NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:56k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Pilihan Sang Suami

Hening diantara mereka merambat begitu cepat. seperti ada hantu yang lewat tiba-tiba.

"Umi telepon..." ujar Gus Hafiz.

Anisa mengangguk. Memberi ruang pada suaminya untuk berbicara pada Uminya.

Gus Hafiz berjalan ke arah sisi jendela.

Saat diangkat, langsung suara Ibu Nyai terdengar.

“Kamu sudah jalan pulang, Fiz?”

Suara Umi Laila terdengar tegas, tanpa jeda.

Gus Hafiz yang berdiri di dekat jendela kamar Anisa terlihat menghela napas. Tatapannya lurus ke taman, tapi pikirannya jauh lebih dalam dari sekadar halaman rumah itu.

“Ngapunten, Mi…” ucapnya halus dengan bahasa Jawa khasnya yang santun. “Hafiz taksih wonten Jakarta. Dereng saged kondur Ponorogo. Anisa piyambakan.”

Di seberang sana hening beberapa detik. Lalu suara Umi Laila berubah. Bukan marah, tapi khawatir.

“Jadi kalian hanya tinggal berdua? Ndak bisa, Fiz… banyak hal bisa terjadi kalau laki-laki dan perempuan tinggal seatap hanya berdua.”

Nada itu bukan sekadar nasihat.

Itu kegelisahan seorang ibu, yang takut akan nana baik putranya tercoreng.

“Kamu ndak lupa dengan janjimu pada Umi, Fiz?” Gus Hafiz menelan ludah.

“Umi… InsyaAllah Hafiz bisa kontrol diri.”

“Ini bukan perkara kamu kuat atau tidak,” potong Umi Laila. “Ini tentang nama baikmu. Tentang pondok. Tentang keluarga. Kamu itu panutan, Fiz.”

Setiap kata seperti ditimbang dengan penuh kehati-hatian.Namun tetap terasa berat.

Hafiz menghela napas panjang, Ia tahu, Ia sangat tahu itu. Tapi kali ini ia tak ingin sekadar berlindung di balik nama besar.

“Umi…” suaranya lebih dalam sekarang. “Anisa itu istri Hafiz. Hafiz yang akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah atas diri Anisa. Ngapunten sanget, Mi… kali ini Hafiz memilih menjalankan tanggung jawab Hafiz.”

Di kamar itu, Anisa berdiri beberapa langkah dari suaminya. Tak berani mendekat, tak berani menyela.

Namun setiap kalimat yang keluar dari bibir Gus Hafiz membuat jantungnya bergetar.

Di seberang, Umi Laila menahan emosi.

Putra kesayangannya, yang selama ini patuh.

Kini memilih jalan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan titahnya.

“Awakmu ngerti artine niku apa, Gus?” suara Umi Laila mulai bergetar tipis. “Kamu ndak lupa… ridho-Nya Allah itu ada di mana?”

Kalimat itu menghantam. Jelas itu cara seorang ibu mengancam anak laki-lakinya.

Gus Hafiz memejamkan mata.

Ia tak langsung menjawab. Ia tidak ingin menjawab dengan emosi. Ia ingin pikirannya tetap jernih.

Dalam benaknya terlintas ayat yang sering ia bacakan pada santri,

Ar-rijālu qawwāmūna ‘alan-nisā’…

Laki-laki itu adalah pemimpin bagi perempuan…

Tanggung jawab, kepemimpinan, perlindungan.

Namun ia juga ingat sabda Rasul tentang birrul walidain.

Bakti kepada orang tua.

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.

Dua kebenaran, dua kewajiban. Yang kini berdiri saling berhadapan.

“Umi…” akhirnya ia membuka suara, lebih pelan. “Hafiz tidak bermaksud durhaka. Hafiz tetap anak panjenengan. Tapi dalam syariat… setelah akad itu terucap, Anisa menjadi amanah Hafiz.”

Ia berhenti sejenak.

“Kalau Hafiz tinggalkan dia dalam keadaan seperti ini… hati Hafiz tidak tenang. Dan Hafiz takut, kelak justru dimintai pertanggungjawaban karena lalai menjaga istri.”

Sunyi.

Anisa yang mendengar kalimat itu, menahan napas.

Di seberang sana, Umi Laila tak langsung membalas. Kali ini, bukan hanya Gus Hafiz yang diuji. Tapi juga seorang ibu, yang harus belajar bahwa putranya kini bukan lagi hanya miliknya.

Dan Gus Hafiz berdiri di tengah-tengah itu semua, bukan sebagai anak kecil yang membangkang, tapi sebagai laki-laki yang sedang berusaha adil, antara surga di telapak kaki ibu dan amanah yang terikat di pundaknya sebagai suami.

Umi Laila akhirnya, tak bisa berkata selain pasrah.

"Terserah awakmu, kamu sudah pinter sudah bisa bantah ibumu." sambungan telepon mati.

Gus Hafiz menatap Anisa dalam. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya teguh. Tangannya masih menggenggam ponsel.

"Gus... pergilah. Aku ndak mau, kamu jadi durhaka karena aku. Aku ndak mau jadi penyebab hubungan Umi dan panjenengan rusak hanya karena keberadaanku."

Gus Hafiz menyipit, dengan lembut tangan Gus Hafiz meraih pergelangan tangan Anisa.

Genggaman itu lembut namun penuh makna.

“Kamu jangan merasa jadi sebab,” ucapnya pelan. “Ini bukan soal kamu atau Umi. Ini soal kewajiban.”

Anisa menunduk.

Gus Hafiz lalu menarik napas, seakan menata kalimatnya agar tak sekadar menjadi pembelaan, melainkan berdasar ilmu yang ia pahami.

“Dalam Islam,” ujarnya tenang, “ridha Allah memang ada pada ridha orang tua. Itu hadis Rasulullah yang tidak bisa ditawar.”

Lalu, Ia mengutip hadis dengan suara lirih,

‘Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.’ (HR. Tirmidzi)

Anisa mengangguk pelan.

“Tapi…” lanjutnya, “setelah seorang laki-laki menikah, ada tanggung jawab baru yang Allah bebankan.”

Ia menatap Anisa dalam-dalam.

“Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 34…”

Ar-rijālu qawwāmūna ‘alan-nisā’…

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan… (Qur'an, An-Nisa: 34)

“Qawwam itu maknanya bukan sekadar kepala rumah tangga,” lanjut Gus Hafiz.

“Itu artinya penanggung jawab. Pelindung. Yang memastikan istri aman, terjaga, tercukupi lahir dan batin.”

Ia terdiam sebentar.

“Dan Rasulullah juga bersabda…”

‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Suasana kamar hening.

Anisa bisa merasakan kesungguhan dalam setiap kata suaminya.

“Berbakti pada orang tua itu wajib,” lanjutnya lembut.

“Tapi para ulama menjelaskan, ketaatan kepada orang tua tidak boleh dalam perkara yang membuat kita meninggalkan kewajiban lain yang sudah Allah tetapkan.”

Ia mengusap punggung tangan Anisa perlahan.

“Kalau Umi memintaku pulang, itu bentuk cinta. Tapi kalau kepulanganku justru membuatku lalai menjaga istriku yang sedang rapuh… maka aku khawatir justru berdosa.”

Anisa mendongak. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Jadi ini bukan tentang Mas memilih kamu dan meninggalkan Umi,” ucap Gus Hafiz lirih.

“Ini tentang menempatkan kewajiban sesuai porsinya.”

Ia tersenyum tipis.

“Umi tetap surgaku. Tapi kamu adalah amanah yang Allah titipkan setelah akad itu terucap. Dan amanah itu akan ditanya langsung oleh Allah, bukan oleh manusia.”

Anisa menunduk, dadanya terasa hangat sekaligus berat.

“Kalau suatu hari nanti,” lanjutnya pelan, “aku bisa menjelaskan ini pada Umi dengan baik, aku yakin hati beliau akan lapang. Karena Islam tidak pernah memerintahkan anak durhaka. Tapi Islam juga tidak membenarkan suami yang menelantarkan istrinya.”

Tangannya kini menangkup wajah Anisa lembut.

“Dan selama kamu istriku, aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan merasa sendiri.”

Di luar, angin sore berhembus pelan. Di dalam kamar itu, bukan hanya cinta yang sedang bertumbuh, tapi juga pemahaman tentang tanggung jawab, yang tak selalu mudah, namun harus ditegakkan dengan ilmu dan keikhlasan.

Anisa tersenyum menatapnya lekat.

Gus Hafiz menyipitkan mata, pura-pura curiga.

“Kenapa kok malah senyum-senyum sendiri, hemm…?” ujarnya pelan, lalu dengan satu jari menjitak ujung hidung Anisa.

Anisa terkekeh kecil.

“MasyaAllah… gimana aku ndak jatuh cinta secepat ini sama laki-laki seperti panjenengan, Gus.”

Gus Hafiz mengangkat alisnya.

“Wah… sudah pinter ngombal sekarang.”

Anisa cepat-cepat menggeleng.

“Ini ndak gombal. Ini ungkapan perasaan seorang santri yang lagi jatuh cinta sama ustadz-nya.”

Gus Hafiz tertawa renyah. Tawanya lepas, hangat, memenuhi kamar yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.

“Yakin itu?” godanya. “Bukannya dulu santri ini paling ndak suka sama Mas?”

Pipi Anisa langsung memerah.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada Gus Hafiz.

“Itu kan dulu…” bisiknya manja.

Gus Hafiz tersenyum. Tangannya mengelus kepala Anisa pelan, lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut, penuh kasih, bukan sekadar hasrat.

“Mas yang beruntung,” ucapnya lirih. “Dapat istri cantik, pinter… manja lagi.”

Anisa mendongak, matanya berbinar.

“Berarti Gus, kudu bersyukur?”

“Setiap hari,” jawabnya tanpa ragu.

Lengan Gus Hafiz melingkar di pinggang Anisa, menariknya lebih dekat. Namun kali ini bukan hanya pelukan fisik yang terasa hangat, melainkan rasa aman yang tumbuh di antara mereka.

Anisa tersenyum kecil.

“Dulu aku pikir seorang Gus Hafiz Arsyad itu dingin, galak, sok tegas…”

“Lho?” Gus Hafiz pura-pura tersinggung.

“Tapi ternyata…” Anisa menatapnya dalam, “Tapi ternyata... hatinya lembut banget dan memang sosok yang tegas.”

Gus Hafiz terdiam sejenak.

“Seorang laki-laki kadang diajari kuat sejak kecil,” ucapnya pelan. “Tapi setelah menikah, dia belajar jadi lembut.”

Anisa memeluknya lagi.

"Kali ini, aku ndak nyesel dipaksa nikah malam itu Gus, dan aku bersyukur malam itu ngumpet di kamar panjenengan."

Gus Hafiz kembali terkekeh geli, lalu dengan gemes mencubit pipi Anisa.

Di luar, senja mulai turun perlahan.

Dan di dalam kamar itu, kini bukan hanya cinta yang tumbuh, tapi kepercayaan seorang istri yang tak lagi takut ditinggalkan.

1
Hagia Sophia
biarkan nisa pergi Thor, biarkan dia sukses Thor, biarkan smw org tau cerita yg sebenarnya tentang ibunya, agar mereka merasakan penyesalan yg teramat besar.. tiap baca bab nisa Q selalu nangis, sakittt bgttt😭😭😭😭
🤍 rishayu 🤍
Lanjut thor….air mataku terlanjur jatuh ini….😭😭😭
Marini Suhendar
Sakit jd Nisa..d abaikan keluarga tambah lagi dr ibu mertua..lbh baik pergi aj nisa
Yang terakhir Terakhir
karya nya bagus
Yang terakhir Terakhir
karya nya bagus
Yang terakhir Terakhir
karna ibu itu istimewa makanya mama Sarah iri dan cemburu hati Krn dia TDK bsa sprti ibu mu
Isa Istikomah
lanjut kak
Marini Suhendar
karena ibu mu sangat berperilaku istimewa yg tdk d miliki mma sarah miliki
Eem Suhaemi
karena Nisa mirip banget ibunya bkn...??
Sartini 02
lanjut kak 🤭😄😍
Sartini 02
lanjut kak jangan bikin penasaran 🤭🙏
tri ayu
lama2 jengkel sama nyai laila
Elen Gunarti
keburu tuir Bru bisa bersatu😄😄
Marini Suhendar
Bukan Mau Melawan Seorang Ibu .Tp Itu Kewajiban dan Tanggung jwab Seorang Suami kpd Istrinya
Fitra Sari
lanjut lagi kk
Elen Gunarti
prok2
🤍 rishayu 🤍
Lanjut thor….💪🏻💪🏻
Dewi saroh Qurotuaini
umi lalila itu terlalu egois , aw aja bacanya sampai gregetan , padahal nisa itu dah baik nurut pintar juga , ayo kakk lanjut ceritanya bagus sekali , semangatttt
Lilis Yuanita
umimu itu crewet gus🤣🤣
Marini Suhendar
Umi..Nisa G minta D lahirkan Oleh Seorang LC tapi Itu Kehendak Allah..Klo Nisa G Baik kelakuannya baru Umi Tolak..Toh Nisa Anak Baik..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!