NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 - ujian terakhir dan bayangan dingin

Kabut pagi masih menempel di puncak gunung ketika para murid elit berkumpul di arena utama Sekte Batu Awan. Hari ini adalah ujian terakhir untuk menentukan siapa yang benar-benar pantas diakui sebagai elit sekte. Suasana tegang, setiap langkah di tanah batu keras terdengar jelas, dan napas murid-murid terasa berat di udara dingin.

Qing Lin berdiri di tepi arena, kapak kayunya di tangan, tubuhnya tegap, wajahnya datar. Tatapannya dingin, mata menatap lurus ke depan. Sutra Darah Sunyi di dadanya berdenyut, lebih gelap dari sebelumnya, dorongan untuk menghancurkan lawan secara instan terasa kuat, tapi ia menekannya. Dorongan itu bukan lagi sekadar bisikan—ia sudah menjadi bayangan yang membayangi setiap gerakan, mendorong naluri untuk membunuh dengan mudah.

“Aku harus tetap terkendali… tapi kali ini, aku harus melangkah lebih jauh,” gumamnya pelan, napasnya dalam dan teratur.

Ujian kali ini berbeda dari sebelumnya. Tidak ada mentor yang mengatur jalannya. Lawan yang dihadapi adalah para murid elit terbaik, kombinasi teknik ofensif dan defensif mematikan. Setiap murid memiliki kekuatan setara, dan arena penuh jebakan alami—tebing curam, bebatuan licin, dan pohon rimbun yang bisa digunakan untuk serangan mendadak.

Qing Lin menatap lawan pertamanya, seorang pemuda bernama Han Xue. Aura Han Xue berputar seperti angin badai, pedang qi berkilat, memancarkan tekanan yang hampir bisa meremukkan tulang. Han Xue tersenyum sinis. “Jangan bilang kau akan melawan aku… hanya dengan tubuh lemahmu,” ujarnya.

Qing Lin tetap diam. Tidak ada rasa takut, tidak gugup, hanya ketenangan dan fokus yang dingin. Sutra Darah Sunyi berdenyut, menguatkan refleksnya, mempercepat gerakan, dan memberinya perasaan hampir prediktif terhadap serangan lawan. Dorongan gelap muncul, menggelitik nalurinya: “Hancurkan dia sekarang. Jangan biarkan ia mengganggu jalannya.”

Ia menelan napas, menahan dorongan itu. Ia tahu, jika menyerah pada gelapnya Sutra Darah Sunyi, ia bisa menghancurkan lawan secara brutal—tapi itu bukan jalan yang ia pilih.

Pertarungan dimulai. Han Xue menyerang dengan serangan cepat, pedangnya melesat seperti kilat. Qing Lin menggeser kapak kayunya, menghindar, menahan beberapa serangan, dan menggunakan setiap celah untuk menahan tekanan lawan. Sutra Darah Sunyi memberinya kekuatan dan ketahanan lebih, tetapi Qing Lin tetap menekan dorongan gelap untuk menghabisi lawan.

Ia mulai bereksperimen dengan gerakan baru—menggabungkan defensif dan ofensif, mengalihkan energi lawan, dan memutar kapak untuk memaksimalkan kekuatan dengan usaha minimal. Dorongan gelap memintanya untuk menyerang tanpa ampun, namun Qing Lin tetap dingin, fokus, dan terkendali.

Dalam beberapa menit, ia menemukan celah di pertahanan Han Xue. Dengan satu gerakan cepat, ia menjatuhkan pedang lawan, mengarahkan tubuh lawan ke tanah dengan presisi, namun tanpa melukai. Lawan terengah-engah, terkejut, dan menatap Qing Lin dengan kagum sekaligus takut.

Murid-murid lain menatap dengan mata terbelalak. Mereka belum pernah melihat seseorang tanpa akar spiritual mampu mengatasi elit dengan kontrol sempurna, kekuatan luar biasa, dan ketenangan total. Sisi dingin Qing Lin kini jelas bagi semua yang menyaksikan.

Pertarungan kedua lebih sulit. Qing Lin harus menghadapi tiga elit sekaligus, kombinasi murid yang ahli dalam teknik jarak jauh, pedang, dan serangan fisik. Arena kali ini penuh jebakan—tebing curam, pohon tinggi, dan tanah licin yang bisa membuat siapa pun terjatuh.

Qing Lin masuk dengan langkah ringan. Sutra Darah Sunyi berdenyut keras di dadanya, dorongan gelap kini seperti bayangan yang mengikuti setiap langkahnya. Ia merasakan energi yang siap menghancurkan lawan, namun ia menahan setiap impuls. Ia fokus pada strategi, bukan kekerasan.

Pertarungan berlangsung cepat. Qing Lin menggeser kapak, menahan serangan pertama, memutar tubuh, dan menghindar dari serangan kedua dan ketiga. Sutra Darah Sunyi meningkatkan refleksnya, tetapi ia tetap dingin, menghitung setiap gerakan, membaca kombinasi lawan. Dorongan gelap berbisik untuk menghabisi lawan, tapi Qing Lin tetap terkendali.

Ia menggunakan kekuatan untuk menahan, mengalihkan, dan menekan lawan tanpa membahayakan mereka. Dengan kombinasi gerakan defensif dan ofensif yang minimal namun presisi, ia berhasil menjatuhkan ketiga elit sekaligus. Mereka terlempar ke tanah, terengah-engah, tapi tidak terluka parah.

Para murid lain menatapnya dengan kagum dan takut. Para mentor menunduk, menyadari Qing Lin telah melampaui batas yang terlihat sebelumnya. Dorongan gelap Sutra Darah Sunyi kini terlihat jelas, tapi ia masih bisa menahannya, dan sisi polosnya tetap hadir—ia tidak membunuh, hanya mengendalikan.

Malam tiba. Qing Lin kembali ke gubuknya. Bibinya menatap wajahnya yang dingin, ekspresi jauh dari hangat yang dulu.

“Lin… kau semakin dingin… apakah kau masih dirimu?” tanya bibinya, khawatir.

Qing Lin duduk di atas tikar, menatap tangan yang masih terasa hangat dari energi Sutra Darah Sunyi. Ia tersenyum tipis, dingin tapi bukan kosong. “Aku masih Lin… tapi aku belajar mengendalikan diriku… dan kekuatan ini,” jawabnya.

Mentor Bayangan muncul dari bayangan pintu. “Qing Lin, kau telah menyelesaikan ujian terakhirmu. Kau menghadapi elit dan tetap terkendali. Itu luar biasa. Tapi ingat, dorongan gelap Sutra Darah Sunyi bisa menyesatkan jika kau kehilangan fokus. Jangan biarkan kekuatan ini menelanmu sepenuhnya.”

Qing Lin menunduk, menatap langit malam. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, dorongan gelap tetap ada, tapi ia telah belajar menahannya.

“Aku harus dingin… tapi tetap manusiawi,” gumamnya. “Jika aku kehilangan kendali… aku tidak akan lagi menjadi diriku. Tapi jika aku bisa mengendalikan dorongan gelap ini… aku akan lebih kuat dari semua orang di Sekte.”

Malam itu, langit di atas Desa Qinghe tetap gelap, namun dalam tubuh seorang pemuda polos, dingin, dan terkendali, sesuatu telah tumbuh—pelan, sunyi, dan tak bisa dihentikan. Dunia telah mengakui kekuatan dan sisi dinginnya, namun hatinya tetap menyimpan sisi polos yang tidak pernah bisa diambil siapa pun.

Qing Lin menarik napas panjang, menutup mata, dan membiarkan Sutra Darah Sunyi berdenyut di dalamnya. Ia tahu, perjalanan sebenarnya baru dimulai.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!