Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Nama
Kopi hitam di depannya mulai kehilangan uapnya, seperti tekadnya yang perlahan menguat tapi juga meninggalkan sisa pahit.
Arman menatap kartu nama itu, seolah-olah huruf-huruf Nadia Farah bisa memberinya jawaban. Pikirannya berputar cepat.
Perjanjian dengan Rani adalah tidak berurusan dengan Budi. Nadia ini orang yang berbeda. Perjanjian tidak dilanggar.
Logika itu terdengar meyakinkan di kepalanya. Ini adalah celah hukum dalam kontrak rumah tangga mereka. Rani tidak pernah melarangnya berurusan dengan setiap wanita di dunia, hanya dengan Budi dan kroni-kroninya. Dan Nadia? Ia menyatakan diri independen dari Budi.
Ini adalah entitas bisnis baru.
Lagipula, sekarang kita sudah jalan sendiri-sendiri. Kenyataan itu melukai, namun juga membebaskan. Rani dengan warung dan kue-kue kecilnya, ia dengan jaket hijau dan aspal. Mereka bukan lagi tim "Katering Ranni".
Mereka dua orang asing yang berbagi atap dan seorang anak. Jadi, apakah ia masih terikat oleh semangat perjanjian yang dibuat ketika mereka masih bermimpi bersama? Apakah ia masih punya kewajiban untuk berdiskusi?
Kalau aku terima tawaran Nadia, nggak ada yang salah. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri. Ini murni kesempatan bisnis. Akan tetapi, bisakah bisnis dengan Nadia benar-benar murni?
Kenangan senyumnya yang dalam, tatapannya yang mengamati, dan kata-kata terakhirnya yang penuh arti, semuanya berbisik tentang sesuatu yang lebih dari sekadar transaksi.
Namun, di tengah kelelahan dan kebosanan yang mendalam terhadap pertengkaran dan kecurigaan yang tiada henti, bisikan itu justru terdengar seperti musik yang menenangkan.
Peluang. Kata itu memesonanya. Peluang untuk keluar dari kubangan, untuk membuktikan pada Rani—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia bisa menghasilkan sesuatu yang berarti.
Nadia adalah peluangku. Aku akan ambil. Tekad itu mengkristal bagai es di tengah kopinya yang mendingin. Ia merasa seperti seorang penjudi yang meletakkan semua chipnya pada satu angka. Angka yang bernama Nadia.
Tapi kemudian, bayangan lain muncul. Bayangan Rani dengan wajah lelah namun penuh ketekunan di dapur, mengadoni risoles dengan Ibu Tuti.
Jika Nadia menawarkan kerjasama untuk Katering Ranni, itu berarti mempertemukan kembali tiga kutub yang sudah retak: dirinya, Rani, dan seorang wanita luar yang cerdas dan memesona.
Bayangkan saja: Rani dengan kecurigaannya yang membara, Nadia dengan kecerdikan dan karismanya. Itu adalah resep bagi bencana.
Arman merasa keringat dingin. Aku belum siap untuk itu. Itu akan menghancurkan segalanya.
Dilemanya menjadi lebih runcing. Menerima tawaran Nadia berarti membuka pintu bagi interaksi yang tak terhindarkan antara dua dunia itu. Menolak berarti membuang jembatan yang mungkin satu-satunya menuju kehidupan yang lebih baik.
Saat itulah, ponselnya yang terbaring di samping kartu nama, bergetar lagi. Cahaya layar menyala, menampilkan pesan baru dari nomor yang sama.
[Nadia] : Tidak usah terlalu dipikirkan, Mas. Jalani saja.
Kalimat itu sederhana, namun terasa seperti sebuah hipnosis. Jalani saja. Seolah semua kerumitan dan dosa-dosa kecil bisa dikesampingkan.
[Nadia] : Kalau Mas keberatan dengan skema kerjasama tiga pihak… lain kali kita bisa bicarakan alternatif lain.
Jeda. Dan kemudian, pesan terakhir datang, seperti sebuah tembakan meriam yang ditembakkan dengan suara pelan:
[Nadia] : Antara Mas Arman dan Nadia.
Puk! Rasanya seperti pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Tepat di tengah kebimbangannya, Nadia menawarkan jalan keluar. Jalan pintas.
Sebuah "alternatif lain" yang hanya melibatkan mereka berdua. Apa bentuknya? Usaha lain? Kemitraan di bidang yang berbeda? Atau… sesuatu yang lebih personal?
Pesan itu sengaja dibiarkan ambigu, memberi ruang bagi imajinasi Arman untuk mengisi kekosongan dengan semua fantasi dan harapannya yang tertahan.
Arman tidak bergerak. Ia membiarkan layar ponselnya terus menyala, kata-kata "Antara Mas Arman dan Nadia" berpendar-pendar, menyihirnya. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok kretek murah dan korek api.
Dengan gerakan lambat, ia menyalakan sebatang, menarik napas dalam-dalam. Asap pekat memenuhi paru-parunya sebelum ia hembuskan perlahan, menyatu dengan udara senja.
Ia tidak membalas. Tidak juga menghapus pesan itu. Ia hanya membiarkannya ada.
Seperti mengakui kehadiran sebuah kemungkinan tanpa harus berkomitmen. Ini adalah wilayah abu-abu yang nyaman. Di sini, di meja kafe ini, dengan kopi yang separuh diminum dan sebatang rokok di tangan, ia merasa memiliki kendali.
Ia bisa memimpikan "alternatif lain" itu tanpa harus mengkhianati siapa pun, karena belum ada tindakan yang dilakukan. Hanya sebuah pesan yang belum dibalas.
Senyum tipis, penuh kelegaan yang muram, muncul di bibirnya. Ini adalah pelarian yang sempurna. Dari tekanan Rani, dari beban ekonomi, dari kebosanan hidupnya.
Nadia bukan hanya menawarkan solusi; ia menawarkan sebuah narasi baru di mana Arman bisa menjadi protagonis yang berbeda—bukan suami yang gagal, bukan ojol yang lelah, tapi seorang rekan, mungkin bahkan seorang pria yang dilihat.
Di balik kemudi SUV hitamnya yang meluncur pelan di jalur lambat, Nadia tersenyum. Bukan senyum kemenangan yang mentereng, tapi senyum puas yang dalam, seperti seorang seniman yang melihat sketsa awalnya mulai membentuk gambar yang diinginkan.
Layar ponselnya yang terhubung dengan handsfree tetap gelap. Tidak ada balasan dari Arman. Dan itu justru membuat senyumnya semakin lebar. Diam berarti tertarik. Diam berarti sedang mempertimbangkan. Diam adalah persetujuan paling awal.
Perasaannya meluap-luap, sebuah vitalitas yang sudah lama tidak ia rasakan. Bertemu Arman, mengamatinya, adalah seperti menyentuh tanah basah setelah lama berjalan di lantai keramik yang dingin.
Di sini ada kekacauan, ada perjuangan, ada emosi yang mentah dan nyata. Ada seorang pria yang, meski tersesat, masih memiliki kompas moral yang goyah namun ada.
Dan yang terpenting, ada kebutuhan. Arman membutuhkan jalan keluar, pengakuan, dan mungkin—Nadia membiarkan pikirannya melayang—sebuah pelarian juga.
Membantunya, menariknya perlahan-lahan, bukan sekadar tentang memuaskan rasa penasaran. Ini tentang merasa berdaya lagi.
Merasa diinginkan, bukan sebagai penyelesaian masalah biologis atau sosial, tapi sebagai seorang wanita yang bisa menjadi kunci bagi kehidupan pria lain.
Ini tentang menulis ulang narasi dirinya sendiri: dari wanita janda yang hidup sendiri tanpa anak. menjadi wanita yang aktif menentukan takdir orang lain… dan mungkin, takdirnya sendiri.
Ia merasa lebih hidup saat ini daripada dalam beberapa tahun terakhir. Ada sebuah permainan catur yang halus dimulai, dan ia memegang bidak-bidaknya dengan mantap.
Arman adalah bidak utama yang perlahan bergerak sesuai harapannya. Dan Rani? Rani adalah ratu yang terlalu sibuk menjaga bentengnya sendiri yang retak, tanpa menyadari ancaman datang dari sisi yang tak terduga.
Nadia menghela napas puas, menikmati desir angin dari AC mobil. Ia tidak akan memaksa. Tidak akan mengirim pesan lagi. Ia akan memberikan waktu pada racun itu—racun pilihan, racun perhatian, racun "alternatif lain"—untuk menyebar dalam diri Arman.
Ia yakin, dengan tekanan yang tepat dari kehidupan dan dinginnya rumah tangganya, Arman akan kembali menghubunginya. Dan saat itu terjadi, ia akan siap dengan "alternatif lain" yang sudah ia persiapkan.
Senja benar-benar telah berubah menjadi malam ketika Arman akhirnya memutuskan untuk pulang. Rokok ketiganya telah habis.
Kopinya dingin dan pahit hingga ke endasannya. Ia melipat kartu nama Nadia dengan rapi, menyimpannya di saku jaket dalam, tepat di dekat dompetnya yang tipis. Pesan di ponselnya ia biarkan tetap terbuka, lalu ia kunci layarnya.
Saat ia berdiri, tubuhnya terasa ringan namun hampa, seperti setelah membuat keputusan besar, padahal ia belum memutuskan apa-apa. Ia hanya membiarkan sebuah pintu terbuka, dan itu sudah terasa seperti sebuah tindakan.
Perjalanan pulang terasa otomatis. Pikiran-pikirannya yang tadinya berisik, kini menjadi senyap, digantikan oleh sebuah ketenangan aneh yang menipu. Ia tidak memikirkan Rani, tidak memikirkan Aldi, tidak memikirkan tagihan.
Ia hanya memikirkan dua kata: Alternatif lain.
Sampai di depan rumah, ia melihat lampu warung Rani sudah padam. Hanya lampu kamar tidur yang menyala. Ia memarkirkan motor, dan sebelum masuk, ia merogoh saku dalam sekali lagi. Jarinya menyentuh kartu nama yang terlipat rapi. Sebuah jimat baru.
Sebuah kunci yang mungkin membuka sesuatu, entah apa. Ia menarik napas, memasukkan kembali kartu itu, dan membuka pintu. Dunia lama—dengan segala kekurangan, kewajiban, dan luka bakarnya—menyambutnya dengan keheningan.
Tapi kali ini, dalam saku jaketnya, ia menyimpan sebuah rahasia kecil, sebuah kemungkinan yang membuatnya bisa bertahan menghadapi dunia lama itu sedikit lebih lama. Dan untuk malam ini, itu sudah cukup. Yang penting adalah, ada sebuah "lain kali" yang menunggu, dan "alternatif lain" yang samar-samar mulai terasa seperti sebuah rencana.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.