Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekuat Sapi
Beatrice meraih sebatang kayu dari api unggun yang masih menyala di ujungnya. Lalu melemparkannya ke arah bayangan Drex yang bersembunyi di antara pepohonan gelap. Tindakannya begitu tiba-tiba hingga ketiga pria di belakangnya sontak tersentak.
"Apakah kamu sudah gila?" Terrence berseru, rasa takutnya justru meningkat dua kali lipat.
"Kalau aku tidak melakukannya, mau sampai kapan kita menunggu? Jangan buang-buang waktu!" jawab Beatrice, nada suaranya tajam.
"Tapi tetap saja, bertindak impulsif seperti itu—" perkataan Terrence terpotong oleh raungan Drex yang serak.
Saat kayu membelah udara tadi, cahaya api yang menyala sempat memantul ke tubuh Drex. Siluet mereka jadi lebih jelas, sepasang mata merah menyala dan deretan gigi runcing tersusun rapat dalam rahangnya.
Beatrice mengumpat pelan. "Sial! Mereka itu monster serigala, kan?"
Tiga Drex langsung menerjang keluar dari kegelapan. Niccolo, Terrence dan Estevan segera bereaksi. Pedang mereka terhunus dan suara daging Drex yang terkoyak bercampur dengan pekikan liar.
"Bee, tetap di belakangku. Jangan bergerak ke mana pun," perintah Estevan.
Dia mengambil posisi kuda-kuda. Matanya memperhatikan kegelapan, mempelajari gerakan Drex yang terkenal licik dan gemar menyerang dari sudut-sudut tak terduga.
Beatrice ingin mengatakan sesuatu, tetapi telinganya lebih dulu menangkap suara ringkikan kuda yang datang dari dalam hutan.
Beberapa saat kemudian, sekelompok pria berkuda muncul menerobos pepohonan. Armor mereka memantulkan cahaya api unggun dan lambang keluarga Duke Vassal tampak jelas di dada mereka.
Beatrice langsung mengenali sosok yang menunggang kuda di garis paling depan. "Kak Angelo!" Tanpa sadar dia berlari ke arah kakaknya, wajahnya berseri-seri meskipun situasinya kacau.
Ekspresi Estevan berubah drastis. "Bee! Bahaya!" serunya.
Salah satu Drex meloncat dari samping, cakarnya terentang menuju Beatrice. Namun sebelum makhluk itu sempat menyentuhnya, Beatrice lebih dulu melayangkan tendangan yang keras tanpa ragu. Monster setinggi lebih dari dua meter itu terlempar ke belakang seperti boneka kain yang ditendang kuda liar.
Semua orang di sekitar langsung terdiam. Bahkan Estevan pun tertegun. Mereka berdua menghabiskan waktu di ranjang dengan penuh gairah sebelumnya. Setelah semua itu … kaki gadis itu masih kuat?
Diam-diam Estevan mulai curiga kalau dia kurang bekerja keras di tempat tidur.
Angelo yang memegang pedang berlumuran darah Drex, terpaku menatap adiknya. Melihat Beatrice di sini saja sudah mengejutkan. Melihatnya menendang Drex? Itu jauh di luar nalar.
Itu Drex. Bukan monster kecil pemakan bangkai.
"Bee, kenapa kamu ada di sini?" Angelo turun dari kudanya tanpa meletakkan pedangnya lalu berjalan cepat ke Beatrice. "Apakah kamu bersama Yang Mulia Grand Duke?"
"Aku sedang jalan-jalan dengan Yang Mulia Grand Duke," jawab Beatrice santai.
"Jalan-jalan … di hutan?" Angelo menaikkan satu alisnya, pandangannya langsung memperhatikan Estevan dari kepala sampai ujung kaki—penuh kecurigaan.
"Kami berkuda, lalu makan malam di sini. Aku sangat senang karena ini pertama kalinya aku keluar rumah," tutur Beatrice sengaja, nada manja dan polosnya diselipkan dengan hati-hati.
Dan tepat seperti dugaannya, sikap keras Angelo langsung mencair. Ia menyentuh kepala Beatrice dan mengusapnya dengan lembut.
"Kamu tidak terluka, kan?"
"Tidak," jawab Beatrice cepat. "Kami baru bertarung melawan mereka saat kalian datang."
"Syukurlah," gumam Angelo, akhirnya bisa menghela napas lega.
Sementara itu, sisa Drex yang tersisa telah ditangani oleh para kesatria yang dibawa Angelo. Tidak lama kemudian, para pengawal Grand Duke Carlitos dan para penjaga Terrence juga menyusul dari arah yang berbeda. Bahkan pengawal pribadi Niccolo datang berlarian dengan pedang berlumuran darah hitam Drex. Pemandangan itu membuat semua orang tertegun.
Salah satu pengawal Terrence mengusap darah dari pipinya. "Tuan Muda Kedua … kami bertemu beberapa Drex di jalur timur. Mereka menyerang tanpa peringatan."
Angelo mengalihkan pandangannya ke semua pihak yang hadir. Banyak dari mereka tampak kelelahan. Dan jumlah Drex yang muncul malam ini jelas tidak wajar.
Ia segera memanggil para kesatria keluarganya untuk berdiskusi secara singkat. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Beatrice.
"Bee, ayo, kakak akan mengantarmu kembali lebih dulu. Kakak juga harus kembali memberi tahu ayah," katanya.
"Tapi—" Beatrice tidak ingin pergi.
Terrence tiba-tiba menghampiri Angelo dan berkata, “Jangan khawatirkan adikmu. Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat dan memberi tahu Duke Vassal. Aku juga harus kembali memberi tahu ayah dan saudaraku.”
Angelo menatapnya sejenak, lalu mengangguk tanpa keberatan. “Kalau begitu, aku menitipkannya padamu, Tuan Muda Terra.”
“Percayalah padaku,” sahut Terrence seraya menepuk dadanya.
Beatrice tidak punya pilihan selain kembali bersama Terrence. Ia tidak ingin menyulitkan kakaknya. Ia dan Estevan hanya sempat bertukar beberapa patah kata sebelum akhirnya berpisah.
......................
Ketika kembali ke rumah, Leonidas dan Marionne sudah gelisah karena Beatrice belum kembali. Barulah ketika Erica—yang sejak tadi menunggu di luar, berlari masuk untuk melapor.
“Duke, Duchess! Nona muda telah kembali!” serunya sambil terengah-engah.
“Little Bee kembali?” Leonidas langsung bangkit dari kursinya di ruang utama. Ia berjalan cepat.
Marionne menyusul dengan langkah lebih pelan. Barulah ketika melihat Beatrice turun dari kereta tanpa luka sedikitpun, bahu keduanya merosot lega.
“Tuan Muda Terra.” Leonidas menyapa sambil menatap Terrence penuh harap. "Mengapa putriku bersamamu? Di mana Grand Duke?”
Terrence keluar dari kereta kuda sambil berkata, “Duke Vassal, sepupuku saat ini berada di hutan dekat peternakan kuda milik Grand Duke. Sekelompok Drex berhasil memasuki kawasan peternakan serta hutan sekitar.”
“Apa?!” Leonidas terkejut. “Bagaimana bisa mereka masuk sejauh itu?”
“Aku belum tahu pasti, Duke. Tapi makhluk-makhluk itu memang sudah berada di hutan. Angelo dan Niccolo ada di sana untuk membersihkan sisanya. Aku harus segera kembali untuk melaporkan ini pada ayah dan kakakku, jadi aku tidak bisa tinggal.”
Leonidas mengangguk keras tanpa mengajukan pertanyaan tambahan. “Kalau begitu, pergilah. Dan terima kasih sudah mengantar Bee pulang dengan selamat.”
“Bukan masalah besar, Duke Vassal.” Terrence kemudian kembali masuk ke kereta kudanya dan meninggalkan Kastil Vassal.
Beatrice memasuki kastil bersama kedua orang tuanya. Marionne yang khawatir hampir sepanjang sore, langsung memeluk putrinya erat-erat.
“Kenapa kamu baru pulang? Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu di jalan?” Suaranya bergetar saat ia mengeluarkan sapu tangan sutra untuk mengusap air matanya.
“Bu, aku baik-baik saja. Aku ini sekuat sapi,” jawab Beatrice, bingung harus menenangkannya seperti apa.
Leonidas menatap putrinya dengan cemas. “Bee, apa kamu bertemu kakakmu di sana? Apakah dia baik-baik saja?”
“Kakak baik-baik saja. Dia datang tepat waktu bersama para kesatria keluarga kita saat kami dikepung Drex.”
“Syukurlah.” Leonidas mengembuskan napas lega. “Ayah harus pergi membantu mereka dan mungkin akan pulang larut. Ingat, tetap di dalam rumah. Kunci pintu dan jendela.”
“Baik, Ayah.”
Marionne memegang tangan suaminya. “Hati-hati.”
Leonidas mengangguk, kemudian melangkah lebar keluar rumah sambil memanggil para pengawal untuk berkumpul.
Begitu pria itu pergi, Marionne mengalihkan perhatian penuh pada putrinya. “Bee, kamu sudah makan malam?”
“Aku makan ikan bakar yang ditangkap Grand Duke … tapi aku masih lapar,” jawab Beatrice jujur. Seekor ikan besar hanya mengganjal perutnya sebentar. Dan karena kemunculan Drex, ia bahkan tidak sempat memanggang ikan yang kedua.
“Kalau begitu, ibu akan minta dapur menyiapkan sesuatu untuk kamu makan,” ujar Marionne sambil tersenyum lebih tenang. Lalu ia menoleh pada Erica. “Erica, bawa nona mudamu untuk membersihkan diri.”
“Baik, Nyonya Duchess.” Erica menunduk sopan dan segera menemani Beatrice menuju kamar.