Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAN 25 Kontrakan Neraka
Panas Bandung semakin menyengat, merambati setiap sudut kontrakan sempit yang menjadi saksi bisu kehidupan Maya dan keluarga Arga yang semakin memburuk. Jika dulu ia bisa menikmati sejuknya AC di rumah mewah Rania, kini yang ia rasakan hanyalah pengap dan gerah, ditambah bau apek khas kontrakan yang jarang terkena sinar matahari.
Maya mengipasi wajahnya dengan selembar kertas koran bekas, percuma saja. Keringat tetap mengucur deras membasahi pakaiannya. Ia melirik ke arah Arga yang masih terlelap di atas kasur lusuh. Seulas senyum sinis terukir di bibirnya. Dulu, ia begitu terpesona dengan ketampanan dan gaya hidup mewah Arga. Tapi sekarang? Pria itu hanyalah beban, parasit yang menghisap habis energinya.
"Bangun! Bangun, Arga!" Maya mengguncang tubuh Arga dengan kasar. "Sudah siang begini masih molor saja. Mau sampai kapan kita hidup begini?"
Arga menggeliat malas, lalu membuka matanya dengan enggan. "Apa sih, May? Berisik tahu," gumamnya serak.
"Berisik katamu? Lihat ini!" Maya menyodorkan setumpuk surat tagihan yang sudah menumpuk di atas meja. "Tagihan listrik, air, kontrakan, belum lagi utang ke warung. Mau bayar pakai apa, hah? Pakai cinta?!"
Arga mendengus kesal. "Ya sabar, May. Aku kan lagi usaha cari kerja. Tapi susah, tahu nggak? Semua perusahaan nggak mau nerima aku," keluhnya.
"Usaha katamu? Dari pagi sampai malam kerjamu cuma tidur dan main game. Itu yang kamu sebut usaha?!" Maya semakin geram. "Dengar ya, Arga. Aku nggak tahan lagi hidup begini. Setiap hari makan mie instan, tidur di tempat sempit kayak gini, dihantui sama penagih utang. Aku capek!"
Arga terdiam, merasa bersalah. Ia tahu Maya sudah sangat menderita. Tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa. Semua pintu seolah tertutup rapat untuknya.
"Terus aku harus bagaimana, May? Aku juga nggak mau hidup begini. Aku juga pengen kita bisa bahagia," lirih Arga.
"Bahagia katamu? Kalau kamu memang pengen aku bahagia, buktiin! Cari kerja! Jangan cuma mengandalkan tampang dan omongan doang!" Maya menatap Arga dengan tatapan tajam. "Aku kasih kamu waktu seminggu. Kalau dalam seminggu kamu nggak dapat kerja, aku pergi!"
Arga terkejut mendengar ultimatum Maya. Ia tahu Maya bukan tipe wanita yang main-main. Jika ia sudah mengatakan sesuatu, maka ia akan melakukannya.
Setelah Maya pergi, Arga terduduk lemas di kasur. Ia merutuki nasibnya yang begitu malang. Ia tahu ia harus segera bangkit dan mencari pekerjaan. Tapi bagaimana caranya?
Sementara itu, di ruang tengah, Ratna, ibunda Arga, sedang asyik menonton sinetron sambil mengunyah keripik singkong. Ia sama sekali tak peduli dengan penderitaan anak dan menantunya. Baginya, yang terpenting adalah dirinya sendiri.
"Maya! Maya!" Ratna memanggil dengan nada suara yang tinggi. "Buatkan aku kopi! Jangan lupa yang manis, ya!"
Maya yang sedang mencuci pakaian di belakang rumah, menghela napas panjang. Ia sudah sangat lelah dan kesal. Tapi ia tak punya pilihan selain menuruti perintah ibu mertuanya.
"Iya, Bu," jawab Maya dengan nada suara yang datar.
Setelah selesai membuatkan kopi untuk Ratna, Maya kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mencuci pakaian, membersihkan rumah, memasak, dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga lainnya. Sementara Ratna dan Adi, adik Arga, hanya bermalas-malasan dan menikmati hidup tanpa beban.
"Maya, tolong belikan aku rokok!" pinta Adi dengan nada memerintah.
Maya menatap Adi dengan tatapan sinis. "Kenapa nggak beli sendiri? Kamu kan punya kaki dan tangan," jawab Maya ketus.
"Ah, kamu ini pelit banget sih. Mentang-mentang aku nggak punya duit," balas Adi dengan nada merajuk.
"Bukan pelit, tapi kamu itu keterlaluan. Sudah numpang hidup, nggak tahu diri lagi," semprot Maya.
Adi mendengus kesal, lalu pergi meninggalkan Maya. Maya menggelengkan kepalanya, merasa semakin muak dengan kehidupan yang sedang ia jalani.
Malam harinya, suasana di kontrakan semakin mencekam. Penagih utang datang lagi, menagih janji Arga yang sudah berbulan-bulan menunggak.
"Mana uangnya, Arga? Katanya mau bayar hari ini?" bentak salah seorang penagih utang dengan nada kasar.
Arga hanya bisa menunduk, merasa malu dan tak berdaya. "Maaf, Pak. Saya belum punya uang. Tolong beri saya waktu lagi," pintanya dengan suara yang bergetar.
"Waktu katamu? Sudah berapa kali kamu minta waktu? Kami juga butuh makan, Arga! Jangan mentang-mentang kenal baik, kamu seenaknya saja!" balas penagih utang lainnya dengan nada yang lebih tinggi.
Maya yang sedari tadi hanya diam, akhirnya maju dan mencoba menengahi. "Maaf, Pak. Suami saya memang belum punya uang. Tapi kami janji akan segera melunasi semua utang-utang kami. Tolong beri kami kesempatan," pintanya dengan wajah memelas.
"Kesempatan katamu? Kalian ini cuma bisa ngomong doang. Buktinya mana?" salah seorang penagih utang itu menunjuk-nunjuk wajah Maya. "Kalau kalian nggak bisa bayar, terpaksa kami sita barang-barang berharga yang ada di rumah ini!"
Maya terkejut mendengar ancaman tersebut. Ia berusaha membujuk para penagih utang itu agar tidak menyita barang-barang mereka. Tapi para penagih utang itu tetap bersikeras.
Akhirnya, para penagih utang itu menyita beberapa barang berharga yang ada di kontrakan itu, seperti televisi, kulkas, dan perhiasan milik Ratna. Ratna histeris melihat barang-barangnya disita. Ia menyalahkan Arga dan Maya atas semua yang terjadi.
"Gara-gara kalian, aku jadi kehilangan segalanya! Aku benci kalian!" teriak Ratna dengan nada penuh amarah.
Maya sudah tidak tahan lagi. Ia merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Ia menatap Arga dengan tatapan dingin dan berkata, "Aku pergi. Aku nggak tahan lagi hidup sama kamu."
Arga terkejut mendengar perkataan Maya. Ia berusaha mencegah Maya pergi, tapi Maya menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Aku benci sama kamu!" desis Maya.
Lalu Maya berbalik dan pergi meninggalkan kontrakan neraka itu, meninggalkan Arga, Ratna, dan Adi yang tersiksa dalam lingkaran kemiskinan dan penyesalan.
Ratna yang kalap langsung melampiaskan amarahnya pada Arga. "Dasar anak tidak berguna! Gara-gara kamu, Maya pergi! Gara-gara kamu, hidup kita hancur!" Ratna memukuli Arga tanpa ampun.
Adi yang melihat ibunya mengamuk, hanya bisa diam ketakutan di pojok ruangan. Ia tahu, jika ia ikut campur, ia juga akan menjadi sasaran kemarahan Ratna.
Arga hanya bisa pasrah menerima pukulan dari ibunya. Ia merasa semua ini adalah kesalahannya. Ia pantas mendapatkan semua ini.
Setelah puas memukuli Arga, Ratna menangis histeris. Ia meratapi nasibnya yang begitu malang. "Kenapa hidupku jadi seperti ini? Dulu aku hidup mewah, sekarang aku hidup sengsara. Aku nggak tahan lagi..."
Malam itu, Arga, Ratna, dan Adi tidur dalam kesunyian dan kesedihan. Mereka semua merasa kehilangan dan putus asa. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka di masa depan.
Keesokan harinya, Arga bangun dengan tubuh yang terasa sakit dan memar. Ia melihat ibunya masih tertidur pulas di atas kasur. Ia menghela napas panjang, lalu bangkit dan pergi keluar.
Arga berjalan tanpa arah, pikirannya kosong. Ia merasa tidak ada harapan lagi dalam hidupnya. Ia ingin mengakhiri semuanya saja.
Tiba-tiba, ia melihat seorang pengemis tua duduk di pinggir jalan. Pengemis itu tampak lusuh dan kelaparan. Arga merasa iba melihat pengemis itu.
Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan memberikannya kepada pengemis itu. Pengemis itu menerimanya dengan senyum tulus.
"Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan memberkati kamu," ucap pengemis itu.
Arga terharu mendengar ucapan pengemis itu. Ia merasa ada sedikit kehangatan yang menyentuh hatinya. Ia menyadari bahwa meskipun ia hidup dalam kemiskinan, ia masih bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Arga memutuskan untuk tidak menyerah pada nasibnya. Ia akan berusaha bangkit dan memperbaiki hidupnya. Ia akan mencari pekerjaan dan membahagiakan ibunya. Ia akan membuktikan kepada Maya bahwa ia bisa menjadi laki-laki yang lebih baik.
Dengan semangat yang baru, Arga mulai mencari pekerjaan. Ia melamar ke sana ke mari, tanpa mengenal lelah. Ia tidak peduli meskipun pekerjaan itu hanya sebagai tukang cuci piring atau kuli bangunan. Yang terpenting adalah ia bisa mendapatkan uang dan membantu ibunya.
Setelah beberapa hari mencari, akhirnya Arga mendapatkan pekerjaan sebagai pengamen jalanan. Meskipun penghasilannya tidak seberapa, ia tetap bersyukur. Ia menyanyikan lagu-lagu masa kini yang lagi viral