Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 Jarak Yang Mulai Terasa
Malam ini Anisa tidak bisa tidur entah kenapa suara dari Ibu Zaki barusan benar-benar membuat hidupnya tak tenang, ini bukan hanya sekedar menjauh, tapi ini tentang perasaan yang sudah terpatri.
Baginya Zaki bukan hanya sekedar kekasih, tapi pemuda itu merupakan sosok yang membuatnya bisa senyaman itu jika didekatnya.
"Ya Allah harus gimana? Dia baik, jujur dan ngemong, pokonya semua kriteriaku ada di dia," ucapnya menggantung. "Tapi tidak dengan keluarganya," lanjut Anisa.
Entah kenapa air mata luruh begitu saja tanpa diminta, Anisa meremas ujung selimutnya dengan kuat, merasa tidak adil saat cinta datang dengan tulus, kenapa semua harus dipisahkan hanya karena status.
"Aku tidak bisa terus seperti ini aku harus membuat keputusan," ujar Anisa.
Dan tepat ia berucap seperti itu, tiba-tiba saja handphone-nya bergetar kembali, kali ini ia mengecek terlebih dahulu, dan kali ini layar handphone-nya menampilkan nama Zaki.
Anisa segera mengangkat, panggilan itu. "Assalamualaikum Cantik, maaf ya baru sempat memberi kabar, dari tadi kerjaan banyak," ujar Zaki dengan nada lemas bukan karena sakit namun terlalu lelah bekerja.
Entah mengapa saat mendengar suara lelah dari seberang sana, keputusan yang sudah disiapkan pudar begitu saja.
"Sudah malam seharusnya kamu istirahat," kata Anisa datar.
Zaki yang ada di seberang sana, langsung mengerutkan dahinya, karena tak biasanya Anisa bersikap datar seperti itu. "Nis, kamu sedang capek?" tanya Zaki pelan.
"Nggak, aku gak capek, hanya sedikit ngantuk saja," sahutnya lagi masih tetap dengan nada datarnya.
"Ya sudah kalau ngantuk, istirahat dulu, besok kita sambung lagi ya," ujar Zaki lembut.
Anisa tidak menyahut ia hanya berdehem pelan, tapi setelah panggilan terputus, gadis itu menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya, ia tak bermaksud bersikap seperti itu, bukan karena ia tak cinta, justru karna ia terlalu cinta, hingga perlahan ia mencoba menghindar dari kisah ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dua hari sejak malam telepon itu ada jarak pada diri Anisa untuk Zaki, ia tetap bekerja, tetap menyapa dan juga tetap tersenyum jika perlu, namun percakapannya dengan Zaki ia batasi, entah kenapa Anisa memilih untuk menghindar dari pada jatuh semakin dalam.
Pagi ini Anisa sedang mengemasi barang-barang majikannya yang ingin pergi ke Singapura, bersama dua rekan temannya Anisa dengan sigap mulai menggeret koper keluar dan di masukkan ke dalam mobil satu persatu.
Setelah memastikan pekerjaannya sudah selesai, majikan Anisa mulai berpamitan dan memberikan pesan untuk ketiga asisten rumah tangganya itu.
"Pagi ini saya mau berangkat ke Singapura bersama Bapak," ucap majikan Anisa. "Saya harap selama saya tinggal kalian bertiga tetap menjalankan tugas kalian dengan baik, tidak boleh keluar kalau tidak hari libur," lanjutnya kembali.
Anisa dan dua rekannya hanya mengangguk patuh. "Baik Bu," sahut ketiga ART-nya.
Dan seusai berpamitan majikannya itu langsung keluar rumah, ketika majikannya masuk ke dalam mobil ketiga gadis muda itu berjingkrak senang, karena bisa dipastikan pekerjaan mereka untuk beberapa hari ini bebas tanpa teguran, bukan berarti mereka bebas keluar masuk, semua sudah ada aturannya.
"Ye, akhirnya beberapa Minggu kedepan kita aman," ujar Latifah.
Sementara Anisa dan Eni hanya menoleh saja, tak seantusias Latifah. Bukan karena tak senang, hanya saja hati Anisa sedang tak sepenuhnya di tempat itu.
“Kok kalian nggak ikut senang sih?” goda Latifah sambil menyenggol bahu Anisa pelan.
Anisa tersenyum tipis. “Senang kok, Mbak. Cuma lagi capek aja.”
Eni mengangguk pelan, lalu berbisik, “Atau lagi mikirin seseorang?”
Latifah langsung menyeringai. “Oh iya… yang di Tambun itu, ya?”
Anisa spontan menunduk, pura-pura merapikan ujung bajunya. “Ah, apaan sih Mbak…”
Namun senyum yang ia sembunyikan tak bisa sepenuhnya menutup gelisah di matanya.
“Ya sudah, yang penting kita kerja tetap rapi. Walau majikan nggak ada, bukan berarti kita bisa santai,” ujar Eni lebih dewasa.
Latifah mengangguk setuju. “Betul. Nanti kalau rumah berantakan pas beliau pulang, habis kita.”
Mereka pun kembali ke tugas masing-masing. Suasana rumah terasa lebih longgar tanpa pengawasan ketat, tapi tetap ada tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan.
Anisa berjalan menuju dapur, mengambil lap dan mulai mengelap meja perlahan. Pikirannya kembali melayang. Entah kenapa sejak pagi hatinya terasa tak tenang. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
Ia menarik napas panjang, mencoba menepis perasaan itu. Namun di sudut hatinya, nama Zaki kembali terucap pelan seperti sebuah doa yang tak pernah benar-benar pergi.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu yang di Tambun juga merasa ada kejanggalan, dihadapan cucian yang menumpuk, pikiran Zaki semakin tak tenang, entah kenapa ia kepikiran dengan sikap Anisa yang akhir-akhir ini semakin menghindar darinya.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi," gumam Zaki pelan.
Saat ia sedang sibuk mencuci piring entah kenapa teman disampingnya mulai menegur, mungkin mereka mulai memperhatikan cara kerja Zaki yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Bro, kalau kerja jangan ngelamun aja," celetuk salah satu rekan Zaki, sambil menyenggol lengannya.
"Eh ya, maaf," sahut Zaki pelan, lalu kembali ke tumpukan piring kotor di hadapannya.
Air sabun kembali berbusa di tangannya, tapi pikirannya tetap saja berkelana. Bayangan Anisa yang kini terasa lebih jauh terus mengusik. Pesan-pesan singkat. Balasan yang dingin. Nada yang datar dan tak sehangat dulu.
“Lagi ada masalah ya?” tanya rekannya lagi, kali ini lebih pelan.
Zaki terdiam sebentar, lalu menggeleng tipis. “Nggak kok.”
Namun wajahnya tak pandai berbohong, rona kegelisahan terus terpancar di sorot matanya.
Rekan Zaki hanya menepuk bahunya. “Kalau ada apa-apa, jangan kebawa kerja. Nanti yang kena omelan kita semua.”
Zaki tersenyum kecil. “Iya, makasih.”
Jam demi jam berlalu. Tumpukan piring akhirnya berkurang. Tangannya semakin perih, tapi rasa tidak tenang di dadanya jauh lebih menyiksa daripada lecet di jemari.
Saat waktu istirahat tiba, Zaki tidak langsung duduk seperti biasa. Ia justru mengambil ponselnya dan menatap layar beberapa detik.
Tidak ada pesan baru, hanya sisa pesan semalam yang ia kirim, dan hanya dilihat saja sama Anisa, tidak seperti biasanya gadisnya itu begini.
“Ya Allah… jaga dia,” bisiknya pelan.
Entah kenapa saat resah menghampiri hatinya, justru keputusan besar muncul begitu saja di kepalanya, Zaki tidak bisa berdiam terus menerus seperti ini, menunggu dalam ketidakjelasan, ia bukan tipikal pria yang mudah menyerah.
"Pokoknya Minggu depan aku pulang," ucapnya penuh dengan tekad.
Dan apa pun yang terjadi, ia harus mendengar langsung dari Anisa. Bukan dari jarak. Bukan dari prasangka, yang ia duga-duga sendiri.
Zaki menyimpan kembali ponselnya, lalu berdiri. Ada tekad yang berbeda di sorot matanya kali ini. Jika memang ada yang ingin menjauh… ia akan datang mendekat.
Dan untuk pertama kalinya sejak bekerja di Tambun, ia merasa sedang bersiap bukan hanya untuk pulang, tapi untuk mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar pekerjaan.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tetap ikuti kisah Anisa dan Zaki....