Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Api masih membakar sebagian kontainer di ujung dermaga. Asap hitam membumbung tinggi, menyatu dengan gelapnya langit malam. Bau mesiu, logam panas, dan darah bercampur dengan aroma asin laut.
Pertempuran belum berhenti. Serigala Hitam dan Serigala Abu-abu saling memburu di antara tumpukan peti kayu, badan truk yang terbalik, dan percikan api yang sesekali meledak kecil.
“Jangan beri mereka celah!” teriak Max sambil melepaskan tiga tembakan beruntun.
Dor! Dor! Dor!
“Aaaaaa!”
Salah satu pria Serigala Abu-abu terlempar ke belakang, senjatanya terlepas dari tangan.
Di sisi lain, peluru menghantam beton tepat di dekat kepala Patrick.
“Sniper kiri! Mereka coba naik tebing!” teriak Patrick melalui alat komunikasi.
Dari atas, sniper Serigala Hitam langsung membalas. Satu tembakan presisi mematikan pergerakan musuh yang berusaha memanjat.
Namun, jumlah anggota Serigala Abu-abu tidak sedikit. Mereka melakukan perlawanan mati-matian. Peluru menghujani area tempat Alecio berlindung. Serpihan kayu beterbangan saat peti di depannya tertembus tembakan.
Alecio tetap tenang. Matanya fokus dan ekspresi wajahnya tidak menunjukkan keraguan. “Tim kanan, kepung dari sisi kapal!” perintahnya tegas.
Dua orang anak buah Serigala Hitam bergerak cepat, berlari rendah di balik bayangan lambung kapal kargo. Tembakan dari arah itu langsung memecah formasi musuh.
Di tengah kekacauan itu, Benio berdiri dengan napas memburu. Wajahnya kotor oleh jelaga. Jas mahalnya sobek di bagian lengan.
Kontainer-kontainer miliknya, hasil kerja sama berbulan-bulan, pengiriman dari Amerika Latin yang ia banggakan, hancur terbakar.
“Sialan kau, Alecio!” raungnya marah.
Ledakan terakhir yang lebih kecil memekakkan telinga. Itu bukan hanya kerugian materi, tetapi itu juga merupakan penghinaan besar untuk Benio.
Dan Benio tidak pernah memaafkan penghinaan itu. Ia menarik salah satu anak buahnya yang tampak panik.
“Susun ulang barisan! Dorong mereka ke arah tebing! Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup!” perintah Benio.
“Kita kehilangan banyak orang, Bos!” sahut anak buahnya dengan wajah pucat.
“Kalau kau takut, mati saja sekarang!” bentak Benio sebelum mendorongnya kembali ke medan tembak.
Sementara itu, Alecio bergerak semakin maju. Langkahnya mantap meski peluru terus berseliweran. Di belakangnya ada Max dan beberapa anggota Serigala Hitam.
Max berteriak, “Tuan, kita sudah menjatuhkan hampir setengah dari mereka!”
Alecio tidak menjawab. Matanya terkunci pada satu sosok di antara api dan bayangan, Benio.
Tembakan kembali saling berbalas. Salah satu anggota Serigala Hitam terhuyung saat peluru menghantam pahanya.
“Aku masih bisa berdiri!” teriak pria itu meski wajahnya pucat.
Patrick menyeretnya ke balik perlindungan. “Tekan lukanya! Jangan pingsan sekarang!”
Serigala Hitam tidak pernah diajarkan untuk mundur. Dan malam ini, mereka datang bukan untuk memperingatkan. Mereka datang untuk mengakhiri.
Benio akhirnya mulai menyadari sesuatu yang membuat dadanya bergetar bukan karena marah, tetapi karena rasa yang jarang ia akui, yaitu takut. Ia menoleh ke sekeliling. Tubuh-tubuh anak buahnya tergeletak di atas pasir yang basah darah. Beberapa tak bergerak dan beberapa yang lainnya mengerang kesakitan. Lampu sorot yang tadi menerangi kebanggaannya kini hanya menyorot kehancuran.
“Mustahil,” gumam Benio pelan. Ia memutar tubuh, mencari sisa pasukannya. “Berapa yang tersisa?” bentaknya pada salah satu anak buah yang masih hidup.
“Kurang dari sepuluh, Bos!”
Jawaban itu menghantam jiwa Benio lebih keras dari peluru. Anggotanya kurang dari sepuluh orang. Sementara Serigala Hitam masih berdiri tegak, formasi mereka rapi, tembakan mereka terarah.
Benio mengatupkan rahang. Ia datang malam ini dengan keyakinan penuh. Pengiriman berjalan lancar. Jalur Asia dan Afrika hampir ia kuasai. Serigala Abu-abu berada di puncak kejayaan. Dan kini dalam hitungan menit, semuanya runtuh.
Di tengah kobaran api, Alecio akhirnya melangkah keluar dari balik perlindungan. Asap tipis melingkari tubuhnya. Matanya dingin, tajam, dan penuh keputusan.
“Benio!” teriak Alecio, suaranya menggema di antara dentuman ombak dan dinding tebing.
Beberapa detik, baku tembak mereda. Mereka menoleh ke arah sumber suara.
Benio menoleh perlahan. Mata mereka kembali bertemu.
“Anak kecil,” ejek Benio, meski napasnya berat. “Kau pikir bisa menghabisi ku semudah ini?”
Alecio mengangkat senjatanya perlahan. “Aku tidak pernah berpikir ini mudah,” jawabnya datar. “Aku hanya memastikan ini selesai.”
Tiba-tiba salah satu anak buah Benio mencoba menyerang dari samping.
Dor!
Sniper Serigala Hitam menjatuhkannya sebelum sempat menarik pelatuk.
Benio kini benar-benar melihat kenyataan. Orang-orangnya hampir habis. Posisinya terkepung. Harapan untuk menghancurkan Serigala Hitam malam ini nyaris mustahil. Namun, ia bukan pria yang menyerah. Dengan gerakan cepat, ia menembak ke arah Alecio.
Dor!
Alecio menghindar sepersekian detik sebelum peluru menghantam kontainer di belakangnya. Lalu, Max langsung membalas tembakan, memaksa Benio berlindung di balik truk yang terbakar sebagian.
“Dia mulai terdesak!” teriak Max.
Alecio melangkah lebih dekat, perlahan tapi pasti. Setiap langkahnya seperti dentuman vonis.
Benio mengintip dari balik perlindungan. Matanya liar, penuh amarah dan kebencian. Ia menyadari sesuatu yang paling ia benci untuk akui, malam ini ia bukan lagi pemburu, melainkan ia yang diburu.
Di antara kobaran api, suara peluru, dan tubuh-tubuh yang tergeletak di pasir, pertempuran itu mendekati titik akhir. Saat salah satu dari mereka harus tumbang atau selamanya kehilangan segalanya.
“Kamu pikir sudah menang!” teriak Benio. “Kamu salah besar, Alecio!” Benio menyeringai.
Dermaga ujung pantai timur, api belum padam. Api masih menjilat sisa kontainer yang meledak. Cahaya oranye memantul di permukaan laut yang gelap, menciptakan bayangan panjang di antara batu karang dan tebing curam.
Pertempuran belum selesai. Serigala Hitam masih menekan dari tiga sisi, sementara sisa pasukan Serigala Abu-abu bertahan dengan napas terengah dan amunisi yang mulai menipis.
Benio menyelinap mundur di tengah kekacauan. Ia melompat turun dari balik truk yang terbakar dan berlari rendah menuju gugusan bebatuan karang di sisi timur dermaga. Peluru menghantam batu di dekat kepalanya, serpihannya melukai pipinya. Ia mengumpat kasar.
“Lindungi aku!” teriak Benio pada dua anak buah yang tersisa.
Mereka membalas tembakan secara brutal, memberi celah beberapa detik. Cukup bagi Benio untuk menghilang di balik karang besar yang setengah terendam air laut. Dengan napas berat dan tangan gemetar karena marah, ia mengeluarkan ponsel satelit dari saku dalam jasnya. Ia lalu menekan satu nomor cepat.
“Cepat angkat ...!” geram Benio pelan.
Panggilan pun tersambung. “Apa?” suara berat dari seberang terdengar terganggu oleh angin.
“Aku diserang,” desis Benio. “Alecio dan anggota Serigala Hitam.”
Hening sejenak. “Kau butuh bantuan?”
“Bawa semua orang. Sekarang! Ke dermaga timur. Kalau malam ini aku jatuh, besok giliran kalian.”
Kalimat itu sudah langsung bisa dipahami oleh lawan bicara Benio. Beberapa kelompok mafia kecil memang terikat kerja sama dengan Serigala Abu-abu, jalur distribusi, perlindungan, pembagian wilayah. Jika Benio tumbang, peta kekuasaan berubah.
Sambungan pun terputus. Benio menyandarkan kepala ke batu dingin, napasnya masih berat.
“Kalau kau pikir ini selesai, Alecio,” gumam pria paruh baya itu penuh dendam. “Kau salah besar.”
opor dan obor mmg 2 kata yg mirip pantas Patrick JD bingung 🤣🤣🤣
besok apalagi....
auto termehek-mehek tuh para mafioso....besok lebaran bersilahturahmi dari rumah ke rumah....dah gitu dapat suguhan segambreng....plus di suruh makan ketupa sayur...rendang dan kawan kawan.....😁