserakahan manusia pertama.
⸻
Kami memutuskan menuruni sumur menggunakan tali yang dibawa Arga.
Ayah melarangku ikut, tapi aku bersikeras.
“Kalau ini tentang namaku, aku harus lihat sendiri.”
Akhirnya Arga turun lebih dulu, lalu aku menyusul dengan pengawasan Ayah dari atas.
Dinding sumur licin dan dingin. Semakin ke bawah, udara makin berat seperti ditekan.
Di dasar sumur ternyata ada lorong sempit menuju ke samping—sesuatu yang tidak mungkin terlihat dari atas.
Arga menyorot dengan senter.
Di dinding lorong itu penuh tulisan tangan tua, coretan simbol, dan satu kalimat berulang:
“Jalan pulang adalah jalan naik.”
Dadaku berdebar keras.
Di ujung lorong ada ruangan kecil seperti gua, dan di tengahnya berdiri batu pipih—mirip meja altar sederhana.
Di atas batu itu ada kotak kayu sangat tua.
Aku tahu tanpa menyentuh:
ini sumber banyak cerita.
⸻
Kami membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya ada beberapa benda:
• pisau kecil berkarat
• selembar kain dengan noda cokelat
• dan buku harian lain, lebih tua dari milik kakek.
Tulisan di buku itu sulit dibaca, tapi Arga berhasil mengeja beberapa bagian.
Isinya pengakuan Bima Darsa pertama.
Dia menulis bagaimana awalnya hanya ingin menolong kampung dari penyakit, bagaimana dia “meminjam” kekuatan sumur untuk panen, lalu bagaimana kekuatan itu mulai meminta imbalan lebih besar.
Di halaman terakhir tertulis:
“Aku membuka pintu dengan namaku sendiri.
Anakku kelak harus menutupnya dengan nama lain.”
Aku merinding.
“Berarti sejak awal dia sadar akan ada penerus,” kataku.
Arga mengangguk.
“Dan penerus itu adalah Bima yang sekarang.”
Ayah memukul dinding lorong frustasi.
“Kenapa beban ini harus jatuh ke kamu, Sa?”
Aku tidak bisa menjawab.
⸻
Saat kami hendak naik kembali, sesuatu terjadi.
Lampu senter Arga berkedip lalu mati. Di kegelapan total, suara dari sumur kembali muncul—lebih dekat, lebih jelas.
Bukan memanggil namaku, tapi menyebut sesuatu yang lain:
Ica… Ica…
Aku langsung merinding.
“Dia tahu semua pintu kecil,” bisikku.
Dari lorong terdengar langkah mendekat—bukan dari atas, tapi dari arah dalam gua, tempat yang seharusnya buntu.
Aku memegang lengan Arga.
“Kita harus naik sekarang.”
Tapi tali di atas tiba-tiba tegang seperti ditarik.
Suara Ayah dari mulut sumur terdengar panik.
“Tali bergerak sendiri!”
Kami terjebak di bawah.
⸻
Di tengah gelap, aku melihat lagi bayangan diriku—kali ini berdiri di ujung lorong.
“Aku bilang kunci lain ada di sini,” katanya.
“Pergi,” jawabku gemetar.
“Kunci itu bukan benda,” lanjut bayangan itu. “Tapi pilihan untuk mengulang atau mengakhiri.”
Langkah dari dalam makin dekat.
Arga menyalakan korek darurat. Cahaya kecil itu memperlihatkan sosok samar—bukan Ranti, bukan makhluk tanpa wajah, melainkan lelaki muda dengan pakaian lama.
Mungkin Bima Darsa pertama.
Dia menatapku dengan mata lelah.
“Kalian terlambat puluhan tahun,” katanya tanpa suara mulut.
Aku memberanikan diri bertanya,
“Apa yang harus kulakukan untuk menutup semuanya?”
Dia menunjuk buku di tanganku.
“Akui kesalahan manusia, bukan salah yang di bawah.”
Kalimat itu terpotong oleh suara tali yang tiba-tiba mengendur.
Ayah berteriak dari atas bahwa jalur naik kembali terbuka.
Sosok itu memudar perlahan.
“Katakan pada cucuku,” suaranya mengecil, “jangan warisi namaku sebagai pintu.”
⸻
Kami naik dengan tubuh gemetar tapi selamat.
Di atas, Dini langsung memelukku sambil menangis.
“Aku kira lo hilang beneran!”
Aku masih memegang buku tua itu seperti memegang jantung sejarah.
Di perjalanan pulang, aku sadar satu hal penting:
musuh utama bukan makhluk,
melainkan rantai niat yang diwariskan.
Kalau aku bisa memutus niat Bima sekarang, jalur mungkin benar-benar tertutup.
⸻
Malamnya di rumah, kami membaca buku itu lebih teliti.
Ada satu halaman yang membuatku lama terdiam:
“Penutup sejati terjadi ketika pewaris dan penantang berdiri di titik pertama, menyebut kebenaran tanpa takut kehilangan nama.”
Arga menatapku.
“Itu berarti kamu harus bertemu Bima di sumur.”
Dini langsung menolak.
“Itu bunuh diri!”
Ayah juga ragu, tapi aku tahu inilah arah yang sejak awal dituju cerita ini.
“Aku nggak bisa lari terus,” kataku pelan. “Kalau dia cucu dari pembuka, aku mungkin penutupnya.”
⸻
Bab ini berakhir saat aku menatap patok besi Bima yang patah di depan pagar.
Besok atau lusa, pertemuan itu harus terjadi.
Bukan pertemuan untuk berkelahi,
tapi untuk mengakhiri warisan salah.
Aku memegang kalung Hidup dan berbisik,
“Kalau ini memang jalanku, aku akan menutupnya dengan namaku sendiri.”
Di kejauhan, rumah kosong tampak gelap—tapi aku tahu Bima juga sedang membaca langkah yang sama.
Pertarungan berikutnya tidak lagi di antara dua pintu,
melainkan di titik awal semua nama.