NovelToon NovelToon
Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama / Enemy to Lovers
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.

Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
​"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
​Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kencan di Ruang Arsip

​​"Berdasarkan proposal yang diajukan, Kalandra Pharma setuju untuk menyuntikkan dana segar sebesar seratus miliar rupiah untuk ekspansi cabang Triple A Capital di Surabaya."

​Suara bariton Rigel terdengar berwibawa, memenuhi ruang rapat yang dingin itu. Tidak ada lagi kaos polo atau hoodie santai. Hari ini, Rigel datang sebagai perwakilan Kalandra Pharma. Dia mengenakan setelan jas navy buatan Italia yang pas di badan, rambutnya ditata rapi dengan sedikit pomade, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya.

​Penampilan yang membuat separuh karyawan wanita di ruangan itu—termasuk Zahra—menahan napas dan lupa mencatat notulen.

​"Bagaimana, Ibu CEO? Apakah ada keberatan dengan klausul nomor empat?" tanya Rigel formal, matanya menatap lurus ke arah Alea yang duduk di ujung meja seberangnya.

​Alea berusaha tetap profesional, meski jantungnya berdegup kencang melihat transformasi pacar rahasianya ini.

​"Ehm. Secara garis besar saya setuju, Pak Rigel," jawab Alea, menekankan kata 'Pak' dengan nada profesional yang dibuat-buat. "Tapi untuk pembagian dividen, saya rasa kita perlu negosiasi ula—"

​Ucapan Alea terhenti mendadak. Matanya membelalak sedikit.

​Di bawah meja kayu jati yang besar dan tertutup taplak panjang itu, Alea merasakan sesuatu.

​Sebuah kaki yang dibalut sepatu pantofel mahal sedang menyentuh betisnya. Bukan sekadar menyentuh, tapi mengusap pelan naik ke atas, menuju lututnya.

​Alea melotot ke arah Rigel.

​Rigel memasang wajah datar tanpa dosa. Dia bahkan sedang membolak-balik berkas di tangannya dengan serius, seolah kakinya di bawah sana tidak sedang melakukan pelecehan s3ksual terselubung pada CEO perusahaan ini.

​"Ibu Alea? Kenapa berhenti?" tanya Rigel polos. "Ada masalah dengan dividennya?"

​"Nggak... nggak ada," jawab Alea terbata, tangannya meremas pulpen erat-erat. Kakinya mencoba menendang balik kaki Rigel agar minggir, tapi Rigel justru menjepit kaki Alea dengan kedua kakinya, menguncinya di sana.

​’Kurang ajar. Dokter ini benar-benar cari mati.’

​"Kalau begitu, bisa kita tanda tangan kontraknya sekarang?" Rigel tersenyum tipis—senyum yang hanya dimengerti oleh Alea sebagai tantangan.

​"Bisa. Zahra, siapkan berkasnya," perintah Alea cepat, ingin segera mengakhiri siksaan manis ini.

​Sesi tanda tangan berjalan lancar, meski Alea harus menahan napas setiap kali Rigel sengaja menyenggol tangannya saat bertukar dokumen. Selesai rapat, para staf mulai membereskan laptop mereka.

​"Terima kasih semuanya. Rapat ditutup," ucap Alea, langsung berdiri. "Pak Rigel, mari saya antar ke lobi."

​"Sebentar, Bu Alea," tahan Rigel. "Saya butuh data laporan keuangan tahun lalu yang versi cetak. Katanya ada di arsip fisik?"

​"Oh, itu... Zahra bisa carikan," kata Alea.

​"Jangan. Datanya rahasia. Lebih baik Ibu sendiri yang tunjukkan ke saya. Prosedur keamanan Kalandra sangat ketat," alasan Rigel dengan wajah serius yang sangat meyakinkan.

​Alea menghela napas. Dia tahu ini cuma akal-akalan Rigel.

​"Oke. Ikut saya. Zahra, kamu balik ke meja aja," perintah Alea.

​Zahra mengangguk patuh. "Siap, Bu."

​Alea memimpin jalan menuju lorong belakang kantor, tempat ruang penyimpanan dokumen berada. Begitu mereka sampai di depan pintu kayu bertuliskan "RUANG ARSIP - RESTRICTED AREA", Alea membuka kuncinya dengan kartu akses.

​"Masuk. Cepetan cari yang lo mau terus pulang," ketus Alea saat mereka melangkah masuk.

​Ruangan itu sempit, penuh dengan rak-rak besi tinggi yang berjejer rapat. Baunya khas kertas tua dan debu. Hanya ada satu lampu neon yang menyala remang-remang di ujung lorong rak.

​KLIK.

​Suara kunci pintu diputar terdengar nyaring.

​Alea berbalik kaget. Rigel sudah mengunci pintu itu dari dalam dan menyandarkan punggungnya di pintu, menghalangi jalan keluar. Senyum profesionalnya lenyap, digantikan senyum nakal yang sangat Alea rindukan.

​"Ngapain dikunci?! Kalau ada yang liat gimana?!" desis Alea panik.

​"Katanya data rahasia. Harus aman dong," Rigel melangkah maju, mendesak Alea mundur.

​Alea mundur perlahan sampai punggungnya menabrak rak besi yang dingin. "Rigel... ini kantor. Banyak CCTV di lorong luar."

​"Di dalem sini nggak ada CCTV, Alea. Saya udah cek denah keamanan gedung kamu," bisik Rigel.

​Dia mengurung tubuh Alea dengan kedua lengannya yang bertumpu pada rak. Aroma parfum maskulin Rigel langsung memenuhi indra penciuman Alea, mengalahkan bau kertas tua.

​"Lo gila ya? Tadi kaki lo ngapain di bawah meja? Kalau Zahra liat gimana?" protes Alea, memukul pelan dada bidang Rigel.

​"Habisnya kamu gemesin kalau lagi mode bos galak. Bawaannya pengen saya godain," kekeh Rigel. Dia menunduk, hidungnya menyapu pipi Alea. "Saya kangen. Dua hari nggak ketemu rasanya kayak dua tahun."

​"Lebay. Padahal tiap malem video call," cibir Alea, meski tangannya kini melingkar di leher Rigel tanpa sadar.

​"Beda. Di video call nggak bisa gini," Rigel mengecup singkat bibir Alea. "Nggak bisa cium wangi kamu."

​Rigel kembali menciumnya, kali ini lebih dalam. Alea memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam sensasi backstreet yang mendebarkan ini. Rasanya seperti remaja yang pacaran di perpustakaan sekolah. Takut ketahuan, tapi justru rasa takut itu yang bikin ketagihan.

​Tangan Rigel merapikan anak rambut Alea ke belakang telinga, tatapannya melembut.

​"Nanti malam saya jemput di lobi bawah. Pake mobil biasa aja, biar nggak mencolok," bisik Rigel.

​"Jangan di lobi. Di halte depan aja. Bodyguard Papa masih seliweran," balas Alea berbisik.

​"Siap, Bos," Rigel hendak mencium Alea lagi.

​Tiba-tiba...

​CKLEK. CKLEK.

​Gagang pintu ruang arsip bergerak-gerak. Seseorang mencoba membuka pintu dari luar.

​Alea dan Rigel membeku seketika. Mata mereka terbelalak saling tatap.

​"Lho? Kok dikunci?" terdengar suara cempreng Zahra dari balik pintu. "Bu Alea? Ibu di dalem? Saya mau ambil materai sebentar, Bu."

​Jantung Alea rasanya mau copot dan jatuh ke lantai. Zahra. Sekretarisnya yang kepo itu ada tepat di balik pintu kayu tipis ini.

​Rigel justru terlihat ingin tertawa. Mulutnya sudah terbuka hendak menjawab, mungkin mau iseng bilang "Lagi sibuk, Zahra."

​Dengan refleks kilat, tangan Alea langsung membekap mulut Rigel erat-erat.

​"Hmmph!" suara Rigel tertahan di telapak tangan Alea.

​Alea menempelkan jari telunjuknya di bibir sendiri, memberi isyarat DIAM ATAU GUE BUNUH LO. Matanya melotot horor.

​"Bu Alea?" panggil Zahra lagi, kali ini mengetuk pintu. Tok tok tok. "Ibu masih sama Pak Rigel? Kok sepi banget?"

​Alea menahan napas. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tubuh mereka masih berhimpitan di antara rak sempit yang gelap. Rigel menatap Alea dengan mata jenaka, lidahnya menyentuh telapak tangan Alea, menjilatnya sedikit untuk menggoda.

​Alea merinding. Sialan. Di saat genting begini dia masih sempat-sempatnya?!

​Tapi anehnya, di tengah kepanikan itu, ada desiran darah yang memacu adrenalin Alea lebih kencang dari trading saham manapun. Sensasi sembunyi-sembunyi ini... benar-benar bikin nagih.

1
Mineaa
wkwkwkwk.....kopi ga tuh.......
aya Aya wae nich dokter satu......
Arix Zhufa
nah ini calon suami idaman....pasti klo udh nikah gk bakal pelit sama istri
Savana Liora: iya. mantap yak
total 1 replies
Arix Zhufa
mau baca cerita soal mama kiana & papa gavin ach
Savana Liora: bacalah kak. dijamin seru. dinikahi sang duda kaya judulnya
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
hati hati Alea macan mau ngamuk mending siap siap panggil pawangnya 🤣🤣
Mineaa
duiiihh..... papa gavin lg konslet kaya nya......hati hati pa.... mulutmu harimaumu....
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....
Tarwiyah Nasa
waht Alea mewarisi sifat kiana
Aidil Kenzie Zie
up lagi donk tor lagi sert
Aidil Kenzie Zie
👍 Dok
Nisa Naluri
hahahahah🤣....ngakak
Bu Dewi
lanjut kak
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kirain Rigel bakal pamer
Savana Liora: lihat lanjutannya besok. lebih daripada pamer
total 1 replies
Arix Zhufa
makin seru aja
Aidil Kenzie Zie
Papa Gavin nggak dicek dulu siapa sebenarnya dokter Rigel
Savana Liora: nantik2 katanya
total 1 replies
Arix Zhufa
ini adek tiri ya min?
Savana Liora: iya kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
panggil Mama Kia pawang papa Gavin
Aidil Kenzie Zie
Alea masuk jebakan Batman Arka 🤣🤣
Arix Zhufa
si arka dpt dobel untung...
Arix Zhufa
keren lo cerita nya
Arix Zhufa
gak mgkn Rigel jatuh cinta tiba2
Arix Zhufa
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!