Duo kembar mengajak bermain ke mall di kota agak jauh dari tempat tingal kami dan tidak segaja malah bertemu papanya padahal aku menyembunyikan keberadaan mereka dari papanya
kami di jodohkan orang tua dia tidak pernah menerima perjodohan ini kerena dia punya kekasih bahkan aku sempat di madu
Saat dia menceraikan aku dia tidak tahu kalau aku hamil dan aku sembunyikan kehamilanku dengan bersembunyi di tempat lain memang tak mudah perjuanganku hamil anak kembar tetapi semua aku jalani dengan dukungan adek almarhum ibu yang selalu mendukung ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 Tawaran menggiurkan
Dua hari kemudian aku di hubungi pak Sugandi untuk bertemu notaris di restoran yang ada di kota jember dan aku di suruh bawa anak anak katanya pak Sugandi ingin mentraktir anak anak setelah jam pulang aku menjemput anak anak dan aku mandikan aku siapkan semua kebutuhan anak anak biar tidak rewel mereka bawa masing masing rangselnya tentu saja dengan bekal susu dan jajanan kesukaan mereka biar mereka nggak rewel aku membawa mobil sendiri takut kalau di jemput ya takut fitnah jadi lebih baik bawa mobil dagangan ku
" Ayo Bianca saja yang di depan kakak di belakang" kata ku dan mereka pun nurut . Setelah pamit sama bi endang kami berangkat mereka tidur di mobil jadi enak mereka tidak cerewet kalau mau ngemil mereka tinggal buka tasnya
Sampai restoran yang di tuju aku membangunkan Meraka dan mereka aku ajak turun pak Sugandi dan notaris sudah menunggu kami di suruh masuk ruang privat yang biasanya di pakai untuk rapat dan tiba tiba mas Adit datang
" Hallo anak anak ayah apa kabar kalian" katanya menyapa anak anak dan mereka pun memeluk ayah nya dengan senang
" Ayah kok ada di sini" tanya mereka
" Kan ini restoran ayah sayang" jawab mas Adit o ternyata ini restoran mas Adit
" Ayo silahkan pesan" kat mas Adit membawa buku pesanan
" Bia dan Barra pesan apa"kata mas Adit yang duduk dekat dengan mereka
" Ayam goreng ayah dan minumnya susu" kata Bianca
" Sama ayah dengan Bianca" jawab Barra
" Adek kamu pesan apa biar si tulis oleh pelayan
" aku ayam bakar sama air mineral" jawabku
kemudian pak Sugandi dan notarisnya juga pesan
" Mbak Ara pak Adit ini yang beli rumah bapak jadi mereka ayah nya anak anak" tanya pak Sugandi
" Rumah ini saya beli atas nama anak anak pak dan saya tempati biar saya dekat sama anak anak saya dan mereka bisa bebas tingal di sana atau di rumah nya Ara tapi kalau Ara mau rujuk dengan saya rumah itu akan saya atas namakan Tiara" kata mas Adit
" ogah kalau belikan anak anak ya kasihkan saja sama anak anak aku nggak butuh" jawabku dengan ketus
" Terus bagaiman ini jadinya" kata notaris
" ya sudah atas nama anak anak dengan wali mas Adit atau Bu Tiara" tanya notaris
" Nama mas Adit saja pak nggak usah nama Tiara" jawabku
Ketegangan berkurang karena pesanan kami datang
" Tanda tangan nanti saja pak kita makan dulu ini asli resep saya lho" kata mas Adit bangga
" Masakan ayah pasti enak" kata Barra sambil melirik ku
" Ayo ayah suapin sini berdua biar tangan kalian nggak kotor" kata mas Adit. Mas Adit menyuapi mereka dengan telaten
" Kenapa mbak Ara menolak penawaran mas Adit sepertinya mas Adit orang nya tanggung jawab dan sayang sama anak anaknya" kata pak sugandi
" Itu masalah hati pak saya belum tertarik untuk rujuk" jawabku
" Ya mengalah lah mbak buat anak anak" kata notaris
" saya belum bisa melupakan perbuatan mas Adit pada masa lalu pak" jawabku
" Berilah kesempatan mbak kasihan Adit lho perhatian sama anak anak nya" kata pak sugandi
" Maaf pak tembok yang saya bangun sejak tujuh tahun lalu masih kokoh belum bisa di roboh kan" jawabku
" Tuhan saja maha pemaaf kok mbak nggak mau memaafkan" kata pak notaris
" Hamba hanya umat pak bukan tuhan yang maha pemaaf jadi saya takut menyamakan sifat Tuhan" jawab ku diplomatis
" Sudah lah pak kesalahan saya sangat besar pasti Tiara sulit memaafkan perbuatan saya, saya di kenalkan dengan anak saya dan boleh ikut berperan membesarkan mereka sudah lebih dari cukup " kata mas Adit
" Saya sadar kok pak bisa memeluk dan ikut merawat anak anak adalah kebaikan Tiara jangan tekan bunda anak saya" lanjut mas Adit
" Maaf pak Adit saya lancang kerena tidak tahu masa lalu anda" kata notaris
Aku makan saja dengan cuek dan ternyata resep si buluk enak juga aku sampai habis satu porsi kemudian aku minum air mineral
" Apakah masih lama pak"tanya Ku
" Nggak bu saya hanya butuh tanda tangan ibu sebagai wali dari anak anak" jawab notaris malu malu
Kemudian aku tanda tangan di berkas yang di minta setelah selesai
" Anak anak ikut pulang atau tetep di sini sama ayah" kata ku
" Biar di sini dulu Ra nanti pulang mas antar" kata mas Adit
" kalau begitu bunda pulang dulu ya sayang nggak boleh nakal dan nurut apa kata ayah" kataku kepada anak anak
" Iya bund " jawab mereka kompak
Aku pun pulang sendiri di antar Sampai tempat parkir oleh anak anak juga mas Adit sambil di bawain makanan
" Ini buat bi endang nanti sore anak anak mas antar rumah itu akan mas tempati biar dekat jadi mas kalau kerja dari sana pulang pergi biar dekat sama kalian" Kata mas Adit menjelaskan
" Hati hati jangan keras kepala" kata dia sambil mengelus kepalaku
Aku pun pulang sendirian naik mobil dagangan aku mampir ke kafe dan beli kopi sambil scrol media sosial mencari dagangan mumpung uang ku lagi ngumpul di rekening bisa dapat mobil yang harganya di atas seratus juta sehingga tiga dagangan ku harga nya di atas tiga ratus juta.
Ketika nongkrong di kafe aku ketemu teman teman kerja jaman dulu jadi kami bebas bercanda dulu kita masih muda sama kerja sekarang semua sudah berkeluarga tak lama aku pamit karena di telephon sama bi endang ada orang lihat motor katanya
Setengah jam aku sudah sampai dan orang yang melihat motor masih makan mie dan minum kopi
" Maaf pak saya masih keluar bapak sudah lama" tanya ku
" Sekitar setengah jam mbak ini kopi dan mie belum habis"jawab mereka
" ya sudah di nikmati dulu mie dan kopinya" jawabku
" punya dagangan sepeda berapa mbak" tanya dia
" Cuma ada tiga pak mungkin ada yng di minati sama bapak" jawabku
" Saya kayaknya minat yang besar itu mbak PCX nya" kata salah satu dari mereka
" Jangan pak itu buat ngantar sekolah anak kembar ku karena besar kalau yang kecil nggak muat" jawabku sambil terkekeh itu sepeda aku beli dengan menjual perhiasan hasil seserahan mama kok khusus buat antar si kembar sekolah
Ternyata mereka ingin sepedanya anak anak di kira dagangan tapi nggak apa apa lah kan belum rejeki hari ini bi endang datang aku pun cerita tentang tawaran mas Adit
" Kalau pendapat bibi sih terserah kamu kan kamu yang merasakan dan melakukan bibi tetap menghormati keputusan kamu tapi enak juga tiba tiba punya rumah gede bisa buat usaha dan setiap malam kamu ada yng memeluk tidak hanya memeluk bibi dan si kembar" kata dia sambil terkekeh
" Iya sih bi nggak perlu kerja keras tapi keenakan mas Adit dong ketemu satu bulan kok minta rujuk aku akan lihat seberapa perjuangan dia menembus tembok yang ku bangun mulai tujuh tahun yang lalu" jawabku
" Kalau Adit bisa tembus tembok kokoh yang kamu bangun berarti keluarga kalian berubah dong dari keluarga pinus menjadi keluarga Cemara" kata bibi sambil tertawa terbahak bahak.
" Oh ya bi itu ada kiriman dari ayahnya kembar katanya untuk bibi dari restoran nya dia" Kata ku bibi pun membuka peper bag ternyata isinya ada dua porsi satu untuk bibi dan satu untuk aku lumayan nggak beli makan
Bersambung .....