Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Gema gesekan pisau yang beradu dengan talenan di dapur kediaman Mahendra terdengar sangat kacau. Tidak ada irama beraturan seperti yang biasanya diciptakan Hana.
Maura, dengan dahi yang berkerut dan rambut yang sedikit acak-acakan, mencoba mengaduk kuali besar berisi air mendidih yang ia yakini akan menjadi sup ayam penyemangat untuk Arlan.
Sejak kepergian Hana, suasana rumah itu benar-benar mendingin. Arlan lebih banyak diam, wajahnya kusam, dan berat badannya tampak menurun karena ia hampir tidak pernah menyentuh makanan rumah dengan lahap.
Maura yang menyadari posisinya mulai terancam oleh bayang-bayang kepiawaian Hana, akhirnya memutuskan untuk turun tangan.
"Hanya sup, seberapa sulit sih?" gumam Maura kesal sambil menuangkan garam langsung dari bungkusnya. Ia teringat Arlan mengeluh masuk angin, maka ia memotong jahe dalam ukuran besar dan memasukkannya begitu saja ke dalam kuah.
Di ruang makan, Arlan duduk dengan tatapan kosong. Ia terbiasa duduk di sana dan dalam hitungan menit, piringnya sudah terisi nasi hangat dengan lauk yang aromanya menggugah selera.
Kini, yang ia dengar hanyalah bunyi benda jatuh dari arah dapur dan aroma terbakar yang samar.
"Ini dia, Mas! Sup Ayam Spesial buatanku sendiri," seru Maura dengan bangga sambil meletakkan mangkuk keramik di depan Arlan.
Arlan melihat kuah sup yang tampak keruh dan potongan jahe yang mengapung liar. Namun, melihat usaha Maura, ia mencoba memaksakan senyum. Ia mengambil satu sendok penuh dan memasukkannya ke mulut.
Detik pertama... rasa asin yang luar biasa tajam menusuk lidahnya.
Detik kedua... rasa getir dan pedas menyengat dari jahe yang terlalu banyak membuat tenggorokannya terbakar.
"Ugh! Hoek!"
Tanpa bisa ditahan, Arlan memuntahkan kembali cairan itu ke dalam mangkuk. Ia terbatuk-batuk hebat, wajahnya memerah menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang.
"Mas! Kamu kenapa sih?! Aku sudah susah payah masak, kamu malah memuntahkannya begitu!" pekik Maura sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Ini... ini asin sekali, Maura. Dan pahit! Kau masukkan apa saja ke dalamnya?" tanya Arlan sambil buru-buru menenggak segelas air putih hingga tandas. "Hana tidak pernah membuat sup yang rasanya seperti air laut mendidih seperti ini."
Mendengar nama Hana disebut, wajah Maura berubah menjadi gelap. Ia mendengkus kesal, melempar serbet di tangannya ke atas meja.
"Selalu Hana! Kalau dia begitu hebat, kenapa kamu tidak cari saja dia di kolong jembatan sana? Aku ini sedang hamil, Mas! Aku sudah memaksakan diri masuk ke dapur yang bau itu demi kamu!"
Arlan memijat pelipisnya yang berdenyut. "Bukan begitu maksudku... tapi setidaknya belajarlah. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa punya energi untuk bekerja?"
Maura tidak menjawab. Ia berbalik pergi menuju kamar dengan langkah menghentak, meninggalkan Arlan yang kini menatap mangkuk sup itu dengan rasa lapar yang kian menyiksa.
Pria itu menyadari satu hal yang menyakitkan, ia tidak merindukan Hana hanya karena cintanya, tapi karena seluruh hidupnya ternyata ditopang oleh tangan wanita yang baru saja ia buang itu.
Sangat kontras dengan kekacauan di rumah Mahendra, pagi di apartemen Hana terasa begitu magis.
Alunan musik jazz bertempo sedang mengalun dari pengeras suara nirkabel. Hana, yang mengenakan celemek minimalis di atas pakaian olahraganya, tampak bergerak lincah di dapur kecilnya yang modern.
Ia tidak sedang memasak karena tuntutan atau rasa takut akan omelan mertua. Ia memasak karena ia mencintai dirinya sendiri.
"I'm feeling good..." Hana bersenandung kecil mengikuti lirik lagu Nina Simone yang terputar.
Tubuhnya bergoyang ringan, melakukan gerakan dansa kecil saat ia membolak-balikkan potongan daging teriyaki di atas wajan antilengket.
Dengan gerakan tangan yang lihai, ia memotong brokoli dan wortel menjadi bentuk yang cantik. Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega memenuhi ruangan, memberikan energi instan bagi siapa pun yang menghirupnya.
Hana tertawa kecil saat ia berhasil memecahkan telur dengan satu tangan tepat di atas nasi gorengnya. Semuanya tampak begitu sempurna. Dunianya kini terasa luas, tidak lagi sebatas dinding dapur rumah Arlan yang menyesakkan.
Setelah selesai, ia menata nasi goreng dan teriyaki tersebut ke dalam kotak bekal berwarna mint yang elegan. Tidak lupa, ia memasukkan beberapa potong buah potong sebagai pencuci mulut.
"Sempurna," ucapnya sambil menatap bekalnya.
Ia duduk sebentar di meja makannya yang menghadap ke arah jendela besar. Dari lantai 12, ia bisa melihat hiruk-pikuk kota yang mulai terbangun. Hana menyesap teh hijaunya dengan tenang, sesekali tersenyum sendiri.
Dunianya kini hanya milik dia seorang, dan mungkin sedikit bagian untuk Adrian yang selalu menjemputnya dengan tepat waktu.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Adrian masuk.
"Jangan lupa bawa bekalmu, Hana. Aku tahu masakanmu selalu lebih baik daripada menu kantin manapun. Aku sudah di bawah."
Hana tersenyum lebar. Ia mematikan musik, mengambil tas kerja dan kotak bekalnya, lalu melangkah keluar dengan kepala tegak.
Ia tidak tahu bahwa di rumah lama yang ditinggalkannya, Arlan sedang menatap mangkuk sup dingin dengan perut keroncongan, menyesali keputusan bodoh yang telah menghancurkan hidupnya sendiri.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
...----------------...
Next Episode....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.